-->
Showing posts with label Pantai Banyuwangi. Show all posts
Showing posts with label Pantai Banyuwangi. Show all posts

Pantai Banyuwangi

Pantai Sembulungan, Banyuwangi - Pantai Dengan Potensi Sejarah Luar Biasa dan Kearifan Lokal Yang Kental     Edit

Pantai Sembulungan di Alas Purwo

Pantai Sembulungan adalah salah satu pantai di Banyuwangi yang punya daya tarik lain dibanding pantai-pantai lain di Banyuwangi. Selain keindahan pantainya, juga terdapat peninggalan sejarah mulai era kerajaan hingga era penjajahan kolonial Belanda dan Jepang. Selain itu juga terdapat kearifan-kearifan lokal masyarakat pesisir Banyuwangi terutama Muncar yang wilayahnya sangat dekat dengan Pantai Sembulungan yang hanya dipisahkan oleh Perairan Teluk Pangpang.

Senja di Pantai Sembulungan

Pantai Sembulungan terletak di wilayah konservasi Taman Nasional Alas Purwo berdekatan dengan Daerah Muncar, Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Jika kita berada di pelabuhan Muncar kita bisa melihat sebuah daratan tinggi atau Tanjung yang menjorok ke arah Laut, wilayah tersebut bernama Sembulungan.

Rute menuju pantai Sembulungan dari kota Banyuwangi.

Untuk ke Pantai Sembulungan ada dua cara yaitu lewat darat dan lewat laut menggunakan kapal/jukung.  Rute ke Pantai Sembulungan dengan jalur darat adalah lewat Jatipapak yang terkenal dengan wisata mangrove Trail Jatipapak.

Sembulungan rute darat hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua saja. Dari kota Banyuwangi ambil rute ke TN Alas Purwo melewati Rogojampi-Pertigaan Lampu Lalu Lintas Srono ambil ke arah timur (arah Muncar) – Pertigaan lampu lalu lintas Tembok ambil ke barat – dari sini ikuti saja petunjuk jalan ke TN Alas Purwo hingga sampai daerah Kalipait akan ada Kantor TN Alas Purwo dan Lapangan Sepakbola sebelum masuk ke hutan. Ikuti jalan berbatu dekat Lapangan Bola tersebut hingga ke Jatipapak, dari jatipapak kalian bisa menanyakan rute ke Sembulungan. Jika kondisi musim hujan tidak disarankan rute darat ini.

Sembulungan Rute Laut melewati Hutan Mangrove

Sembulungan Rute Laut bisa ditempuh dari Pelabuhan Muncar menyewa kapal/jukung. Saya bisanya malah lewat Sungai Stail dengan menyewa jasa transportasi dari Kelompok Masyarakat Bahari Stail Sejahtera (BSS) yang berada di Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar. Kelompok BSS ini sering mengantarkan tamu untuk memancing, juga untuk wisata  trip ke Teluk Biru. Untuk ke Basecamp Kelompok BSS ini cukup mudah. Dari kota Banyuwangi ambil rute ke TN Alas Purwo melewati Rogojampi-Pertigaan Lampu Lalu Lintas Srono ambil ke arah timur (arah Muncar) – Perempatan Tembok ambil ke kanan lalu ikuti sampai di pertigaan Pasar Sumberayu ambil kiri – ikuti jalan dan tanya warga setelmpat Kantor Resort Tanjung Pasir TN Alas Purwo atau kalian bisa ikuti rute di Google maps. Jika kalian tertarik bisa menghubungi nomor Whatsapp 081216695429.

Rute laut ini seru, apalagi lewat sungai Stail. Kalian bisa melihat kehidupan dipesisir sungai Stail, aktivitas masyarakat, melewati hutan mangrove dan akhirnya bermuara di teluk pangpang dan sampai di Pantai Sembulungan. Kelemahan dari rute laut lewat sungai stail adalah masih terpengaruh pasang surut air laut. Jika air laut surut, untuk menyebrang ke Sembulungan agak sulit. Atau bahkan tidak bisa.

Di Pantai Sembulungan

Tetibanya di Pantai Sembulungan cukup takjub dengan perubahannya. Dahulu jika berlabuh kesini, celana bagian bawah agak basah terkena ombak saat turun kapal namun sekarang ada Dermaga yang bisa digunakan untuk pelabuhan kapal terutama saat air laut sedang pasang. Pantao Sembulungan berpasir putih dan saat datang dalam kondisi bersih hanya ada sampah-sampah dari seresah daun yang basah terbawa ombak laut dan angin. Namun memang jika kita kesini saat musim angin barat yang membuat ombak membawa sampah-sampah dilautan menepi sehingga pesisir pantai ini banyak terlihat sampah yang berserakan.

Bungker Tempat Peristirahatan

Meriam Buatan Jerman

Di tepian pantai terlihat bangunan yang sedikit timbul dari pasir pantai, saat saya dekati ternyata sebuah Bungker sudah tidak digunakan lagi. Jumlahnya cukup banyak, belum lagi bungker yang ada di atas bukit sembulungan. Kalau kita ke atas bukitnya makin ditemukan banyak bungker dengan sedikit lubang untuk keluarnya moncong senjata dan mengintip. Sepertinya Tanjung Sembulungan ini menjadi seperti benteng pertahanan yang digunakan pada masa era kolonial belanda dan jepang untuk menghadapi serangan dari laut. Dengan adanya benteng pertahanan di tanjung sembulungan ini kapal musuh akan kesulitan mendarat ke wilayah Muncar. Di area atas bukit juga ada sisa meriam yang digunakan pada masa penjajahan dulu. Meriamnya cukup besar bertuliskan FRIED KRUPP ESSEN 1900 yang berarti meriam ini dibuat tahun 1900 oleh Tokoh Industrial Terkenal, Fried Krupp yang membangun industri cetakan logam di Essen, Jerman. Tulisan tersebut juga ditemukan pada meriam-meriam peninggalan masa penjajahan. Diatas bukit cukup sejuk karena banyak rimbunan pohon dan bambu yang menaungi, ditambah lagi angin laut yang cukup sejuk masuk dari sela-sela dahan pohon dan bambu membuat lupa cuaca panas di area pantai.

Dugaan Situs Padepokan Empu Supo di Sembulungan

Jika kita lebih naik ke puncak sembulungan ini kita bisa menemukan situs peninggalan Empu Supo. Situsnya ini hanya berupa bongkahan batu bata yang berukuran tidak wajar juga ditemukan umpak yang memperkuat dugaan adanya bangunan disini. Empu Supo ini terkenal dalam cerita sejarah Kerajaan Majapahit dan Blambangan. Singkat ceritanya Prabu Brawijaya mengutus Empu Supo mencari Keris Kiai Sengkelat yang hilang. Setelah sekian lama mencari dari daerah ke daerah hingga sampailah di daerah Blambangan (Banyuwangi). Saat di Blambangan, beliau dipanggil oleh bupati Blambangan untuk memperbaiki bilah kerisnya yang rusak, ternyata keris milik bupati adalah keris yang dicari oleh beliau. Empu Supo menyarankan untuk membuat duplikat keris tersebut sebanyak 3 buah untuk menghindari terjadinya kerusakan atau kehilangan sedangkan yang asli di simpan oleh beliau. Bupati Blambangan terkesan atas hasil kerja Empu Supo yang bisa memperbaiki keris dan membuat duplikatnya. Konon cerita Keris Kiai Sengkelat yang asli dikembalikan ke Prabu Brawijaya. Untuk ke Situs Empu Supo ini tidak bisa sembarangan, karena tidak ada jalan setapaknya sehingga kalian perlu izin dulu kepada petugas agar bisa didampingi naik ke atas bukit tersebut.

Kearifan Lokal di Sembulungan.

Setiap tanggal 14,15 pada Tanggalan Islam, masyarakat nelayan di muncar melakukan kegiatan pembersihan kapal-kapal mereka di pesisir pantai Sembulungan. Membersihkan kapal dari kerak dan kerang yang menempel di lumbung kapal, kebersihan kapal hingga memperbaiki kapal seperti mencat kembali warna kapal yang memudar. Kapal Nelayan Muncar ini sangat khas sekali dengan warna warni yang menawan dan bentuknya yang unik. Pada lumbung kapalnya terdapat corak garis warna-warni dan diakhir pada garis teratas biasanya berwarna kuning. Kapal Khas Nelayan di Muncar ini bernama Kapal Slerek. Jika kalian datang pada pagi sampai sore hari pada tanggal tersebut, kalian bisa menjumpai aktivitas ini.

Pembersihan Kapal Slerek dari Kerak Kerang Tiram

Kapal Slerek yang parkir di Pantai Sembulungan untuk melakukan perbaikan

Napak tilas, medoakan leluhur Mbah Kalong, Salah satu Gandrung dari Muncar

Pada setiap bulan Muharram pada Tanggalan Islam, Masyarakat nelayan muncar melakukan Upacara Petik Laur Muncar yang diadakan sangat meriah. Bahkan banyak wisatawan yang datang untuk melihat upacara ini. Upacara ini diadakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut yang didapat dan hasil laut kedepannya juga melimpah. Poin menarik dari petik laut adalah keramaian warna-warni kapal Slerek yang berangkat bersama-sama melabuhkan umbe rampe, sesaji dalam bentuk kapal dan dihanyutkan atau ditenggelamkan di laut. Rasanya Perairan Teluk Pangpang dan Selat Bali hari itu penuh dengan warna. Setelah melabuhkan dilanjutkan syukuran di Pantai Sembulungan dan napak tilas sekaligus mendoakan Mbah Kalong. Salah satu tokoh Gandrung yang dihormati di Wilayah Muncar dan sekitarnya.

Video Petik Laut Muncar

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/vlkm9HB4VEA" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

Secara garis besar, Pantai Sembulungan ini menarik untuk di kunjungi baik pesona alamnya, keunikan budaya dan kearifan lokalnya juga peninggalan sejarah yang ada disana. Jika ada waktu coba dikunjungi pantai Sembulungan ya, coba juga menggunakan jalur lautnya :)

Dialoog Hotel - Tempat Hening Menikmati Pesisir Pantai Banyuwangi     Edit

Dialoog Hotel

Rasanya jiwa dan raga sudah bosan dengan aktivitas rutin harian, mungkin saatnya pergi berlibur. Kebetulan kemarin dapat voucher menginap dari Dialoog Hotel yang merupakan salah satu hotel baru di Banyuwangi yang letaknya cukup menyenangkan, ditepian pesisir pantai Banyuwangi.

Karena waktu libur Cuma Weekend, berangkatlah saya hari Sabtu ke Dialoog Hotel yang beralamat di Jl. Yos Sudarso, Lingkungan Kaliklatak, Kelurahan Klatak,Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Letaknya tidak jauh dari pusat kota Banyuwangi, hanya menempuh waktu 10-15 menit saja dari Pusat Kota Banyuwangi ke arah Pelabuhan Ketapang.

Sejuk dan Menyatu Dengan Alam

Kesan pertama saat sampai di Dialoog Hotel, Tempatnya Tenang,seakan bersatu dengan alam dengan membiarkan pohon-pohon kelapa yang tumbuh sebelum berdirinya hotel Dialoog ini. Sehingga adanya pohon kelapa di sekitar halaman hotel membuat hotel seakan-akan menyatu dengan alam sekitar yaitu perkebunan kelapa milik warga setempat. Jika melihat arah laut, ada kolam yang di konsep infinity pool seolah-olah menyatu dengan warna laut.

Kamar dan Tata Bangunannya menyenangkan
Foto Kamar Dialoog Hotel
Arsitekturnya juga menarik, seperti mengacu pada model arsitektur modern minimalis dengan bangunan kota/kubus. Selain adanya pohon kelapa, dialoog banyuwangi juga menanam tanaman keladi hias yang tumbuh besar,tanaman jenis phylodendron dan tanaman bunga-bungaan. Rasanya walau berada di pinggir pantai, kesan hotel Dialoog terasa sejuk.  Kamarnya juga kesannya minimalis dengan warna putih dan abu-abu dipadukan dengan kayu, menjadi paduan yang pas. Kamarpun mendapat cahaya yang cukup karena mempunyai jendela yang besar dengan pemandangan halaman hotel dialoog beserta laut selat Bali. Jika membuka pintu jendela otomatis AC dalam kamar akan mati dan akan digantikan dengan semilir angin pantai. Konsep yang bagus dan menerapkan hemat daya listrik.

Sunyi dan Jauh dari Keramaian Kota
Saat menjalang Malam
Walau letaknya sebenarnya dekat jalan nasional menuju pelabuhan Ketapang (penyebrangan Jawa Bali), suara ramai kendaraan tidak terdengar, karena dari jalan raya ke hotelnya masih ada jalan kecil menuju ke pelataran hotelnya.  Jika sudah sore berganti malam, suasananya tenang sekali. Hanya ada riuh suara jangkrik, sejenis serangga lainnya, kodok dan deburan ombak.  Jika malas keluar malam dan ingin menikmati suasana Dialoog hotel malam hari, di sini juga ada Resto yang menyediakan makanan dan minuman sekaligus menawarkan suasana pantai malam hari. Saya membayangkan saat purnama, makan malam di pinggir pantai sana. Bisa menyaksikan matahari terbit di balik pulau Bali setelah Magrib.

Pemandangan Sunrise di Banyuwangi yang tak terlupakan
Dialoog Hotel berada di pinggir pantai, menghadap ke timur. Sudah bisa membayangkan bakal seindah apa pemandangan matahari terbit disini. Kalian bisa menikmatinya dari dalam kamar, karena ada beberapa kamar yang menghadap ke laut. Atau bisa langsung menikmatinya di pinggiran pantai. Dari pinggiran pantai, kita bisa melihat perjuangan beberapa nelayan yang mencari ikan di perairan selat bali menggunakan perahu kecil bermotor, bahkan ada yang hanya menggunakan layar. Jika dilihat dengan seksama, ada pula yang mencari ikan dengan menggunakan pelampung Ban.

Infinity Pool Dialoog Hotel untuk tamu yang menginap
Kita juga bisa menikmati pemandangan matahari terbit dari Infinity Poolnya Dialoog Hotel. Disini kita bisa menikmati ketenangan dipinggiran pantai memandangi kemegahan langit timur pagi hari, sambil berdialog dengan teman, berdialog dengan diri sendiri bahkan dengan Tuhan Pencipta Pagi yang indah ini.
Habis Renang jangan lupa sarapan hehe
Jika teman-teman ingin bersantai dan menikmati Indahnya Pemandangan Pagi Banyuwangi, Kalian Bisa mencoba menginap di Dialoog Hotel ini.

Teluk Biru, Banyuwangi - Sebiru Masa Lalunya     Edit



Hari ketiga, senja hadir kembali dengan indahnya. Meramaikan sesaat suasana sore itu, dari suasana sunyi di teluk tertimur pulau Jawa. Teluk Banyubiru begitulah para nelayan menamainya, berubah perlahan-lahan namanya menjadi Teluk Biru. Sebiru air sebiru langitnya sebiru juga masa lalunya.

Teluk Biru, teluk yang terletak di pinggir kawasan hutan konservasi Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Keberadaannya yang sangat sulit ditempuh dan hanya bisa lewat laut membuat eksplorasi ke kawasan Teluk Biru, Banyuwangi ini hanya bisa ditempuh dengan perahu. Belum lagi kondisi ombak yang kadang tidak membaik, membuat nelayan dan perahunya enggan mengantarkan kita menuju kesana.

Memasuki Perairan Teluk Pangpang setelah keluar dari Sungai Stail
Berangkat dari Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, kalian bisa menyewa jasa transportasi kelompok BSS untuk ke Teluk Biru. Berangkat menyelusuri sungai Stail, melewati hutan mangrove dan bermuara ke teluk Pangpang lalu lanjut ke menyelusuri perairan di pinggir kawasan hutan TN Alas Purwo. Keberangkatan saya ke Teluk Banyubiru untuk mengambil beberapa data tentang Hutan di TN Alas Purwo selama beberapa hari.

kapal Slerek, Kapal Tradisional Banyuwangi
Kondisi laut cukup tenang, saya bisa menikmati pemandangan diatas kapal dengan memandangi kawasan Hutan yang lebat yang terjaga TN Alas Purwo. Beberapa pohon ada yang menjulang cukup tinggi dari pohon sekitarnya, Pohon Munung, masyarakat lokal menyebutnya demikian. Di laut sering kali berpapasan dengan nelayan lokal dengan perahu tradisional berwarna-warni yang sangat kontras. Kapal Slerek, kapal tradisional yang dapat di temukan di daerah Jawa Timur khusunya Banyuwangi, Jember, Situbondo dan Madura. Kapal ini berlayar selalu berdua sehingga punya sebutan lain yaitu kapal suami-istri. "Kapal aja suami-istri, kamu kapan?!, Teriak rekan kerja yang ada di kursi perahu bagian belakang.


Biru dan Sepi
Sejauh mata memandang, Biru. Langit yang biru, laut pun biru. Setelah mendarat, saya bersama rombongan bergegas membuat tenda dan beristirahat sebelum mengambil data yang dibutuhkan. Saya beristirahat sambil menyelusuri garis pantai Teluk Banyubiru. Sepi sekali, hanya ada deru ombak saja. Umang-umang yang bergerak ke arah pasir pantai pun suaranya tak terdengar. Pasirnya lembut, tidak ditemukan sampah-sampah kemasan, hanya ada beberapa ranting pohon yang memutih karena lama hanyut di lautan. Kukira malam laut akan gelap tapi nyatanya penuh dengan lampu. Itu adalah lampu dari perahu-perahu nelayan yang sedang mencari ikan, ramai sekali hampir terlihat seperti di sebrang lautan ada pemukiman padahal hanya laut dan hutan belantara saja. Sempat kukira, ak tertidur dan terlempar dimensi lain. Sempat kucek wajah rekan yang sudah tidur, mereka masih asli?
Gemerlap Lampu di lautan menjelang pagi
bertemu patrick
Hari kedua setelah mengambil data, saya kembali menyelusuri garis pantai kembali, masih sama hanya ada deru ombak dan ranting pohon yang memudar sudah hilang, mungkin kembali melaut saat laut pasang tadi malam. Hari ketiga pun sama saja, rasa bosan sudah melanda, karena selalu melihat hal yang sama, Biru dan Biru. Kali ini tidak menyelusui pasir pantainya, namun pergi ke arah selatan dimana ada hamparan batu karang yang telah mati. Langit sore di hari ketiga cukup cerah, saya berharap bisa melihat warna lain selain Biru sore ini. Di pinggiran formasi karang, terdapat pohon yang telah meranggas dan sebuah batu karang besar. Saya memilih duduk disitu dan menunggu senja. Melamun.

Teringat cerita rekan perjalanan kali ini bahwa dulu, Teluk Banyubiru atau Teluk Biru, Banyuwangi ini dulu adalah surganya hasil laut. Bahkan dijuluki sebagai daerah kantong ikan. Ikan-ikan dari Samudera Indonesia dipastikan mampir dan mencari makanan disini. Terumbu karang bagus, sumber pakan ikan melimpah, Ikan-ikan yang datang enggan pergi. Sampai suatu ketika marak sekali adanya pengeboman terumbu karang, mendapatkan hasil yang maksimal tapi dengan cara yang salah dan tidak benar. Imbasnya kini bisa dilihat, banyak terumbu karang rusak bekas pengemboman masa lampau. Imbasnya banyak, ada saat di sekitar perairan ini tidak ada ikan. Nelayan ada yang menjual parabotan rumah tangga yang bisa dijual hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kan miris.

Kini adanya wisata ke Teluk Biru dan adanya Budidaya Mutiara di kawasan pesisir dan perairan sekitar Teluk Biru menjadi titik terang dari terumbu karang yang rusak. Terumbu Karang sudah perlahan pulih karena perairan di jaga oleh Petugas TN Alas Purwo, Perusahaan Budidaya Mutiara dan Nelayan yang geram akan tindakan pengeboman dan pengerusakan terumbu karang. Wisata ke Teluk Biru pun beberapa kali juga melepaskan transplantasi Terumbu Karang sebelum para wisatawan bermain di Teluk Biru.

Senja di Teluk Biru
Terbangun dari lamunan lintas waktu, Kaki sedikit basah, ternyata air mulai pasang semata kaki. Turun dari batu karang lalu kaget ketika melihat arah barat. Langit yang tadinya agak putih berawan, kini mulai jingga bahkan berubah merah membara. Mencari tatakan enak untuk meletakan kamera, timer lalu foto bersama langit merah membara. Hendak memanggil rekan untuk difotokan, mereka terlalu jauh.

Masa lalu dari Teluk Biru ini boleh Biru, tapi di Masa Depan daerah Ikan dari Teluk Biru kembali berjaya dan tidak ada lagi oknum yang melakukan pengeboman atau tindakan yang merusak laut. Yah kali, mau kesusahan mencari ikan lagi K
Kapal Slerek Kecil dan Pegunungan Hutan Alas Purwo
Jika teman-teman ingin ke Teluk Biru bisa kontak kelompok Bahari Stail Sejahtera yang menyewakan jasa transportasi kapal ke Teluk Biru, Banyuwangi.

Kelompok Masyarakat Bahari Stail Sejahtera 085215370489 (telepon) atau 081216695429 (WA)
Koordinat Basecamp Kelompok Masyarakat ( -8.486244, 114.352294 )


Pantai Cacalan, Banyuwangi - Spot Menikmati Sunrise Yang Menyenangkan     Edit

berdua di pantai cacalan
Pantai Cacalan, salah satu pantai di dekat kota Banyuwangi yang sedang naik daun mulai awal tahun 2017. Saya pun menyaksikan perubahannya dibandingkan tahun 2015 silam yang mana pantai ini hanya berupa lahan kosong yang ditumbuhi rumput-rumput rawa.  Wajah barunya kini lebih berseri dengan membabat habis rumput liar dan membuat beberapa wahana yang menarik  seperti ayunan-ayunan di tepian pantai.

pantai cacalan 2015
gapura masuk ke pantai cacalan
Rute menuju Pantai Cacalan cukup mudah, jika kalian dari pusat Kota Banyuwangi arahkan kendaraan kalian menuju Pelabuhan Ketapang, kalian akan melewati Pasar Kampung Arab atau pasar Lateng- lalu Supermarket Hardy, lalu  Pertigaan Lampu Lalu Lintas Sukowidi ambil lurus nanti setelah melewati Pom Bensin kiri jalan dan Indomaret di kanan jalan ada puteran balik dan disebrangnya ada gapura bertuliskan Pantai Cacalan. Arahkan kendaraan memasuki gang tersebut dan kalian akan sampai di Pantai Cacalan. Ke pantai Cacalan naik angkot juga mudah, kalian bisa menaiki angkot Jurusan Terminal Brawijaya (Karangente) – Pelabuhan Ketapang dan turun di gapura masuk Pantai Cacalan. Memasuki pantai Cacalan kita hanya ditarik biaya parkir kendaraan sebesar Rp 2.000 untuk motor dan Rp.5.000 untuk Mobil.

ayunan ala-ala gili trawangan
Sejarah Nama Pantai Cacalan
Kosakata Cacalan sangat asing di bank kamus bahasa saya, sehingga agak susah menebak kenapa pantai ini disebut nama Cacalan. Karena setiap nama Pantai terutama di Jawa ada cerita dan asal usulnya. Saya bertanya kepada Mba Ira yang kebetulan warga sekitar pantai Cacalan. Dulu di sekitar Pesisir Pantai Bulusan, Dermaga Cinta- Cacalan hingga pantai Ancol banyak ditumbuhi pohon Jajang atau bambu. Pada saat pembukaan lahan pertanian, pohon bambu di cacal atau di pacul. Karena hal tersebut pantai ini disebut dengan pantai Cacalan.

Banyuwangi terkenal dengan sebutan Sunrise of Java dan di pantai Cacalan ini merupakan salah satu pantai yang bisa kalian pilih untuk menikmati keindahan Sunrise di Banyuwangi. Pengelola pantai sudah menyediakan fasilitas untuk menikmati sunrise banyuwangi di Cacalan lebih khidmad dan Syahdu seperti adanya ayunan-ayunan, bangku-bangku bahkan gubuk kecil di tepiannya bahkan jika kalian bisa memesan teh atau kopi panas di kafetaria yang sudah buka saat pagi.

nikmati sunrise banyuwangi
berdua pagi-pagi
yg ini narsis :D
Sambil menunggu langit memerah saya biasanya memesan Coklat Panas dan minta diantarkan ke gubuk yang ada di pinggir pantai. Beberapa orang mulai terlihat berdatangan ada yang berjalan kaki ada juga yang menggunakan motornya. Langit memerah dan mulai menunjukan atraksi menariknya. Ayunan yang tadinya terayun-ayun pelan karena angin, mulai bergerak berayun karena gerakan kaki dan tangan Dua Sejoli yang terlihat mesra dalam lembayung pagi. Ayunan yang satunya sudah terisi satu keluarga kecil, dengan anak yang bermain ayunan dibantu oleh ibunya berayun karena kakinya belum nampak sampai ke pasir pantai. Terlihat ombak saat itu sedang surut, lumut-lumut dan rumput laut di pantai Cacalan terlihat. Pesisir pantai yang berwarna hitam keabu-abuan kini lebih berwarna.

pemandanga mirip dengan pantai boom, ancol, dermaga cimta dan pulau santen
Pemandangan ke arah laut pantai Cacalan ke arah lautnya hampir sama dengan pemandangan dari pantai Syariah Pulau Santen, Pantai Boom, Pantai Pelabuhan Marina, Pantai Ancol, Pantai Dermaga Cinta yaitu adanya dua gunung dari Pulau Bali. Menariknya pada bulan Mei, Agustus matahari berada di celah dua buah gunung tersebut sehingga matahari bisa disaksikan naik perlahan-lahan keluar seolah keluar dari pulau Dewata. Karena masih rendah, kita bisa mengambil foto dengan Background matahari bulat, tentu saja saat cuaca cerah dan tak terhalang oleh awan.

pagi pas weekend, agak ramai
Jika ke pantai Cacalan pada hari biasa atau Weekday, kalian akan menemukan suasana pagi yang sepi dan akan mulai ramai pada menjelang sore dimana pengujung datang untuk menikmati sore, melepas lelah di pesisir pantai atau sekedar nongkrong ngopi di kafetaria pantai cacalan. Jika datan weekend khususnya hari minggu anda akan menemukan suasana pagi yang agak ramai dan sekitar jam 6 sudah ada wahana persewaan naik kuda menyelusuri pesisir pantai cacalan.

cafetaria, buka sampai jam 23.00 WIB
Pantai Cacalan  memiliki fasilitas yang memadai seperti musholla, bilik serba guna yang biasa untuk ruang pertemuan, cafeteria, kamar mandi dan tempat bilas serta musholla. Pantai ini dibuka sampai dengan jam 11 malam, sehingga pengunjung bisa leluasa menentukan waktu untuk berkunjung ke pantai, pagi hari sambil menikmati sunrise atau sore-sore atau bisa juga malam hari sambil memesan kopi atau teh hangat menikmati suasana pantai malam hari.

Tertarik mengunjungi Pantai Cacalan saat berada di Banyuwangi?

Update Cerita
Pantai Cacalan ternyata mempunyai sejarah yang menyedihkan. Ada cerita lokal yang menceritakan tentang asal muasal penamaan daerah Cacalan ini. Pejuang-pejuang dari kerajaan Blambangan tertangkap oleh Penjajah Belanda. Ada yang disiksa ada juga yang dibunuh, untuk memudahkan pembuangan mayat dari prajurit blambangan tersebut ke perairan selat Bali atau pesisir pantai, mayat prajurit dicacah-cacah atau di pecel-pecel lalu dibuang ke laut. Karena ada kejadian Cacah-cacah, daerah tepat kejadian diberi nama Cacalan. 
(mengheningkan cipta, semoga arwah prajurit tenang di sisiNYA)


Jelajah Pesona Hutan Mangrove Panorama Kili-Kili, Muncar, Banyuwangi     Edit

Kawasan Konservasi Mangrove Panorama Kilikili
Teluk Pangpang menyimpan sejuta pesona. Tumbuh lebat barisan vegetasi mangrove yang membentuk hutan sepanjang cekungan teluk mulai dari sisi timur setelah pelabuhan muncar mengikuti garis lekungan teluk Pangpang. Keberadaan hutan mangrove terjaga hingga saat ini karena ada kelompok masyarakat yang peduli.  Setelah melihat Hutan Mangrove Kawang denganJembatan Anti Galaunya, kali ini saya ingin melihat Hutan Mangrove yang ada didekatnya yaitu Hutan Mangrove Panorama Kili-Kili.

Hutan Mangrove Panorama Kili-kili terletak di dusun Tegalpare, Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Awalnya tempat ini adalah lokasi yang dipilih untuk lokasi penanaman pohon mangrove untuk konservasi, namun seiring berjalannya waktu tempat ini membangun jembatan mangrove trail dengan shelter-shelter di dalamnya sebagai wahana untuk memberikan edukasi dan menikmati hutan mangrove.

ikuti saja papan petunjuk jalannya nanti akan sampai sini :)
Perjalanan dari kota Banyuwangi ke Panorama Kili-kili ini mekaman waktu sekitar  1 jam lebih. Rute menuju Hutan Mangrove Panorama Kili-kili cukup mudah kok, Dari Kota Banyuwangi arahkan kendaraan melewati kota Rogojampi, sampai di pertigaan Srono ambil arah ke kiri menuju Muncar, lalu lampu lalu lintas pertama ambil ke kanan, ikuti jalan sampai melewati Pasar Sumberayu, setelah melewati pasar akan bertemu jembatan, belok kiri sebelum melewati jembatan. Ikuti jalan tersebut  sampai  pertigaan pertama ambil ke arah kanan. Dari sini jalan berliku-liku namun jangan khawatir sudah ada petunjuk jalannya di setiap persimpangan. Jika ragu dengan jalan yang ditempuh lebih baik tanya warga sekitar, jangan terlalu tergantung dengan peta online. Setelah keluar dari jalan aspal desa akan ditemui jalan berbatu memasuki kawasan tambak. Jalan cukup kecil tapi masih muat dilewati satu mobil. Nanti kita akan dipungut biaya sebesar Rp.2000/motor dan Rp.1000/orang serta diminta untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan.

Dalam perjalanan saya penasaran dengan nama Kili-kili. Mungkin ada tumbuhan bernama lokal kili-kili atau semacamnya. Sampai dilokasi pertanyaan tersebut terjawab, bahwa nama Kili-kili berasal dari nama Taman Kili-Kili. Taman Kili-kili nama perusahaan tambak yang dulu ada di sekitar Hutan Mangrove namun sudah tidak beroperasi lagi. Jika kalian browsing di google map dengan keyword “Taman Kili-kili” akan membawa kalian pada sisa bangunan dari tambak Taman Kili-kili.

keasyikan menjelajahi mangrove trail panorama kili-kili
Setelah menyelesaikan rasa penasaran dengan nama Kili-kili, saya langsung menjelajahi Hutan Mangrove Panorama Kili-kili ini sekaligus mumpung masih sepi dan suasana pagi. Jembatan Mangrove Trail Kili-kili memiliki panjang sekitar 1km dengan bahan terbuat dari kayu kelapa, kayu lokal dan bambu. Hutan Mangrove pada bagian depan belum terlu tinggi sehingga menyelusurinya melalui mangrove trail semacam memasuki terowongan. Setelah menyelusuri terowongan mangrove akan ada persimpangan-persimpangan yang diujungnya menyediakan bale bengong (shelter) yang bertuliskan huruf abjad. Bale bengong tersebut bisa digunakan untuk bersantai menikmati suasana hutan mangrove. Pengunjung juga bisa memesan makanan dari kantin yang ada di parkiran dan nantinya akan di antar ke Bale Bengong yang kalian tempati.




Menyelusuri makin kedalam, pohon mangrovenya sudah cukup tinggi, karena datang pagi burung-burung kecil seperti Kacamata masih berkicau cukup merdu, sesekali suara Cekakak mengikutinya. Udara sejuk berbau semerbak khas dari hutan mangrove ini jika dihirup perlahan-lahan seakan membuat syaraf2 dari leher ke ubun-ubun segar kembali.

Panorama di ujung mangrove trailnya
burung Blekok sedang mencari makan
Cekakak yang sedang hinggap
Sampai ujung dari mangrove trail adalah sebuah Panorama Kawasan Mangrove yang ada di teluk Pangpang. Disini saya melihat burung Kuntul (Blekok) sedang sibuk mencari makan di dataran lumpur. Sebagian lagi ada yang tetap hinggap di sarangnya di atas dahan pohon mangrove. Sesekali saya melihat Cekakak sedang memantau ke arah lumpur mencari ikan atau udang yang bisa dimakan. Melihat lurus ke arah selatan terdapat bukit hijau yang merupakan Wilayah Taman Nasional Alas Purwo wilayah Resort Sembulungan. Perjalanan menyelusuri hutan Mangrove berakhir disini karena mangrove trail belum sepenuhnya selesai. Rencananya pengelola akan membangun semacam tower untuk mengamati keseluruhan hutan mangrove kilikili dari atas.
sedang mancing
Hari makin siang, suasana di Jembatan Mangrove Trail Panorama Kili-Kli makin ramai. Saya bergegas keluar dari hutan Mangrove Trail dan bersantai di depan pintu masuk mangrove trailnya. Air sudah mulai pasang. Terlihat keluarga-keluarga yang datang membawa pancingan mulai memancing di spot-spot yang menurut mereka nyaman. Terlihat anak-anak cukup gembira mendapatkan ikan-ikan kecil dari pancingannya sendiri. Jika tidak membawa pancingan dan umpan ternyata kantin menyediakan sewa pancingan seharga Rp.5.000 yang bisa dipakai sampai puas. Adanya ikan-ikan kecil yang mudah terpancing ini menandakan berjalannya salah satu fungsi hutan mangrove sebagai tempat bertelur dan berkembang biaknya ikan-ikan.
ikan yg didapat oleh salah seorang anak
Karena pentingnya kawasan hutan mangrove bagi kehidupan, pengunjung yang berkunjung disini diharapkan membantu menjaganya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Saran saya untuk  pihak pengelola jangan pernah bosan menyapa dan mengingatkan pengunjung untuk membuang sampah pada tempat yang disediakan.

Hutan Mangrove Panorama Kilikili ini rekomended sekali untuk dikunjungi bersama teman atau bersama keluarga. Selain itu, kalian juga bisa melakukan kegiatan penanaman pohon Mangrove namun sebelumnya harus menghubungi pengelola terlebih dahulu.
kegiatan penanaman mangrove TN Alas Purwo, Kader Konservasi, Pramuka Muncar, KKN UGM, dan Seasoldier


Tertarik mengunjungi hutan mangrove Panorama Kili-kili ini :)

Jembatan Anti Galau Hutan Mangrove Kawang dan Pantai Cemara Cinta - Muncar, Banyuwangi     Edit

Mangrove Trail Muncar
Pulang melewati Kota Muncar, saya teringat ada Hutan Mangrove di Kecamatan Muncar yang sudah dikembangkan menjadi kawasan wisata. Namanya Pantai Cemara Cinta atau lebih dikenal dengan nama Hutan Mangrove Kawang. Saya pun membelokan kendaraan menuju hutan mangrove tersebut
Hutan Mangrove Kawang terletak di Dusun Kawang, Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Karena letaknya berada di wilayah Dusun Kawang tempat ini dinamakan Kawang. Nama lainnya adalah Pantai Cemara Cinta dikarenakan di sini juga terdapat pohon jenis cemara laut yang ditanam. Disebut pantai karena sekilas Mangrove Kawang ini memiliki pasir pantai berwarna putih yang berdampingan dengan endapan lumpur dari hutan mangrove kawang.

pertigaan setelah toko Surabaya Diesel
Dari kota Banyuwangi ke Mangrove Kawang cukup dekat. Naik motor hingga parkirannya menempuh perjalanan 1 jam 20 menit itu sudah termasuk tanya jalan ke warga sekitar :D.  Rute menuju hutan mangrove kawang atau pantai cemara cinta cukup mudah, jika kalian dari Kota Banyuwangi kalian bisa mengambil jalan melewati Patung Kuda – Kota Rogojampi – Pertigaan Srono ambil ke kiri (kearah Muncar) – lalu bertemu Perempatan Lampu Merah ambil lurus ke timur kea rah pelabuhan – Pertigaan setelah toko Surabaya Diesel, belok kanan pada perempatan– lalu ikuti jalan tersebut sampai melewati jembatan sungai bergapura Desa Wringin Putih – Setelah jembatan ada Pertigaan pertama (sebelah toko Material) ambil kiri– Ikuti jalan desa tersebut sampai menemukan petunjuk jalan menuju Mangrove Kawang Muncar atau Pantai Cemara Cinta. Memasuki kawasan konservasi hutan Mangrove Kawang ini kita akan dipungut biaya tiket masuk Rp.2000, dan parkir kendaraan (motor) Rp.2000.
gapura depan pantai cemara cinta dan mangrove kawang
teduhan cemaranya
Memasuki kawasan pantai akan di sambut dengan gapura sederhana selamat datang bertuliskan Konservasi Cemara Mangrove Kawang dengan belakang pohon-pohon cemara yang teduh. Di sekitar pepohonan pohon cemara terdapat tulisan juga landmark tulisan Pantai Cemara Cinta. Selain itu, juga terdapat beberapa spot selfie bertemakan cinta di sekitarnya :D. Pohon cemara ini ditanam sekitar lebih dari setahun yang lalu dan sempat ditertawakan karena dianggap aneh. Hasilnya bisa dilihat saat ini, coba saja rasakan sendiri nikmatnya duduk di bawah dahan pohon cemara lalu coba pusatkan kepekaan suara di telinga. Ketika angin menyejukan datang berhembus melewati sela-sela pepohonan, seakan ada bisikan suara dari gesekan-gesekan daun cemara.

memasuki hutan mangrove kawang
Kawasan Mangrove Kawang terkenal dengan Jembatan Mangrove atau Mangrove Trailnya. Mangrove Trailnya dibangun sederhana yaitu hanya dari bambu-bambu dan diberi nama jembatan anti galau serta melarang orang galau untuk masuk ke jembatan ini. Untuk memasuki kawasan ini, pengunjung akan dikenakan biaya lagi sebesar Rp.2000 nantinya untuk biaya perawatan jembatan mangrovenya secara berkala karena terbuat dari bambu. Awalnya mangrove trail ini dibuat untuk memudahkan memantau perkembangan dan pertumbuhan pohon-pohon mangrove yang ada disana. Namun secara sengaja malah menjadi potensi wisata berupa mangrove trail.

Krek, krek, krek
Bunyi jembatan mangrove yang terbuat dari bambu itu diinjak ketika saya mulai berjalan memasuki kawasan hutan mangrove. Mangrove Trail di Kawang ini cukup baik, kita dibawa menyelusuri lorong dari pohon mangrove yang tumbuh tinggi dengan akar-akar jangkar yang jatuh ke dalam endapan lumpur. Di perjalanan pengelola memberikan kalimat “motivasi” seperti Jangan Sakiti Aku Lagi, Jum’atan(jujur masih ingat mantan), Jelek tapi ngangeni, Jamu (Jarang Ketemu) dan lain-lainya. Mangrove trail ini akan membawa kita menuju ujung dari kawasan mangrove yaitu perairan Teluk Pampang. Terlihat juga semakin mendekati ujung, pohon-pohon mangrove makin pendek. Ujung dari mangrove trail kawang adalah jembatan dibentuk seperti simbol cinta (Love) dengan menara pandang di belakangnya yang difungsikan untuk melihat pemandangan perairan Teluk Pampang dan spot foto.
ujung dari jembatan mangrove kawang

pengunjung yang nyari kerang
teluk pampang dan tanjung sembulungan
Kebetulan saat mengunjungi hutan mangrove kawang, laut sedang keadaan surut. Saya bisa turun ke endapan lumpurnya. Saran saya agak tetap pakai sandal karena ada pecahan kerang atau tiram yang bisa membuat hati kaki terluka. Saat surut saya melihat beberapa pengunjung menggali lumpur untuk mencari kerang. Beberapa pengunjung juga sibuk foto-foto mesra dengan papan bersimbol hati dan huruf yang bisa dibongkar pasang. Beberapa berpapasan dengan warga setempat membawa kayu untuk membetulkan tiang-tiang penyangga jaring mereka, beberapa lagi ada yang membawa ember untuk memanen ikan yang terjerat jaring mereka disaat pasang. Kadang terlihat burung cangak, blekok dan sejenis cekakak sungai mencari makan di kawasan teluk Pampang. Jika melihat jauh ke arah laut terlihat bukit hijau yang merupakan Tanjung Sembulungan yang kawasan Taman Nasional Alas Purwo.


Saya mengerti kenapa jembatan ini dinamakan jembatan anti galau dan terdapat papan candaan kalau orang galau hati-hati untuk memasuki jembatan mangrove kawang ini. Mungkin pengelola khawatir bahwasannya tulisan-tulisan yang ada makin membuatnya galau. Belum lagi ujung mangrove trail ini berbentuk hati dimana dia yang galau melihat orang-orang  berfoto mesra disana. Ketika pulang dalam perasaan galau, dikhawatirkan akan tersesat dan tak tahu arah jalan pulang dan lalu menjadi butiran debu di sepanjang jalan lintas selatan Banyuwangi.

Kesimpulannya kawasan Hutan Mangrove Kawang perlu kalian kunjungi karena sebenarnya disini kalian bisa belajar banyak tentang hutan bakau dan kehidupan-kehidupan di dalamnya. Selain itu akan anda dapat melihat panorama yang berbeda dari teluk pampang. Adanya rimbunan pohon cemara laut bisa anda jadikan peneduh untuk menggelar tikar menyantap hidangan yang dibawa dari rumah atau menyantap hidangan dan jajanan yang dijual oleh penjaja makanan-minuman yang ada. Ingat supaya tetap nyaman berwisata disini, sampah yang kita hasilkan tolong dibuang pada tempat yang disediakan ya ^^

Yuk Ke Hutan Mangrove Kawang dan Pantai Cemara Cinta, Muncar