-->
Showing posts with label wisata budaya. Show all posts
Showing posts with label wisata budaya. Show all posts

wisata budaya

10 Tempat Bertualang Seru Di Banyuwangi     Edit



Banyuwangi tumbuh begitu cepat menjadi salah satu destinasi wisata. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Banyuwangi mempunyai Potensi dari Bentang alam dan Panoramanya menakjubkan dan bisa dibilang lengkap. Dari Gunung, Hutan bahkan Pantai-pantai indah di sepanjang disepanjang  175,8 km dari ujung Utara hingga Barat. Dari sekian banyak potensi yang ada, 10 (Sepuluh) Destinasi ini akan meninggalkan pengalaman dan kesan serta memuaskan Jiwa Petualangan kalian.

1. Petualangan Seru Mendaki Kawah Ijen
pemandangan kawah ijen dari atas
Mengawali Petualangan Seru di Banyuwangi dengan mendaki Kawah Ijen yang berada di Gunung Merapi Ungup-ungup. Kawah Ijen mempunyai fenomena alam yang hanya ada satu-satunya di Dunia yaitu Api Biru. Pendakian untuk melihat si Api Biru di Kawah Ijen perlu dilakukan pada dini hari.  Sensasinya menyenangkan, Menyelusuri jalan setapak menanjak, melawan hawa dingin sekaligus mengalahkan diri sendiri. Pendakian Kawah Ijen dengan berjalan santai memakan waktu dua jam hingga sampai Bibir Kawahnya. Butuh waktu 20 menit untuk sampai ke bibir kawah jika kalian ingin melihat fenomena  Api Biru.  Panorama Kawah Ijen saat matahari perlahan-lahan terbit, memperlihatkan pesona Kawah Ijen dengan warna hijau tosca.  Banyak mata yang kulihat terpesona keindahan Pagi Kawah Ijen.

2. Mandi Pagi Di Air Terjun Jagir.
Anak-anak sekitar mandi dan bermain di air terjun jagir
Di Lereng Gunung Merapi Ungup-ungup terdapat mata air dari bawah tanah yang mengalir sepanjang tahun. Mata air tersebut jatuh kebawah tebing membentuk dua air terjun Kembar. Air Terjun  Jagir namanya. Air terjun ini terletak di Desa Kampunganyar, Kecamatan Tamansuruh sekitar 30 menit dari pos pendakian kawah ijen.  Air dari sumber terjun menuruni tebing yang ditumbuhi oleh banyak tanaman merambat, lalu air tertampung sementara pada sebuah kolam semi alami yang dalamnya sekitar  1 (satu) meter. Airnya pun dingin dan menyegarkan. Berendam dan mandi pagi di kolam semi alami air terjun ini rasa lelah dan capek setelah Pendakian Kawah Ijen sekejap hilang. 

3. Bercengkrama dengan Suku Osing Di Desa Kemiren
Perempuan Osing sedang Nyinang
Main di Air Terjun Jagir tidak bisa menghilangkan rasa lapar, bahkan jika meminum airnya hanya membuat perut kembung. Tak perlu khawatir, di dekat air terjun Jagir terdapat sebuah desa  bernama Desa Kemiren. Desa tersebut dihuni oleh Suku Osing yang merupakan Suku Asli  dari Banyuwangi . Di desa ini, masih terdapat rumah-rumah adat yang masih bertahan, masih banyak penduduk yang menggunakan pakaian adat sehari-harinya. Sapalah mereka, mereka ramah dan tidak sungkan mempersilahkan para tamu berkunjung ke rumahnya untuk ngobrol lebih jauh. Kanan-kiri di ruas jalan desa berbagai warung sederhana siap menyajikan makanan khas Suku Osing Banyuwangi untuk sebagai pemadam rasa lapar. Cara memasaknya juga unik, masih banyak yang mempertahankan cara tradisional dengan menggunakan kayu bakar dan

4. Tersesat di Hutan Misterius Sumber Manis.
Lorong Hutan Sumbermanis
Di sebelah timur Desa Suku OSing Kemiren, terdapat sebuah Hutan yang suasananya cukup misterius. Pohon-pohon tinggi menjulang membentuk suatu jalan yang bisa dilewati utnuk masuk ke Hutan jauh lebih dalam. Pada batang pohon besar tersebut tumbuh sejenis tumbuhan merambat yang cukup rapat hingga menutupi hampir keseluruhan pohon tersebut. Hutan ini jarang sekali terang, rasanya awan selalu menghalangi cahaya yang masuk bahkan jika tercium aroma Petricour yang menyeruak keluar dari arah dalam hutan selalu diikuti juga dengan datangnya kabut secara perlahan-lahan.

5. Belajar Tentang Kopi di Desa Gombengsari
memetik kopi
Desa Gombengsari terletak di Lereng Gunung Merapi Ungup-ungup dimana di desa tersebut banyak yang berkebun tanaman kopi. Ada 3 (tiga) jenis kopi yang tumbuh disini yaitu kopi Arabica, robusta dan exlesa. Kopi-kopi dari desa Gombengsari enak bahkan kopi-kopinya sudah dikirim ke daerah luar Banyuwangi. Dengan singgah di Desa Gombengsari, kita bisa menperluas pengetahuan tentang Pengelolaan Kopi Tradisional Unik yang masih dipertahankan, seperti pengupasan kulit buah biji kopi yang dilakukan dengan cara ditumbuk menggunakan batu.  Waktu berkunjung terbaik ke desa ini adalah saat musim kembang kopi, selain bisa melihat pengelolaan kopi tradisional, juga saat menyelusuri dan keliling desa ini, bisa menghirup aroma menyenangkan dari semerbak bunga kopi menyeruak memenuhi atmosfer.

6. Menyapa Matahari di Pantai Cacalan
menanti matahari terbit berdua
Banyuwangi terkenal dengan julukan Sunrise of Java. Matahari yang terbit paling pagi di Pulau Jawa. Menikmati Sunrise di Pesisir Pantai Banyuwangi adalah hal yang tidak boleh terlewatkan.  Dari banyak Pantai di dekat kota Banyuwangi, Pantai Cacalan perlu dikunjungi terutama saat pagi hari. Hawa sejuk dari angin pantai dan lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar menyejukan hati. Duduk di pesisir pantai menikmati langit pagi yang perlahan-lahan memerah. Menikmati angin sepoi-sepoi dengan bermain ayunannya, atau memesan minuman hangat di salah satu warung yang sudah buka sebelum pagi.

7. Menikmati Kesejukan Air Terjun Telunjuk Raung
Air Terjun Telunjuk Raung berada di tengah hutan
Selain Kawah Ijen, Gunung Raung juga terkenal dengan Gunung Raung dengan kemegahan Kalderanya. Di lereng Gunung Raung terdapat sebuah air terjun yang airnya mengalir dan jernih sepanjang tahun. Walau berada di tengah hutan dataran tinggi, tracking menuju ke air terjun telunjuk raung cukup ringan karena sudah ada jalan setapak dan tidak perlu khawatir tersesat. Sesampainya di air terjun Telunjuk Raung, cobalah berendam aliran sungai kecilnya, ada di sebuah kolam semi alaminya. Pejamkan mata, rasakan dinginnya, rasakan sejuknya. Hutan yang terjaga selalu punya kesejukan yang tiada tara.

8. Menyaksikan Alam Liar Pulau Jawa di Savana Sadengan.
Banteng liar di Sadengan
Savana Sadengan, padang rumput yang letaknya di tengah Hutan Konservasi Taman Nasional Alas Purwo. Savana Sadengan menjadi habitat terakhir satwa-satwa liar di Jawa seperti Banteng, Rusa, Ajag, Macan Tutul, Elang Jawa, Bangau Tong-tong dan berbagai jenis burung. Pagi hari atau Sore hari adalah waktu paling tepat mengunjungi savana sadengan, selain satwa liar sedang aktif mencari makan juga bisa merasakan semilir angin sejuk yang bertiup dari tengah savana.

9. Hutan Lord of The Ring, De Djawatan Benculuk.
Djawatan Benculuk
Hutan De Djawatan Benculuk dulunya merupakan tempat penimbunan kayu (TPK) milik Perhutani sejak Indonesia masih dijajah Belanda. TPK tersebut ditanamni oleh tumbuhan Trembesi yang mempunyai tipe tajuk berbentuk payung dan meneduhkan. Bentuk tajuk pohon tersebut difungsikan sebagai pelindung kayu-kayu yang disimpan di TPK tersebut. Seiring berjalannya waktu, pohon-pohon tersebut tumbuh besar dan unik, pada batangnya tumbuh semacam tumbuhan paku seperti rumput. Memasuki lorong jalan setapak di De Djawatan Benculuk seakan membangkitkan imajinasi film Lord Of The Ring.

“Cepat masuk, berlindung ke dalam hutan para peri, pasukan Orc mengejar”

Selain betah lama-lama untuk berfoto, tempat ini berhawa sejuk dan meneduhkan beda sekali dengan hawa di luar hutan De Djawatan. Hawa sejuk yang dirasakan merupakan Iklim Mikro yang diciptakan pohon-pohon Trembesi. Sambil menikmati suasana teduh dan sejuknya, kita bisa menenangkan diri dari kejaran pasukan Orc dengan memesan makanan dan minuman yang dijajakan oleh warga setempat.

10. Mengantar Matahari Pulang di Pantai Pancur.
Senja di Pantai Pancur
Walau tidak seterkenal Pulau Merah, pantai pancur merupakan pantai yang mempesona. Terletak di pesisir hutan konservasi Taman Nasional Alas Purwo Berpasir putih dan mempunyai butiran pasir gotri, pasir yang ukurannya lebih besar dari butiran pasir biasa. Terdapat pancuran air yang berasal dari Goa. Airnya cukup jernih dan mengalir sepanjang tahun dan bermuara ke lautan. Sore adalah waktu yang tepat mendatang pantai Pancur. Suasana sejuk, jika pantai sepi, sekelompok rusa yang ada di dalam hutan keluar dan berjalan menyelusuri pantai. Bukit Hilal, bukit yang berada di sebelah timur pantai Pancur menjadi spot indah menikmati Senja dan mengantar matahari pulang di ufuk Barat. Atau bisa juga menikmatinya di pesisir pantainya, duduk di kayu-kayu pohon tumbang yang terdampar sambil menikmati warna langit yang perlahan menjingga.

Banyuwangi mempunyai bentang yang lengkap untuk berpetualang. Bisa mendaki gunung, masuk ke Hutan, atau belok ke Pesisir Pantai, bahkan masyarakat lokalnya selalu ramah menyambut. Seperti tagline branding Banyuwangi “Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Kembali” memang sangat tepat, dengan menjelajahi Banyuwangi, kami kembali lagi.


Kesenian Pencak Sumping, Dusun Mondoluko Dan Kisah Dunia Persilatan Di Kabupaten Banyuwangi     Edit

Mencak Sumping
Rasanya seperti berada dalam suasana film kolosal dunia persilatan Indonesia seperti film wiro sableng, Jaka Tarub, Si Buta Dari Goa Hantu, dimana para pesilat dan pendekar hadir dalam satu tempat, duduk di meja panjang yang menghidangkan hidangan jajanan desa. Beberapa pendekar meletakan senjatanya diatas meja-meja tersebut.

Senjata di atas meja :D
Suasana tersebut terasa dalam Acara Mencak Sumping  yang merupakan acara puncak dari Syukuran Dusun Mondoluko, Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.  Mencak Sumping merupakan salah satu Kesenian Pencak Silat (Mencak) asli Indonesia yang sudah melekat erat dalam kehidupan Suku Osing terutama di dusun Mondoluko. Saya rasa nama dusun Mondoluko  kesannya cukup Kolosal, ternyata mempunyai arti unik. Berasal dari dua suku kata yaitu Edo dan Luko. Edo yang artinya Ratu dan Luko artinya Tatu atau Luka, jika digabungkan Ratu yang terluka. Saya kurang paham siapa yang dimaksud dengan ratu, namun munculnya mencak silat di daerah dusun Mondoluko ini mungkin maksudnya untuk membela diri agar tidak terluka.

Saya bertemu Pak Asran, ketua dari Padepokan Sibagor, Padepokan persilatan yang ada di Dusun Mondoleko yang sudah berumur 70 tahun, dia menuturkan bahwa Mencak Sumping ini sudah ada sejak Buyutnya. Pada jaman buyutnya terdahulu adalah masa kita masih terjajah oleh VOC Belanda dan Jepang. Mencak Sumping ini tercipta untuk membela diri mereka dari kekejaman penjajahan VOC  saat itu sehingga tidak aneh jika saat ini hampir seluruh warga dari Dusun Mondoluko ini merupakan Pendekar atau Pesilat.

Mencak Sumping, bergulat gulung-gulung, yang kalah disuapui sumping
Ada cerita unik juga dari penamaan Mencak Sumping. Mencak yang berarti Pencak Silat dan Sumping adalah Makanan/Jajanan tradisional (Nogosari). Mencak Sumping terdapat pertunjukan silat yang mengadu ketangkasan dua orang pesilat, dimana ada gerakan saling bergulung-gulung dan yang kalah nantinya disuapin Makanan Sumping. Sumping tidak dibawa oleh kedua pesilat yang sedang beradu tangkas namun sudah dibawakan oleh teman-teman seperguruannya. Karena hal tersebut disebutlah kesenian pencak silat tersebut bernama Mencak Sumping.
kondisi dapur
pencampuran pisang dengan adonan

Memasak Sumping

Sumping yang siap di makan
Saya sempat diajak untuk melihat proses pembuatan Sumping (Nogosari) yang cukup unik dengan cara tradisional yaitu dengan menggunakan bara dari serabut kelapa. Mungkin karena proses pembuatannya ini saya merasa rasanya agak berbeda dari Sumping yang pernah saya makan dari daerah lain, atau mungkin juga karena penggunaan bahan keadaan pisangnya sudah matang tua.

Anak-anak dusun Mondoluko ujuk kebolehan
Acara Mencak Sumping berlangsung meriah, dihadiri oleh sekitar 50 padepokan persilatan seluruh kabupaten Banyuwangi dari daerah Licin, Banyuwangi bahkan sampai Srono. Setiap tamu yang hadir dipersilahkan ujuk kebolehan gerakan-gerakan silat andalannya. Berapa pun umurnya, apapun statusnya, semua boleh menunjukan kebolehannya, bahkan pak kelapa dusun Mondoluko pun ikut tampil. Penampilan jurus-jurus silat nantinya akan di kombinasikan dengan alunan musik tradisional dengan gending-gending lokal banyuwangi.

Saya membayangkan kedepannya desa ini menjadi desa wisata yang mempunyai potensi keunggulan desa sejarah dan desa pesilat dimana tamu yang datang kesini diantar diberi baju khusus khas suku Osing dan diantar menggunakan dokar melewati persawahan, jalan makadam menuju tempat latihan dari mencak sumping. Tamu tersebut diajarkan pembuatan Sumping dan memakan sumping yang mereka buat. Dan yang tak kalah penting diajarkan gerakan-gerakan dasar dari mencak sumping.

muda mudi dusun Mondoluko
kenduri-an, berdoa di makam buyut surat
Saya pun takjub dengan Dusun Mondoluko ini dalam menjaga adat, budaya dan kesenian yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Mencak Sumping yang sudah melewati beberapa generasi mulai dari penjajahan VOC Belanda hingga sekarang ini. Semenjak dahulu, dari anak-anak mulai beranjak sekitar umur kelas 3 SD, orang tuanya mulai mengajarkan Mencak Sumping dengan harapan Mencak Sumping ini tetap lestari sampai nanti.


Tertarik datang ke Dusun Mondoluko ini?

Warna-Warni Kalilo, Banyuwangi dan Kisah Penantian Istri Pejuang     Edit


Merubah pemukiman kumuh di pinggiran kali menjadi lebih berseri, lebih hidup dan akhirnya bisa menjadi destinasi wisata sudah meraja rela di Indonesia. Setahu saya gerakan ini di mulai dari perkampungan Kali Code, Yogyakarta lalu melejit pada pada kampung Jodipan di Malang dan mulai lah daerah lain mengikuti termasuk Banyuwangi dengan Kampung Warna-Warni Kalilo.

Kampung warna-warni Kalilo berada di pusat kota Banyuwangi di dekat Masjid Agung Baiturrahman atau lebih tepatnya secara administrasi terletak di Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.  Pemukiman bantaran sungai yang dulu terlihat kumuh ketika saya lalu lalang disana, kini terlihat berseri danpenuh warna, bahkan dibangun landmark bertuliskan Kalilo Banyuwangi.

Rute menuju ke Kampung warna-warni Kalilo cukup mudah, kita tinggal menuju arah Taman Sri Tanjung atau Mesjid Baiturahman. Pada perempatan lampu lalu lintas masjid Baiturahman ambil arah kiri atau ke arah barat nanti kampung warna-warni ada di sebelah kiri anda. Sebelum turun dari kendaraan pastikan parkir kendaraan yang rapi sehingga tidak menggangu pengguna jalan karena di jalan tersebut kondisi kadang ramai dan tidak terlalu besar.

sumber dari banjoewangie tempo doeloe
Penamaan Kalilo berasal dari kata “Sungai” dengan persamaan katanya yaitu Kali dan “Elo” adalah pohon Elo. Pohon yang dulunya banyak ada di tepian sungai Kalilo ini. Pohon Elo merupakan pohon jenis Beringin yang diceritakan dalam cerita legenda Jaka Tingkir di Sungai Bengawan Solo. Pohon ini juga dipercaya memiliki nilai mistis, katanya bagi siapa saja yang keinginannya bisa terkabul. Dibalik nilai mistisnya juga ada khasiat untuk pengobatan diare dengan meracik daun dan buahnya. Penamaan sungai Kalilo ini ternyata sudah berlangsung sejak jaman penjajahan Belanda yang dibuktikan dengan adanya peta kota Banyuwangi 1915 bertuliskan K.Loh dengan huruf K yang merupakan singkatan dari kata “Kali.

Belakangan ini saya berkunjung ke kampung warna-warni Kalilo, terdapat tulisan baru “LohKanti”. Rasa penasaran langsung membuat saya beranalisa mengenai arti nama karena saya beranggapan selalu ada arti dibalik penamaan. “Loh” saya beranggapan ini adalah pohon Elo dan “Kanti” mungkin adalah nama dari seorang wanita. Tafsiran artinya saya rasa dulu ada pohon Elo ditepian sungai ini yang letaknya di tanah seorang wanita bernama Kanti :D. Penafsiran penamaan Lohkanti ini langsung diluruskan oleh mbaIraa. Lohkanti itu ada ceritanya, dulu ada wanita Bali bernama Ni Luh tinggal disekitar sana menunggu suaminya yang merupakan Kesatria dari Bali, pulang perang melawan penjajahan Belanda. Dulunya Kalilo ini dijadikan sebagai jalan transportasi dari perairan selat Bali masuk ke Blambangan (nama banyuwangi dahulu) karena alirannya bisa digunakan kapal, beda dengan saat ini alirannya menjadi dangkal.

Menurut cerita suami dari Ni Luh ini mengikuti  Perang Puputan Bayu (perang habis-habisan di Bayu) yang merupakan peperangan sengit nusantara melawan VOC Belanda yang terjadi di daerah Bayu, Banyuwangi. Dimana perang Puputan Bayu terjadi pada Dua Babak dimana babak pertama Kerajaan Blambangan menang melawan VOC Belanda dan pada babak kedua kerajaan Blambangan mengalami kekalahan. Saya mencoba mengunjungi tepian Kalilo saat senja menjelang ketika adzan magrib telah berkumandang, langit-langit senja masih berwarna agak kemerahan, mencoba menghayati penantian Ni Luh menunggu suaminya pulang dari medan perang sengit Puputan Bayu. Penantian ini menurut saya adalah penantian-penantian yang masuk kasta tertinggi. Ketika melepas suami berperang mempertahankan tanah air, juga demi melindungi dirinya dari para penjajah yang suka berbuat semena-mena. Pikiran Ni Luh pastinya berkecamuk melepas suaminya pergi pada pertempuran habis-habisan di Bayu dengan keiklasan yang luar biasa. Seperti yang terjadi dalam cerita perang Puputan Bayu ini memakan korban sangat banyak dari kedua kubu (Kerajaan Blambangan dan VOC Belanda) dan bisa saja suami Ni Luh ada diantara mereka. Siapa yang tau?.


senja di Kali lo Banyuwangi
Saya membayangkan bagaimana rasanya penantian ini, setiap ada keramaian kapal yang melintas di sungai Kalilo, mungkin Ni Luh menepi berdiri di tepiannya. Untaian doa selalu terucap dari mulutnya, dari hatinya kepada Tuhan pemilik segala Jiwa, mungkin siapa tahu dalam penantiannya Ni Luh Puisi atau senandung-senandung tentang penantiaanya ditepian Kali Loh, seperti halnya senandung lagu Sungai Bengawan Solo dan Sungai Serayu. Dalam bayangan saya, kisah Penantian Ni Luh ini mencapai ending pada suatu hari pada saat Pohon Loh mulai berbunga, Ni Luh duduk di bawah rindangan dahannya melihat sebuah Kapal berlayar ke arahnya, keluar sosok wajah yang sepertinya ia kenal dan berseru “Dik, Aku Pulang?”

Terpesona Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi     Edit


Tari Gandrung sudah menjadi sebuah ikon dari Kabupaten Banyuwangi, beberapa patung penari gandrung dibuat di beberapa tempat seperti di perbatasan Situbondo-Banyuwangi yang ada di Waduk Sidodadi, Pantai Watudodol dan Perbatasan Banyuwangi-Jember di Gunung Gumitir. Beberapa event dan program diadakan untuk makin menunjukan eksistensinya Tari Gandrung salah satunya adalah Festival Gandrung Sewu.

Setelah tahun lalu tidak sempat melihat perhelatan akbar Festival Gandrung Sewu karena tugas Negara,tahun ini akhirnya sempat melihatnya bersama teman-teman dari Jateng dan Bonsowoso. Festival ini diadakan cukup unik pada siang hari di pantai Boom, salah satu pantai terkenal di Banyuwangi. Untuk menuju pantai Boom dari kota Banyuwangi cukup mudah arahkan kendaraan ke Alun-alun Blambangan – Lurus ke arah pertigaan Pom Bensin PLN ambil Kanan, ikuti saja jalan tersebut dan akan sampai di Pantai Boom.

berpose di baliho festival gandrung sewu
Festival ini mulai diadakan tahun 2012 dan setiap tahunnya mempunyai konsep tema yang berbeda, tema tahun ini yaitu Seblang Lukinto yang merupakan lanjutan dari tahun 2015 yaitu Podo Nonton (tahun lalu nyesel g nonton). Podo Nonton menceritakan tentang  perjuangan rakyat Banyuwangi yang dipimpin oleh Rempeg Jogopati dalam melawan penjajahan VOC. Saat itu, tarian diakhiri dengan kisah perlawanan para pejuang hingga titik akhir. Sedangkan tema Seblang Lukinto menceritakan kebangkitan sisa dari prajurit Rempeg Jogopati untuk kembali melawan penjajahan VOC.  Beberapa cara dilakukan salah satunya prajurit Rempeg Jogopati membentuk kelompok seni dan mereka menyanyikan Seblang Lukinto sebagai sandi/kode

Curi-curi foto sebelum pertunjukan
melakukan persiapan
Acara ini dimulai jam 15.00 namun beberapa penonton sudah memenuhi pantai Boom mulai pukul 09.00. Saya bersama rombongan sampai di Pantai Boom sekitar jam 10.00 kondisi memang cukup ramai, parkiran dialihkan diluar area parkir pantai boom karena sudah padat. Terlihat beberapa penari Gandrung sudah selesai di make-up sedang bersenda gurau, berfoto-foto bersama rekan penari Gandrung lainnya. Adapula pengunjung yang minta foto bersama termasuk saya hehe. Menurut Baliho pengumuman acara akan dimulai jam 13.00 namun baru mulai dibuka jam 14.30-an. Penonton dari beberapa kalangan sudah mulai memadati area sekitar panggung pertunjukan.
 
segmen rebutan layangan
Akhirnya Festival Tari Gandrung pun dimulai, dibuka dengan aksi anak-anak bermain layang, mengejar layang-layang yang putus dan diakhiri ada yang menangis karena layangan yang dia dapat sobek/rusak. Lalu setelah segmen tersebut selesai, perlahan-lahan sepanjang garis pantai tempat pertunjukan, Sekian ribu penari Gandrung mulai terlihat seolah-olah muncul mendadak dari laut. Efek kejut ini memanfaatkan kondisi pantai yang relatif lebih rendah dari panggung pertunjukan.

formasi ombak yang ombaknya dibentuk oleh kipas
Pada pertunjukan ini terdapat aksi yang menceritakan kebangkitan sisa prajurit Rempeg Jogopati, namun tidak terlalu mencolok karna tertutupi penampilan dan aksi penari Gandrung yang jumlahnya sulit dihitung manual. Aksi Tarian Gandrung sepertinya membentuk beberapa formasi Bunga, Ombak, Api dan Benteng. Formasi-formasi mereka cukup menarik sehingga perhatian saya dan mungkin banyak dari para penonton yang hadir.

Melantunkan Gending "Seblang Lukinto"
Formasi Benteng
Pada Formasi Benteng Penari Gandrung menutupi tubuhnya dengan selendang merah namun sebelum itu secara bersama-sama Penari Gandrung melantunkan  Gending “Seblang Lukinto” dengan suara yang cukup membuat orang semangat untuk mendengarkannya. Liriknya begini : 
"Wis wayahe bang bang wetan" (Sudah waktunya mentari pagi terbit), "Kakang kakang ngelilira" (saudara saudara bangunlah), "Wis wayahe sawung kukuruyuk" (Sudah waktunya ayam jago berkokok), "Lawang gedhi wonten kang njagi" (Pintu gerbang ada penjaganya), "Medala ring lawang butulan" (Lewatlah pintu rahasia), "Wis biasane ngemong adhine" (Sudah terbiasa mengasuh adiknya), "Sak tinjak balio mulih" (Satu tendangan kembali pulang).
Belakangan ini saya baru tau arti dari lirik tersebut, liriknya seperti mengandung kalimat-kalimat rahasia hanya dipahami oleh sisa-sisa prajurit Blambangan yang masih berjuang melawan Penjajahan. Dari Tema Seblang Lukinto beberapa hal yang bisa saya tangkap adalah bagaimana cara berjuang. Berjuang hingga titik penghabisan hingga tidak ada penyesalan, berjuang tidak harus dengan cara konveksional dalam hal ini melawan langsung musuh dari depan tapi dengan cara-cara unik, kreatif dan tidak dapat disangka-sangka. Cara berjuang ini mungkin bisa kalian adopsi untuk memperjuangkan calon pendamping hidup kalian >_<.


Formasi terakhir sebagai penutup adalah formasi bunga, sayangnya penonton sudah tak terbendung lagi dan maju mendekati penari gandrung untuk berfoto selfie K (hadehh). Yah akhirnya festival ini berakhir cukup meriah dan mengesankan. Tempat pertunjukan dan para Penari Gandrung mulai diserbu para penonton untuk berfoto bersama. Ada pula yang penari yang berfoto sesame penari Gandrung karena berasal dari sekolah atau kecamatan yang sama atau saling mengenal. Lembayung senja mulai terlihat diufuk barat, kami perlahan meninggalkan pantai Boom menuju rumah untuk beristirahat.




Secuil Kenangan Tak Terlupakan di Pasar Wage Kenteng, Kulonprogo     Edit

Ibu-ibu kece penjual Geblek :D
Jogja menyimpan banyak memori memori menarik saat saya merantau ke sana untuk mencari ilmu. Salah satu memori menarik yang tidak terlupakan adalah Pasar Tradisionalnya. Pasar tradisional dimana-mana ada, bahkan untuk kota sekelas Jakarta pun masih ada pasar tradisional yang masih bertahan. Pasar Tradisional di Jogja yang menyimpan memori dan selalu saya sempatkan berkunjung namanya Pasar Kenteng, Sebuah pasar yang letaknya di persawahan daerah pegunungan Menoreh Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Pasar ini letak di Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo. Letaknya dari kota Jogja tidak terlalu jauh hanya berjarak tempuh sekitar 30 menit dari Tugu Jogja. Pasar Kenteng tidak seperti pasar Beringharjo, Malioboro yang buka setiap hari, hanya buka di hari tertentu yaitu Hari Wage pada penanggalan atau Kalender Jawa. Dan pada hari biasa selain hari Wage tidak ada salah satu penjual pun yang berjualan di pasar itu. Pasar ini buka dari setelah subuh hingga biasanya jam 09.00-10.00 pagi mulai sepi. Pasar ini juga merupakan pasar letaknya strategis karena berada di sekitar jalan menuju beberapa daerah wisata Kulonprogo seperti 6 (enam) AirTerjun di Kecamatan Girimulyo dan wisata alam lainnya.
Rute menuju Pasar Kenteng dari Kota JogjaRutenya cukup gampang kok, kalian hanya tinggal menggunakan kendaraan pribadi atau sewa menuju ke arah barat dari tugu Jogja.  Tugu Jogja  kebarat – Bang Jo Ringroad Barat Demak Ijo lurus Kebarat – Godean – Pasar Godean – Jembatan Sungai Progo – Perempatan Pasar Kenteng Lurus (kea rah pemandangan pegunungan menoreh) – Setelah melewati perempatan tersebut kita akan sampai di Pasar Kenteng.
"ehhh di foto" :D
Lihat kalender, besok Minggu adalah hari Wage, mumpung libur saya memutuskan untuk mampir ke Pasar Kenteng, melihat-lihat sekaligus mencari sarapan dan melanjutkan mandi di air terjun Grojogan Sewu. Saya berangkat dari Jogja jam 5 pagi. Udara saat perjalanan pagi itu cukup menusuk-nusuk kulit mengingat saya tidak memakai jaket hehe. sekitar jam setengah 6 keadaan masih agak gelap, saya mencari spot dulu di daerah persawahan sekitar pasar untuk menikmati matahari terbitnya. Jam segitu pasar sudah ramai, beberapa warga berdatangan dengan sepeda ontelnya, ada juga yang naik mobil angkutan berupa truk kecil dan pick up.
Gunung  Merapi di pagi hari yg tertutup kabut
Ahh matahari terbit begitu indah, gunung Merapi-Merbabu sedang terlihat cantik-cantiknya walau dari kejauhan saja. Kabut tipis seakan menari-nari di sekitar persawahan dan langit sekitar pasar kenteng pagi itu. Sudah agak terang saya pun kembali ke Pasar Kenteng untuk mencari sarapan dan melihat seisi pasar.
es Cendolnya

Tradisional dan Unik, dua kata yang terlintas jika kalian baru pertama kali mengunjungi pasar ini. Barang yang dijualkan bisa dibilang cukup beragam dari pakaian, kain batik, peralatan berladang, Bilik Bambu, Jerami Padi untuk atap, sayur mayur, jajanan pasar, hewan ternak bahkan sampai tukang cukur tradisional dengan menggunakan sepeda bisa ditemukan disini. Jajanan Pasar juga unik-unik seperti Nasi Jagung yang saya sempat coba rasanya cukup manis, pecel, mie letek, cenil, bermacam-macam gorengan, Benguk, Tempe Jadah dan jajanan favorit saya yaitu Geblek. Geblek ini dijual oleh rombongan ibu-ibu kece di blok tengah pasar. Awal pertama beli saya tidak tahu cara melafalkan Geblek yang benar sehingga melafalkan Geblek dengan lafal dan logat Jakarta yang berarti “Bodoh”. Sontak ibu-ibu penjual dan beberapa pengunjung pasar tertawa  dan memberi tau kalau melafalkan Jajanan Geblek nya salah fatal :D. Geblek ini memang mirip cireng berbahan dasar sama namun saat prosesnya berbeda. Yah memang setelah saya cicipi satu Geblek ini rasanya berbeda dengan Cireng :D. Saya membelinya sekitar 7ribu dan mendapatkan Geblek cukup banyak untuk bekal makanan yang dibawa ke air terjun. Melipir ke pinggir jalan raya pasar berjejer mbah-mbah penjual tembakau yang sedang menunggu dan melayani pembelinya dengan ramah. Di dekat situ ada penjual es Cendol yang akhirnya saya pesan untuk melepas dahaga. Es Cendolnya enak dengan pemanis alami yaitu berasal dari Gula Aren. Satu gelas es Cendol dihargai cukup murah yaitu Rp. 3000 saja.

geblek
cenil
Pencukur Tradisional
Melipir ke pojokan sebelah barat pasar, penjualnya berupa penjual bilik bambu dan jerami padi untuk atap rumah. Disekitar situ ada antrian bapak-bapak yang agak ramai, ternyata mereka sedang mengantri tukang cukur keliling yang manggal disitu setiap hari wage. Cukup unik karena tukang cukur tersebut tradisional menggunakan sepeda ontel tua, bangku, cermin, dan sekoper kecil peralatan cukurnya. Saya minta ijin kepada yang dicukur dan bapak pencukur tradisionalnya untuk mengambil gambarnya.

Saling berkomunikasi antar penjual
Lapar rasanya kalau tidak makan nasi, saya mencari warung yang menjajakan makanan hangat, sebenarnya tertarik dengan Soto Ayam yang banyak dijual di pasar tersebut namun berubah ketika melihat seorang mbah-mbah menjual makanan sejenis Tongseng. Yah cocok jugalah untuk menghangatkan perut di pagi hari. Komunikasi disini agak sulit karena saya tidak bisa bahasa Jawa, untungnya ada pengunjung yang sedikit membantu menjadi translator. Dengan kepiawaiannya, mbahnya meracik bumbu, mengiris sayuran dan lain-lainnya untuk semangkuk tongseng yang saya pesan dan rasanya enak.

Setelah kenyang memakan hidangan tongseng, saya meninggalkan pasar tersebut dengan perasaan puas dan terkagum-kagum lalu melanjutkan perjalanan ke arah barat, ke arah pegunungan menoreh menuju air terjun-air terjun kecamatan Girimulyo, Kulonprogo untuk mandi hehe.


Semoga kalian tertarik mengunjungi pasar ini ya, ingat Cuma buka di hari Wage tanggalan Jawa ya :)