-->
Showing posts with label pantai. Show all posts
Showing posts with label pantai. Show all posts

pantai

Pantai Sembulungan, Banyuwangi - Pantai Dengan Potensi Sejarah Luar Biasa dan Kearifan Lokal Yang Kental     Edit

Pantai Sembulungan di Alas Purwo

Pantai Sembulungan adalah salah satu pantai di Banyuwangi yang punya daya tarik lain dibanding pantai-pantai lain di Banyuwangi. Selain keindahan pantainya, juga terdapat peninggalan sejarah mulai era kerajaan hingga era penjajahan kolonial Belanda dan Jepang. Selain itu juga terdapat kearifan-kearifan lokal masyarakat pesisir Banyuwangi terutama Muncar yang wilayahnya sangat dekat dengan Pantai Sembulungan yang hanya dipisahkan oleh Perairan Teluk Pangpang.

Senja di Pantai Sembulungan

Pantai Sembulungan terletak di wilayah konservasi Taman Nasional Alas Purwo berdekatan dengan Daerah Muncar, Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Jika kita berada di pelabuhan Muncar kita bisa melihat sebuah daratan tinggi atau Tanjung yang menjorok ke arah Laut, wilayah tersebut bernama Sembulungan.

Rute menuju pantai Sembulungan dari kota Banyuwangi.

Untuk ke Pantai Sembulungan ada dua cara yaitu lewat darat dan lewat laut menggunakan kapal/jukung.  Rute ke Pantai Sembulungan dengan jalur darat adalah lewat Jatipapak yang terkenal dengan wisata mangrove Trail Jatipapak.

Sembulungan rute darat hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua saja. Dari kota Banyuwangi ambil rute ke TN Alas Purwo melewati Rogojampi-Pertigaan Lampu Lalu Lintas Srono ambil ke arah timur (arah Muncar) – Pertigaan lampu lalu lintas Tembok ambil ke barat – dari sini ikuti saja petunjuk jalan ke TN Alas Purwo hingga sampai daerah Kalipait akan ada Kantor TN Alas Purwo dan Lapangan Sepakbola sebelum masuk ke hutan. Ikuti jalan berbatu dekat Lapangan Bola tersebut hingga ke Jatipapak, dari jatipapak kalian bisa menanyakan rute ke Sembulungan. Jika kondisi musim hujan tidak disarankan rute darat ini.

Sembulungan Rute Laut melewati Hutan Mangrove

Sembulungan Rute Laut bisa ditempuh dari Pelabuhan Muncar menyewa kapal/jukung. Saya bisanya malah lewat Sungai Stail dengan menyewa jasa transportasi dari Kelompok Masyarakat Bahari Stail Sejahtera (BSS) yang berada di Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar. Kelompok BSS ini sering mengantarkan tamu untuk memancing, juga untuk wisata  trip ke Teluk Biru. Untuk ke Basecamp Kelompok BSS ini cukup mudah. Dari kota Banyuwangi ambil rute ke TN Alas Purwo melewati Rogojampi-Pertigaan Lampu Lalu Lintas Srono ambil ke arah timur (arah Muncar) – Perempatan Tembok ambil ke kanan lalu ikuti sampai di pertigaan Pasar Sumberayu ambil kiri – ikuti jalan dan tanya warga setelmpat Kantor Resort Tanjung Pasir TN Alas Purwo atau kalian bisa ikuti rute di Google maps. Jika kalian tertarik bisa menghubungi nomor Whatsapp 081216695429.

Rute laut ini seru, apalagi lewat sungai Stail. Kalian bisa melihat kehidupan dipesisir sungai Stail, aktivitas masyarakat, melewati hutan mangrove dan akhirnya bermuara di teluk pangpang dan sampai di Pantai Sembulungan. Kelemahan dari rute laut lewat sungai stail adalah masih terpengaruh pasang surut air laut. Jika air laut surut, untuk menyebrang ke Sembulungan agak sulit. Atau bahkan tidak bisa.

Di Pantai Sembulungan

Tetibanya di Pantai Sembulungan cukup takjub dengan perubahannya. Dahulu jika berlabuh kesini, celana bagian bawah agak basah terkena ombak saat turun kapal namun sekarang ada Dermaga yang bisa digunakan untuk pelabuhan kapal terutama saat air laut sedang pasang. Pantao Sembulungan berpasir putih dan saat datang dalam kondisi bersih hanya ada sampah-sampah dari seresah daun yang basah terbawa ombak laut dan angin. Namun memang jika kita kesini saat musim angin barat yang membuat ombak membawa sampah-sampah dilautan menepi sehingga pesisir pantai ini banyak terlihat sampah yang berserakan.

Bungker Tempat Peristirahatan

Meriam Buatan Jerman

Di tepian pantai terlihat bangunan yang sedikit timbul dari pasir pantai, saat saya dekati ternyata sebuah Bungker sudah tidak digunakan lagi. Jumlahnya cukup banyak, belum lagi bungker yang ada di atas bukit sembulungan. Kalau kita ke atas bukitnya makin ditemukan banyak bungker dengan sedikit lubang untuk keluarnya moncong senjata dan mengintip. Sepertinya Tanjung Sembulungan ini menjadi seperti benteng pertahanan yang digunakan pada masa era kolonial belanda dan jepang untuk menghadapi serangan dari laut. Dengan adanya benteng pertahanan di tanjung sembulungan ini kapal musuh akan kesulitan mendarat ke wilayah Muncar. Di area atas bukit juga ada sisa meriam yang digunakan pada masa penjajahan dulu. Meriamnya cukup besar bertuliskan FRIED KRUPP ESSEN 1900 yang berarti meriam ini dibuat tahun 1900 oleh Tokoh Industrial Terkenal, Fried Krupp yang membangun industri cetakan logam di Essen, Jerman. Tulisan tersebut juga ditemukan pada meriam-meriam peninggalan masa penjajahan. Diatas bukit cukup sejuk karena banyak rimbunan pohon dan bambu yang menaungi, ditambah lagi angin laut yang cukup sejuk masuk dari sela-sela dahan pohon dan bambu membuat lupa cuaca panas di area pantai.

Dugaan Situs Padepokan Empu Supo di Sembulungan

Jika kita lebih naik ke puncak sembulungan ini kita bisa menemukan situs peninggalan Empu Supo. Situsnya ini hanya berupa bongkahan batu bata yang berukuran tidak wajar juga ditemukan umpak yang memperkuat dugaan adanya bangunan disini. Empu Supo ini terkenal dalam cerita sejarah Kerajaan Majapahit dan Blambangan. Singkat ceritanya Prabu Brawijaya mengutus Empu Supo mencari Keris Kiai Sengkelat yang hilang. Setelah sekian lama mencari dari daerah ke daerah hingga sampailah di daerah Blambangan (Banyuwangi). Saat di Blambangan, beliau dipanggil oleh bupati Blambangan untuk memperbaiki bilah kerisnya yang rusak, ternyata keris milik bupati adalah keris yang dicari oleh beliau. Empu Supo menyarankan untuk membuat duplikat keris tersebut sebanyak 3 buah untuk menghindari terjadinya kerusakan atau kehilangan sedangkan yang asli di simpan oleh beliau. Bupati Blambangan terkesan atas hasil kerja Empu Supo yang bisa memperbaiki keris dan membuat duplikatnya. Konon cerita Keris Kiai Sengkelat yang asli dikembalikan ke Prabu Brawijaya. Untuk ke Situs Empu Supo ini tidak bisa sembarangan, karena tidak ada jalan setapaknya sehingga kalian perlu izin dulu kepada petugas agar bisa didampingi naik ke atas bukit tersebut.

Kearifan Lokal di Sembulungan.

Setiap tanggal 14,15 pada Tanggalan Islam, masyarakat nelayan di muncar melakukan kegiatan pembersihan kapal-kapal mereka di pesisir pantai Sembulungan. Membersihkan kapal dari kerak dan kerang yang menempel di lumbung kapal, kebersihan kapal hingga memperbaiki kapal seperti mencat kembali warna kapal yang memudar. Kapal Nelayan Muncar ini sangat khas sekali dengan warna warni yang menawan dan bentuknya yang unik. Pada lumbung kapalnya terdapat corak garis warna-warni dan diakhir pada garis teratas biasanya berwarna kuning. Kapal Khas Nelayan di Muncar ini bernama Kapal Slerek. Jika kalian datang pada pagi sampai sore hari pada tanggal tersebut, kalian bisa menjumpai aktivitas ini.

Pembersihan Kapal Slerek dari Kerak Kerang Tiram

Kapal Slerek yang parkir di Pantai Sembulungan untuk melakukan perbaikan

Napak tilas, medoakan leluhur Mbah Kalong, Salah satu Gandrung dari Muncar

Pada setiap bulan Muharram pada Tanggalan Islam, Masyarakat nelayan muncar melakukan Upacara Petik Laur Muncar yang diadakan sangat meriah. Bahkan banyak wisatawan yang datang untuk melihat upacara ini. Upacara ini diadakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut yang didapat dan hasil laut kedepannya juga melimpah. Poin menarik dari petik laut adalah keramaian warna-warni kapal Slerek yang berangkat bersama-sama melabuhkan umbe rampe, sesaji dalam bentuk kapal dan dihanyutkan atau ditenggelamkan di laut. Rasanya Perairan Teluk Pangpang dan Selat Bali hari itu penuh dengan warna. Setelah melabuhkan dilanjutkan syukuran di Pantai Sembulungan dan napak tilas sekaligus mendoakan Mbah Kalong. Salah satu tokoh Gandrung yang dihormati di Wilayah Muncar dan sekitarnya.

Video Petik Laut Muncar

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/vlkm9HB4VEA" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

Secara garis besar, Pantai Sembulungan ini menarik untuk di kunjungi baik pesona alamnya, keunikan budaya dan kearifan lokalnya juga peninggalan sejarah yang ada disana. Jika ada waktu coba dikunjungi pantai Sembulungan ya, coba juga menggunakan jalur lautnya :)

Pantai Karang, Denpasar - Tempat Menikmati Matahari Terbit di Bali     Edit

Gardu Pandang Pinggir Pantai

Libur ke Bali tetap aja tidak berubah seperti di Banyuwangi mencari tempat menikmati pagi. Mumpung menginap Hotel di daerah kuta, lokasi terdekat untuk menikmati matahari terbit terdekat bisa di Pantai daerah Sanur karena pantai di sana menghadap ke arah timur. Berbeda dengan di Banyuwangi yang matahari terbitnya jam 5 WIB, di Bali matahari terbit sekitar jam 6 pagi WITA.

Berangkat dari hotel jam 5 pagi, saya menghapal jalan dahulu dengan maps google, maklum baru pertama kali ke Bali hahaha. Saya memilih Pantai Karang karena terdapat Gubuk Santai yang berada di pinggir laut dan tengah laut yang bisa saya jadikan sebuah objek foto sunrise.

Rute Ke Pantai Karang, Bali dari Kuta

Untuk menuju Pantai Karang dari Kuta cukup mudah, saya tingga mengikuti jalan By Pass menuju Pantai Kuta, di perjalanan ada papan petunjuk jalan yang membantu mengarahkan ke arah pantai Sanur. Sebelum memasuki parkiran pantai Sanur, saya terus jalan ke utara hingga ke pintu masuk Pantai Karang. Dari parkiran kendaraan, suara dan angin pantai Karang Sudah memanggil-manggil.

Fotografer sudah berjejer mengabadikan sunrise di pantai karang

Ternyata sudah ramai, ada para fotografer yang siap mengabadikan  foto sunrise di pantai karang ini dengan teknik foto long eksposurenya dengan menggunakan alat bantu tripod dan filter GND. Saya melihat sekitar, Pantai Karang ini selain tempat menikmati pagi di Bali dan mempunyai pasir pantai yang putih dan cukup lembut, juga mempunyai daya tarik berupa Gazebo atau Gubuk santai yang ada di sekitar pantai, sehingga kita bisa bersantai duduk di tepian pantai. Sambil menikmati Matahari terbit, kita juga bisa menyantap lumpia yang disajikan oleh penduduk lokal dengan harga 10.000 untuk satu pincuk lumpia yang sudah dipotong-potong. Lumpia berisi mihun atau mie putih dan ada sedikit sayuran dan yang bikin nikmat adalah bumbu petisnya hmmmm. ‘Hap, Hap” Tidak terasa dua pincuk habis dalam sekejap hahaha.
Penjual Lumpia di Pantai Karang Bali


Pada sisi sebelah utara atau kiri pantai ternyata terdapat ayunan yang sepertiny disediakan oleh mengelola pantai untuk berfoto. Antrian cukup ramai karena berfoto sedang bermain ayunan berlatar pemandangan matahari terbit ini memang bagus. Namun untuk kursi jemur yang ada disana tidak bisa digunakan bebas karena disewakan perjam.

Matahari sudah mulai naik, terasa makin banyak pengunjung, Beach Walk yang menghubungkan pantai-pantai di daerah sanur mulai terlihat orang yang berolahraga lari juga bersepeda. Beberapa sepeda memilih berhenti di pinggir pantai dan pengendara beristirahat sambil memandangi laut.

Sepedaan di Pantai Karang Bali juga seru

Sampai pulang ke Banyuwangi lagi saya masih penasaran, kenapa namanya Pantai Karang karena saat disana saya tidak melihat batuan karang baik berupa pulau seperti di pantai pulau merah dan tanjung papuma atau terumbu karang yang terlihat saat air laut dalam keadaan surut. Malah saat surut terlihat jelas suket atau rumput air.

Sudah puas menikmati suasana pagi di Pantai Sanur, saya bersiap-siap melanjuti perjalanan ke  pantai di daerah Jimbaran yang pemandangannya punya nuansa berbeda dengan Pantai di daerah Sanur dan Kuta.


Hutan Mangrove Jatipapak - Wisata Baru Di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi     Edit

Hutan Mangrove dan Mangrove Trail Jatipapak
Banyuwangi daerah yang berbatasan dengan laut, sehingga tidak aneh jika Banyuwangi punya banyak pantai dan juga hutan mangrove. Hutan Mangrove di Banyuwangi yang sudah mulai dibuka wisata cukup banyak, seperti Hutan Mangrove Bedul, Hutan Mangrove Desa Bengkak, Hutan Mangrove Pantai Cemara, Hutan Mangrove Kili-Kili, dan yang baru adalah Hutan Mangrove Jatipapak.

Hutan Mangrove Jatipapak ini terletak di Banyuwangi selatan tepatnya di dalam kawasan TN Alas Purwo, Resort Kucur. Jatipapak ini lebih dikenal oleh masyarakat lokal adalah Situs Makam Mbah Dowo yaitu makan sepanjang 7 meter dan Situs Jatipapak yang merupakan Bonggol jati yang dulunya pohon jatinya ditebang oleh Sunan Gunung Jati untuk digunakan sebagai tiang Masjid Agung Demak. Selain itu, Jatipapak punya landasan terbang atau bandara kecil di samping hutan yang digunakan sebagai landasan terbang pesawat patroli udara ‘ultra light” milik Taman Nasional Alas Purwo.

Rute Menuju ke Jatipapak dari Kota Banyuwangi
Lurus (warna hitam ke Alas Purwo), ke kiri ke Jatipapak
Menuju ke Jatipapak dari Kota Banyuwangi cukup mudah kok, apalagi bagi mereka yang sudah apal jalan menuju ke Alas Purwo. Dari Kota Banyuwangi melewati Rogojampi, pertigaan Srono ambil arah timur ke arah muncar, perempatan lampu lalu lintas Tembok ambil ke kanan kearah Sumberberas. Dari perempatan tembok tersebut sudah ada petunjuk jalan yang bisa kita ikuti menuju kawasan TN Alas Purwo. Sebelum masuk hutan akan ketemu Kantor SPTN W I Tegaldlimo, diperempatan lapangan bolanya, kalian bisa ambil ke arah jalan makadam ikuti jalan makadam yang berbatu sampai ketemu pertigaan tower pengawas ambil ke arah kiri hingga ketemu gapura masuk pintu jatipapak. Untuk masuk ke Jatipapak kalian harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 5.000/orang saat weeday atau Rp. 7.500/orang untuk hari libur, Rp. 5.000/motor dan Rp. 10.000/mobil. Dari parkiran kalian tinggal jalan kaki ke wisata hutan Mangrove Jatipapak.

Gapura Masuk Mangrove Trail Jatipapak
Di dalam berwisata ke hutan bakau Jatipapak, kita harus menaiki jembatan bakau atau Mangrove trail Jatipapak karena hutan mangrove merupakan area pasang surut, jika lewat bawah becek dan berlumpur. Waktu saya kesana, kondisi hutan mangrove sedang surut sehingga beberapa lokasi yang dilewati jembatan mangrovenya sedang surut. Namun mendekati arah teluk pangpang atau laut sudah terisi air.
Kondisi Teluk Pangpang Sedang Surut
Lorong Adem di Jembatan Bakau Jatipapak
Sepanjang jalan di Mangrove Trail Jatipapak menuju Teluk Pang-pang disuguhi dengan suasana hutan mangrove yang tinggi, yang membuat teduh suasana sekitar sana. Apalagi angin yang berhembus dari teluk pangpang terasa cukup sejuk, jadi suasana saat kunjungan menjelang sore tidak terlalu terik. Sampai di ujung Mangrove Trail kita bisa melihat panorama teluk Pangpang dan dataran bukit yang menjorok ke laut seperti kepala ular. Itu daerah Sembulungan, di sana ada sisa-sisa peninggalan perang dunia ke-2 seperti meriam dan bungker juga ada Makam Penari Gandrung dan Situs Empu Supo.
Ujung Mangrove Trail Jatipapak dan Pemandangannya
Wisata yang terbilang baru, belum tersedia tempat sampah di sepanjang mangrove trailnya sehingga pengunjung di himbau untuk tidak membuang sampah sembarangan di kawasan hutan. Pengujung bisa membuang sampah di tong sampah yang ada dekat parkiran atau membawa kembali pulang. Akses jalan hutan masuh makadam dan jalan tanah sehingga perlu diperhatikan kondisi kendaraan terutama ban dan bensin, karena tidak ada tambal ban dan penjual bensin eceran.

Video Tentang Mangrove Jatipapak bisa ditonton disini :)



Pantai Watu Ulo, Cerita Mitos Heroik dan Budaya Tradisional Pegon     Edit

Pegon Jember di Watu Ulo

Setelah menikmati Pagi di Pantai Papuma, saya bersama Blogger Jember bersiap-siap berangkat Ke Pantai Watu Ulo yang letaknya di sebelah Pantai Papuma. Ada apa di Pantai Watu Ulo?
“Nanti di Pantai Watu Ulo itu ada Mitos Ular Raksasa.
Ada Tradisi Budaya Pegon yang ada 1 tahun sekali. Acaranya hari ini, di kemas dalam Festival Waton (WatuUlo Pegon)”

Pantai Watu Ulo, Pantai Berpasir Hitam dengan garis pantai yang cukup panjang, Ombaknya cukup besar sehingga disini, pengunjung dilarang untuk berenang untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Namun pengunjung bisa menikmati sisa deburan ombak yang sampai di pasir pantai, menikmati kuliner ikan bakarnya. menikmati panorama pantainya juga sisa kisah mitos yang ada di pantainya.

Kisah Mitos Pantai Watu Ulo
Pantai Watu Ulo, Jember ini punya kisah mitos heroik Raden Mursodo yang membelah menjadi tiga bagian Ular Raksasa bernama Nogo Rojo. 3 bagian tersebut dipisahkan di berbagai penjuru pantai selatan Jawa. Ekor di daerah Pacitan, kepala di daerah Banyuwangi, ada yang bilang di Grajagan, ada yang bilang juga di Pulau Mustaka (yang terlihat jelas dari Pantai Mustika Pancer) dan Badan Ularnya berada di Watu Ulo ditandai dengan adanya karang berbentuk seperti badan ular memanjang ke arah laut. Bisa dibayangkan sebesar apa Ularnya?

Tradisi Budaya Pegon di Hari Lebaran Ketupat
Selain kisah mitos tersebut, ada budaya tradisi unik di Pantai Watu Ulo ini. Setelah hari ke 7 (H+7) Hari Raya Idul Fitri, warga sekitar Pantai Watu Ulo ini mempunyai Tradisi bersama-sama pergi ke Pantai bersama keluarga dan kerabatnya membawa makanan yang nantinya di santap bersama di pinggir pantai. Budaya Tradisi ini sudah ada sejak dulu dan mereka pergi bersama-sama dari rumah menggunakan kendaraan yang ada sejak dulu, Pegon. Pegon merupakan Gerobak yang digerakan oleh dua ekor sapi atau kerbau dengan pengendaranya dinamakan “Bajingan”. Saya tidak begitu kaget karena sudah mengenal istilah Bajingan adalah supir dar gerobak sapi di Jogja.

H+7 dikalangan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut juga Lebaran Ketupat dimana dalam tradisi ini keluarga dan kerabat saling berkumpul kembali seperti halnya pada Hari Raya Idul Fitri. Jember sendiri sejak penjajahan Belanda menjadi tempat pilihan berpindah orang-orang sekitar Jawa Timur sehingga tidak aneh jika Jember banyak budaya yang sama dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jember disebut daerah Pandalungan.

makan di bawah pohon pandan di pinggir pantai
Opor Ayam salah satu makanan yang dibawa di festival Waton 
Sampai di Pantai Watu Ulo, masyarakat Jember sudah tumpah ruah disana. Sebagian sudah menggelar tikar di bawah pohon-pohon cemara laut dan pandan laut yang berada di pinggir pantai. Menyantap makanan yang sudah mereka bawa. Saat foto beberapa keluarga yang sedang menyantap makanan, saya ditawari untuk mencicip makanan yang mereka bawa. Saya melihat ada opor ayam dan lontongnya juga Nasi lengkap dengan lauk tempe tahu ayam dan sambalnya. Sambal di Jember ini ternyata enak-enak cita rasanya khas berbeda dengan sambal yang ada di Banyuwangi maupun daerah Jawa Tengah.

Reog Ponorogo
Sambil menyantap makanan, di panggung festival Waton 2019 sudah diadakan beberapa pertunjukan yaitu pertunjukan Reog Ponorogo, juga dilakukan perlombaan memasak Ikan Bakar. Dilakukan sambil menunggu rombongan Pegon yang berangkat dari desa terdekat Pantai Watu Ulo sampai di gapura Wisata Pantai Watu Ulo.

Warga sekitar Pantai Watu Ulo yang menaiki Pegon
Makanan yang disantap nanti di pantai tak lupa di bawa di dalam geropak sapi
Pegon tersebut ternyata dilombakan, para Bajingan atau pemilik Pegon yang berpartisipasi mengiasi Pegon sebagus dan seindah mungkin agar bisa memenangkan perlombaan tersebut. Dari hiasan yang menghiasi Pegon-pegon yang datang ke Pantai watu Ulo terlihat jelas bahwa Jember adalan daerah Pendalungan yang punya berbagai Budaya. Terlepas dari perlombaan, tetap saja tidak melupakan tradisi dari Pegon tersebut. Di dalam Pegon membawa sanak keluarga dan kerabat juga makanan-makanan yang nanti akan disantap di pinggir pantai.  Sambil ngobrol menikmati goyang-goyang ala gerobak sapi hingga sampai di pesisir pantai.

Gunungan Ketupat yang dibawa pawai
ibu-ibu yang dapat ketupat dari gunungan ketupat
Di barisan belakang pawai ada Gunungan Ketupat yang dibawa keatas panggung festival Waton 2019. Gunungan tersebut didoakan bersama dan setelah doa langsung diperebutkan warga. Ketupat yang didoakan tersebut mempunyai berkah tersendiri bagi yang mendapatkannya. Ada yang berbaik hati melemparkan ketupat ke segala arah agar yang di barisan belakang pun bisa kebagian. Dan saat itu baru tau rasanya sakit kelemparan Ketupat haha. Setelah keriwehan perebutan ketupat dan ketpat terbang kesegala arah ditutup oleh acara makan bersama.

Pegon, Gerobak sapi khas Jember
Festival Waton 2019 ini diadakan untuk melestarikan tradisi Pegon yang mulai berkurang karena perubahan zaman. Perubahan dari pergi lebaran ketupat menggunakan Pegon berganti dengan kendaraan mobil. Semoga setiap tahun pelestarian Budaya Tradisi Pegon ini selalu ada.


3 Hari 2 Malam Menyelusuri Wisata Jember     Edit

Keliling Jember
"Di Jember ada apa?"

"Ke Jember enaknya wisata kemana aja?"

Banyak kawan-kawan yang sering bertanya kota yang masuk dalam kawasan ujung timurnya Pulau Jawa bersama Situbondo dan Banyuwangi.  Jember sejak dahulu hingga sekarang menjadi daerah pilihan para pendatang, hanya saja pada setiap era punya alasan berbeda. Dahulu mungkin berdatangan ke Jember karena tertarik dengan hamparan tanah luas untuk berkebun, kini Jember menjadi salah satu kota Pelajar yang mempunyai daya tarik wisata baik wisata alam, budaya, kuliner, dan pendidikan.

Ini kali kedua, saya pergi ke Jember untuk berlibur. Kali ini benar-benar terasa menyelusuri jember dari ujung selatan dan ke utara Jember, semacam puisi yang dibacakan Cinta dalam film AADC, “Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?”. Tempat yang saya kunjungi bersama kawan-kawan blogger Jember Seuger, blogger berbagai kota dan Dinas Pariwisata Kabupaten Jember ini memang melintang menyelusuri hutan, pantai, hutan lagi lalu kembali ke Kota.

Warung Kembang Jember
Sebelum memulai perjalanan 3 hari 2 malam, kami mampir makan siang di Warung Kembang. Warung yang terletak sangat strategis menurut saya, di pinggir jalan menuju ke arah Puslit Kopi dan Kakao juga daerah wisata di selatan Jember seperti Pantai Papuma, Watu Ulo dan Payangan. Warung Kembang mempunyai lokasi parkir yang cukup luas, ruang makan yang dapat menampung banyak tamu. Makanannya pun saya rasa enak, terutama sayur dan sambalnya. Kalau saya ke Jember lagi mungkin akan makan siang ke Warung Kembang lagi. Setelah makan kami memulai perjalanan keliling Jember dengan tujuan destinasi wisata yang menarik ini.

1. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Indonesia.
Terletak di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, tidak jauh sekitar 30 menit dari Kota Jember atau lebih tepatnya di dalam perkebunan Renteng  yang merupakan bagian dari PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII). Datang ke Puslit Kakao dan Kopi ini seru loh, karena kita bisa melakukan wisata pendidikan yaitu belajar tentang proses pembuatan coklat  yang biasa kota makan dari buah tanaman Kakao juga proses pembuatan kopi. Belum lagi ada wahana keliling perkebunan kopi, kakao dan karet menggunakan kereta kayu. Terdapat juga bangku-bangku di bawah tegakan pohon dan taman bermain yang bisa digunakan untuk menyantap makanan yang dibawa dari rumah atau di beli di dalam puslit Kakao dan Kopi.
Hal yang berkesan dari kunjungan ke Puslit Kopi dan Kakao ini adalah adanya pusat oleh-oleh yang produknya berupa kopi dan coklat yang diproduksi mandiri oleh Puslit. Harga oleh-oleh coklat dan kopinya pun terjangkau. Dijamin kalian ga bakal kecewa sama cita rasa coklat olahan Puslit ini. Sampai saat ini saya masih ketagihan dengan coklat dari sana.
Cerita Lengkap tentang Pusat Penelitian Kopi dan Kakao bisa dibaca di sini : Belajar tentang Coklat di Pusat Kopi dan Kakao, Jember

2. Pantai Papuma (Tanjung Papuma).
Pemandangan Pantai Papuma dari ketinggian Pagi Hari
Pantai Papuma, singkatan dari Pantai Pasir Putih Malikan yang berada di selatan Jember. Pantai ini sudah terkenal sekali sejak dulu karena mempunyai batuan karang yang eksotis yang berada di sisi pojok kanan pantai. Kita bisa melihat karang-karang tersebut dengan naik bukit bernama Siti Hinggil. Dari karang-karang yang ada, Karang Kajang paling terkenal karena bentuknya yang segitiga, meruncing ke atas dan paling tinggi. Formasi karang pantai Papuma sering diabadikan indah oleh kalangan fotografer dengan teknik lowspeed yang menyebabkan air yang menabrak formasi batuan karang terlihat lembut seperti kapas.
foto teknik slowspeed Karang Kajang, Papuma
Kami datang sore hari dan rencananya ingin menyaksikan senja dari spot bukit Siti Hinggil. Sayangnya sorenya mendung jadi tidak tampak suasanya kemerahan saat senja karena tertutup kabut dan awan mendung. Namun keeksotisan dan keindahan karang pantai Papuma tetap indah. Kami menginap di penginapan milik Perhutani yang letaknya berada di pinggir pantai Papuma karena akan menyaksikan aktivitas pagi nelayan dan keindahan matahari terbit pantai Tanjung Papuma. Untungnya pagi cerah dan juga ada para nelayan yang menurunkan hasil melautnya di pantai Papuma.

3. Waton (Watu Ulo Pegon)
Pegon, Gerobak Sapi dari Jember
Budaya lahir dari kebiasaan. Jember juga bagian dari wilayah Jawa dan masyarakatnya pun dari masyarakat Jawa dari berbagai daerah. Setiap setelah lebaran, masyarakat Jawa mengenal adanya Hari Lebaran Ketupat yang diadakan hari H+7 setelah Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat Jember terutama di sekitar daerah Watuulo hingga Ambulu mempunyai kebiasaan berkumpul dengan saudara-saudara di tempat wisata dan menyantap ketupat opor atau makanan lain yang mereka siapkan dari Rumah pada Hari Lebaran Ketupat. Dari dulu keberadaan transportasi masih belum modern, mereka menggunakan Gerobak yang di kendarai oleh sapi. Kendaraan tersebut disebut Pegon. Pada saat ini pun keberadaan Pegon masih terus eksis, apalagi Pemda Kabupaten Jember mendukung kelestarian Pegon ini dengan mengadakan  Festival Waton (Watu Ulo Pegon) yang diadakan setelah Hari Raya Idul Fitri. Adanya festival ini juga menjadi Daya Tarik tersendiri untuk para wisatawan dari berbagai Kota atau mungkin Mancanegara yang antusias ingin mengenal Pegon.

Tentang acara Tradisi Pegon ini selengkapnya bisa dibaca di tulisan ini : Pantai Watu Ulo Dan Budaya Tradisi Pegon

4. Wisata Agro Kebun Kopi Rayap
Lorong Jalan Hutan Perkebunan Kopi Rayap
Terletak disebelah utara Kota Jember, di sekitar gunung Argopuro tepatnya di Dusun Darungan, Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. Sama seperti Puslit Kakao dan Kopi. Wisata Agro Kebun Kopi Rayap ini merupakan bagian dari PTPN XII yang terkenal akan produksi kopi robustanya. Kopi Robusta olahan Afdeling Rayap ini sudah diekspor ke Cina dan Amerika. Mengunjungi Agro Wisata Kebun Kopi Rayap ini selain kita bisa menikmati suasana alam perkebunan PTPN XII juga bisa belajar tentang pengelolaan kopi robusta dari pengelolaan yang menarik adalah tes citarasa kopi yang menjadi pengetahuan baru saya kali ini.
Villa di Perkebunan Kopi Rayap
Terdapat Villa dengan arsitektur kolonial belanda masa itu. Rumah tersebut dulunya adalah rumah dinas dari kepala afdeling rayap namun sekarang beralih fungsi menjadi penginapan yang bisa di sewa dengan harga yang terjangkau. Karena 1 kamar bisa di isi maksimal 8 orang saya rasa Villa Koffie Rayap ini cocok sekali untuk acara reunian atau malam keakraban yang diadakan oleh organisasi atau kegiatan mahasiswa.

5. Puncak Rembangan
Pemandangan Pagi di Puncak Rembangan
Wisata yang sudah lama terkenal, Puncak Rembangan tidak banyak berubah. Walaupun begitu Puncak Rembangan masih dianggap anak mudah tempat wisata jember yang hits, terlihat banyak wisatawan lokal untuk sekedar berenang di kolam renangnya, menikmati suasana pegunungan atau sekedar nongkrong di Kafe Rembangan yang harga makanannya terjangkau dan enak menurut saya. Kami datang sore hari dan langit sudah mulai gelap, sehingga pemandangan tidak terlalu terlihat jelas. Untungnya kami menginap di Rembangan sehingga esok paginya bisa menikmati suasana pagi hari di Puncak Rembangan. Dari Puncak Rembangan kita bisa gemerlap lampu kota Jember dan Gunung Raung dari kejauhan. Jika berjalan jalan batu di belakang Hotel Rembangannya bisa melihat pemandangan Gunung Argopuro dengan perkebunan kopi disekitarnya.

6. Museum Tembakau dan Perpustakaannya
Museum Tembakau Kota Jember
Di kota Jember terdapat Museum Menarik yang ada di dalam komplek perkantoran UPT. Pengujian Sertifikasi Mutu Barang Disperindag Provinsi Jatim. Sesuai dengan namanya, Museum Tembakau Jember berisikan tentang segala hal tentang Tembakau, mulai dari asal muasal tembakau hingga persebaran tembakau di Indonesia. Menariknya ternyata saya baru mengetahui ada manfaat lain dari tembakau selain untuk rokok yaitu sebagai parfum, minyak atsiri, sabun, dan bahan pestisida. Di lantai kedua museum terdapat perpustakaan yang menyediakan buku-buku pengetahuan umum juga buku-buku tentang tembakau. Baik perpus dan museumnya interiornya bagus sekali sehingga tidak membosankan untuk foto-foto disana.

7. Bin Cigar Factory
Pabrik Cerutu di Jember, Boss Image Nusantara (BIN) Cigar Factory
Terkenal dengan Kabupaten penghasil Tembakau yang memiliki cita rasa enak, Jember juga mempunyai Cerutu yang tidak kalah terkenalnya. Cerutu tersebut dibuat di BIN Cigar Factory yang letaknya tidak jauh dari pusat Kota Jember tepatnya di Jl. Brawijaya No.3, Krajan, Jubung, Sukorambi, Kabupaten Jember. Cerutu Produksi BIN Cigar ini sudah melalang buana memasuki pasar Cina, Jepang, Turki, Polandia, Malaysia, Amerika dan Siprus namun tidak terlalu terkenal di negeri sendiri. Padahal menurut para penikmat tembakau, Cigar produksi BIN ini mempunyai rasa yang khas. Harga Cerutu Produksi pun beragam, dari harga pukuhan ribu hingga jutaan tergantung kualitas dan citarasa cerutu tersebut. Mengunjungi Bin Cigar Factory, juga bisa melihat pembelajaran mengenai cara pengelolaan Tembakau mulai dari memilih daun yang baik, menggulung daun, hingga ke proses pengepakan. Jika kalian ahli hisap, kalian juga bisa membeli oleh-oleh cerutu untuk dicoba.

8. Pecel Gudeg Lumintu.
Penampakan Pecel Gudeg Lumintu
Perjalanan 3 hari 2 malam Keliling Jember ditutup dengan makan siang Pecel Gudeg Lumintu, salah satu kuliner legendaris Jember yang sudah ada sejak tahun 1975. Namun sebelumnya Pecel Gudeg Lumintu ini sudah berjualan di Bondowoso sejak tahun 1968. Pecel Gudeg Lumintu buka mulai jam 6 pagi biasanya setelah jam makan siang sekitar jam 12 lebih sudah ramai dan berdatangan bahkan bisa saja sudah habis terjual. Spesialnya Pecel Gudeg Lumintu ini menurut saya adalah gudegnya yang gurih dan tidak semanis Gudeg asal kota Jogja. Saya sempat bertanya kepada salah satu pelanggan yang sudah agak sepuh, dia bilang sejak dulu beli pecel lumintu, cita rasa belum pernah berubah. Kalian yang sedang berkunjung ke Jember wajib nyobain Pecel Gudeg Lumintu ini yang letaknya masih di sekitaran Kota Jember.
Selengkapnya tentang Pecel Gudeg Lumintu bisa baca tulisan ini : Kuliner Jember Pecel Gudeg Lumintu


Foto Keluarga Bani Lumintu :D
Ada pertemuan, ada perpisahan. Selesainya makan siang di Pecel Gudeg Lumintu, mau tidak mau teman-teman harus kembali ke kehidupan nyata setelah bersama 3 hari berkeliling Jember. Secara garis besar memang Jember sangat menarik baik wisata alamnya, wisata kulinernya, wisata budayanya, wisata pendidikan terutama wisata pendidikan coklat, kopi dan tembakau yang sudah siap menyambut para wisatawan. Saya harap Pariwisata Jember berkembang dengan senatural mungkin sesuai Tagline Kabupaten Jember, Naturally Jember

Video 3 hari 2 malam di Jember bisa dilihat disini


9 Tempat Ngabuburit Seru Di Banyuwangi     Edit

Tempat Ngerandu Buko di Banyuwangi
Ngerandu Buko (bahasa Osing), jika diartikan dalam bahasa Indonesia artinya Menunggu waktu berbuka yang lebih dikenal dalam kata Ngabuburit. Ngabuburit di Banyuwangi menurut saya punya banyak tempat pilihan. Mulai dari Tempat wisata seperti Pantai, Taman, bisa juga Pasar Ramadan. Berikut saya rangkum 9 Tempat Ngabuburit Asik di Banyuwangi.

1. Pantai Pulau Merah
Walau Jauh, Ngabuburit di Pulau Merah ini menarik. Selain mengasikan menikmati semilir angin sore di pinggiran pantai, kalian juga bisa melihat pemandangan senja di pinggir pantai pulau merah yang terkenal keindanhannya. Jika kalian ingin berangkat Ngabuburit dan melihat senja di Pulau Merah dari Banyuwangi kota, saya sarankan untuk berangkat jam 13.00 atau paling lambat jam 14.00 karena perjalanan ke Pulau Merah dari Kota Banyuwangi sekitar 2 Jam perjalanan.

2. Djawatan Benculuk

Hutan yang mempunyai pohon-pohon Trembesi Unik yang ditumbuhi jenis tumbuhan paku pada batangnya. Selain itu, pohon-pohon Trembesi tersebut ditaksir ditanam pada masa VOC dan penjajahan Belanda, jadi sudah berumur sekitar 300 tahun lebih. Ke Djawatan Benculuk sore-sore itu enak, suasana lebih sejuk dan rasanya untuk foto-foto juga enak. Jika beruntung dapat menemukan ada cahaya-cahaya matahari yang melewati celah-celah dahan pohon-pohon  trembesi. Cahaya tersebut menambah takjubnya suasana sore di Djawatan Benculuk.

3. Pantai Pancur
Pantai Pancur mempunyai keindahan panorama pantai dan senja tidak kalah dengan Pulau Merah. Karena letak pantai ini terletak di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, tidak aneh jika ditepian pantai Pancur berjumpa dengan monyet atau rusa yang sedang bermain di pinggiran pantai. jika kalian ingin ngabuburit dan melihat senja di Pantai Pancur dari Kota Banyuwangi kalian bisa berangkat maksimal jam 14.00 agar sampai sana bisa menikmati suasana pantai agak lama. Berangkat lebih siang pun tidak apa-apa, sehingga kalian bisa mampir ke tempat wisata lain TN Alas Purwo seperti Savana Sadengan.

4. Agro Wisata Tamansuruh
Agro Wisata Tamansuruh ini menjadi tempat wisata baru di Banyuwangi. Sebelumnya tempat ini merupakan bekas Pameran Agro Expo Banyuwangi tahun 2019 yang akhirnya dijadikan tempat wisata. Selama Bulan Puasa, Tempat ini buka hari Jum’at, Sabtu dan Minggu mulai jam 09.00 pagi. Tempat yang asik selain bisa foto-foto bersama bunga-bunga juga bisa menjadi tempat wisata edukasi yang asik untuk mengenalkan tanaman pertanian dan peternakan kepada anak-anak. Agro Wisata Tamansuruh katanya juga akan buka setelah Lebaran H+2 dan seterusnya loh.
Dari Kota Banyuwangi ke Agro Wisata Tamansuruh cukup mudah karena letaknya dekat dengan air terjun Jagir. Kalian tinggal menuju arah Kawah Ijen, Melewati Rel Kereta Api, Pertigaan Patung Barong ambil arah ke barat, setelah melewati desa Kemiren, Warung Kemaran dan pemandian Tamansuruh, nanti akan ada gapura dan baliho bertuliskan Agro Wisata Tamansuruh atau Agro Expo.

5. Pantai Cacalan
Pantai ini cukup terkenal, letaknya juga tidak jauh dari kota juga karena adanya kafetaria di pinggir pantai membuat pantai ini cocok menjadi pilihan tempat Ngabuburit Di Banyuwangi. Sambil menunggu waktu berbuka, bisa menikmati angin pantai sepoi-sepoi atau bisa juga berjalan ke sisi selatan pantai Cacalan ada penyewaan perahu kano untuk bermain air di wahana hutan mangrovenya. Selengkapnya tentang pantai cacalan bisa klik disini

6. Pasar Ramadan Taman Blambangan
Berada di pusat Kota Banyuwangi tepatnya di Taman Blambangan sebelah Barat. Menurut pengheliatan saya, pasar Ramadan di Taman Blambangan ini menjadi Favorit warga Banyuwangi dalam mencari makanan takjil dan minuman untuk berbuka. Cukup banyak pilihannya, yang saya suka adalah makanan seafood dan es jeruk peras murninya. Sesudah dapat makanan pilihan, tinggal melipir ke Taman Blambangannya mencari tempat duduk nyaman untuk ngobrol dan menunggu waktu berbuka.

7. Pantai Marina Boom
Sama seperti pantai Cacalan, Pantai Marina Boom ini terkenal akan pemandangan Sunrisenya. Pantai Marina Banyuwangi ini punya fasilitas yang lengkap dari Kantin untuk membeli makanan berbuka, musholla, dan kamar mandi. Sambil menunggu waktu berbuka kalian bisa bermain di pinggiran pantainya atau duduk-duduk di dermaga batu sebelah utara pantai. Jika cuaca mendukung, kalian juga bisa melihat panorama 4 (empat) gunung di Banyuwangi yang terlihat dengan latar pemandangan Senja.

8. Puncak Asmoro
Mempunyai Panorama yang menarik. Di Puncak Asmoro kita bisa melihat Gunung Meranti dan Merapi Ungup-Ungup (Kawah Ijen) dari dekat juga bisa melihat pemandangan perairan selat bali dari ketinggian. Jika cuaca cerah, bisa melihat senja dengan latar formasi gunung yang ada di perbatasan Banyuwangi-Bondowoso. Sayangnya untuk ke Puncak Asmoro belum bisa ditempuh kendaraan roda empat, hanya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua karena akses jalan belum lebar. Selengkapnya tentang Puncak Asmoro bisa diklik disini


9. Taman Gandrung Terakota

Taman Gandrung Terakota terletak di Desa Tamansari, Kecamatan Licin atau lebih tepatnya berada di dalam komplek Java Jiwa Ijen Resort. Untuk memasuki Taman Gandrung Terakota kita bisa membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000/orang. Selain bisa foto-foto, disana kita bisa melihat taman yang dipenuhi oleh patung gandrung dari terakota dan suasana kaki gunung dan pedesaan yang sejuk. Ada resto dan kafe yang makanan dan minumannya bisa dibeli untuk berbuka puasa. Pilihan lain, kita juga bisa membeli makanan berbuka puasa mengingat daerah sepanjang jalan licin ke arah banyuwangi banyak tempat makan ala pedesaan. Selengkapnya tentang Taman Gandrung Terakota bisa klik di sini

Mungkin masih banyak tempat seru buat Ngerandu Buko atau Ngabuburit Seru Di Banyuwangi. Jika teman-teman punya rekomendasi tempat buat ngabuburit di Banyuwangi bisa ditulis di kolom komentar ya :)

Selamat Berpuasa di Bulan Suci Ramadan :)