-->
Showing posts with label wisata desa. Show all posts
Showing posts with label wisata desa. Show all posts

wisata desa

Kolam Atas Penawar, Banyuwangi - Kolam Dengan Panorama Selat Bali Dari Ketinggian     Edit

Kolam Atas Penawar, Menawarkan Panorama Selat Bali

Di sisi timur Banyuwangi, tepatnya di daerah Ketapang melintang perbukitan hingga ke daerah Watudodol. Tepatnya di bukit daerah Jalan Lingkar Ketapang terdapat perkampungan kecil yang bernama Penawar. Di atas bukit sana terdapat sebuah kolam kecil dengan pemandangan Perairan Selat Bali dari ketinggian.  Wisatawan lokal mengenal dengan nama Kolam Penawar Atas.

Sabtu pagi, saya mengendarai motor menuju kolam tersebut. Putri, seorang teman yang dulunya KKN di daerah Ketapang memberi ancer-ancer. lewat jalan lingkar Ketapang, terus cari jalan kea rah bukit. Dengan bermodal sebuah foto miliknya saya berangkat. Foto tersebut itu modal untuk menggunakan GPS manual atau Gunakan Warga Setempat alias tanya-tanya warga.

gang di jalan lingkar yang menuju kolam atas penawar
Rute Ke Kolam Penawar Atas dari Kota Banyuwangi.
Berangkat dari Kota Banyuwangi mengambil arah ke pelabuhan Ketapang, Pertigaan Pom Bensin Sebelum Pelabuhan Ketapang, ambil kiri dan memasuki Jalan Lingkar Ketapang. Ikuti jalan tersebut melewati rel kereta api, jalan menikung sampai bertemu gang kecil dengan kebun kelapa dan deretan perumahan. Masuki gang tersebut hingga menemukan petunjuk jalan “sumber penawar”. Ikuti petunjuk tersebut hingga memasuki sebuah tanah yang tumbuh rumput gajah dan pohon sengon. Pertigaan pertama di ambil kiri. Dari sini jika ada warga setempat kalian harus tanya jalan menuju Kolam Atas Penawar atau kolam atas bukit atau lebih jelasnya tunjukan saja fotonya. Saat naik bukit jalan lebih membingungkan, belum tentu ada warga yang terlihat ahahaha.

Rumah warga yang ada Kolamnya tersebut
Kolam berada di Depan Rumah
Akhirnya setelah muter-muter kebingungan di atas bukit, sampai juga di Kolam Atas Penawar. Kolam Atas Penawar ternyata ada di halaman sebuah rumah warga yang tinggal diatas bukit tersebut. Untuk bisa masuk ke Kolam Renang tersebut, kita harus membayar Rp. 2000 sebagai uang tiket masuk.  Cukup murah, apalagi pemandangannya mewah begini. Terdapat 3 buah kolam yang dalamnya bervariasi yaitu kedalaman sekitar 1,5-2 meter, 1 meter dan 50 cm yang diperuntukan untuk anak kecil. Bervariasinya kedalaman kolam tersebut, membuat kita bisa mengajak sekeluarga untuk berenang disana mulai dari orang dewasa hingga anak-anak. Rasanya menyenangkan berenang bersama keluarga dari pada berenang sendiri :D.
Mengajari anak berenang
Berenang bersama keluarga


Pemandangan Perairan Selat Bali dan Kebunnya pemilik Kolam Atas Penawar
Kolam tersebut ternyata awalnya bukan sebuah kolam, melainkan sebuah tendon air besar (kalau saya menyebutnya embung) yang digunakan untuk menampung air, airnya digunakan untuk menyirami tanaman di ladang milik kolam penawar atas yang berada tepat dibawahnya. Namun sekitar 1,5 tahun lalu, pemilik memutuskan untuk memasang keramik pada tendon air tersebut, dan jadilah kolam renang. Lama- kelamaan kolam tersebut mengundang wisatawan lokal untuk datang dan akhirnya menjadi destinasi wisata yang sering dikunjungi warga sekita untuk berenang menyegarkan badan yang kegerahan di tengah panasnya cuaca di Pesisir Banyuwangi. Pemilik juga membaca kesempatan dengan menarik biaya masuk awalnya Rp.1000 lalu kini menjadi Rp.2000. mereka juga menjual makanan dan minuman untuk kita nikmati sehabis atau saat berenang disana.

sumber air yang berada dibawah pohon beringin besar
Airnya segar selain karena tidak menggunakan kaporit, airnya berasal dari sebuah sumur yang mengalir sepanjang tahun. Sumur tersebut berada disebelah pohon beringin besar. memang ada omongan orang tua dahulu bahwa di dekat hutan bambu dan pohon beringin biasanya ada sumber air.

Meningkatnya jumlah kunjungan orang-orang yang berenang disana, pemilik memutuskan untuk membuat kolam renang baru, dan sekarang masih dalam progress pengerjaan. Saya harap dengan ramainya kunjungan ke Kolam Atas Penawar ini, pengunjung bisa menjaga kebersihan lokasi tersebut sehingga selalu nyaman untuk dikunjungi.


Taman Wisata Osing - Penginapan Di Tengah Hutan Rakyat Dan Desa Kemiren, Banyuwangi     Edit

Kolam Renang Taman Wisata Osing
Hotel dan penginapan di Banyuwangi makin hari dirasakan makin bertambah, beberapa hotel lawas terlihat mulai melakukan renovasi untuk memberikan pelayanan terbaik. Apalagi saya merasakan kunjungan ke Banyuwangi mulai meningkat.

Taman Wisata Osing merupakan taman rekreasi yang berada di Desa Kemiren, Banyuwangi.  Desa tersebut merupakan desa yang penduduknya merupakan Masyaakat Suku Osing, Suku Aslinya Banyuwangi. Taman Wisata Osing ini terletak 8-10 km dari pusat Kota Banyuwangi atau sekitar 5 km dari stasiun Karangasem. Jika naik motor dari Kota Banyuwangi bisa dicapai selama 15 menit dan dari Stasiun Karangasem bisa ditempuh selama 5-10 menit.

gerbang depan Taman Wisata Using
Rute Ke Taman Wisata OsingRute Ke Taman Wisata Osing dari Kota Banyuwangi cukup mudah kok. Rutenya dari Simpang Lima Kota Banyuwangi Ke Arah Barat – Jl. Jaksa Agung Suprapto – Jln. Hos Cokroaminoto – Melewati Rel Kereta – Pertigaan Patung Barong lurus hingga menemukan gapura masuk desa Kemiren – Melewati Gapura Lurus Terus Sampai menemukan Pertigaan yang ada Kepala Barongnya lalu ambil kiri – Taman Wisata Osing ada di Kanan Jalan.

Taman Wisata Osing (TWO) , bisa dibilang adalah taman bermain yang dilengkapi beberapa fasilitas yang cukup lengkap jika disebut Resort. Sekitar TWO ini istimewa , selain karena berada di tengah desa mayoritas dari suku Osing, suku asli Banyuwangi, TWO berbatasan langsung dengan Hutan Masyarakat Desa Kemiren, sehingga suasana di TWO sangat asri. Bagian sebelah barat TWO ditumbuh berbagai pohon yang relatif besar dan banyak pohon durian. Jika sedang musim durian, durian dari pohon ini pun dijual kepada pengunjung. TWO mempunyai fasilitas seperti Dua Kolam Renang, satu untuk anak-anak satu untuk orang dewasa. Terdapata taman bermain anak-anak yang terdapat mainan seperti ayunan, prosotan, jungkat-jungkit dan mainan lainnya.

ayunan di taman bermain anak-anak
Terdapat pula penginapan dengan fasilitas yang sama tiap kamarnya seperti Kasur dua atau kasur satu, kamar mandi dalam dan kipas angin. Letaknya yang berada di Desa Kemiren membuat kami ingin mencoba menginap disini, sekaligus mencari penginapan terdekat untuk hadir di acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang diadakan bulan November kemarin.  Dari Penginapan ke pusat acaranya Cuma tinggal berjalan kaki sekitar 2 menit saja sudah sampai di pusat keramaian Festival Ngopi Sewu. Penginapan ini juga pernah dipilih seorang teman untuk pendakian ke Ijen karena penginapannya searah dengan jalur ke Kawah Ijen (sekitar 45 menit naik motor sampe ke paltuding, pos pendakian kawah ijen)

malam hari, syahduu
bangunan adat osing

kamarnya
Sesuai dengan lokasi dan namanya, bangunan berbentuk rumah adat suku osing dengan dinding terbuat dari anyaman bambu kecuali modifikasi kamar mandi yang menempel di bagian samping kamar terbuat dari semen dan batu bata. Karena terbuat dari anyaman bambu, aroma khas terasa saat memasuki kamarnya. Jika menginap di hari weekday rasanya nyaman sekali, taman wisatanya jarang sekali pengunjung, menjadi seperti milik pribadi. Berjalan menyelusuri halaman luasnya, berenang-renang menikmati kolam renangnya atau keluar hotel menikmati suasana desa kemiren atau mencoba beberapa kuliner khas masyarakat osing kemiren yaitu pecel pitik dan Uyah Asem yang bisa dibeli di Pesantogan Kemangi yang letaknya 5 menit dari hotel dengan berjalan kaki.
pesantogan kemangi kemiren
Pengalaman saya untuk memesan kamar di penginapan sini agak kesulitan karena Taman Wisata Osing ini tidak punya nomor telepon kantor. Saya mencatat salah satu npegawainya saat survey,namun tidak bisa dihubungi (mungkin karena sinyal disana agak susah), sehingga perlu kesana kembali lagi kesana untuk mememesan. Baiknya memang Taman Wisata Osing ini memiliki Telpon Kantor atau HP khusus Kantor, sehingga bisa meningkatkan lagi pelayanan terhadap pengunjung khususnya yang ingin menginap dan memesan kamar di penginapan tersebut.

Yukk nyoba nginap disini :D

Harga per November 2016
Kamar Rp. 165.000/malam untuk 2 orang
Ekstra Bed Rp. 40.000
Dapat Sarapan Pagi di Kantin
Nomor Telpon (nyusul ya, belum dapat dapat dihubungi)



Festival Kopi Sepuluh Ewu - Menikmati Tradisi Ngopi Masyarakat Suku Osing, Banyuwangi     Edit


Ngopi semalaman pada 3 minggu lalu terasa sekali berbeda. Hiruk pikuk keceriaan, suasana dan obrolan hangat rasanya masih terasa hingga saya menulis ini. perbincangan hangat dan senyum ramah dari pemilik rumah dan orang yang ada di sekitar sana, padahal kami baru bertatap muka saat itu. Yah semua terjadi begitu saja di Festival Ngopi Sepuluh Ewu, Desa Kemiren, Banyuwangi.

Ngopi sepuluh ewu merupakan festival Ngopi tahunan yang diadakan di Desa Kemiren Banyuwangi. Bukan festival Ngopi biasanya yang menunjukan citarasa kopi, teknik pembuatan, teknologi dan lain-lain tapi kepada menjalin persaudaraan. “Sak Corot Dadi Seduluran”, ungkapan setempat yang bermakna dari secangkir kopi yang dinikmati bersama ini akan menumbuhkan persaudaraan. Dari ungkapan tersebut membuat acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu ini berjargon “Sekali Seduh Kita Bersaudara”
Rute ke Desa KemirenTahun ini saya berangkat untuk melihat festival ini bersama Halim, Pipit dan Andika  dan Odie yang sudah berniat dari jauh hari untuk datang ke festival ini. menuju ke desa Kemiren dari kota Banyuwangi mudah sekali. Kalian tinggal lurus ke arah barat saja. Rutenya dari Simpang Lima Kota Banyuwangi Ke Arah Barat – Jl. Jaksa Agung Suprapto – Jln. Hos Cokroaminoto – Melewati Rel Kereta – Pertigaan Patung Barong lurus hingga menemukan gapura masuk desa Kemiren.
Sore itu masyarakat desa Kemiren terlihat sedang menyiapkan meja, dan kursi bahkan ada yang sedang menata cangkir-cangkir kopi khas kemiren dengan motif kembang. Terlihat dari jauh jajanan pasar khas banyuwangi sedang ditata diatas meja seakan akan siap menyambut tamu-tamu penting. Setelah melewati waktu Magrib, perlahan-lahan desa ini mulai didatangi oleh berbagai masyarakat dari penjuru Banyuwangi, bahkan dari luar kota seperti saya dan teman-teman ini :D.

suasana desa kemiren di Festival Kopi 10 Ewu
mba pipit - andika sibuk moto :D :p
Kami menelurusi jalan-jalan sepanjang desa kemiren. Meriah sekali suasananya, jika dibandingkan hampir mirip dengan suasana lebaran ketupat di kampung mbah dan di desa-desa. Setiap rumah membukakan pintu bagi siapa saja yang ingin bertamu, pemilik rumah menyambut ramah setiap tamu yang datang ke rumahnya. Awalnya sungkan, karena di Desa Kemiren kami bukanlah siapa-siapa di desa Kemiren, tidak punya saudara, tidak punya kenalan ataupun calon jodoh. Sambut hangat pemilik rumah tetaplah sama. Kopi disajikan dalam cangkir kecil berwarna putih,ber gambar bunga yang khas dan ditutup agar panasnya lebih tahan lama. Cara minum kopi seperti ini merupakan tradisi masyarakat Osing Desa Kemiren yang merupakan suku asli Banyuwangi. Suku ini mempunyai tradisi minum kopi yang sudah ada sejak jaman nenek moyang dahulu. Ada ungkapan nenek moyang dalam bahasa Osing “Welurine Mbah Buyut Kemire Ngombe Kopi Cangkir Tutup”, yang artinya adalah meminum kopi dengan cangkir yang ada tutupnya.

Cangkir kopi motif kembang-kembang yang khas
percet
Tidak hanya menghidangkan kopi, pemilik rumah menghidangkan juga jajanan pasar khas masyarakat kemiren. Perhatian saya teralihkan dengan adanya favorit Kucur (Cucur untuk sebutan kue tersebut di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta ke arah barat. Kucur yang dihidangkan di kemiren warnanya coklat agak gelap dikarenakan menggunakan Gula Aren bukan Gula Jawa dari Pohon Kelapa dan penggunaan gula aren itulah yang membuat rasa Kucur agak berbeda dari daerah lain. Kue yang lain yang penampilannya menarik adalah Cenil. Cenil yang ada di Kemiren, Banyuwangi dihidangkan dengan cara yang unik. Biasanya cenil disajikan dalam pincuk daun pisang lalu ditaburi parutan kelapa. Namun Cenil disini dihidangkan dengan hidangan mirip sate. Cenil ditusuk tusukan sate lalu ditaburi parutan kelapa sehingga membuat kesannya berbeda sekali. Makanan lainnya yaitu kue Lepet, Tape Ekor, Ketan Kirip, Klemben, Percek dan lainnya . Percek ini unik, berbahan dasar pisang yang mirip mie berwarna kuning atau kerupuk rujak buah gerobak atau kerupuk yang dijual di warung asinan di bogor atau Jakarta.

hidangan komplit Kopi+Jajanan Pasarnya

simbah yg membuat kopi

Setelah lama bertamu, mengobrol ngalor ngidul sambil menikmati kopi dan jajanan pasar khas kemiren. Kami pamit dan kembali menikmati suasana ramai Festival Kopi Sepuluh Ewu di jalan desa Kemiren. Ternyata ada cara pembuatan kopi masyarakat osing yang diperlihatkan. Cara menyangrainya ternyata masih tradisional tidak mengunakan wajan dari aluminium melainkan dari tembikar. Penyangrai ternyata adalah mbah-mbah yang saya taksir usianya sekitar 65-70 tahun bahkan bisa melebihi 70 tahun. Dengan menggunakan wajan tembikar, kopinya mempunyai rasa yang berbeda, terlihat lebih hitam dari sangria biasanya.

Sak Ceret, Dadi Duluran
Beberapa langkah dari tempat tersebut kami dipersilahkan mampir bertamu kembali. Sama seperti pengalaman kami sebelumnya keramahan selalu menyambut kami, padahal kami bukanlah kenalan mereka, saudara mereka. Sak Ceret, Dadi Seduluran, bukanlah ungkapan belaka, tapi sudah menjadi cara mereka menghormati dan menghargai tamunya sama seperti saudaranya sendiri.

Menikmati Kopi di Festival Ngopi Sepuluh Ewu, bukan tandingan citarasa, teknik pembuatan, maupun Teknologinya namun lebih kepada bagaimana kita menikmati kopi secara bersama-sama.


Datang ya Ke Festival Ngopi Sepuluh Ewu Tahun Depan :)

Secuil Kenangan Tak Terlupakan di Pasar Wage Kenteng, Kulonprogo     Edit

Ibu-ibu kece penjual Geblek :D
Jogja menyimpan banyak memori memori menarik saat saya merantau ke sana untuk mencari ilmu. Salah satu memori menarik yang tidak terlupakan adalah Pasar Tradisionalnya. Pasar tradisional dimana-mana ada, bahkan untuk kota sekelas Jakarta pun masih ada pasar tradisional yang masih bertahan. Pasar Tradisional di Jogja yang menyimpan memori dan selalu saya sempatkan berkunjung namanya Pasar Kenteng, Sebuah pasar yang letaknya di persawahan daerah pegunungan Menoreh Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Pasar ini letak di Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo. Letaknya dari kota Jogja tidak terlalu jauh hanya berjarak tempuh sekitar 30 menit dari Tugu Jogja. Pasar Kenteng tidak seperti pasar Beringharjo, Malioboro yang buka setiap hari, hanya buka di hari tertentu yaitu Hari Wage pada penanggalan atau Kalender Jawa. Dan pada hari biasa selain hari Wage tidak ada salah satu penjual pun yang berjualan di pasar itu. Pasar ini buka dari setelah subuh hingga biasanya jam 09.00-10.00 pagi mulai sepi. Pasar ini juga merupakan pasar letaknya strategis karena berada di sekitar jalan menuju beberapa daerah wisata Kulonprogo seperti 6 (enam) AirTerjun di Kecamatan Girimulyo dan wisata alam lainnya.
Rute menuju Pasar Kenteng dari Kota JogjaRutenya cukup gampang kok, kalian hanya tinggal menggunakan kendaraan pribadi atau sewa menuju ke arah barat dari tugu Jogja.  Tugu Jogja  kebarat – Bang Jo Ringroad Barat Demak Ijo lurus Kebarat – Godean – Pasar Godean – Jembatan Sungai Progo – Perempatan Pasar Kenteng Lurus (kea rah pemandangan pegunungan menoreh) – Setelah melewati perempatan tersebut kita akan sampai di Pasar Kenteng.
"ehhh di foto" :D
Lihat kalender, besok Minggu adalah hari Wage, mumpung libur saya memutuskan untuk mampir ke Pasar Kenteng, melihat-lihat sekaligus mencari sarapan dan melanjutkan mandi di air terjun Grojogan Sewu. Saya berangkat dari Jogja jam 5 pagi. Udara saat perjalanan pagi itu cukup menusuk-nusuk kulit mengingat saya tidak memakai jaket hehe. sekitar jam setengah 6 keadaan masih agak gelap, saya mencari spot dulu di daerah persawahan sekitar pasar untuk menikmati matahari terbitnya. Jam segitu pasar sudah ramai, beberapa warga berdatangan dengan sepeda ontelnya, ada juga yang naik mobil angkutan berupa truk kecil dan pick up.
Gunung  Merapi di pagi hari yg tertutup kabut
Ahh matahari terbit begitu indah, gunung Merapi-Merbabu sedang terlihat cantik-cantiknya walau dari kejauhan saja. Kabut tipis seakan menari-nari di sekitar persawahan dan langit sekitar pasar kenteng pagi itu. Sudah agak terang saya pun kembali ke Pasar Kenteng untuk mencari sarapan dan melihat seisi pasar.
es Cendolnya

Tradisional dan Unik, dua kata yang terlintas jika kalian baru pertama kali mengunjungi pasar ini. Barang yang dijualkan bisa dibilang cukup beragam dari pakaian, kain batik, peralatan berladang, Bilik Bambu, Jerami Padi untuk atap, sayur mayur, jajanan pasar, hewan ternak bahkan sampai tukang cukur tradisional dengan menggunakan sepeda bisa ditemukan disini. Jajanan Pasar juga unik-unik seperti Nasi Jagung yang saya sempat coba rasanya cukup manis, pecel, mie letek, cenil, bermacam-macam gorengan, Benguk, Tempe Jadah dan jajanan favorit saya yaitu Geblek. Geblek ini dijual oleh rombongan ibu-ibu kece di blok tengah pasar. Awal pertama beli saya tidak tahu cara melafalkan Geblek yang benar sehingga melafalkan Geblek dengan lafal dan logat Jakarta yang berarti “Bodoh”. Sontak ibu-ibu penjual dan beberapa pengunjung pasar tertawa  dan memberi tau kalau melafalkan Jajanan Geblek nya salah fatal :D. Geblek ini memang mirip cireng berbahan dasar sama namun saat prosesnya berbeda. Yah memang setelah saya cicipi satu Geblek ini rasanya berbeda dengan Cireng :D. Saya membelinya sekitar 7ribu dan mendapatkan Geblek cukup banyak untuk bekal makanan yang dibawa ke air terjun. Melipir ke pinggir jalan raya pasar berjejer mbah-mbah penjual tembakau yang sedang menunggu dan melayani pembelinya dengan ramah. Di dekat situ ada penjual es Cendol yang akhirnya saya pesan untuk melepas dahaga. Es Cendolnya enak dengan pemanis alami yaitu berasal dari Gula Aren. Satu gelas es Cendol dihargai cukup murah yaitu Rp. 3000 saja.

geblek
cenil
Pencukur Tradisional
Melipir ke pojokan sebelah barat pasar, penjualnya berupa penjual bilik bambu dan jerami padi untuk atap rumah. Disekitar situ ada antrian bapak-bapak yang agak ramai, ternyata mereka sedang mengantri tukang cukur keliling yang manggal disitu setiap hari wage. Cukup unik karena tukang cukur tersebut tradisional menggunakan sepeda ontel tua, bangku, cermin, dan sekoper kecil peralatan cukurnya. Saya minta ijin kepada yang dicukur dan bapak pencukur tradisionalnya untuk mengambil gambarnya.

Saling berkomunikasi antar penjual
Lapar rasanya kalau tidak makan nasi, saya mencari warung yang menjajakan makanan hangat, sebenarnya tertarik dengan Soto Ayam yang banyak dijual di pasar tersebut namun berubah ketika melihat seorang mbah-mbah menjual makanan sejenis Tongseng. Yah cocok jugalah untuk menghangatkan perut di pagi hari. Komunikasi disini agak sulit karena saya tidak bisa bahasa Jawa, untungnya ada pengunjung yang sedikit membantu menjadi translator. Dengan kepiawaiannya, mbahnya meracik bumbu, mengiris sayuran dan lain-lainnya untuk semangkuk tongseng yang saya pesan dan rasanya enak.

Setelah kenyang memakan hidangan tongseng, saya meninggalkan pasar tersebut dengan perasaan puas dan terkagum-kagum lalu melanjutkan perjalanan ke arah barat, ke arah pegunungan menoreh menuju air terjun-air terjun kecamatan Girimulyo, Kulonprogo untuk mandi hehe.


Semoga kalian tertarik mengunjungi pasar ini ya, ingat Cuma buka di hari Wage tanggalan Jawa ya :)