-->
Showing posts with label hutan mangrove. Show all posts
Showing posts with label hutan mangrove. Show all posts

hutan mangrove

Hutan Mangrove Jatipapak - Wisata Baru Di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi     Edit

Hutan Mangrove dan Mangrove Trail Jatipapak
Banyuwangi daerah yang berbatasan dengan laut, sehingga tidak aneh jika Banyuwangi punya banyak pantai dan juga hutan mangrove. Hutan Mangrove di Banyuwangi yang sudah mulai dibuka wisata cukup banyak, seperti Hutan Mangrove Bedul, Hutan Mangrove Desa Bengkak, Hutan Mangrove Pantai Cemara, Hutan Mangrove Kili-Kili, dan yang baru adalah Hutan Mangrove Jatipapak.

Hutan Mangrove Jatipapak ini terletak di Banyuwangi selatan tepatnya di dalam kawasan TN Alas Purwo, Resort Kucur. Jatipapak ini lebih dikenal oleh masyarakat lokal adalah Situs Makam Mbah Dowo yaitu makan sepanjang 7 meter dan Situs Jatipapak yang merupakan Bonggol jati yang dulunya pohon jatinya ditebang oleh Sunan Gunung Jati untuk digunakan sebagai tiang Masjid Agung Demak. Selain itu, Jatipapak punya landasan terbang atau bandara kecil di samping hutan yang digunakan sebagai landasan terbang pesawat patroli udara ‘ultra light” milik Taman Nasional Alas Purwo.

Rute Menuju ke Jatipapak dari Kota Banyuwangi
Lurus (warna hitam ke Alas Purwo), ke kiri ke Jatipapak
Menuju ke Jatipapak dari Kota Banyuwangi cukup mudah kok, apalagi bagi mereka yang sudah apal jalan menuju ke Alas Purwo. Dari Kota Banyuwangi melewati Rogojampi, pertigaan Srono ambil arah timur ke arah muncar, perempatan lampu lalu lintas Tembok ambil ke kanan kearah Sumberberas. Dari perempatan tembok tersebut sudah ada petunjuk jalan yang bisa kita ikuti menuju kawasan TN Alas Purwo. Sebelum masuk hutan akan ketemu Kantor SPTN W I Tegaldlimo, diperempatan lapangan bolanya, kalian bisa ambil ke arah jalan makadam ikuti jalan makadam yang berbatu sampai ketemu pertigaan tower pengawas ambil ke arah kiri hingga ketemu gapura masuk pintu jatipapak. Untuk masuk ke Jatipapak kalian harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 5.000/orang saat weeday atau Rp. 7.500/orang untuk hari libur, Rp. 5.000/motor dan Rp. 10.000/mobil. Dari parkiran kalian tinggal jalan kaki ke wisata hutan Mangrove Jatipapak.

Gapura Masuk Mangrove Trail Jatipapak
Di dalam berwisata ke hutan bakau Jatipapak, kita harus menaiki jembatan bakau atau Mangrove trail Jatipapak karena hutan mangrove merupakan area pasang surut, jika lewat bawah becek dan berlumpur. Waktu saya kesana, kondisi hutan mangrove sedang surut sehingga beberapa lokasi yang dilewati jembatan mangrovenya sedang surut. Namun mendekati arah teluk pangpang atau laut sudah terisi air.
Kondisi Teluk Pangpang Sedang Surut
Lorong Adem di Jembatan Bakau Jatipapak
Sepanjang jalan di Mangrove Trail Jatipapak menuju Teluk Pang-pang disuguhi dengan suasana hutan mangrove yang tinggi, yang membuat teduh suasana sekitar sana. Apalagi angin yang berhembus dari teluk pangpang terasa cukup sejuk, jadi suasana saat kunjungan menjelang sore tidak terlalu terik. Sampai di ujung Mangrove Trail kita bisa melihat panorama teluk Pangpang dan dataran bukit yang menjorok ke laut seperti kepala ular. Itu daerah Sembulungan, di sana ada sisa-sisa peninggalan perang dunia ke-2 seperti meriam dan bungker juga ada Makam Penari Gandrung dan Situs Empu Supo.
Ujung Mangrove Trail Jatipapak dan Pemandangannya
Wisata yang terbilang baru, belum tersedia tempat sampah di sepanjang mangrove trailnya sehingga pengunjung di himbau untuk tidak membuang sampah sembarangan di kawasan hutan. Pengujung bisa membuang sampah di tong sampah yang ada dekat parkiran atau membawa kembali pulang. Akses jalan hutan masuh makadam dan jalan tanah sehingga perlu diperhatikan kondisi kendaraan terutama ban dan bensin, karena tidak ada tambal ban dan penjual bensin eceran.

Video Tentang Mangrove Jatipapak bisa ditonton disini :)



Menyelusuri Hutan Mangrove Jembatan Merah, Rembang     Edit


Di Ujung Hutan Mangrove Jembatan Merah Rembang
Jalur Pantura dari Kota Rembang menuju Lasem memang sudah dekat dengan pesisir pantai, apalagi di sebelah utara jalan sudah terlihat tambak dan nyiur melambai cemara laut yang menjadi “wind breaker”sehingga angin tidak berhembus kencang ke arah jalan. Ada beberapa pantai yang dilewati dari kota Rembang menuju Lasem. Kali ini saya mampir ke Hutan Mangrove Jembatan Merah yang letaknya di perbatasan antara Kota Rembang dan Lasem.

Hutan Mangrove Jembatan Merah, mungkin bisa disebut sebagai Landmark Kabupaten Rembang karena jembatan mangrove trailnya dicat berwarna merah yang berbeda dengan jembatan mangrove trail di daerah lain yang dibiarkan apa adanya seperti warna kayu.  Hutan Bakau Jembatan Merah ini terletak di Desa Pasar Banggi, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang berada tepat di muara sebuah sungai.

Area yang mulai ditanami bakau jenis Rhizophora sp.
Hutan Bakau Jembatan merah ini cukup luas hingga tumbuh kearah barat dan terlihat rutin dilakukan penanaman, baik penanaman yang dilakukan oleh pihak pengelola juga masyarakat rembang dan sekitarnya.  Saya setuju apa yang dikatakan pihak pengelola, dengan menanam bakau atau mangrove di muara sungai dan pesisir pantai akan mampu menahan abrasi air laut. Selain itu, fungsi pohon mangrove yang bisa menjadi tempat bertelurnya ikan dan tempat berlindungnya ikan-ikan kecil dan binatang laut lainnya seperti kepiting, udang dan lain-lain. Adanya hewan laut tersebut mendatangkan jenis-jenis burung air seperti blekok, trinil untuk mencari makan di hutan bakau. Burung-burung tersebut akan menjadi daya tarik Hutan Mangrove Jembatan Merah.

Rute dan Arah Jalan Menuju Hutan Mangrove Jembatan Merah
Untuk menuju Hutan Mangrove Jembatan Merah ini cukup mudah baik dari arah Rembang maupun Arah Lasem karena gang masuknya ada di pinggir jalan Pantura Rembang-Lasem dengan petunjuk jalan yang sangat jelas. Kalian bisa juga menggunakan Ojek Online Grab yang sudah hadir di Rembang atau bisa menggunakan jasa ojek pangkalan atau bis umum yang lewat di sepanjang jalan pantura.

Untuk memasuki hutan mangrove jembatan merah ini kita hanya ditarik tiket masuk berupa biaya parkir kendaraan saja sebesar Rp. 5.000 untuk motor dan 10.000 untuk mobil (Bulan Maret 2019). Awal masuk kita akan disuguhi oleh lorong mangrove dari jenis Rhizophora Sp. yang memiliki akar jangkar. Jenis ini merupakan jenis di garis depan yang berhadapan langsung dengan gelombang laut. Selain jenis Rhizophora ada jenis lain yaitu Rhizophora apiculata, Avicenia marina, Avicenia alba, Soneratia alba dan Xilocartus Sp. sehingga total ada 6 Jenis Mangrove yang tumbuh disini.

Lorong Hutan Mangrove
kursi untuk santai-santai di tengah hutan mangrove
Ada beberapa percabangan yang setiap cabangnya merupakan jalan buntu, dan diujung jalan mangrove trail yang buntu tersebut, ada bangku-bangku ditepian untuk menikmati nuansa di tengah hutan bakau. Kalian bisa juga langsung menuju View utama yang bisa memandang laut utara jawa yang mempunyai dua warna khas terutama di musim penghujan yaitu warna coklat dan warna biru. Warna coklat ini biasanya ada di sekitar pesisir pantai dekat muara sungai yang airnya keruh sehingga mempengaruhi warna laut.

Ujung dari Mangrove Trail di Hutan Mangrove Rembang
Ujung dari jembatan Hutan Mangrove Jembatan merah berupa gubuk santai atau gazebo yang berada di samping kanan kiri jembatan. Kita bisa bersantai disana sambil menikmati view pemandangan laut utara Jawa. Angin sepoi-sepoi membuat kita ingin berlama-lama disini. Sambil menikmati suasana disana, saya mendengar ada lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang akhirnya saya ketahui dari gubuk santai di belakang saya. Gazebo tersebut diisi oleh muda-mudi sepertinya masih duduk di bangku SMA/MA atau SMP/MTs. Mereka sedang mencoba menghafalkan afalan ayat Al-Qur’an yang mungkin diberikan oleh sekolahnya. Memang di daerah Rembang-Lasem memiliki kultur agama Islam yang kuat begitu juga Toleransi dan rasa saling menghormati  yang kuat karena terdapat juga banyak Klenteng, wihara dan gereja-gereja berdiri disini. Saya takjub dengan muda-mudi tersebut, apalagi ditempat wisata masih bisa merencanakan belajar menghafalkan ayat Al-Qur’an tersebut. Mungkin jika saya diposisi mereka malah ngobrol ngalor ngidul yang ga jelas. Bisa-bisa malah iseng ngeluarin kata-kata Gombal haha.


Kunjungan ke Hutan Mangrove Jembatan Merah Rembang ini harus saya akhir dan harus bergeser di destinasi wisata Rembang dan Lasem yang lain. View dari ujung jembatan merah hutan mangrove ini sepertinya bisa menikmati senja dan matahari terbit dengan leluasa. Lain waktu saya akan coba menikmati senja di hutan mangrove jembatan merah, jika ada waktu kembali ke Rembang atau Lasem lagi.


Pantai Duta, Probolinggo - Hutan Cemara dan Hutan Mangrove Sejuk Yang Bebas Dari Sampah     Edit

Ayunan ala Gili Trawangan
Probolinggo terletak di daerah pesisir utara Pulau Jawa, sehingga tak aneh jika Probolinggo mempunyai tempat wisata berupa Pantai. Saat melewati kota Probolinggo menuju Banyuwangi lewat Situbondo saya mencatat beberapa pantai yang bisa dikunjungi salah satunya yaitu Pantai Duta yang bikin penasaran karena yang terlihat dari tepi Jalur Pantura hanya papan petunjuk jalannya saja.

Pantai Duta ini terletak di Dusun Gilin, Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Wisata ini kembali mencuat kembali kepermukaan karena adanya atraksi baru untuk para wisatawan yaitu Mangrove Trail Pantai Duta dan Ayunan Laut sehingga Pantai Duta juga disebut-sebut sebagai  Gili Trawangan versi Jawa Timur. Selain itu ada beberapa hal yang mengejutkan dan menarik tentang Pantai Duta Probolinggo ini.

petunjuk jalan pantai duta dipinggir jalur pantura
Rute Menuju Pantai Duta dari Kota Probolinggo
Menuju ke Pantai Duta dari Kota Probolinggo cukup mudah, jika kalian menggunakan kendaraan pribadi tinggal mengambil arah ke Paiton atau Situbondo melewati Dringu – Gending - Kraksaan  - Jabung (1 Jam perjalanan). Memasuki daerah Jabung dan melewati papan petunjuk ke candi Jabung (kanan jalan) akan ada petunjuk jalan menuju ke Pantai Duta (setelah jembatan),  ikuti petunjuk jalan tersebut untuk mencapai Ke Pantai Duta. Jika kalian menggunakan kendaraan umum, kalian bisa naik Bis yang menuju arah Situbondo dan turun di depan papan petunjuk jalan Pantai Duta lalu lanjut jalan kaki sejauh 3-4 km.

Untuk memasuki pantai Duta, kita akan ditarik biaya tiket masuk sebesar Rp. 10.000 untuk dua orang dengan 1 motor. Pantai Duta ternyata sejuk, tumbuh pohon-pohon cemara laut (didaerah lain disebut cemara udang) yang tumbuh tinggi lurus ke atas. Tumbuh dalam beberapa baris sehingga panas menyengat dan udara pantai terasa sejuk ketika kita berada di bawah pohon-pohon cemara laut tersebut. Hal itu terjadi karena kumpulan pohon cemara laut tersebut menghasilkan iklim mikro yang berbeda dari iklim di luar kumpulan pohon cemara laut.

Pantai Bersih Dan Bebas Dari Sampah Se- Jawa Timur.
Bersih Tidak Ada Sampah
Ada dua zona yang ada di Pantai Duta yaitu Zona Publik dimana pada zona ini terdapat parkiran kendaraan, tempat persewaan alat  renang, gazebo juga tempat kuliner yang berada disisi selatan pantai. Zona yang satu lagi merupakan Zona Konservasi. Untuk memasuki zona ini kita dilarang membawa makanan dan minuman bahkan minuman yang terlanjur dibawa dari rumah mau tidak mau harus dititipkan atau ditinggal di gapura masuk zona Konservasi ini. Di dalam Zona Konservasi masih terdapat tegakan (kumpulan) pohon cemara laut yang tidak terlihat sama sekali sampah, bahkan setelah saya menelusuri dari ujung timur ke ujung barat juga tidak menemukan adanya sampah. Beberapa orang yang duduk di Gazebo pun juga tidak menyantap bekalnya, hanya mengobrol-ngobrol santai sambil menikmati panorama pantai Duta. Saking Bersihnya saya berguman ini yang harusnya masuk nominasi dan terpilih jadi Pantai terbersih :D
zona publik, parkiran dan tempat jualan
zona publik
larangan membawa makanan dan berjualan di Zona Konservasi
sejuknya pantai duta
Memiliki Hutan Mangrove Dan Mangrove Trail untuk Menelusurinya.
Di Zona Konservasi terdapat Hutan Mangrove yang bisa kita nikmati dengan berjalan di atas track mangrove trail. Mangrovenya masih tidak terlalu tinggi sehingga belum ada naungan untuk menghindari teriknya sinar matahari. Mangrove Jenis Mangrove disini 20 Jenis dari 43 Jenis Mangrove yang ada di Indonesia. Dan sepanjang saya melihat, di dominasi oleh jenis mangrove Rhizophora dan Avicenia (api-api).
Menyelusuri Hutan Mangrove
Dalam perjalanan menyelusuri tiap kelokan trail di Hutan Mangrove Pantai Duta, pengunjung di belakang kami berteriak.

“Eh ada burung Biru, burung apaan itu?”

Setelah melihat seksama terlihat seperti burung cekakak sungai . Kami juga menjumpai sejenis bangau yang terbang tiba-tiba mungkin karena mengetahui kehadiran kami. Walau kawasan ini merupakan kawasan hutan mangrove yang relatif muda, burung tersebut sudah bisa mencari makan dan tinggal di kawasan hutan mangrove tersebut. Akhir dari Mangrove Trail adalah sebuah jalan naik yang cukup tinggi yang bisa melihat keseluruhan wilayah hutan mangrove dan pemandangan gunung Argopuro yang agak tertutup kabut dari kejauhan.
Tangga naik untu melihat pemandangan hutan mangrove dari atas


Ayunan ala Gili Trawangan
Kembali dari Hutan Mangrove melipir ke gazebo pinggir pantai sambil menikmati semilir angin dan kesejukan iklim mikro di bawah pohon-pohon cemara laut. Jika memandang arah laut terlihat ada persewaan kapal yang membawa kalian ke tengah laut. Jika sedang musim Hiu Paus (Hiu Tutul/Geger Lintang) dengan kapal itu kalian bisa diajak sambil melihat lebih dekat hiu paus tersebut. Namun saat tidak musim Hiu Paus kalian bisa menikmati panorama pantai Duta dari tengah laut. Di tepian pantai ini juga terdapat Ayunan. Ayunan persis dengan yang ada di Gili Trawangan menghadap ke arah senja. Di taruh demikian agar nanti saat senja tiba, pengunjung bisa berfoto di ayunan dengan berlatarkan senja dan langit senja yang indah. Namun sayangnya karena tidak membawa pakaian ganti, saya tidak mencoba berfoto bermain ayunan tersebut.
ayunan Gili Trawangan
Ada sekitar 3-4 Ayunan ala Gili Trawangan disana, namun ada yang cukup aneh terutama pada bagian duduk ayunannya yang cukup tinggi, saya berpikir keras bagaimana cara naiknya jika setinggi itu. Mungkin mau tidak mau harus menunggu air pasang atau mungkin harus digendong untuk bisa naik ke atas ayunan.
perahu untuk melihat panorama pantai duta dari laut
Pantainya Kota Santri
Probolinggo merupakan salah satu kota Santri yang ada di Jawa. Bahkan sepanjang jalan menuju Pantai Duta pun saya melihat beberapa plang pondok pesantren, Di Alun-alun Probolinggo maupun Kraksaan pun juga melihat santri-santri dengan pakaian islami, baju koko dengan sarung. Saya jadi ingat, ada Hadist yang menyebutkan “kebersihan adalah sebagian dari iman. Pengelolaan Pantai Duta menerapkan Hadist tersebut pada konsep pantainya yang bersih dan bebas dari sampah. Menariknya di zona konservasi terdapat plang papan informasi yang bertuliskan Asma Ul Husna atau 99 Nama-nama Allah SWT. sehingga orang yang menelusuri pepohonan cemara laut di Pantai Duta pasti membacanya dan mengetahuinya.
salah satu Asma Ul Husna di Pantai Duta
Pantai ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap, dengan harga tiket masuk yang murah kita mendapatkan suasana pantai yang sejuk, indah dan bersih. Pantai Duta layak kalian kunjungi dan bisa menjadi tempat istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menyelusuri Jalur Pantura yang padat. Tetap jaga kebersihan di pantai ini, karena tanpa ada kesadaran pengunjung pantai ini bisa saja kehilangan gelarnya menjadi Pantai Terbersih dan Bebas Dari Sampah

Jelajah Pesona Hutan Mangrove Panorama Kili-Kili, Muncar, Banyuwangi     Edit

Kawasan Konservasi Mangrove Panorama Kilikili
Teluk Pangpang menyimpan sejuta pesona. Tumbuh lebat barisan vegetasi mangrove yang membentuk hutan sepanjang cekungan teluk mulai dari sisi timur setelah pelabuhan muncar mengikuti garis lekungan teluk Pangpang. Keberadaan hutan mangrove terjaga hingga saat ini karena ada kelompok masyarakat yang peduli.  Setelah melihat Hutan Mangrove Kawang denganJembatan Anti Galaunya, kali ini saya ingin melihat Hutan Mangrove yang ada didekatnya yaitu Hutan Mangrove Panorama Kili-Kili.

Hutan Mangrove Panorama Kili-kili terletak di dusun Tegalpare, Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Awalnya tempat ini adalah lokasi yang dipilih untuk lokasi penanaman pohon mangrove untuk konservasi, namun seiring berjalannya waktu tempat ini membangun jembatan mangrove trail dengan shelter-shelter di dalamnya sebagai wahana untuk memberikan edukasi dan menikmati hutan mangrove.

ikuti saja papan petunjuk jalannya nanti akan sampai sini :)
Perjalanan dari kota Banyuwangi ke Panorama Kili-kili ini mekaman waktu sekitar  1 jam lebih. Rute menuju Hutan Mangrove Panorama Kili-kili cukup mudah kok, Dari Kota Banyuwangi arahkan kendaraan melewati kota Rogojampi, sampai di pertigaan Srono ambil arah ke kiri menuju Muncar, lalu lampu lalu lintas pertama ambil ke kanan, ikuti jalan sampai melewati Pasar Sumberayu, setelah melewati pasar akan bertemu jembatan, belok kiri sebelum melewati jembatan. Ikuti jalan tersebut  sampai  pertigaan pertama ambil ke arah kanan. Dari sini jalan berliku-liku namun jangan khawatir sudah ada petunjuk jalannya di setiap persimpangan. Jika ragu dengan jalan yang ditempuh lebih baik tanya warga sekitar, jangan terlalu tergantung dengan peta online. Setelah keluar dari jalan aspal desa akan ditemui jalan berbatu memasuki kawasan tambak. Jalan cukup kecil tapi masih muat dilewati satu mobil. Nanti kita akan dipungut biaya sebesar Rp.2000/motor dan Rp.1000/orang serta diminta untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan.

Dalam perjalanan saya penasaran dengan nama Kili-kili. Mungkin ada tumbuhan bernama lokal kili-kili atau semacamnya. Sampai dilokasi pertanyaan tersebut terjawab, bahwa nama Kili-kili berasal dari nama Taman Kili-Kili. Taman Kili-kili nama perusahaan tambak yang dulu ada di sekitar Hutan Mangrove namun sudah tidak beroperasi lagi. Jika kalian browsing di google map dengan keyword “Taman Kili-kili” akan membawa kalian pada sisa bangunan dari tambak Taman Kili-kili.

keasyikan menjelajahi mangrove trail panorama kili-kili
Setelah menyelesaikan rasa penasaran dengan nama Kili-kili, saya langsung menjelajahi Hutan Mangrove Panorama Kili-kili ini sekaligus mumpung masih sepi dan suasana pagi. Jembatan Mangrove Trail Kili-kili memiliki panjang sekitar 1km dengan bahan terbuat dari kayu kelapa, kayu lokal dan bambu. Hutan Mangrove pada bagian depan belum terlu tinggi sehingga menyelusurinya melalui mangrove trail semacam memasuki terowongan. Setelah menyelusuri terowongan mangrove akan ada persimpangan-persimpangan yang diujungnya menyediakan bale bengong (shelter) yang bertuliskan huruf abjad. Bale bengong tersebut bisa digunakan untuk bersantai menikmati suasana hutan mangrove. Pengunjung juga bisa memesan makanan dari kantin yang ada di parkiran dan nantinya akan di antar ke Bale Bengong yang kalian tempati.




Menyelusuri makin kedalam, pohon mangrovenya sudah cukup tinggi, karena datang pagi burung-burung kecil seperti Kacamata masih berkicau cukup merdu, sesekali suara Cekakak mengikutinya. Udara sejuk berbau semerbak khas dari hutan mangrove ini jika dihirup perlahan-lahan seakan membuat syaraf2 dari leher ke ubun-ubun segar kembali.

Panorama di ujung mangrove trailnya
burung Blekok sedang mencari makan
Cekakak yang sedang hinggap
Sampai ujung dari mangrove trail adalah sebuah Panorama Kawasan Mangrove yang ada di teluk Pangpang. Disini saya melihat burung Kuntul (Blekok) sedang sibuk mencari makan di dataran lumpur. Sebagian lagi ada yang tetap hinggap di sarangnya di atas dahan pohon mangrove. Sesekali saya melihat Cekakak sedang memantau ke arah lumpur mencari ikan atau udang yang bisa dimakan. Melihat lurus ke arah selatan terdapat bukit hijau yang merupakan Wilayah Taman Nasional Alas Purwo wilayah Resort Sembulungan. Perjalanan menyelusuri hutan Mangrove berakhir disini karena mangrove trail belum sepenuhnya selesai. Rencananya pengelola akan membangun semacam tower untuk mengamati keseluruhan hutan mangrove kilikili dari atas.
sedang mancing
Hari makin siang, suasana di Jembatan Mangrove Trail Panorama Kili-Kli makin ramai. Saya bergegas keluar dari hutan Mangrove Trail dan bersantai di depan pintu masuk mangrove trailnya. Air sudah mulai pasang. Terlihat keluarga-keluarga yang datang membawa pancingan mulai memancing di spot-spot yang menurut mereka nyaman. Terlihat anak-anak cukup gembira mendapatkan ikan-ikan kecil dari pancingannya sendiri. Jika tidak membawa pancingan dan umpan ternyata kantin menyediakan sewa pancingan seharga Rp.5.000 yang bisa dipakai sampai puas. Adanya ikan-ikan kecil yang mudah terpancing ini menandakan berjalannya salah satu fungsi hutan mangrove sebagai tempat bertelur dan berkembang biaknya ikan-ikan.
ikan yg didapat oleh salah seorang anak
Karena pentingnya kawasan hutan mangrove bagi kehidupan, pengunjung yang berkunjung disini diharapkan membantu menjaganya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Saran saya untuk  pihak pengelola jangan pernah bosan menyapa dan mengingatkan pengunjung untuk membuang sampah pada tempat yang disediakan.

Hutan Mangrove Panorama Kilikili ini rekomended sekali untuk dikunjungi bersama teman atau bersama keluarga. Selain itu, kalian juga bisa melakukan kegiatan penanaman pohon Mangrove namun sebelumnya harus menghubungi pengelola terlebih dahulu.
kegiatan penanaman mangrove TN Alas Purwo, Kader Konservasi, Pramuka Muncar, KKN UGM, dan Seasoldier


Tertarik mengunjungi hutan mangrove Panorama Kili-kili ini :)

Piknik Yuk Ke Hutan Mangrove Pandansari, Brebes, Jawa Tengah     Edit

Dermaga kedatangan di Mangrove Trail Brebes
Berawal dari rasa penasaran Grup Whatsapp keluarga besar tentang foto Mangrove Trail di Kabupaten Brebes yang letaknya tidak jauh dari rumah nenek di Losari, Kabupaten Cirebon. Pada saat mudik Lebaran ke rumah nenek, saya sekeluarga menyempatkan diri untuk melihat wisata Hutan Mangrove di Brebes.

Hutan Mangrove Pandansari namanya. Dinamakan demikian karena letaknya di Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Jika dilihat dari PetaHutan Mangrove ini bisa dibilang baru dibuka untuk wisata mulai tahun 2016 dan mulai naik daun pada tahun 2017.

denah rute menuju hutan bakau pandansari brebes
kondisi jalan desanya
kondisi jalan tambaknya
Rute untuk menuju wisata Hutan Mangrove Pandansari, Brebes ini mudah kok. Jika kalian dari kota Brebes arahkan kendaraan ke barat menuju keluar kota Brebes. Ikuti jalan pantura sampai melewati Rumah Sakit Bhakti Asih di Kanan Jalan akan ada pertigaan ke utara. Beloklah ke kanan (arah utara) memasuki jalan tersebut lalu ikuti saja jalan tersebut sampai bertemu pasar dan terlihat papan petunjuk jalan menuju hutan mangrove pandansari . Ikuti papan petunjuk tersebut  melewati area pertambakan udang, bandeng dan garam lalu akan sampai di parkiran wisata hutan mangrove pandansari. Jika kalian dari arah Losari, Cirebon, kalian tinggal belo kiri di pertigaan kiri jalan sebelum Rumah Sakit Bhakti Asih.

kapal yang kami naiki menuju mangrove trail brebes
Dari parkiran ke Mangrove Trail Brebes ini perlu naik perahu menyelusuri  sungai  menuju ujung dermaga mangrove trail. Untuk memasuki hutan mangrove brebes ini kita ditarik tiket masuk sebesar Rp.20.000 untuk dewasa, Rp. 10.000 untuk anak-anak, Rp.2.000 untuk motor, Rp.5.000 untuk mobil. Tiket tersebut sudah termasuk jasa PP naik perahu menuju Mangrove Trail. Perjalanan naik perahu menyelusuri sungai memakan waktu perjalanan sekitar 15 menit.  Di kanan kiri terlihat pohon bakau dari jenis Rhizopora yang mempunyai akar Jangkar. Sesekali terlihat sejenis burung pemakan ikan seperti kuntul, raja udang dan lain-lainnya sibuk melakukan aktifitas mencari makan.

foto pasukan rombongan :D
Setelah 15 menit berlayar menyelusuri perairan hutan mangrove, sampailah kami di dermaga mangrove trail pandansari. Keluarga dan sodara-sodara langsung mengambil pose berfoto di gapura selamat datang dan lalu diikuti rombongan yang lain dibelakang kami. Setelah berfoto. Kami melanjutkan perjalanan kembali menyelusuri jembatan mangrove brebes ini.

jembatan pink, ikon hutan mangrove brebes
Jalur Mangrove trailnya cukup panjang, jika dikira-kira ada lebih dari 1 km. Namun menyelusuri mangrove trail sepanjang itu tidaklah membosankan karena pengelola menyediakan beberapa spot menarik di hutan bakau brebes seperti menyelusuri lorong-lorong hutan bakau, dua buah gardu pandang untuk melihat panorama alam hutan mangrove dari ketinggian, beberapa spot foto menarik seperti Jembatan Berwarna Pink dan tugu patung ikan “mudskipper”, ikan yang banyak ditemui hidup di lumpur-lumpur hutan bakau. Selain itu, di spot tertentu terdapat pedagang makanan-minuman yang siap memadamkan rasa kelaparan dan kehausan setelah capek menyelusuri hutan mangrove brebes.
tugu patung ikan mudskiper, icon hutan bakau brebes

lorong hutan bakau brebes
Walau terbilang baru, pengembangan Hutan Mangrove ini telah memakan waktu selama 10 tahun dengan awal dipelopori oleh Mashadi. Menurut warga sekitar, 6 tahun yang lalu beliau sempat diejek tidak waras menanam Bakau di pesisir Brebes tersebut, namun perlahan upaya tersebut berhasil dan mulai datanglah LSM dan organisasi bahkan Pramuka membantu merestorasi ekosistem Hutan Mangrove di sekitar Dukuh Pandansari, setelah 6 tahun berjalan hasilnya saya rasa sangat memuaskan. Bahkan perjalanan ke Hutan Bakau Brebes melewati daerah tambak dimana setiap pematangnya ditumbuhi oleh pohon bakau. Tumbuhnya pohon bakau ini nantinya bisa menjadi tempat bertelurnya ikan-ikan.

duduk2 di pinggir dermaga
shelter dan kursi santai kosong di area terbuka
Menurut saya pribadi, perlunya penambahan tempat titik istirahat atau shelter karena saat berkunjung kesini dibeberapa spot terdapat pengunjung yang duduk di pinggir mangrove trail dan menyantap bekal makanan yang dibawa dari luar. Hal ini bisa menyebabkan kemacetan di mangrove trail atau mungkin kejadian yang tidak diinginkan seperti pengunjung yang duduk di pinggir tersebut tersenggol dan akhirnya tercebur. Mungkin adanya jaket pelampung yang disediakan diatas kapal penyebrangan sesuai dengan jumlah orang yang diangkut kapal tersebut.Walau air sungainya terbilang tenang, namun tidak ada salahnya untuk jaga-jaga dan keamanan, kenyamanan pengunjung.

gardu pandang hutan bakau brebes
Hutan Mangrove Bakau ini layak kalian datangi selain aksesnya mudah dijangkau baik dari kota Brebes maupun dari luar kota Brebes juga mendapatkan ilmu-ilmu bermanfaat seputar hutan mangrove dan bisa mengurangi atau menghilangkan kepenatan rutinitas sehari-hari. Mengunjungi Hutan Bakau Brebes ini enaknya di waktu pagi hari sebelum jam 9 pagi atau sore mulai jam 3 pagi. Dengan mengunjungi pada waktu itu cuaca tidak terlalu panas dan terik sekaligus saat kalian menyelusuri lorong hutan mangrove akan terdengar kicauan merdu burung-burung yang mendiami hutan ini. Jika jeli, kalian bisa melihat aktivitas burung-burung tersebut mencari makan di sekitar hutan bakau brebes ini.


Yuk Ke Hutan Mangrove Pandansari, Brebes :D