-->
Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

kuliner

Mencicipi Nasi Tempong Kecombrang Di Warung Umbul Bu Juleha, Banyuwangi     Edit

Nasi Tempong Sambal Kecombrang Desa Banjar, Banyuwangi

Turun dari Kawah Ijen dan Kawah Wurung sudah pasti lapar kan. Sampai di pasar Licin, saya membelok kan kendaraan ke arah Pakel. di tengah perjalanan masih masuk desa Banjar, ada warung sederhana di pinggir hutan ditepi persawahan juga. Semilir angin dari persawahan dan suasana tenangnya membuat saya ingin kesini lagi dan lagi. Ada suatu yang menarik dari menu-menu sederhana makanan khas desa yang dihidangkan Bu Juleha ini, yaitu Sambal Kecombrang.


Menuju ke Warung Bu Juleha dan Warung Umbul dari Kota Banyuwangi
Cara menuju Warung Umbul dari kota Banyuwangi gampang kok. Ambil arah yang menuju arah kawah ijen, melewati pertigaan patung barong, mel;ewati Desa Olehsari dan Glagah  hingga sampai di Pertigaan pasar licin ambil ke kiri menuju arah Pakel atau Segobang. Warung Umbul ada di sebelah kiri jalan setelah tanjakan setelah hotel Joglo Ijen.

Warung Bu Juleha
Warung Umbul
Saya tahu ada warung ini di pinggir hutan dan persawahan Desa Banjar ini saat ada festival Kopi UtekDesa Banjar beberapa tahun lalu. Waktu itu, Warung Bu Juleha ini menjadi tempat istirahat kami setelah traking keliling desa Banjar. Tempatnya sederhana, terdapat kolam ikan yang diatasnya diberi gubuk santai atau saung untuk menikmati suasana. Sekarang warungnay sudah agak besar, di sebelahnya juga dibuka warung Umbul yang dikelola anaknya dengan nuansa taman dan area persawahan.

Kopi Utek Khas Desa Banjar, Banyuwangi
Gubuk makan di Warung Bu Juleha di atas umbul/kolam ikan
Warung Umbul dikelola oleh anak Bu Juleha yang menawarkan makanan-minum ala cafe. Bangunannya sederhana berkonsep terbuka. Halamannya juga cukup luas, kalau bawa anak-anak bisa main-main halaman tengah warung umbul yang tumbuh rerumputan yang segar. Di sekitarnya terdapat gazebo atau gubuk santai yang bisa memandangi persawahan desa Banjar. Sambil memandangi sekeliling saya memesan Kopi Utek. Kopi khas Desa Banjar, berupa kopi tubruk, di piring cangkir tersebut diberi gula aren sebagai pemanis. Kopi sruput lalu gula aren digigit atau sebaliknya. Seakan membuat ritual minum kopi ada sensasi berbeda dari biasanya.

Jika Warung Umbul hanya menjajakan minuman makanan ringan ala kafe jika kalian ingin makanan berat kalian bisa memesan di warung Bu Juleha. Warung Bu Juleha ini menjajakan makanan khas desa, salah satunya yang sering saya pesan disini adalah Ayam Kesrut (Uyah Asem) dan Nasi Tempong. Kali ini saya memesan agak berbeda setelah membuka obrolan tentang Tanaman Kecobrang atau kalau di Banyuwangi dan Suku Osing, nama lain Kecombrang adalah Lucu. Bu Juleha bilang kalau dia menanam banyak kecombrang di kebunnya. Biasanya Kecombrang yang diatanam diambil bunga atau batang mudanya untuk dijadikan sambal. Tidak semua orang suka Sambel Kecombrang karena ada aroma-aroma asing yang tercium, namun beliau punya resep tersendiri untuk menghilangkan aroma tersebut.
Sambel Kecombrang yang sedang diracik
Setelah diceritakan soal kecombrang dan racikan sambelnya, saya penasaran.

“bu, bisa pesan nasi tempong telur tapi sambelnya sambel kecombrang?”

“Bisa mas, kebetulan ada kecombrang yang bisa dipanen, mau ikut mas?”

Saya hanya menggangguk dan mengikuti Bu Juleha dari belakang, memperhatikan penjelasan tentang bunga dan calon batang dari tanaman Kecombrang. Saat bunga dan batang muda kecombrang diuleg, ada aroma khas. Aromanya agak sulit dideskripsikan seperti ada aroma dingin yang terhirup. Makin dilihat makin ga sabar mencicipi Nasi Tempong Telur dengan Sambel Tempong Kecombrang.

Penampakan Nasi Tempong Telur Sambel Kecombrang
Tidak lama akhirnya jadi, saya langsung mengambil sepotong tahu dan saya colek ke dalam cobek sambel, rasa sambel kecombrang memang beda dan ada sensasi mint yang dingin yang terasa. Beda dengan cerita teman memakan sambel kecombrang punya aroma aneh, mungkin karena racikannya masih ada yang kurang sehingga tidak sama dengan sambel kecombrang buatan Bu Juleha. Setelah mencicipi sambelnya, langsung saja saya makan dengan lahap Nasi Tempong Telur Sambal Kecombrang buatan Bu Juleha ini. Nasi Tempong Sambel Kocombrang ini tidak ada setiap hari karena tergantung dengan ketersediaan stok kecombrang. Jadi jika kalian ingin mencobanya kalian bisa janjian terlebih dahulu.

Ibu Juleha
Warung Umbul dan Warung Bu Juleha buka mulai jam 9 pagi, letaknya strategis tidak jauh dari pasar licin dan jalur utama jalur pendakian ke kawah ijen. Sehabis dari kawah ijen kalian bisa mampir sarapan disini :).

Serunya Wisata Gastronomi Nasi Lemang di Desa Banjar, Banyuwangi     Edit

Nasi Lemang khas Desa Banjar
Mencicipi masakan lokal atau khas daerah adalah kegiatan yang tidak bisa kutinggalkan saat traveling. Tiap daerah punya makanan khas sendiri, walau penampakan bahkan namanya sama, cita rasa, bumbu racikan bahkan ceritanya pasti ada yang berbeda, salah satunya adalah Nasi Lemang. Nasi Lemang ada di beberapa daerah di Indonesia dan yang terkenal berasal dari Sumatera, namun di Banyuwangi pun Nasi Lemang juga ada. Menjadi makanan khas Desa Banjar dengan sebutan Sego Lemeng.

Saya pertama kali mengenal Sego Lemeng ini, saat Festival Kopi Utek di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Disana diperkenalkan pertama kali Sego Lemeng sebagai kuliner khas Banjar bersama Kopi Utek. Namun berjalannya waktu hingga tahun 2019, Kuliner Sego Lemang tidak muncul permukaan, bahkan tidak menjumpai warung-warung sepanjang ke arah licin dan Kawah Ijen yang menjual Sego Lemang. Karena hal tersebut, saya berkolaborasi dengan warga setempat Desa Banjar untuk mengadakan Wisata Gastronomi Sego Lemeng. Wisata Gastronomi ini menurut saya adalah mengajak wisatawan ikut salam proses pembuatan Sego Lemeng, sehingga wisatawan mempunyai pengalaman baru dan tak terlupakan.

Sejarah Sego Lemeng Desa Banjar
Memasak nasi dengan Menggunakan Bambu
Sego Lemeng itu merupakan cara memasak nasi menggunakan Bambu yang dibakar. Sego Lemeng diyakini warga setempat adalah cara memasak orang-orang yang bermata pencaharian di hutan sejak dahulu. Mereka hanya bermodal beras dengan lauk dan sayur dicari nanti di dalam hutan. Dulu bambu yang dicari adalah bambu yang menyimpan air dalam batangnya. Air tersebut nantinya bisa digunakan untuk memasak beras menjadi nasi. Sambil menunggu nasi matang, biasanya bambu yang berisi beras ditinggal untuk melanjutkan pekerjaan di dalam hutan sekaligus mencari lauk pauk untuk dimakan bersama sego lemeng. Masyarakat juga meyakini pada era Penjajahan, para pejuang yang bersembunyi di dalam hutan juga melakukan cara memasak seperti ini.

Sego Lemeng Sekarang.
Sego Lemeng Desa Banjar Kini
Sego Lemeng saat ini sudah mengalami beberapa inovasi dan kreasi. Di Desa Banjar, di dalam Sego Lemeng diberi lauk pauk berupa ikan teri atau suwiran daging ayam. Ini menimbukan sensasi enak di dalam mulut saat menggigit nasi lemang tersebut. Satu hal yang istimewa buat saya dan merupakan sambel khas desa Banjar adalah Sambel Kecombrang. Istimewa karena sambel kecombrang mempunyai aroma dan rasa yang khas, sedikit asam kecut namun ada sensasi dingin seperti mint. Bahkan saat batang muda atau bunga kecobrang diuleg, ada aroma khas kecombrang yang tercium cukup enak dihirup.

Kalian udah tau tanaman Kecombrang seperti apa? Kalau di Desa Banjar, Kecombrang punya nama lokal yaitu Lucu. Lucunya saya juga baru tahu bahwa Kecombrang tanamannya mirip dengan Laos hanya saja punya daun agak kemerahan.

Belajar Memasak Sego Lemeng Bersama
Sego Lemeng yang sudah dimasukan bambu di Bakar dan ditunggu matang
Saya berkolaborasi dengan warga setempat, mengadakan Wisata Gastronomi Sego Lemeng di area persawahan yang mempunyai view indah berupa persawahan, dan jika jauh memandang bisa melihat samar birunya laut dan Gunung Ranti dan Kawah Ijen. Acara dilakukan sore hari dengan ahrapan Magis dari area Banjar terlihat, seperti kabut yang muncul dan hilang menutupi area pegunungan, juga udara sejuk yang berhembus di area persawahan di desa Banjar.


Sego Lemeng/Nasi Lemang Khas Desa Banjar
Setelah belajar memasak dan menyantap Nasi Lemang, kami memperkenalkan Kopi Utek khas Banjar. Kopi Utek sendiri merupakan Kopi Tubruk yang disediakan kepingan gula aren. Cara meminumnya kopi diminum lalu gula arennya digigit perlahan atau bisa sebaliknya gula arennya digigit, lalu kopinya baru diminum. Kita yang minum yang menentukan manisnya hanya di awal atau maunya manis diakhir, Eaaaaa.


Kopi Utek Khas Desa Banjar
Suasana Kebun tempat Wisata Gastronomi Sego Lemang
Siluet Perempuan Bersama Senja
Tertarik Berwisata Gastronomi Sego Lemeng, sekaligus menikmati magisnya suasana sore area persawahan di Desa Banjar, Banyuwangi bisa lihat tawaran dari Lokalx.id disini >> https://lokalx.id/experience/gastronomi-sego-lemeng-khas-desa-banjar


Video Keseruan Trip Gastronomi Nasi Lemang bisa ditonton disini:


Pawon Purba - Tempat Makan Ala Pedesaan di Bawah Kaki Gunung Nglanggeran, Jogja     Edit

Pawon Purba di Nglanggeran, Gunungkidul
Lagi di Jogja nih, cari makanan ala pedesaan yuh. Selain Kopi Klotok dan Geblek Pari Kulonprogo ya kan udah pernah.

Chat saya ke rekan blusukan saya di Jogja dulu, Anno. Karena sudah rindu makanan khas pedesaan yang tidak bisa ditemukan di Kota, kami memilih untuk mencoba Pawon Purba. Sebuah tempat makan baru yang berasa di desa wisata Nglanggeran Gunungkidul. Tepatnya di bawah kaki Gunung Merapi Purba,Gunung karst yang terkenal karena keindahan dan keunikan struktur batuan dan bukitnya dan masuk dalam salah satu bagian dari kawasan Geopark Dunia.

Pawon Purba ternyata bisa terbilang warung kuliner pedesaan baru di Jogja, karena baru didirikan sekitar bulan Mei atau 2 (dua) bulan lalu. Letaknya cukup strategis karena berada di sekitar objek wisata Gunung Nglanggeran dan memiliki pemandangan yang bagus.

Rute Menuju Pawon Purba dari Kota Jogja.
Untuk ke Pawon Purba dari Kota Jogja cukup mudah, dari kota Jogja, bisa arahkan kendaraan ke arah jalan Wonosari – Pertigaan Pasar Piyungan – Bukit Bintang – sampai di perempatan Patuk ambil arah Kiri atau ke arah Ngoro-oro atau Nglanggeran (ada papan petunjuknya) – ikuti jalan tersebut hingga melewati area tower televisi dan terus ikuti petunjuk arah ke Nglanggeran – Masuk desa Nglanggeran sebelum tempat parkir wisata Gunung Nglanggeran akan ada papan petunjuk jalan kecil bertuliskan Pawon Purba, ikuti petunjuk tersebut, kita akan sampai di Pawon Purba.

Joglo Pawon Purba tampak depan
Sampai disana saya langsung takjub pemandangannya, area persawahan dan Gunung Merapi Purba Nglanggeran yang gagah. Bangunan Pawon Purba merupakan bangunan Joglo yang sudah berdiri sejak tahun 1950. Namun tidak semuanya utuh menggunakan kayu tahun 1950, sepertinya hanya tiang-tiang kayu utamanya saja yang sudah ada sejak tahun tersebut.

Area Indoor Pawon Purba
Area Outdoor di Pawon Purba
Sepertinya kami datang kepagian, dari Jogja jam 8 pagi dan sampai Pawon Purba jam 9. Sudah ada beberapa sayur dan kita diminta tunggu sebentar karena nasi akan segera siap. Tempat makannya ada di area outdoor dan indoor yang berada di dalam Joglo. Area Joglo menarik karena terdapat meja dan kursi yang terbuat dari Batu Putih yang berasal dari daerah sekitar Gunungkidul. Meja tersebut memberi kesan kembali ke masa purba :D. Karena tidak ada peneduh di area outdoor, kami memilih meja di dalam Joglo yang sudah ditata menggunakan 1 set meja dan kursi jadul Sedan dari kayu.

Menu di Pawon Purba
Akhirnya nasi sudah siap. Pawon Purba menyajikan makanan ala prasmanan dengan 2 jenis Nasi, Nasi Putih dan Nasi Merah. Jelas saya memilih nasi merah yang jarang ditemukan di warung-warung lain. Sayur yang ada pun khas pedesaan seperti sayur tempe, sayur daun pepaya, sayur lodeh dengan lauk berupa tahu, tempe garit maupun bacem, telur, dan ikan. Minuman pun juga beragam, karena Nglanggeran punya produk Coklat dan disekitarnya banyak pohon Kakao, saya tertarik memesan es coklat sekaligus pelepas dahaga dari cuaca teriknya gunungkidul.

Telur Dadar dan Tempe Pawon Purba Enak bener
Saya rasa, saya cocok dengan masakannya. Terutama telur dadar dan tempe garitnya enak, pas sekali dimakan saat panas-panasnya. Sambelnya mantap, pedes saya rasa bagi penyuka pedas pasti cocok. Coklatnya pun demikian, dibuat dengan takaran yang pas sehingga coklatnya pun terasa enak.

Waktu Yang Tepat Ke Pawon Purba
Waktu yang tepat mengunjungi Pawon Purba saya rasa sore hari, sekitar jam 3-4 sore. Setelah makan kita bisa menikmati senja disana atau bisa pindah lokasi menikmati senja di Embung Nglanggeran yang lokasinya tidak jauh dari Pawon Purba. Bisa juga setelah pagi-pagi tracking naik Gunung Nglanggeran turunnya bisa mampir makan di Pawon Purba. Namun menurut saya sore adalah waktu yang terbaik karena matahari tidak terlalu panas, kita bisa memilih duduk di meja kursi dari batu putih memandangi area persawahan dan Gunung Merapi Purba Nglanggeran.


Tertarik datang Ke Pawon Purba kan?

Cengkir Heritage Resto, Warung Dan Sajian Khas Desa Di Dekat Pusat Kota Jogja     Edit

Cengkir Heritage Resto tampak depan
Sudah beberapa tahun lalu Warung Kopi Klotok menjadi pilihan tempat makan wisatawan maupun warga jogja, tumbuh juga Resto Tradisional ala desa di sekitarnya, salah satunya adalah Cengkir Heritage Resto And Coffe yang letaknya lebih dekat dengan pusat kota Jogja.

Baru-baru ini teman cerita tentang Cengkir Heritage yang berkonsep ala desa dengan bangunan berupa Joglo. Sesuai konsep dan namanya, Cengkir Heritage menawarkan makanan dengan suasana desa dan masakan desa yang dekat dengan Pusat Kota Jogja. Resto ini ternyata belum lama buka namun sudah menjadi tempat pilihan makan warga Jogja dan sebagian wisatawan yang sudah mengetahui tempat ini.


Rute Ke Cengkir Heritage
Cengkir Heritage beralamat di Jalan Sumberan II No.4 Dusun Ngentak, Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Untuk kesini cukup mudah, kalian bisa menggunakan jasa Ojek Online atau jika menggunakan kendaraan pribadi dari Palagan ambil arah ke pertigaan Jalan Damai setelah itu ambil ke timur (ke arah Jalan kaliurang) setelah melewati Captain Urban Lounge ada perempatan, ambil ke Jalan Sumberan II ke arah utara dan kalian akan menemukan Cengkir Heritage yang ada di kanan jalan.

tempat makan di Cengkir Heritage
Cengkir Heritage ini buka mulai jam 08.00- 00.00. Janjian sama teman-teman di Jogja jam 08.00 pagi dan sampai disana paling duluan haha. Karena masih menunggu teman –teman saya menyempatkan keliling Cengkir Heritage untuk melihat-lihat dan nyari tempat duduk yang nyaman. Ada 3 bangunan yang bisa digunakan, 2 bangunan berbentuk Joglo dan 1 Bangunan berupa rumah yang bisa digunakan untuk meeting dan pertemuan. Joglo yang berada dibangunan utama terdapat sajian prasmanan berupa masakan khas desa. Sayur Lompong (batang daun talas) yang menarik perhatian saya karena sayuran ini sudah jarang sekali ditemukan. Memasak lompong menjadi sayuran juga tidak bisa sembarangan karena jika cara membuatnya salah bisa membuat gatel. Mungkin itu sebabnya jarang sekali menemukan sayur lompong di warung-warung prasmanan lainya.

Nasi yang ditanak secara tradisional
Memilih lauk dan sayuran
Setelah anno, aqid, mas ilham, mba indah sekeluarga datang. Kami langsung mengambil nasi yang masih diatas tungku pembakaran, sepertinya nasi tersebut dimasak secara tradisional. Saya jelas memilih sayur lompong karena penasaran sekali rasanya,karena sayur lompong yang saya cobain pertama kali di Banyuwangi tidak ditumis seperti sayur lompong yang ada di Resto Cengkir Heritage ini.  Memilih lauknya juga seperti biasanya, telur yang dilihat dari penampakannya di goreng dengan api dan panas yang pas.

makanan berupa sayur dan lauk yang bisa dipilih
Setelah memenuhi piring dan memesan minum, pesanan kita akan dihitung oleh pelayan dan kita dipersilahkan menuju tempat duduk yang kita pilih. Suasana masih sepi, kami bisa bebas memilih tempat duduk dimana saja, kami lebih memilih duduk di bangunan berbentuk joglo tanpa sekat dinding agar lebih leluasa dan bisa melihat pemandangan sekitar Cengkir Heritage.

Nasi Telur, Sayur Tempe dan Lompong
Kalau dilihat-lihat, fasilitas dari Resto Cengkir Heritage ini cukup lengkap dari tempat ibadah, kamar mandi, tempat makan yang luas dan banyak pilihan, juga parkiran yang menurut saya cukup luas dan memungkinkan rombongan bis besar untuk masuk dan parker di halaman parkir Cengkir Heritage ini. Sambil makan, saya piker tempat ini cocok banget untuk acara kumpul-kumpul dan bisa menjadi alternatif bagi kalian yang mencari resto dengan konsep dan masakan khas desa yang tidak jauh dengan pusat kota Jogja.

Ikan Panggang Khas Blimbingsari, Banyuwangi     Edit

Ikan Panggang Blimbingsari

Selain Bandara Hijau yang naik pangkat menjadi Bandara Internasional, Blimbingsari juga terkenal dengan pantai dan kuliner dari hasil lautnya. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Ikan Panggang Khas Blimbingsari. Gimana tidak menarik, sekali melihat penampakan ikan yang dipanggang dengan lapisan sambal yang sangat ekstrim terlihat sangat menggoda iman untuk diet runtuh seketika.

Jika datang ke Desa Blimbingsari, sekitar ada 30 Penjaja Ikan Panggang ini berjualan di pinggir jalan, kebanyakan di depan rumahnya.  Hanya ada 1 (satu) penjaja ikan panggang yang punya warung khusus untuk para pembeli.  Pak Naori, adalah salah satu penjaja ikan panggang khas Blimbingsari yang warungnya sering saya datangi.


Untuk menuju Sentra Penjual Ikan Panggang khas Blimbingsari dari kota Banyuwangi cukup mudah. Ambil arah Rogojampi lalu pertigaan lampu lalu lintas Universitas Poliwangi ambil Kiri – ikuti jalan tersebut mengikuti arah ke Bandara Banyuwangi – setelah melewati Bandara Banyuwangi aka nada gapura masuk Desa Blimbingsari, mulai dari situ di pinggir jalan terdapat penjaja Ikan Panggang Khas Blimbingsari. Warungnya pak Naori itu sederhana, Cuma menggunakan bangunan semacam pos jaga yang sepertinya sudah tidak terpakai.

Warung Ikan Panggang Khas Blimbingsari Pak Naori
Pak Naori dan keluarganya nampaknya sibuk melayani pelanggannya, menata ikan diatas bara api yang ditiupkan angin yang menggunakan tenaga listrik. Tidak menggunakan tangan karena panasnya jadi tidak merata karena faktor manusia yang bisa kelelahan mengipas-ngipas :D. Cara penyajian Ikan Panggang khas Blimbingsari ini menarik, ikan dijepit dengan bambu, bambu ditusuk dengan pelepah pisang diujung kepala ikannya. Hal tersebut digunakan untuk memudahkan cara pemegangan dalam memanggang dan membolak-balik ikannya. Ikan dipanggang hingga setengah matang lalu diolesi dengan bumbu sambal yang terlihat pedas. Ikan tersebut seperti diselimuti oleh sambal dan hanya terlihat ekornya saja. Ikan yang telah diolesi dengan bumbu sambal, dipanggang kembali hingga matang.
pak Naori
Ikan yang digunakan biasanya tergantuk stok ikan yang didapat, biasanya menggunakan ikan ekor merah, ikan mata besar (mata belo), ikan layang benggol. Ikan-ikan tersebut jika sudah matang dipanggang dihargai dengan harga sebesar  Rp.10.000 hingga Rp.26.000 tergantung jenis ikan dan ukurannya. Ikan tersebut ternyata didapat dari TPI Pelabuhan Muncar. Saya pikir malah dari TPI Blimbingsari yang merupakan tempat pelelangan ikan terdekat.

Ikan Mentah dipanggang setengah matang terlebih dahulu lalu disambelin dan dipanggang lagi
Apapun ikannya ga penting mas, disini yang istimewa adalah bumbunya, kata salah satu pelanggang pak Naori.
Yah memang bisa dilihat, ikan yang dilapisi bumbu cabe ini terlihat menggoda. Akhirnya ikan panggang pesanan sudah jadi, saya memutuskan makan ditempat, eh ternyata pan Naori tidak menyediakan nasi. Alhamdulillah, kalau berat badan ga naik-naik amat kalau makan tanpa nasi kan?. Bumbunya memang beda, sedikit agak pedas namun tidak pedas seperti penampakannya. Bumbu Cabai yang digunakan mementingkan rasa yang setiap memakan daging ikan panggangnya harus menyolek Bumbu Cabainya yang nagihin.

Menurut Pak Naori, kadang ada tamu luar kota, terutama Jakarta dan Surabaya yang hendak pulang menggunakan pesawat memesan Ikan Panggang Khas Blimbingsari. Ikan tersebut tahan sampai dua hari, jika menggunakan pesawat pas sekali. Sampai rumah, ikan panggang bisa dibuka dan disantap bersama keluarga.

Untuk kalian yang sedang berada disekitar Blimbingsari, kalian kudu wajib nyoba kuliner Ikan Panggang Khas Blimbingsari ini.

Video Ikan Panggang/Bakar Blimbingsari


Kuliner Legendaris - Es Kapal Perempatan Baron, Solo     Edit

Es Kapal Perempatan Baron

Setiap mampir ke Solo, ada minuman yang harus saya cicipi. Bukan minuman mahal dan berkhasiat khusus kok, hanya saja minuman tersebut istimewa karena merupakan jajanan semasa kecil dan mungkin jajanan masa kecil kalian juga. Namanya Es Kapal.

Es Kapal merupakan salah satu jajanan unik tempo dulu yang berada di Kota Solo. Katanya jajanan ini mulai menampakan dirinya pada tahun 80-90an, dan akhirnya pada era sekarang ini hanya bertahan beberapa penjual saja yaitu Es Kapal Di Dalam Taman Sri Wedari dan yang kali ini saya coba berjualan di sekitar perempatan Baron.

Rute Menuju Warung Es Kapal Perempatan Baron.
Rute menuju Warung Es Kapal Perempatan Baron cukup mudah kok. Letak Warung Es Kapal Baron berada di pusat kota. Biasanya jika menggunakan kendaraan pribadi , Jalan Slamet Riyadi pertigaan Lapangan Sri Wedari ambil ke selatan ke jalan Bhayangkara, ikuti jalan tersebut hingga bertemu perempatan besar (perempatan Baron) ambil ke arah barat ke Jalan Dr. Rajiman. Sekitar 100 meter   sebelah kanan (jalur lambat) dari perempatan tersebut ada warung kecil bergerobak biru di sebelah kantor Koramil atau disebrang kantor Polsek Laweyan. Kalian bisa mengikuti Gmaps atau  agar lebih mudah bisa naik Becak, Ojek Pangkalan atau Ojek Online.

warung kecil dan gerobak Es Kapal Berbentuk Kapal milik Pak Widodo
Es Kapal Perempatan Baron merupakan salah satu kuliner Solo yang Legendaris. Pemiliknya bernama Pak Widodo, beliau sudah berjualan Es Kapal sejak tahun 1972 dengan cara berkeliling. Dia berkeliling dengan Gerobaknya yang bermoncong berbentuk kapal sehingga karena bentuk gerobak mirip dengan Kapal, Es tersebut disebut Es Kapal. Akhirnya pada tahun 1980, Pak Widodo berhenti berjualan keliling dan menetap berjualan di pohon Beringin yang ada di tepi perempatan Baron (pada tahun tersebut ada Hotel bernama Baron di sekitar perempatan tersebut). Pada Tahun 2016 hingga sekarang, Es Kapal Perempatan Baron milik pak Widodo ini pindah kembali, bergeser  ke arah Barat 100 meter dari bawah pohon beringin dan menempati  salah satu warung kecil.

Penyajian Es Kapal
Es Kapal bentuknya adalah sebuah Minuman dari Santan dengan campuran sedikit rasa coklat, minuman tersebut ditampung dalam panci berukuran besar yang didalamnya terdapat es besar dan es yang diserut secara berkala oleh pak Widodo. Cara penyajiannya juga klasik dan menarik, minuman dituangkan dalam gelas kaca besar khas tahun 90an, ditambah coklat kembali dan ditutup dengan sebuah roti tawar diatas gelasnya. Roti tersebut nantinya dimakan dengan cara menyelupkannya kedalam Es Kapal lalu memakannya, nikmat sekali rasanya. Sensasinya berbeda sekali dengan memakan roti tawar dengan memakai misis atau selai. Di Warung Es Kapal ini juga menjual makanan lain selain roti, kalian bisa menemukan jajanan pasar seperti arem-arem dan beberapa jenis gorengan yang enak disantap bersama Es Kapal.

Pak Widodo sedang menyerut es secara berkala
Warung ini buka sekitar jam 9 pagi hingga Es Kapal habis, biasanya jika Solo sedang panas-panasnya, sebelum jam 3 sore, Es Kapal sudah habis, jika agak mendung atau hujan, biasanya Sore hari Es Kapal masih ada dan tersedia. Satu Gelas Es Kapal Perempatan Baron ini bisa dibeli seharga Rp.5000 saja. Cukup murah dan bisa melepas dahaga dan melawan hawa panas kota Solo.

Kalau kalian ke Solo, jangan lupa mampir dan bernostalgia dengan Es Kapal, jajanan masa kecil dahulu.
Cara Menikmati Es Kapal Solo


Arborea Cafe - Ngopi di Tengah Hutannya Jakarta     Edit

Arborea Cafe, Kedai Kopi di Tengah Hutannya Jakarta
Di tengah kota Jakarta, ada sebuah hutan dengan pohon-pohon yang berlomba-lomba meninggi menyaingi gedung-gedung perkantoran jakarta. Di tengah hutan tersebut, ada sebuah kedai kopi asik untuk menikmati kopi. Kopi di Hutan. Kopi di Hutannya Jakarta. Kedai Kopi tersebut bernama Arborea Cafe

Arborea Cafe, sebuah Cafe yang letaknya berada di Arboretum Ir. Lukito Daryadi, M.Sc. Almarhum adalah salah satu tokoh lingkungan yang namanya diabadikan di kompleks perkantoran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KemenLHK). Dulu Arboretum tersebut bernama Taman Hutan Persahabatan, yang mengacu pada sebuah kegiatan Kongres Kehutanan Internasional ke-8 di Jakarta, pada tahun 1978. Nama Arborea Cafe ini karena letaknya yang berada di tengah-tengah Arboretum tersebut.


Cara menuju Arborea Cafe
Cukup mudah karena komplek perkantoran KemenLHK berada di tengah-tengah kota Jakarta yaitu di Pinggir Jalan Gatot Subroto dan bersebelahan dengan Kantor MPR/DPR. Untuk menuju kesana kalian bisa menggunakan Busway Koridor 9 Pinangranti-Pluit dan turun di Halte Slipi Petamburan dari Halte tersebut kalian bisa jalan kaki menuju komplek perkantoran KemenLHK dan menuju Arborea Cafe. Jika kalian naik Kereta Api atau Commuterline kalian bisa turun di Stasiun Palmerah. Dari stasiun Palmerah kalian tinggal berjalan kaki menuju Arborea Cafe. Atau lebih mudahnya kalian bisa menggunakan jasa Ojek Online maupun Offline dan minta diantar ke Arborea Cafe di dalam Komplek perkantoran KemenLHK.
Arboretum Ir. Lukito Daryadi, M.Sc
Kawasan KemenLHK sejuk sekali, pohon-pohon tinggi membuat suasana teduh dan sejuk. Menujulah ke sisi gedung sebelah Timur dan temukan papan nama Arboretum Ir. Lukito Daryadi, M.Sc cukup jelas karena berwarna putih dengan tugu berwarna kuning keemasan. Di tengah arbortum tersebut ada bangunan kayu dengan arsitektur cukup menarik, itulah Arborea Cafe.  Luas Bangunannya tidak terlalu luas, dan berlantai 3.

Kedai Kopi Arborea Cafe yang berlantai tiga di tengah hutan arboretum
Meja Minibar di Lantai 2
Lantai pertama ada beberapa meja untuk menikmati kopi dan nuansa arboretum di tengah Ibukota Jakarta. Kalian bisa juga memilih tempat duduk di lantai berkayu atau menggunakan kursi pasir yang ada di bagian depan Arborea Cafe ini. Lantai dua, terdapat meja minibar di tepian jendela tak berkaca yang bisa memandang pemandangan arboretum dari atas. Ada juga 1 set Sofa dan mejanya jika kalian datang beramai-ramai sehingga cukup asik untuk berdiskusi. Lantai 3 ini menurut saya adalah tempat untuk menikmati Ngopi di Hutan paling enak karena bisa melihat suasana Arboretum ke segala arah.
Pemandangan dari lantai 3 ke bawah

Ngopi sambil nikmati suasana hutan arboretum
“Tekururrrrrr, ciit ciiiit ciit”
Suara burung tekukur dan mungkin burung gereja meramaikan suara di bawah teduhan hutan arboretum. Rasanya deru suara jalanan jakarta serta polusi udaranya tersaring oleh lebatnya tajuk dan pohon-pohon yang ada di Arboretum Ir. Lukito Daryadi, M.Sc . Yah memang itulah fungsi pphon, selain itu kumpulan dari banyak pohon bisa membuat iklim mikro yang berbeda daripada daerah diluar kumpulan pohon-pohon tersebut.  Iklim Mikro yang terasa sekali adalah udara sejuk dan teduh daripada kita berada dipinggir jalan jakarta, atau di ruangan yang memiliki AC.

Kopi Single Origin dan Makanan Pengganjal Perut
Saya cukup terkejut dengan harga menu makanan dan minuman yang ditawarkan oleh Arborea Cafe ini, terkejut karena harga Kopinya cukup terjangkau dari 10 ribu hingga 28 ribu. Harga untuk Kopi Single Origin seharga Rp. 18.000 dan Harga Latte juga Cappucino seharga Rp. 20.000. Harga yang murah untuk sekelas Kopi di Jakarta apalagi nuansa yang ditawarkan cukup berbeda, Kopi di Hutan. Bagi kalian yang tidak suka Kopi kalian bisa memesan Teh, Jus, Mineral Water dan Soft Drink. Adapula Snack yang disediakan berupa jajanan pasar dan beberapa jenis roti-rotian.

Pesan, bayar, nanti pesanan akan di antar ketempat kalian duduk
Arborea Cafe ini menarik karena ternyata dikelola oleh Koperasi KemenLHK yang sebelumnya selama 3 bulan kafe ini dibimbing oleh pihak manajemen Hotel Ciputra. Saya tahu hal ini karena penasaran kenapa gula-gula yang disediakan berlogo hotel Ciputra. Link dari Koperasi KemenLHK sebenernya cukup luas apalagi seharusnya terkoneksi oleh pemangku kawasan konservasi seluruh Indonesia. Koneksi tersebut bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan produk-produk masyarakat desa hutan yang bisa dijadikan menu menarik juga cocok disajikan di Arborea Cafe tersebut.

Arsitektur Arborea Cafe menarik di foto
Arborea Cafe, saat ini hanya buka mulai hari Senin-Minggu dari jam 08.00-20.00 WIB saja. Jam-jam kerja dan jam menunggu jalanan Jakarta mulai lenggang dari kemacetan. Jika kalian datang jam 5 sore, lampu-lampu Arborea Cafe mulai nyala dan nuansanya cukup asik apalagi untuk menunggu lancarnya jalan Ibukota akibat macet karena jam pulang kantor. Bisa juga setelah olahraga di GBK minggu pagi, santai2 di Arborea Cafe

Tertarik datang di Arborea Cafe.

Warung Geseng Wijenan Bu Tin, Banyuwangi - Kuliner Turun Temurun Dari Singojuruh     Edit

Geseng, Kuliner Khas Banyuwangi

Saya ingat, tahun 2017 lalu ada yang memperkenalkan kuliner Geseng khas daerah Singojuruh yang hanya bisa ditemukan saat Hari Raya Lebaran. Ketika daya cari info tentang warung yang menjajakan kuliner Geseng ini, jawabannya belum ada. Belakangan ini saya keinget kuliner Geseng ini, lalu mencoba browsing di dunia maya dan menemukan Warung Geseng Wijenan Bu Tin.

Warung Geseng Wijenan milik Bu Tin ini menyediakan Geseng Mentok, makanan khas Banyuwangi daerah Singojuruh yang tidak dijual di daerah mana pun. Geseng ini sudah ada sejak dahulu dan resepnya diwarisi dari turun temurun di desa tersebut. Belum lagi salah satu bahan dasar yang membuat citarasa geseng ini berbeda yaitu rasa kecut yang belum bisa saya temukan di masakan Jawa dan Banyuwangi lainnya ternyata berasal dari tumbuhan Asam Wadung yang tumbuh di lingkungan Dusun ini saja.

Pertigaan Patung Singa di Jalan Menuju Songgon setelah kelurahan Singolatren
Rute Menuju Warung Geseng Wijenan Bu Tin
Kalian bisa mencicip Kuliner Geseng ini di Warung Geseng Wijenan yang berada di pinggir jalan kearah Kelurahan Singojuruh jika dari Songgon. Rute ke Warung Geseng Wijenan dari Kota Banyuwangi melewati Kota Rogojampi-Perempatan Kantor Pos Rogojampi ambil arah Barat ke arah Songgon – Setelah Melewati Kantor Kelurahan Singolatren akan ada pertigaan patung singa – ambil kiri nanti Warung Geseng Wijenan milik Bu Tin ada di sebelah kiri jalan.

penampakan warung geseng wijenan bu tin dari depan
Warungnya sederhana, halaman rumahnya dimodifikasi dengan ditambahkan teras berbentuk bangunan khas Suku Osing Banyuwangi. Ada dua meja panjang dan dua meja lesehan dengan etalase yang berisi aneka minuman yang bisa dibeli oleh pengunjung. Saya sempat ragu untuk mampir karena warungnya terlihat belum buka. Namun ketika saya datang, Bu Tin memang hendak siap-siap membuka warungnya. Sepertinya ibunya heran ada yang datang sepagi itu, dengan motor berplat luar kota Banyuwangi.

Warung Geseng Wijenan Bu Tin tidak hanya menyediakan Geseng Mentok saja, juga menyediakan Rujak Soto, Soto Babat, Bebek Goreng Krispi, dan Pepes Tawon. Sudah penasaran dengan Geseng, saya pun memutuskan memesan makanan tersebut. Sambil menyiapkan hidangan, Bu Tin menceritakan segala hal tentang kuliner Geseng. Awal mulanya tahun 2017 ada beberapa media yang coba mengangkat tentang kuliner Geseng ini. Setelah berhasil diangkat, ada yang memesan Geseng, namun terkendala mereka memesan hanya 1-2 porsi padahal sekali memasak Geseng, Bu Tin harus memotong 1 Mentok yang bisa untuk 5-6 orang. Pernah juga ada yang memesan Geseng buatannya untuk perlombaan event memasak masakan khas Banyuwangi dan masakan Geseng buatan Bu Tin ini juara. Setelah itu, Bu Tin memutuskan untuk membuka warung yang menyediakan Geseng Mentok.

Satu porsi Geseng Mentok
Daun Asem Wadung
Pesanan Geseng Mentok racikannya Bu Tin akhirnya datang. Bu Tin menyajikan bersama minuman Temulawak. “Geseng ini pas jika minumnya pakai Temulawak”. Potongan Mentok dimasak dan disajikan dengan bumbu khasnya. Ada hal yang menarik perhatian, ada taburan potongan daun yang ditabur di atas potongan daging mentok. Ternyata daun itu adalah daun dari pohon Asam Wadung yang menjadi sumber dari rasa kecut yang tidak biasa dari kuliner Geseng. Melihat saya penasaran, Bu Tin membawa daun Asem Wadung dua helai dengan warna berbeda. Daun berwarna hijau terang (daun muda) dan Hijau gelap (tua). Dua helai daun tersebut saya sobek kecil untuk mencicipi, Daun Wadung muda ternyata terasa kecut asam, namun daun tua terasa pahit. Menurut Bu Tin, Daun Muda dari Asem Wadung yang dipakai. Beliau bercerita, pohon tersebut melimpah dilingkungan tempat tinggalnya yaitu Dusun Wijenan Kidul, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. Adanya pohon tersebut membuat Kuliner Geseng ini lestari hingga saat ini.

Kuahnya Sambel Geseng dengan Taburan daun Asem Wadung
Nasi sudah habis, namun Geseng beserta kuah sambalnya masih ada, dan Bu Tin malah menawarkan nasi tambahan untuk menghabiskan Geseng sampai ke sambal-sambalnya. Yah memang saya sudah niat tidak mau menyisakan kuah sambal geseng setetes pun :D. Rasa kecutnya bikin nagih!!. Bu Tin benar, Temulawak hangat rasanya sangat cocoksekali dihidangkan dengan Geseng ini.

Bu Tin juga mengenalkan saya kepada anaknya yang membuat akun media sosial Warung Geseng Wijenan dan menandakan warung tersebut di peta Googlemap, sehingga saya bisa menemukannya saat browsing. Dia juga sedang mencoba-coba membuat Geseng dalam frozen food sehingga bisa dibawa menjadi oleh-oleh para wisatawan.Kami juga mengobrol seputar pohon Asem Wadung dan memecahkan masalah bagaimana cara budidayanya yang sampai sekarang masih belum ditemukan cara yang efektif.
Penampakan sederhana Warung Geseng Wijenan Bu Tin
Kesimpulan dari saya, Kuliner Geseng ini rasanya tidak biasa, saya rasa belum ada citarasa dengan kuah sambal yang kecutnya nagih seperti ini. Warung Geseng Wijenan Bu Tin ini bisa kalian kunjungi jika kalian wisata alam di Daerah Songgon. Kalian bisa berwisata dulu hingga sore hari dan lanjut makan malam di Warung ini karena Warung Geseng Wijenan buka jam 9 pagi hingga malam hari.