-->
✕
Showing posts with label desa wisata banyuwangi. Show all posts
Showing posts with label desa wisata banyuwangi. Show all posts

desa wisata banyuwangi

Wisata dan Kuliner Menarik Di Sekitar Taman Nasional Baluran     Edit

Ada apa saja di Sekitar Baluran
Sering kali ditanya, kalau main ke Taman Nasional Baluran, apa aja yang bisa dicoba dan dilihat searah ke Baluran. Dulu jawabannya cuma dua, bisa sekalian mampir ke Waduk Bajulmati dan Pantai Bunder Bangsring. Ternyata setelah menelusuri di daerah sana ada banyak hal menarik yang ada di Sekitar dan searah menuju Taman Nasional Baluran.

1.  Pantai Pandean dan Perengan
Salah satu pantai yang berbatasan langsung dengan Kawasan Taman Nasional Baluran. Pantai ini berada di sebelah selatan Baluran tepatnya di desa “Kebangsaan” Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, SItubondo. Pantai ini merupakan pantai nelayan dimana kalian bisa melihat aktivitas nelayan dan kapal-kapal nelayan. Kapal-kapalnya pun beragam, mulai dari Jukung hingga kapal Slerek dengan bentuk seperti bulan sabit dan bercorak khas. Di pantai ini kalian bisa melihat pesona Gunung Baluran dari tepian pantai juga bisa melihat indahnya matahari terbit di laut karena pantai ini menghadap ke arah timur. Selain itu, di dekat pos jaga terdapat taman baca yang sering digunakan anak-anak untuk belajar dan membaca koleksi buku yang ada di sana.

2. Perkebunan Pasewaran
Perkebunan Pasewaran merupakan perkebunan PTPN XII yang terletak di wilayah Banyuwangi tepatnta di Desa Watukebo Kecamatan Wongsorejo. Walau dari peta Gmaps terlihat dekat namun dari Baluran ke Perkebunan Pasewaran memakan waktu sekitar 45 menit karena setengah jalan menuju ke Perkebunan masih rusak (aspalnya rusak bolong-bolong). Setelah melewati desa terakhir kita akan memasuki lorong hutan mahoni dahulu lalu akan sampai di Perkebunan Pasewaran yang punya julukan The Secret Garden. Memang benar-benar kebun tersembunyi dibalik rimbunnya hutan. Di dalam komplek perkebunan ini terdapat pohon raksasa Trembesi yang umurnya lebih dari 300 tahun, bisa dibilang sama umurnya hampir sama seperti Pohon Trembesi di Hutan Djawatan Benculuk. Disini juga bisa melihat perkebunan karet dimana pada pohon karet tersebut digantung kotak-kotak rumah lebah untuk berternak lebah madu yang sari madunya berasal dari bunga karet. Selain itu, hal menarik yang saya lihat adalah Rumah-rumah bergaya belanda dan ada sistem pengairan perkebunan pada masa Penjajahan Belanda yang masih digunakan sampai sekarang. Oh iya tempat penampungan ini pernah viral di twitter karena diduga adalah sendang yang disebutkan dalam kisah KKN Desa Penari, ternyata itu adalah bak penampungan yang sekarang digunakan untuk wisata sebagai kolam renang yang punya pemandangan menikmati laut dari kejauhan, jika cuaca disana tidak berkabut.

3. Air Terjun Selotirto
Air Terjun Selotirto ini searah dengan perkebunan Pasewaran. Sebelum masuk komplek perkebunan Pasewaran ada jalan setapak kecil di kanan jalan, tempat tersebut merupakan lokasi parkir penitipan kendaraan yang kini menjadi kebun karena air terjun Selogiri sudah sepi pengunjung sehingga tidak terawat. Dari parkiran kendaraan kita tinggal menyelusuri tangga dan jalan setapak menuruni jurang yang tidak terjal. Saat jalan turun, sudah terdengar suara-suara gemerincik sungai dan suara air terjun yang gemuruhnya cukup kuat terdengar. Air Terjunnya cukup tinggi, kemungkinan lebih dari 15 meter. Airnya mengalir sepanjang tahun karena berasal dari sumber air lansung.

Waduk Bajulmati musim kemarau
Letaknya berada setelah melewati gerbang depan Baluran ke arah Situbondo (arah utara) nanti di kanan jalan akan ada gapura Waduk Bajulmati dan Patung Penari khas Banyuwangi dan Situbondo karena Waduk ini terletak di daerah perbatasan Banyuwangi dan Situbondo. Ada yang bilang Waduk ini dibilang Raja Ampat KW karena mirip dengan Raja Ampat dika dilihat dari titik tertentu, ada juga yang bilang mirip danau Sentani yang ada di Papua. Waduk Bajulmati ini dibuat selain PLTA juga sebagai cadangan air yang dialirkan untuk para petani di sekitar saat musim kemarau tiba.

5. Sego Rujak Wongsorejo
Kalau Rujak Soto mungkin bagi sebagian orang yang beberapa kali ke Banyuwangi sudah biasa, bagaimana jika Sego Rujak. Nasi Rujak atau Sego Rujak ini bisa dibilang kuliner unik di Wongsorejo, karena hanya bisa ditemukan disini saja. Warungnya sederhana namun sering sekali ramai yang datang membeli. Rujak racikan Bik Ning terlihat sederhana, campuran Jantung Pisang, Ote-ote (Bakwan),nasi dan kerupuk warna warni diaduk didalam cobek yang sudah diracik terlebih dahulu. Setelah itu dihidangkan di dalam piring. Tak lupa diberi sedikit petis Madura berwarna pink di tepi piring. Petis ini nantinya menambah rasa dari Nasi Rujak. Harganya murah, mulai dari 5.000 dan makin mahal jika kalian mengambil lauk tambahan. Buka mulai jam 6 pagi dan sekitar jam 10 pagi biasanya sudah habis.

6. Pantai dan Hutan Mangrove Bengkak
Masih di Kecamatan Wongsorejo, tepatnya di Desa Bengkak, terdapat hutan mangrove dan pantai dengan panorama Selat Bali dan Gunung Baluran yang terlihat jelas. Mangrove ini tumbuh di rawa-rawa payau di pinggir pantai, airnya merupakan air laut yang terjebak masuk ke rawa saat pasang dan tidak bisa kembali lagi ke laut.  Wisata pendidikan cocok sekali dikembangkan di Hutan Mangrove Center Bengkak selain dijadikan tempat wisata selfie semata. Sehingga pengunjung yang berwisata kemari tidak hanya menyegarkan pikiran dan hilangkan kepenatan, juga mendapatkan ilmu dan pengalaman baru.

Biasanya wisatawan mampir kesini untuk sekedar makan, melihat rumah apung dan panorama selat Bali dan snorkeling melihat hasil penanaman terumbu karang nelayan-nelayan kelompok bunder ini. Spot Snorkelingnya ada banyak, kita tingga mengikuti rute tali yang sudah dipasangkan oleh pengelola. Di Rumah Apung yang berada di tengah laut, terdapat penangkaran ikan hiu yang pernah terjerat oleh jaring nelayan. Ikan hiu tersebut dirawat terlebih dahulu disana sebelum kembali dilepaskan kembali di laut. Dari Pantai Bunder Bangsring ini kita bisa melanjutkan perjalanan juga ke Pulau Tabuhan dan menjangan.

Pulau Tabuhan adalah pulau kecil berada di tengah perairan Selat Bali, untuk menuju kesana wisatawan bisa memilih 3 lokasi keberangkatan yaitu dari Pantai Grand Watudodol, Pantai Bunder Bangsring, dan Pantai Kampe. Harga sewa kapalnya untuk 1 kapal sebesar Rp. 500.000 yang bisa diisi 8 orang. Pulau Tabuhan merupakan pulau berpasir putih yang tidak ada pohon peneduh sama sekali, kalau datang weekend biasanya ada penjual makanan dan minuman yang tempatnya bisa dibuat sebagai tempat berteduh.

List Ada Apa Saja Di Sekitar Baluran ini akan bertambah lagi, jika saya menemukan suatu yang menarik di sekitar Baluran. Kalau ada waktu ngetrip ke Banyuwangi cobain main sebentar atau cicip kuliner yang ada di sekitar Baluran ini :)

Serunya Bermain Air Di Sendang Seruni - Banyuwangi     Edit

Sendang Seruni dari Atas

Cuaca Banyuwangi sedang panas-panasnya, hujan sebenarnya udah turun namun merata. Bawaannya enak kalau membuat minuman dingin atau berendam di kolam renang, apalagi kolam renang alami yang airnya berasal dari sumber air pegunungan yang airnya cukup dingin. Nah dekat Kawah Ijen ada Sumber Air yang dimanfaatkan sebagai wisata alam pemandian, Namanya Sendang Seruni.

Sendang Seruni merupakan salah satu tempat pemandian alami di Banyuwangi. Letaknya berada di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Sendang Seruni ini mencuat karena di duga merupakan sendang yang disebutkan di cerita Desa KKN Penari, memang secara lokasi berada di dekat hutan namun tebakan tersebut salah.


Rute ke Sendang Seruni
Rute menuju ke Sendang Seruni dari Kota Banyuwangi cukup mudah kok. Kalian tinggal mengambil arah menuju Kawah Ijen melewati Desa Olehsari – Desa Glagah- Jelun – Pasar Licin ambil ke kanan – ikuti jalan sampai ketemu gapura jalan Grand Harvest – ikuti jalan Paving tersebut hingga menemukan petunjuk jalan ke Sendang Seruni, dengan mengikuti petunjuk jalan tersebut, kalian akan sampai ke Parkiran Kendaraan Roda Dua dan Loket Masuk. Untuk kalian yang membawa kendaraan roda 4 parkir kendaraan bisa di halaman rumah warga di depan Gapura masuk Sendang Seruni. Untuk memasuki area wisata Sendang Seruni, harga tiket masuk Rp. 5.000/orang dan parkir motor Rp. 2.000 dan Mobil Rp. 5.000 saja, cukup murah kan.
Ada petunjuk jalan ke Seruni menuju ke kawah Ijen
Sejarah Sendang Seruni
Sendang Seruni punya kisah, dulunya ada dua sumber air kembar di tengah hutan namun seiring berjalannya waktu salah satu sumbernya tersumbat akar pohon yang rubuh, namun seiring berjalannya waktu muncul beberapa sumber disekitarnya dan hingga kini ada 7 buah sumber air yang mengelilingi sendang tersebut, tiga diantaranya berada di dasar sendang seruni. Penamaan Seruni sudah ada sejak dahulu, Dulunya di Sumber Seruni ini tumbuh tumbuhan Seruni yang bunganya mudah dikenali karena warnanya cukup cerah, hingga kini Tumbuhan Seruni dapat ditemui di Sendang Seruni.
Kembang dari Tumbuhan Seruni
Air Jernih dari Sendang Seruni
Sendang Seruni ini tempat asik buat mandi. Karena airnya berasal dari mata air dalam tanah, airnya sejuk sekali, rasanya bisa menghilangkan rasa lelah dan menyegarkan seluruh tubuh jika berendam disini. Apalagi Sendang Seruni letaknya dekat dan searah dengan Kawah Ijen jadi setelah kalian lelah keringetan mendaki kawah ijen, kalian bisa mampir mandi dan berenang di Sendang Seruni ini. Kedalaman air sendang seruni ini sekitar 130-160 cm. Kedalamannya pas sekali untuk berenang, atau sekedar berendam dan bermain air dengan menggunakan ban yang bisa di sewa. Untuk anak-anak, pihak pengelola sedang menyiapkan kolam semi alami untuk anak-anak sehingga nantinya anak-anak bisa bermain air dengan aman.

Teh Panas yang bisa dipesan di Kantin Sendang Seruni

Di Sendang Seruni Bisa buat acara Perkemahan Juga
Fasilitas yang ada di Sendang Seruni ini menurut saya sudah cukup lengkap. Sudah ada kamar mandi, kamar ganti dan musholla. Ada Gazebo atau Balai Santai yang dibangun mengelilingi Sendang, Balai Santai ini bisa digunakan secara gratis oleh para pengunjung yang datang kesini. Ada juga warung-warung masyarakat sekitar yang menyediakan makanan ringan, indomie, gorengan dan minuman hangat. Memang pas sekali, berendam di air yang dingin dan minum teh panas setelahnya.

Sendang Seruni ini masuk dari daftar salah satu dari tempat mandi atau kolam renang dengan suasana alam di Banyuwangi versi catatannobi. Pemandian Sendang Seruni ini asik untuk dikunjungi, selain airnya menyegarkan, suasananya yang masih asri bisa membuat diri kembali segar bugar kembali. Letaknya yang dekat dengan kawah ijen membuat tempat ini cocok untuk kalian kunjungi setelah mendaki kawah ijen.

Tertarik mandi di Sendang Seruni, Banyuwangi kan :)


Serunya Wisata Gastronomi Nasi Lemang di Desa Banjar, Banyuwangi     Edit

Nasi Lemang khas Desa Banjar
Mencicipi masakan lokal atau khas daerah adalah kegiatan yang tidak bisa kutinggalkan saat traveling. Tiap daerah punya makanan khas sendiri, walau penampakan bahkan namanya sama, cita rasa, bumbu racikan bahkan ceritanya pasti ada yang berbeda, salah satunya adalah Nasi Lemang. Nasi Lemang ada di beberapa daerah di Indonesia dan yang terkenal berasal dari Sumatera, namun di Banyuwangi pun Nasi Lemang juga ada. Menjadi makanan khas Desa Banjar dengan sebutan Sego Lemeng.

Saya pertama kali mengenal Sego Lemeng ini, saat Festival Kopi Utek di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Disana diperkenalkan pertama kali Sego Lemeng sebagai kuliner khas Banjar bersama Kopi Utek. Namun berjalannya waktu hingga tahun 2019, Kuliner Sego Lemang tidak muncul permukaan, bahkan tidak menjumpai warung-warung sepanjang ke arah licin dan Kawah Ijen yang menjual Sego Lemang. Karena hal tersebut, saya berkolaborasi dengan warga setempat Desa Banjar untuk mengadakan Wisata Gastronomi Sego Lemeng. Wisata Gastronomi ini menurut saya adalah mengajak wisatawan ikut salam proses pembuatan Sego Lemeng, sehingga wisatawan mempunyai pengalaman baru dan tak terlupakan.

Sejarah Sego Lemeng Desa Banjar
Memasak nasi dengan Menggunakan Bambu
Sego Lemeng itu merupakan cara memasak nasi menggunakan Bambu yang dibakar. Sego Lemeng diyakini warga setempat adalah cara memasak orang-orang yang bermata pencaharian di hutan sejak dahulu. Mereka hanya bermodal beras dengan lauk dan sayur dicari nanti di dalam hutan. Dulu bambu yang dicari adalah bambu yang menyimpan air dalam batangnya. Air tersebut nantinya bisa digunakan untuk memasak beras menjadi nasi. Sambil menunggu nasi matang, biasanya bambu yang berisi beras ditinggal untuk melanjutkan pekerjaan di dalam hutan sekaligus mencari lauk pauk untuk dimakan bersama sego lemeng. Masyarakat juga meyakini pada era Penjajahan, para pejuang yang bersembunyi di dalam hutan juga melakukan cara memasak seperti ini.

Sego Lemeng Sekarang.
Sego Lemeng Desa Banjar Kini
Sego Lemeng saat ini sudah mengalami beberapa inovasi dan kreasi. Di Desa Banjar, di dalam Sego Lemeng diberi lauk pauk berupa ikan teri atau suwiran daging ayam. Ini menimbukan sensasi enak di dalam mulut saat menggigit nasi lemang tersebut. Satu hal yang istimewa buat saya dan merupakan sambel khas desa Banjar adalah Sambel Kecombrang. Istimewa karena sambel kecombrang mempunyai aroma dan rasa yang khas, sedikit asam kecut namun ada sensasi dingin seperti mint. Bahkan saat batang muda atau bunga kecobrang diuleg, ada aroma khas kecombrang yang tercium cukup enak dihirup.

Kalian udah tau tanaman Kecombrang seperti apa? Kalau di Desa Banjar, Kecombrang punya nama lokal yaitu Lucu. Lucunya saya juga baru tahu bahwa Kecombrang tanamannya mirip dengan Laos hanya saja punya daun agak kemerahan.

Belajar Memasak Sego Lemeng Bersama
Sego Lemeng yang sudah dimasukan bambu di Bakar dan ditunggu matang
Saya berkolaborasi dengan warga setempat, mengadakan Wisata Gastronomi Sego Lemeng di area persawahan yang mempunyai view indah berupa persawahan, dan jika jauh memandang bisa melihat samar birunya laut dan Gunung Ranti dan Kawah Ijen. Acara dilakukan sore hari dengan ahrapan Magis dari area Banjar terlihat, seperti kabut yang muncul dan hilang menutupi area pegunungan, juga udara sejuk yang berhembus di area persawahan di desa Banjar.


Sego Lemeng/Nasi Lemang Khas Desa Banjar
Setelah belajar memasak dan menyantap Nasi Lemang, kami memperkenalkan Kopi Utek khas Banjar. Kopi Utek sendiri merupakan Kopi Tubruk yang disediakan kepingan gula aren. Cara meminumnya kopi diminum lalu gula arennya digigit perlahan atau bisa sebaliknya gula arennya digigit, lalu kopinya baru diminum. Kita yang minum yang menentukan manisnya hanya di awal atau maunya manis diakhir, Eaaaaa.


Kopi Utek Khas Desa Banjar
Suasana Kebun tempat Wisata Gastronomi Sego Lemang
Siluet Perempuan Bersama Senja
Tertarik Berwisata Gastronomi Sego Lemeng, sekaligus menikmati magisnya suasana sore area persawahan di Desa Banjar, Banyuwangi bisa lihat tawaran dari Lokalx.id disini >> https://lokalx.id/experience/gastronomi-sego-lemeng-khas-desa-banjar


Video Keseruan Trip Gastronomi Nasi Lemang bisa ditonton disini:


Fish Market Kampung Mandar - Sentra Ikan Segar dan Kuliner Seafood di Banyuwangi     Edit

Kampung Mandar Sentra Ikan Segar dan Kuliner Seafood Banyuwangi
Banyuwangi punya garis pantai yang panjang dari perbatasan di ujung utara hingga ujung selatan. Ada banyak perkampungan nelayan di pinggir pantai karena mayoritas penduduknya punya mata pencaharian nelayan, Kampung Mandar salah satunya.

Beberapa kali saya menyelusuri daerah Kampung Mandar sisi timur dekat pantai boom, kalau masyarakat setempat menyebut daerah itu adalah Grubugan. Di sana ada beberapa rumah bertuliskan menerima dan menjual ikan segar, di depannya juga ada beberapa drybox dari sterofoam yang mungkin berisi ikan-ikan segar yang siap dijual.  Di Kampung Mandar ini pernah diadakan event Fish Market agar publik mengenal kampung mandar bukan hanya sebagai sentra kuliner tahu walik, juga ada potensi sebagai sentra penyedia ikan segar dan kuliner ikan.


Rute Menuju Fish Market Kampung Mandar
Kampung Mandar masih berada di dalam kawasan kota Banyuwangi sehingga akses kesana cukup mudah. Dari pusat kota kalian tingga ikuti petunjuk arah ke arah pantai boom, nanti sebelum tempat pembayaran karcis masuk, ada perempatan plengsengan, ambil ke kiri dan ikutu jalan tersebut kalian akan sampai di Fish Market Kampung Mandar.
suasana sore di Grubugan, Kampung Mandar
Sore itu saya melihat hiruk pikuk kesibukan beberapa pemuda disana, sibuk membuka dan mempersiapkan warung-warung sederhana. Di warung-warung pinggir jalan plensengan bapak paruh baya sedang membakar serabut kelapa dan arang dalam tempat memanggang miliknya. Warung di pinggir jalan plengsengan tersebut menawarkan masakan ikan bakar dengan ikan segar yang dipilih sendiri oleh pembelinya.

Ikan Bakar di Kampung Mandar Banyuwangi
Harga Ikan Bakar yang ditawarkan cukup murah, Rp.9.000/ons. Pembeli bisa memilih ikannya sendiri disana. Ikan jenis apa yang tersedia, bagaimana ukurannya,mau besar atau kecil, sehingga pembeli bisa menentukan sendiri uang yang harus dikeluarkan untuk menyantap ikan bakar tersebut. Saya cukup tergoda sama ikan berwarna merah yang sempat saya kira adalah ikan kakap merah. Ikannya tersebut lalu ditimbang dahulu untuk menentukan harga. Dengan tambahan nasi dan lalapan seharga Rp. 5.000 kita bisa menyantap ikan bakar dengan suasana hirup pikuk kampung nelayan dan semilir anginnya Selat Bali.
Tempat duduk di pinggir Plengsengan
Ikan Bakar yang sudah dibumbu Cabai lengkap dengan nasi lalapan dan sambel tempong
Pembumbuan ikan bakar di fish market Kampung Mandar ini ternyata sama dengan ikan Bakar Blimbingsari yang pernah saya coba. Ikan dibumbui oleh lumuran bumbu cabai yang sudah diracik. Bumbu cabai tersebut tidak terlalu pedas dan sempat saya cicipi ada rasa kecut yang segar. Ikan Bakar pesanan sudah jadi, Ikan Bakar, Lalapan, Nasi dan sambal tempong khas banyuwangi menjadi menu makan malam yang pas. Saya memilih duduk di pinggir plengsengan sekaligus merasakan suara deburan ombak dan semilir angin dari laut ahaha.

Semacam Foodcourt/Pujasera di Area Fish Market
Oh iya di dekat Tempat Pelelangan Ikan Kampung Mandar, ada tempat semacam food court atau Pujasera yang unik. Menyediakan minuman kopi-kopi yang asalnya dari Banyuwangi juga beberapa makanan berat seafood seperti sup ikan, juga ada beberapa camilan seperti tahu petis dan tahu walik yang bisa dipesan. Tempat ini punya meja unik yang terbuat dari kapal jukung yang muat banyak orang. Menarik sepertinya jika makan besar di meja berbentuk kapal jukung ini, ramai-ramai bareng keluarga atau teman-teman.

Adanya Fish Market di Grubugan, Kampung Mandar ini menambah alternatif tempat kuliner seafood atau makanan laut di Banyuwangi selain Warung Biru, Ikan Bakar Pesona, dan Warung Seafood di Jalan Kepiting yang sudah lebih dahulu terkenal. Tertarik buat kuliner Seafood di Kampung Mandar ini?

Video Tentang Fish Market dan Ikan Bakar Kampung Mandar Bisa ditonton disini: 



Air Terjun Idris - Air Terjun Di Dekat Kampung Ikan, Desa Kluncing, Banyuwangi     Edit

Air Terjun Idris, Desa Kluncing Banyuwangi

Di kaki Gunung Ranti dan Kawah Ijen, terdapat sebuah dusun yang diberi nama Kampung Ikan. Disebut Kampung Ikan karena disana merupakan kampung peternak ikan air tawar sejak dahulu. Letaknya yang berada dekat kawasan pegunungan membuat kampung Ikan di Banyuwangi ini punya pemandangan alam yang indah, sumber air yang mengalir jernih juga terdapat beberapa air terjun salah satunya adalah Air Terjun Idris atau lebih dikenal dengan Grujugan Idris.

Grujugan Idris terletak di Desa Kluncing, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Saya tau keberadaan air terjun tersebut karena diajak oleh Mas Hartono, Pemuda Kampung Ikan di Desa Kluncing tersebut. Penamaan Grujugan Idris diambil dari nama sumber air atau mata air yang ada di dekat air terjun Idris.

Rute ke Air Terjun/Grujugan Idris
Air Terjun Idris Jalan Kaki menyelusuri Sawah
Untuk menuju Air Terjun Idris dari kota Banyuwangi cukup mudah kok. Dari Banyuwangi harus ke menuju Kampung Ikan, Desa Kluncing. Kalian tinggal mengarahkan kendaraan searah menuju Kawah Ijen melewati Desa Olehsari- Desa Glagah hingga sampai di pertigaan Pasar Licin ambil ke kiri ke arah Pakel. Dari sini jalan akan berkeok-kelok, kita harus ekstra hati-hati mengendarai kendaraan. Lalu akan melewati Desa Segobang dan sampai ke Desa Kluncing. Grujugan Idris berada di pinggir area persawahan dekat SMP 2 Licin. Setelah melewati persawahan, kalian akan menuruni jurang mengikuti jalan setapak yang ada karena air terjunnya ada di bawah jurang tersebut. Jika ragu, kalian bisa ke Kampung Ikan siapa tau ada warga yang bisa diajak untuk mengantar ke Air Terjun Idris tersebut.

pemandangan air terjun Idris dari ketinggian
Air terjun Idris terletak di sebuah jurang yang ditumbuhi oleh banyak tumbuhan dan pepohonan seperti bambu dan pohon aren. Air Terjun Idris mempunyai ketinggian sekitar 10 meter, dibawahnya terdapat kedung atau cekungan alami membentuk sebuah kolam yang kedalamannya sekitar 2-3 meter, jadi yang tidak bisa berenang jangan nekat menceburkan ke ckungan kolam tersebut ya. Dengan ketinggian sekitar 10 meter dan kedalaman 2-3 meter. Mas Hartono dan temannya pun mencoba loncat dari air terjun tersebut. Seketika saya iri dengan mereka yang bisa berenang haha.

Sumber air di bawah air terjun Idris
Mendengar nama Idris, saya langsung inget nama Nabi Idris AS. Beliau diceritakan dalam kisah 25 Nabi. Penamaan Idris karena di air terjun tersebut terdapat mata air yang keluar dari celah bebatuan. Air Terjun Idris ini juga punya cerita unik bahwa dulunya disekitar air terjun, ada pohon Aren cukup besar, pohon tersebut menjelma jadi ular besar di sekitar air terjun. Mungkin kisah ini bisa saja merupakan karangan jaman dahulu agar anak-anak desa setempat tidak sembarangan main ke air terjun Idris ini mengingat kolam alaminya mempunyai kedalaman sedalam 3 meter.

Berkunjung ke Kampung Ikan jangan Lupa main juga ke air terjun Idris
Saya kesini Bulan Oktober 2019, fasilitas yang disediakan belum ada. Namun Pemuda setempat sudah punya rencana untuk membuka air terjun dan menyediakan beberapa fasilitas. Terlihat dengan adanya kegiatan kerjabakti membersihkan lahan sekitar air terjun dan memperbaiki kondisi jalan setapak. Daripada potensi alam seperti air terjun Idris ini didiamkan begitu saja, lebh baik dikelola pemuda desa apalagi ini merupakan kegiatan yang positif dan bisa memajukan ekonomi desa.

Tertarik berkunjung ke Air Terjun Idris ini, jangan lupa mampir dulu ke Kampung Ikan, Kluncing ya.

Kampung Ikan Kluncing, Kampung Wisata Edukasi di Banyuwangi     Edit



Di kaki Gunung Ranti dan Kawah Ijen, terdapat sebuah dusun yang diberi nama Kampung Ikan. Disebut Kampung Ikan karena disana merupakan kampung peternak ikan air tawar sejak dahulu. Bagaimana tidak, kondisi alam kampung ikan mendukung sekali karena ada air jernih yang mengalir setiap waktu sehingga ikan yang diternakan bisa tumbuh dengan baik.

Kampung Ikan ini berhasil membuat orang-orang penasaran karena warga kampung ikan memelihara ikan di saluran irigasi persawahan yang melewati kampungnya. Belum lagi inovasi menggabungkan pertanian sawah dengan peternakan ikan air tawar. Satu lahan bisa dapat dua keuntungan.


Rute Menuju Kampung Ikan Dari Banyuwangi Kota
Kampung Ikan ini berada di Desa Kluncing, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Berada persis di pinggir jalan alternatif dari Rogojampi menuju Kawah Ijen lewat Pakel. Untuk menuju Kampung Ikan Banyuwangi ini cukup mudah kok. Dari Kota Banyuwangi kalian tinggal ambil arah menuju Kawah Ijen melewati Desa Olehsari-Desa Glagah lalu sampai di pertigaan pasar Licin ambil ke kiri menuju Desa Segobang. Di Desa Segobang Jalan berkelok dan naik turun, kita perlu hati-hati disini. Setelah melewati desa Segobang akan masuk desa Kluncing dan Kampung Ikan berada di kanan jalan dekat dengan Balai Desa Kluncing.  

Pemandangan Di Desa Kluncing, terlihat Gunung Pendil
Sampai di Kampung Ikan saya langsung menuju saluran irigasi dengan menyelusuri tangga turun di kampung ikan. Air irigasinya bening sekali, cukup sejuk dan di tepian saluran ada kotak bambu yang di dalamnya ada ikan-ikan peliharaan milik warga kampung ikan. Ikan tersebut ada yang masih bibit beberapa ada yang ukurannya cukup besar. Ikan di dalam kotak tersebut nantinya bisa dibeli oleh pengunjung yang tertarik untuk membawa ikannya. Di saluran air irigasi, ditaruh indukan dari Ikan Koi dan Tombro sebagai daya tarik dan ciri khas dari Kampung Ikan Kluncing, Banyuwangi. Selain Ikan Koi dan Tombro, masyarakat kampung ikan juga memelihara Ikan Mas, Nila, Bawal dan Lele.

membersihkan ikan dari jamur
Kata warga kampung ikan, dulu saluran irigasi ini kotor sekali. Limbah rumah tangga dan kotoran menumpuk disana dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Mulai dari keprihatinan dari hal tersebut, warga setempat mulai membersihkan saluran irigasi tersebut menjadi bersih kembali, setelah bersih lalu menaruh bibit dan indukan ikan di saluran irigasi tersebut. Dilakukan hal tersebut agar membuat perubahan perilaku untuk tidak membuang sampah dan kotoran sembarangan kembali dan sama-sama menjaga kebersihan saluran irigasi tersebut.

Minapadi di Desa Kluncing, Banyuwangi
Selain itu, mereka juga melakukan budidaya ikan yang dikombinasikan dengan peternakan ikan (Pertanian Minapadi). Bibit ikan yang dipindahkan dan dipelihara di area persawahan hanya yang sudah berumur 1 bulan. Pertanian Minapadi ini menguntungkan karena petani bisa mendapatkan hasil lebih dari penjualan ikan dan mendapatkan pupuk gratis dari kotoran ikan yang ada di sawah mereka. Penggunaan sistem minapadi otomatis membuat sistem pertanian mereka juga organik dengan tidak menggunakan bahan kimia sehingga harga padi mereka bisa meningkat.

pengunjung memberi makan indukan ikan
Tidak hanya padi dan ikan. Di Kampung Ikan juga terdapat budidaya tanaman Genjer yang biasa mereka jual di Pasar Rogojampi. Genjer ini biasanya dimasak oseng-oseng oleh warga setempat. Berdekatan dengan hutan sehingga disini juga ada petani pohon aren yang hasil air niranya diolah menjadi gula aren dan Sajeng (bahasa osing) atau lebih dikenal Legen. Di dekat kampung ikan juga ada beberapa air terjun. Saya sempat mengunjungi salah satu air terjun yaitu Air Terjun yang letaknya hanya 20 menit jalan kaki dari Kampung Ikan. Namanya Air Terjun Idris atau masyarakat lokal menyebutnya Grujugan Idris. Tulisan tentang Air Terjun Idris bisa dibaca disini (klik) > Air Terjun Idris 

Air Terjun di Desa Kluncing
Kampung Ikan di Desa Kluncing, Banyuwangi ini sangat menarik dan banyak potensi-potensi wisata edukasi tentang alam yang perlu banyak digali. Beberapa bulan kedepan desa ini sudah mulai berbenah dan siap menjadi wisata Edukasi baru di Banyuwangi.

Kalau sedang berada di Banyuwangi coba sempatkan mampir ke Kampung Ikan Kluncing ya.

Pasar Wit-Witan - Pasar Di Pinggir Hutan Kecilnya Alas Malang, Banyuwangi     Edit

Pasar Wit-Witan Desa Alas Malang Kecamatan Singojuruh

Hari minggu pagi di Banyuwangi, tiba-tiba saya ingin sarapan yang agak beda dari biasanya. Biasanya sih nyari sarapan di Pasar Minggu Pagi Desa Kemiren atau beli Nasi Uduk Jakarta di dekat Pelabuhan Ketapang. Kali ini saya pergi ke daerah Singojuruh tepatnya di Desa Alas Malang yang terkenal dengan Adat Kebo-keboannya. Di Desa tersebut ada sebuah pasar yang unik. Pasar ditengah kebun kecil. Dibawah pohonnya banyak orang berjualan makanan siap santap. Pasar tersebut bernama Pasar Wit-Witan.

Situasi Pasar Wit-Witan
Pasar Wit-Witan ini adalah pasar yang baru saja dibuka setelah munculnya pasar-pasar kekinian di Banyuwangi seperti Pasar Ketupat Boyolangu, Pasar Jajanan Pasar Khas Osing Kemiren dan lain-lainnya. Sama seperti pasar kekinian lainnya, pasar ini hanya buka di hari tertentu saja, setiap hari Minggu pagi mulai jam 6.30 sampai 9.30. Sesuai namanya para penjual dan penjaja makanan di Pasar Wit-Witan berjualan dibawah pohon-pohon dalam kebun kecil.

Rute Menuju Pasar Wit-Witan dari Kota Banyuwangi


Pasar Wit-Witan berada di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. Letaknya sekita 16 km dari pusat kota Banyuwangi atau kalau naik motor kesini sekitar 20-30 menit. Rute menuju Pasar Wit-Witan ini gampang kok. Dari kota Banyuwangi ambil arah ke Rogojampi pertigaan tugu Adipura ambil ke kanan lalu ikuti jalan tersebut sampai ketemu perempatan patung Kebo-keboan. Ambil ke arah kanan, ikuti jalan tersebut, Pasar Wit-Witan berada di sebelah kiri jalan tidak jauh dari perempatan patung kebo-keboan alas malang. Tidak ada transportasi umum menuju kesini ya.

Bu Tin, Penjual dan Pembuat Makanan Geseng
Mas Mamet, Rawon Racikannya enak loh
Berangkat dari Banyuwangi jam 6.00 pagi, sampai sana suasana pasar sudah ramai. Saya mulai memutari pasar terlebih dahulu melihat-lihat membeli makanan apa untuk sarapan. Kebunnya terlihat sekilas seperti hutan, apalagi sisi selatannya tumbuh pohon agak lebat dan terdapat sungai kecil. Penjual menggunakan pakaian tradisional dengan pakaian berwarna hitam dan bawahan batik. Rasanya sekilas membawa saya pada gambaran pasar-pasar jaman dulu saat era kerajaan. Walau tempatnya di pinggir hutan dan kebun kecil, penjual di Pasar Wit-Witan ini menempati area yang agak terbuka sehingga pembeli leluasa berjalan kesana kemari. Cara jualannya unik, meja untuk menjajakan makanan terbuat dari bambu. Kursi-kursi untuk menyantap makanan yang dibeli pun demikian, tersebar di beberapa titik di pasar wit-witan ini, beberapa kursi berada berdekatan atau di depan pedagang makanannya.

Jajanan pasar yang dijual, Kue Kucur (cucur)
Kursi Bambu untuk menyantap makanan dan minuman yang sudah dibeli
Makanan yang dijajakan juga menarik, karena banyak menjual jajanan pasar tradsional seperti lupis, getuk, kucur, ketan goreng dan gorengan lainnya. Bisa ditemukan juga makanan modern seperti martabak telur dan martabak terang bulan. Untuk makanan beratnya juga beragam dari nasi pecel, nasi kuning, nasi rawon dan yang menarik disini ada penjual Geseng Mentok dan Bangsong yang mana kuliner ini merupakan kuliner khas Singojuruh yang dulunya hanya dibuat untuk Hari Raya saja. 

Pembeli sedang membeli es tradisional
Untuk Minuman ada beberapa yang menarik yaitu es campur yang dijual di area tengah pasar. Ada toping bola berwarna ungu yang setelah saya tanya terbuat dari telo ungu. Disini juga mudah ditemukan minuman temulawak dan jamu yang diracik oleh warga setempat. Tidak hanya menjual makanan dan minuman, UKM kerajinan tangan yang ada di Kecamatan SIngojuruh turut hadir meramaikan, rata-rata adalah kerajinan dari kayu/sisa kayu yang dibuat menjadi perabotan dan yang menarik perhatian adalah jam tangan.

Hutan kecil dekat dengan Pasar Wit-Witan
Letak Pasarnya menurut saya cukup strategis, setelah sarapan di Pasar Wit-Witan, jika kalian wisatawan kalian bisa melanjutkan perjalanan ke Djawatan Benculuk, Pulau Merah dan Alas Purwo. Jika kea rah barat kalian bisa berkeliling menjelajahi wisata alamnya Songgon. Pasar Wit-Witan ini hanya buka di Hari Minggu Pagi mulai pukul 06.30 sampai 09.30. Jadi jangan sampai datang kesiangan ya, nanti makanan/minuman yang sudah kalian incar keburu habis :D.

Nonton Videonya disini ya




Sehari di Desa Adat Suku Osing Kemiren Banyuwangi – Melihat Prosesi Adat Tumpeng Sewu 2019     Edit


Tiap manusia punya cara-cara tersendiri untuk bersyukur. Masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren Banyuwangi punya hajat Syukuran Desa yang menarik tiap tanggal 1 Bulan Haji dalam Kalender Jawa atau tanggal 1 Dzulhijjah dalam Kalender Islam. Nama syukuran desanya adalah Tumpeng Sewu.

Kenapa Tumpeng Sewu?
Dalam syukuran tersebut, setiap masyarakat Kemiren membuat tumpengan. Jika melihat data, sudah ada 3.000 kepala keluarga di Desa Kemiren, sudah bisa dipastikan akan ada lebih dari seribu tumpeng yang ada, sehingga prosesi ungkapan rasa syukur Desa Kemiren ini disebut Tumpeng Sewu. Ada hal unik lagi selain jumlah tumpengnya. Lauk yang disajikan dalam syukuran ini yaitu Pecel Pitik, makanan otentik dari suku osing yang berbahan utama ayam kampung dan parutan kelapa. Selain itu, mereka akan makan bersama di depan rumahnya, di pinggir jalan secara lesehan dan menyalakan obor yang menambah syahdu suasana syukuran di desa Kemiren.  

Seharian Di Desa Adat Suku Osing Kemiren
Setelah tahu, Di Desa Kemiren akan ada Syukuran Desa Tumpeng Sewu, saya meluangkan waktu dan mengajak beberapa teman yang suka sama acara desa. Dini, teman dari Semarang yang kebetulan ada di Jember bisa ikut untuk melihat-lihat prosesi adat Tumpeng Sewu. Untuk melihat prosesi adat Tumpeng Sewu, kita butuh meluangkan waktu seharian di Desa Kemiren.

Mepe Kasur atau Jemur Kasur
Pagi hari, masyarakat desa Kemiren sibuk mengeluarkan kasur untuk dijemur. Yah mumpung cerah juga sih. Uniknya kasur yang mereka jemur itu satu ragam, kasur kapuk berwarna merah hitam. Kasur tersebut ternyata wajib dimiliki oleh setiap keluarga karena memiliki arti khusus merah melambangkan keberanian dalam berkeluarga dan hitam berarti hidup kelanggengan dalam rumah tangga. Bantal berwarna merah dan dijahit dengan benang berwarna putih juga punya arti sendiri. Merah, darah merah dari ibu. Putih, darah putih dari bapak. Menjemur kasur yang dilakukan masyarakat osing di desa Kemiren melambangkan bersih keluarga. Sambil dijemur, kasur digebuk berharap aura tidak baik yang ada dalam keluarga hilang bersama kasur tersebut digebuk dan dijemur. Prosesi jemur kasur ini mereka sebut Mepe Kasur.

Bapak Abdul Karim dan Dini
Bersamaan dengan Mepe Kasur (Jemur Kasur), atap dapur dari beberapa rumah terlihat mengeluarkan asap karena sedang memanggang ayam untuk dijadikan Pecel Pitik, yang nantinya dihidangkan di syukuran Tumpeng Sewu. Kami mampir ke dapur milik pak Abdul Karim. Saat kami kunjungi beliau sedang membakar ayam kampung cukup banyak bersama istrinya. Pak Karim ini membuka jasa pembakaran ayam untuk diolah nantinya menjadi pecel pitik. Cara pembakarannya sederhana, hanya menggunakan tungku kecil dan berbahan bakar dari kayu bakar saja. Walau sederhana, proses pemanggangannya harus teliti agar didapat ayam yang terpanggang sempurna. Bahkan ada waktu ayam tersebut dimasukan ke dalam tungku yang bara apinya masih menyala agar sisi yang belum terpanggang ikut matang. Pak Karim ini membuka jasa pemanggangan ayam untuk prosesi tumpeng sewu, dan pada jam 9 pagi sudah dapat permintaan untuk memanggang 125 ekor ayam. Jumlah permintaan tersebut bertambah terus sampai sore hari. Memanggang 1 ekor ayam dihargai sebesar Rp.10.000 itu sudah termasuk memotong ayam hingga pemanggangan.

Memarut Kelapa untuk Bumbu
Untuk menjadikan pecel pitik, ayam yang sudah dipanggang nantinya akan disuwir-suwir dan dicampur parutan kelapa yang sudah dibumbui. Namun proses ini biasanya berlangsung sore hari menjelang acara prosesi syukuran Tumpang Sewu dimulai. Sambil menunggu proses itu kami mengisi waktu luang makan Nasi Tempong Wader Warung Putuk dan ke Air Terjun Jagir untuk mensucikan diri karena kami belum sempat mandi :D. Air Terjun Jagir letaknya cukup dekat dari desa Kemiren, sekitar 15 menit ke arah barat.

Sore Hari Di Kemiren
Ayam yang sudah dipanggang diaduk bersama parutan kelapa yang sudah dibumbui
Sekitar jam 4 sore, kami kembali ke Desa Kemiren untuk mengikuti syukuran bersama dengan warga desa. Jalan-jalan di desa sudah ramai, rasannya seperti nuansa lebaran dimana sanak saudara kembali kumpul datang ke desa untuk mengikuti syukuran desa. Kasur khas merah-hitam yang dijemur sudah berganti tikar. Terlihat beberapa pemilik rumah juga sibuk mengeluarkan Tumpengan beserta lauk pauk yang salah satunya adalah pecel pitik. Ada juga yang sengaja meracik pecel pitiknya di pinggir jalan, sehingga jika ada wisatawan seperti saya yang datang bisa melihat cara pembuatan pecel pitik. Menarik memang, ayam yang sudah dipanggang dipotong-potong menggunakan tangan lalu ditaruh dalam wadah yang didalamnya parutan kelapa yang sudah dibumbui khusus. Wadah tersebut diaduk dan diberi air sedikit agar parutan kelapa bisa menempel pada ayam panggang.

Berkumpul bersama sanak saudara
Saat menjelang magrib, masyarakat desa kemiren sudah berkumpul depan rumah dan pinggir ruas jalan utama, hidangan Tumpeng Sewu sudah lengkap. Saya menelusuri ruas jalan utama desa Kemiren dan menemukan keramahan masyarakatnya. Bahkan beberapa kali memepersilahkan mampir ke tempatnya untuk makan pecel pitik bersama.

Pawai Barong Kemiren
Menunggu berdoa
Setelah solat magrib, Barong Banyuwangi melakukan pawai yang diikuti oleh pemuda yang membawa bara api untuk menyalakan oncor (obor) yang ada di depan setiap rumah. Suasana desa mendadak menyala hangat, beberapa anak kecil langsung antusias mendekati oncor yang sudah menyala. Doa lalu berkumandang dari toa masjid untuk memimpin doa-doa ungkapan rasa sukur selama setahun yang diberikan Tuhan kepada masyarakat kemiren. Dan selesainya doa, dilanjutkan dengan makan bersama di pinggir jalan atau di depan rumah. Saya suka sekali suasananya, ramai namun hangat. Walau tidak kenal, masyarakat Desa Kemiren menyambut kami dengan ramah, bahkan sabar menjawab pertanyaan kami lontarkan. Semoga tahun depan, bisa berjumpa lagi dan menikmati Pecel Pitik, Kuliner khas kemiren dalam acara adat Tumpeng Sewu ini.
Setelah berdoa, Selamat Makan :)
Kalau kalian tertarik gak untuk ikut gabung mengikuti prosesi Adat Tumpeng Sewu di Desa Kemiren?