-->
Showing posts with label wisata jawa tengah. Show all posts
Showing posts with label wisata jawa tengah. Show all posts

wisata jawa tengah

Menikmati Suasana Sore Dan Senja Di Masjid Agung Jawa Tengah - Semarang     Edit

Suasana Sore di Masjid Agung Jawa Tengah
Udah lama pingin mampir sore-sore di Masjid Agung Jawa Tengah yang ada di Semarang. Masjid Agung Jawa Tengah ini memang terkenal sekali dengan arsitektur yang menawan dengan payung-payung yang dibuat mirip dengan yang ada di Masjid Nabawi Madinah.

Rencana saya ke Semarang ini mendadak banget, sepulang kerja langsung berangkat malam harinya dari Banyuwangi menggunakan kereta api mutiara timur malam dari stasiun banyuwangi kota menuju stasiun Surabaya gubeng dan sampai jam 4 pagi. Perjalanan berlanjut jam 6 pagi menggunakan Kereta Maharani dari Stasiun Surabaya Pasar Turi dan sampai ke Stasiun Semarang Tawang jam 10 siang. Cari penginapan dahulu lalu, istirahat, jalan-jalan sekitar Kota Lama Semarang lalu sorenya lanjut ke Masjid Agung Jawa Tengah ini untuk menikmati Senja sekaligus beribadah sholat magrib.

Rute Menuju Masjid Agung Jawa Tengah dari Pusat Kota Semarang
Masjid ini terletak tidak jauh dari pusat kota Semarang yaitu di jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang Jawa Tengah. Kalian bisa menggunakan Bis Trans Semarang untuk menuju ke Masjid Agung Jawa Tengah ini. Jika kalian naik dari Stasiun Tawang ke Masjid Agung Jawa Tengah kalian bisa naik Bis Trans Semarang Koridor 7 turun di Halte Gajah Jalan Soekarno Hatta. Dari situ bisa lanjut jalan kaki atau bisa naik angkutan umum sebentar menuju Masjid Agung Jawa Tengah Tersebut. Paling gampang memang naik Ojek Online, taksi atau ojek pangkalan ya hehe.

Menara Al-Husna Masjid Agung Jawa Tengah
Sesampainya di Halaman Masjid Agung Jawa Tengah ini saya takjub, lokasinya sangat luas. Rimbunan pohon flamboyan meneduhkan area parker yang amat luas. Masjid ini sangat siap sekali menyambut kedatangan rombongan wisatawan dengan banyak bis sekalipun. Sebelum memasuki area masjid, saya tertarik menaiki menara Masjid Agung Jawa Tengah yang tingginya mencapai 99 meter, Namanya Al-Husna Tower. Dinamakan demikian karena melambangkan Asma Ul Husna yang juga berjumlah 99 buah. Ternyata menara hendak tutup istirahat, untung masih diperbolehkan naik ke lantai tertinggi di lantai 19, tidak bisa naik ke lantai 2 dan 3 yang merupakan Museum Sejarah Perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Lantai 18 yaitu Resto Putar. Yah nanti di coba kapan-kapan kalau ada waktu ke Semarang lagi.

Sejarah Masjid Agung Jawa Tengah
Sambil antri lift Menara Al-Husna ini, saya membaca sejarah singkat dari Masjid Agung Jawa Tengah. Ternyata masjid ini merupakan masjid yang baru saja dibangun mulai tahun 2002 tepatnya pada hari Jum’at tanggal 6 September 2002 pada tanah seluas 10 Hektar. Akhirnya setelah 4 tahun Masjid ini selesai dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 16 November 2006. Walau diresmikannya pada tanggal tersebut ternyata selama pembangunan telah dipakai untuk ibadah sholat Jum’at pertama kalinya pada tanggal 19 Maret 2004.

Teropong yang dapat di sewa di lantai teratas menara Al-Husna
Jika kalian ingin naik ke Menara Masjid Agung datanglah pada jam 08.00 hingga 21.00 dan hindari jam tutup istirahat pada waktu dzuhur dan magrib. Untuk masuk ke area menara kita diwajibkan membayar tiket masuk Rp. 7.500/orang saja. Dari puncak Menara Al-Husna kita bisa melihat pemandangan kota Semarang , Masjid Agung Jawa Tengah, pegunungan di selatan kota Semarang serta melihat jelas laut jawa di sebelah utara. Jika kita punya uang koin Rp 1.000 kita bisa menggunakan teropong untuk melihat jelas kejauhan entah melihat kearah laut,atau ke sebuah bangunan. Matahari mulai turun keperaduannya, menandakan menara akan tutup jam istirahat, saya turun dan siap-siap ke halaman utama atau teras utama Masjid Agung Jawa Tengah.
Pemandangan Masjid Agung Jawa Tengah dari Menara
Melihat foto orang, melihat langsung saya takjub sekali dengan arsitektur terasnya. Pilar-pilar ala timur tengah menopang pilar lengkungan setengah lingkarang yang tertuliskan huruf kaligrafi. Pilar gaya timur tengah dengan garis lengkung terlihat seperti gapura memasuki halaman masjid. Nuansa Masjid Nabawi terasa sekali dengan melihat payung-payungnya, lalu terbayang-bayang suatu saat bisa kesana. Katanya payung Masjid Agung Jawa Tengah ini akan terbuka saat hendak melaksanakan Sholat Jum’at, Sholat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Kalau hari biasa seperti ini bangunan utama masjid tidak seramai hari jum’at dan hari raya sehingga pembukaan pilar payung tersebut belum diperlukan. Di sebelah barat pilar-pilar payung hanya ada bangunan utama dengan arsitektur bergaya Jawa Tengah dengan atap Tumpang da nada kubah ditengah-tengahnya.

Senja Menawan di Masjid Agung Jawa Tengah Semarang
Saya beruntung, kedatangan pertama kali ke Masjid ini mendapatkan sambutan dari langit berupa atraksi senja dengan warna yang menawan. Dinding dan Lantai Masjid ini seakan regfleksikan segala warna yang dipancarkan oleh langit. Hingga akhirnya Adzan Magrib berkumandang dari menara masjid ke segala penjuru kota Semarang.

Dalam keadaan ketidakpastian karna pandemi Covid 19 atau virus corona ini, saya rasa semua orang sudah merindukan sholat di masjid, apalagi sudah memasuki Bulan Ramadan dan nanti aka nada sholat hari raya Idul Fitri yang dinanti-nantikan oleh umat Islam. Doa saya sembari menulis ini agar semua bisa secepatnya kembali normal. Saya harap nanti Idul Adha saya bisa mengambil hari libur untuk sholat hari raya Masjid Agung Jawa Tengah ini.

Jaga kesehatannya ya teman-teman pembaca :)

Menyelusuri Hutan Mangrove Jembatan Merah, Rembang     Edit


Di Ujung Hutan Mangrove Jembatan Merah Rembang
Jalur Pantura dari Kota Rembang menuju Lasem memang sudah dekat dengan pesisir pantai, apalagi di sebelah utara jalan sudah terlihat tambak dan nyiur melambai cemara laut yang menjadi “wind breaker”sehingga angin tidak berhembus kencang ke arah jalan. Ada beberapa pantai yang dilewati dari kota Rembang menuju Lasem. Kali ini saya mampir ke Hutan Mangrove Jembatan Merah yang letaknya di perbatasan antara Kota Rembang dan Lasem.

Hutan Mangrove Jembatan Merah, mungkin bisa disebut sebagai Landmark Kabupaten Rembang karena jembatan mangrove trailnya dicat berwarna merah yang berbeda dengan jembatan mangrove trail di daerah lain yang dibiarkan apa adanya seperti warna kayu.  Hutan Bakau Jembatan Merah ini terletak di Desa Pasar Banggi, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang berada tepat di muara sebuah sungai.

Area yang mulai ditanami bakau jenis Rhizophora sp.
Hutan Bakau Jembatan merah ini cukup luas hingga tumbuh kearah barat dan terlihat rutin dilakukan penanaman, baik penanaman yang dilakukan oleh pihak pengelola juga masyarakat rembang dan sekitarnya.  Saya setuju apa yang dikatakan pihak pengelola, dengan menanam bakau atau mangrove di muara sungai dan pesisir pantai akan mampu menahan abrasi air laut. Selain itu, fungsi pohon mangrove yang bisa menjadi tempat bertelurnya ikan dan tempat berlindungnya ikan-ikan kecil dan binatang laut lainnya seperti kepiting, udang dan lain-lain. Adanya hewan laut tersebut mendatangkan jenis-jenis burung air seperti blekok, trinil untuk mencari makan di hutan bakau. Burung-burung tersebut akan menjadi daya tarik Hutan Mangrove Jembatan Merah.

Rute dan Arah Jalan Menuju Hutan Mangrove Jembatan Merah
Untuk menuju Hutan Mangrove Jembatan Merah ini cukup mudah baik dari arah Rembang maupun Arah Lasem karena gang masuknya ada di pinggir jalan Pantura Rembang-Lasem dengan petunjuk jalan yang sangat jelas. Kalian bisa juga menggunakan Ojek Online Grab yang sudah hadir di Rembang atau bisa menggunakan jasa ojek pangkalan atau bis umum yang lewat di sepanjang jalan pantura.

Untuk memasuki hutan mangrove jembatan merah ini kita hanya ditarik tiket masuk berupa biaya parkir kendaraan saja sebesar Rp. 5.000 untuk motor dan 10.000 untuk mobil (Bulan Maret 2019). Awal masuk kita akan disuguhi oleh lorong mangrove dari jenis Rhizophora Sp. yang memiliki akar jangkar. Jenis ini merupakan jenis di garis depan yang berhadapan langsung dengan gelombang laut. Selain jenis Rhizophora ada jenis lain yaitu Rhizophora apiculata, Avicenia marina, Avicenia alba, Soneratia alba dan Xilocartus Sp. sehingga total ada 6 Jenis Mangrove yang tumbuh disini.

Lorong Hutan Mangrove
kursi untuk santai-santai di tengah hutan mangrove
Ada beberapa percabangan yang setiap cabangnya merupakan jalan buntu, dan diujung jalan mangrove trail yang buntu tersebut, ada bangku-bangku ditepian untuk menikmati nuansa di tengah hutan bakau. Kalian bisa juga langsung menuju View utama yang bisa memandang laut utara jawa yang mempunyai dua warna khas terutama di musim penghujan yaitu warna coklat dan warna biru. Warna coklat ini biasanya ada di sekitar pesisir pantai dekat muara sungai yang airnya keruh sehingga mempengaruhi warna laut.

Ujung dari Mangrove Trail di Hutan Mangrove Rembang
Ujung dari jembatan Hutan Mangrove Jembatan merah berupa gubuk santai atau gazebo yang berada di samping kanan kiri jembatan. Kita bisa bersantai disana sambil menikmati view pemandangan laut utara Jawa. Angin sepoi-sepoi membuat kita ingin berlama-lama disini. Sambil menikmati suasana disana, saya mendengar ada lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang akhirnya saya ketahui dari gubuk santai di belakang saya. Gazebo tersebut diisi oleh muda-mudi sepertinya masih duduk di bangku SMA/MA atau SMP/MTs. Mereka sedang mencoba menghafalkan afalan ayat Al-Qur’an yang mungkin diberikan oleh sekolahnya. Memang di daerah Rembang-Lasem memiliki kultur agama Islam yang kuat begitu juga Toleransi dan rasa saling menghormati  yang kuat karena terdapat juga banyak Klenteng, wihara dan gereja-gereja berdiri disini. Saya takjub dengan muda-mudi tersebut, apalagi ditempat wisata masih bisa merencanakan belajar menghafalkan ayat Al-Qur’an tersebut. Mungkin jika saya diposisi mereka malah ngobrol ngalor ngidul yang ga jelas. Bisa-bisa malah iseng ngeluarin kata-kata Gombal haha.


Kunjungan ke Hutan Mangrove Jembatan Merah Rembang ini harus saya akhir dan harus bergeser di destinasi wisata Rembang dan Lasem yang lain. View dari ujung jembatan merah hutan mangrove ini sepertinya bisa menikmati senja dan matahari terbit dengan leluasa. Lain waktu saya akan coba menikmati senja di hutan mangrove jembatan merah, jika ada waktu kembali ke Rembang atau Lasem lagi.


Menginap di Lasem? Coba Deh Hotel Berarsitektur China - Eropa Ini     Edit

Arsitektur Penginapan Wisma Pamilie

Lasem merupakan kota Kecamatan kecil dari Kabupaten Rembang yang punya potensi unggulan, selain batik juga Kota Tua yang arsitekturnya berupa percampuran Cina, Jawa dan Belanda. Tahun 2019 ini mulai bermunculan Penginapan, hotel dan homestay di Lasem walaupun belum banyak. Rata-rata bangunan penginapan di Lasem  adalah bangunan lama yang direnovasi tanpa merubah keaslian dari bangunan lama tersebut sehingga bangunan tersebut bisa lestari dan lebih bermanfaat. Jika mencari penginapan di Lasem via Aplikasi baru ditemukan 1 (satu) penginapan, beberapa penginapan lain entah kenapa belum menggunakan aplikasi untuk mempermudah pemesanan. Berikut list Penginapan yang ada di Lasem.

1. Rumah Merah Heritage
Rumah Merah Heritage
Terkenal  dengan nama Rumah Merah Heritage karena temboknya berwarna merah. Penginapan Rumah Merah yang terletak di tengah kota tua Lasem ini dulunya merupakan Rumah Candu (sekitar tahun 1800-an) lalu berganti kepemilikan menjadi milik pengusaha roti. Keturunan dari pengusaha roti ini mendisain ulang dan mengubah fungsi bangunan menjadi tempat sarang burung walet. Setelah pindah kepemilikan kembali ke tangan bapak Rudy Hartono yang merupakan pengusaha asal Lase mini mengembalikan struktur asli bangunan menjadi bangunan asli Cina Hindia. Sejak tahun 2016 Rumah Merah Heritage ini mulai menjadi Homestay yang memiliki beberapa kamar dengan jenis kamar yang berbeda. Menginap disini kalian bisa merasakan nuansa arsitektur Cina Hindia yang kental, budaya cina dan lukisan-lukisan yang menggambarkan sejarah perubahan Rumah Mera Heritage ini dari waktu ke waktu.  Untuk memesan kamar dan menginap disini bisa menggunakan Aplikasi dengan nama Tiongkok Kecil Heritage Lasem atau bisa menghubungi via Telepon atau WA.

Nomor Telepon  Rumah Merah Heritage : 085211494552

2. Homestay Omah Idjo
Homestay Omah Idjo
Terletak di pusat kota Lasem tepat di pinggir jalan besar. Bangunan dengan warna dominan putih dan hijau ini  berlantai dua dengan gaya arsitektur cina yang sudah tercampur dengan gaya eropa. Kesan terlihat dari luar sangat vintage yang menggoda sekali untuk dimasuki. Homestay ini harganya bisa dibilang paling murah dari penginapan lain di Lasem.  Jenis kamarnya bervariatif dari kamar yang hanya untuk 1 orang (non AC) seharga 100.000, sedangkan kamar dengan harga 200.000, 250.000 hingga 300.000 mendapatkan fasilitas AC. Semua kamar tersebut, kamar mandinya hanya ada di luar. Namun dengan harga segitu kita seudah dapat peralatan mandi dan sarapan enak di Rumah Oei (Wisma Pamilie) yang berada di sebelah utara Homestay rumah Ijo. Penginapan Rumah Ijo Lase mini juga menyediakan persewaan sepeda Ontel yang bisa digunakan untuk keliling kota kecil lasem seharga Rp. 20.000.

Nomor Telepon Homestay Rumah Idjo: 08112611010

3. Wisma Pamilie (Rumah Oei)
Wisma Pamilie di belakang Ruma Oei
Wisma Pamilie berada di dalam komplek Rumah Oei yang sudah dibangun sejak tahun 1818 kini  berusia 201 tahun. Rumah Oei bisa dibilang rumah asli Lasem yang masih asli, mulai dari arsitekturnya, lantai terakotanya, model tiang penyangganya masih asli dan kayu-kayunya pun tidak ada yang diubah. Di halaman belakang Rumah Oei didirikan Wisma Pamilie yang difungsikan sebagai penginapan atau homestay bagi wisatawan yang datang ke Lasem. Tarif atau rate di Wisma Pamilie cukup beragam dari yang 100 ribu (non AC, untuk 1 orang) sampai 500ribu. Kamar dengan harga 500 ribu merupakan kamar yang bisa diisi oleh 4 orang.  Ada juga 2 kamar yang berada di belakang bangunan Rumah Oei untuk 2 orang seharga 250 ribu dengan kamar mandi di luar. Saya menyukai penginapan ini karena terdapat halaman yang cukup asri untuk bersantai-santai.

Nomor Telepon Wisma Pamilie : 08112611010

4.  Lasem Hotel (Lasem Botique Hotel)
Lasem Hotel
Hotel yang berada di tengah Kota Tua Lasem dan jauh dari jalan raya membuat hotel ini cukup tenang untuk ditinggali. Sedikit terlihat agak modern namun arsitektur ala cinanya masih dipertahankan. Rate harganya dari 400 ribu hingga 500 ribu dengan AC dan kamar mandi dalam. Cocok sekali jika membawa rombongan banyak karena terdapat space parkir luas dan kamarnya lumayan banyak.

Nomor Telepon Lasem Hotel : 087875931327

5. Hotel di Kota Rembang.
Ada pilihan lain jika tidak ingin menginap di Lasem. Kota Rembang dan Lasem cukup berdekatan, jarak tempuhnya  sekitar 20 menit. Di Rembang ada beberapa hotel yang bangunan dan pelayanannya baik seperti Hotel Antika, Hotel  Kencana, Hotel Larasait dan Fave Hotel Rembang menurut saya sudah cukup lumayan nyaman. 

Pelan-pelan Lasem berbenah, pada kunjungan 2013 ke Lasem lalu hampir tidak ada penginapan di Lasem sehingga saya menginap di kota Rembang dan pada tahun 2019 ini sudah ada 4 (empat) homestay atau penginapan di Lasem yang menarik dan unik untuk dicoba jika kalian berkunjung ke Lasem. Semoga heritage dan budaya di Lasem tetap terjaga sampai nanti.

Transportasi Dan Panduan Rute Menuju Lasem, Tiongkok Kecil Di Jawa     Edit

Rumah Merah Lasem

Tahun 2013 lalu saya pernah menulis soal Rembang-Lasem dan cara menuju kesana. Ada rindu yang akhirnya taktertahankan membuat saya kembali merasakan suasana kota Lasem di Tahun 2019 ini. Kotanya masih sama, Sederhana.

Menuju Lasem sampai saat ini hanya bisa menggunakan Bis/Bus saja yaitu menggunakan Bis Jurusan Surabaya-Semarang yang selalu ada 24 Jam. Dahulu memang ada rute kereta menuju Rembang dan Lasem lalu bersambung ke Bojonegoro namun sayangnya sudah tidak beroperasi lagi. Stasiun Lasem sudah rusak dan jalur kereta menuju Lasem sebagian Relnya sudah hilang dan menjadi jalan umum seperti yang terjadi di Rute di tengah Kota Lasem.
Keadaan Stasiun Lasem
Masjid Jami Lasem
Untuk memulai ke Lasem mula-mula kita harus memilih berangkat dari terminal Mangkang, Semarang atau Terminal Bungurasih/Purabaya, Surabaya. Bis yang tersedia juga banyak, dari kelas Ekonomi, Patas AC dan Eksekutif, tentu saja harganya beda tergantung fasilitas. Dengan Bis tersebut nanti tinggal turun di Mesjid Jami Lasem yang letaknya tepat ditengah-tengah Kota Lasem.

Tahun 2013 lalu, saya berangkat dari Yogyakarta dan lebih dahulu ke Semarang menggunakan Bis. Saya memilih Bis Ekonomi Indonesia yang selalu berwarna merah. Bis Ekonomi Indonesia Jurusan Semarang-Surabaya jalanya 15 menit sekali, Bis Patas AC Indonesia jalan kira-kira setiap 30 menit sekali.  Menurut info yang saya dapat, Tarif Bis Ekonomi Indonesia Jurusan Semarang-Surabaya sebesar Rp. 50.000 jika sampai Lasem mungkin lebih murah dari itu. Tarif Bis Patas AC Indonesia dari Semarang ke Surabaya sebesar Rp.100.000 mungkin jika turun di Lasem hanya membayar Rp. 80.000-90.000. Waktu tempuh dari Semarang ke Lasem memakan waktu kurang lebih 3 Jam perjalanan.

Bis Eksekutif Jurusan Surabaya-Jepara
Tahun 2019 ini saya berangkat dari Surabaya dengan naik Bis Eksekutif Jaya Utama Jurusan Surabaya-Jepara  turun di Lasem dan kena harga Rp. 95.000 dan pulang menuju Surabaya dari Lasem menggunakan Bis Patas AC Indonesia seharga 90.000. Harga tersebut sudah termasuk dapat makan di daerah Tuban. Perjalanan dari Surabaya ke Lasem memakan waktu kurang lebih 4 Jam perjalanan. Rute Bis Surabaya Lasem ini menurut saya menarik karena melintasi jalur Pantura yang berada di pinggir laut persis pada saat melintasi daerah Tuban. Jika sudah naik motor ke Lasem, saya mungkin sudah beberapa kali singgah melipir ke Pantainya.
Jalur Pantura Pinggir Pantai
Bis Jurusan Semarang-Surabaya yang melintas di Lasem ada selama 24 Jam. Kalian bisa tunggu bis di depan terminal lasem dan jangan di dalamnya karena bis tidak masuk ke terminal. Bis Patas AC kira-kira lewat setiap 30 menit sekali, namun saya kurang tahu waktu lewat Bis Ekonomi.

Apa aja yang bisa dilakukan di Lasem?

Rumah Atsiri, Karanganyar - Tempat Edukasi Tentang Tanaman, Manfaat dan Aromanya     Edit

Museum Rumah Atsiri di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar

Dahulu di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah terdapat sebuah pabrik pengolahan minyak atsiri yang lama terbengkalai. Kini pabrik tersebut dipugar sesuai aslinya dan diubah fungsinya dari pabrik penghasil minyak atsiri menjadi tempat edukasi.



Dahulu pabrik pengolahan  minyak atsiri ini dibangun oleh Pemerintah yang bekerja sama dengan Bulgaria. Pembangunan pabrik ini dimulai pada tahun 1963, selesai pada tahun 1967 dan langsung dilakukan uji coba produksi langsung yang dipantai oleh tenaga ahli dari Bulgaria. Bahan minyak atsiri dari tanaman Serai Wangi (Citronella). Dipilih tanaman Serai Wangi karena berpotensi tumbuh disekitar lokasi pabrik apalagi di sekitar Gunung Lawu. Selanjutnya ditanam tanaman lain yang bisa diolah menjadi minyak atsiri.

Rute Menuju Rumah Atsiri Dari Solo



pertigaan sebelum terminal tawangmangu, belok kanan. Ada plang petunjuk jalannya
Untuk menuju Rumah Atsiri dari kota Solo cukup mudah, hanya menempuh perjalanan 1 jam perjalanan saja. Dari Kota Solo ambil arah ke Tawangmangu, Karanganyar meewati pusat Kota Karanganyar, alun-alun karanganyar lalu diperjalanan ikuti petunjuk arah ke Grojogan Sewu atau Telaga Sarangan karena Rumah Atsiri letaknya gampang terlihat di jalan utama menuju objek wisata tersebut tepatnya di sebelum Terminal Tawangmangu. Bisa juga mengacu pada googlemap karena titik koordinasi lokasinya sudah valid.

Guide gratis Rumah Atsiri (baju merah dengan rompi safari)
Untuk masuk ke museum Rumah Atsiri perorang ditarik biaya Rp. 50.000 dengan Rp. 15.000 untuk biaya masuk Museum dan Tamannya dan Rp.35.000 nanti bisa digunakan untuk belanja oleh-oleh atau makan di cafeteria yang ada di komplek museum Rumah Atsiri. Sebelum masuk ke Taman Rumah Atsiri lebih baik ikut pemandu “Gratis” yang disediakan Rumah Atsiri agar masuk ke taman Rumah Atsiri bisa mendapatkan ilmu bermanfaat tentang tanaman penghasil minyak atsiri bukan hanya sekedar foto-foto bagus saja. Jadwal Guide  mulai jam  11.00 sampai dengan jam 16.00 hanya di hari sabtu dan minggu atau bisa dilihat di loket pembelian tiket masuk atau bisa bertanya petugas.

Taman Outdoor dan Rumah Kaca
ayun lagi ngedus aroma rosemary
Awal memasuki Taman Museum Rumah Atsiri ada dua area, area outdoor dan area rumah kaca. Pertama kita diajak keliling area outdor dan dikenalkan berbagai tanaman yang sering dengar namanya namun baru pertama kali liat tanamannya haha. Jika kita perhatikan lebih dekat beberapa tanaman punya aroma menarik ketika kita sentuh atau hirup dekat-dekat. Beberapa tanaman aromanya menyenangkan seperti tanaman Rosemary. Jika disentuh, aromanya keluar dan menempel ditangan yang lebih enak ketika pasca hujan, aromanya meyerbak terbawa angin bersama aroma petrichor. Tanaman kedua adalah tanaman Chocomint. Tanaman ini merupakan tanaman mint yang aromanya becampur dengan warna coklat. Pelan-pelan saya hirup, aromanya seperti aroma permen karet rasa coklat atau mencium bau harum milkshake coklat.
ini lagi keasikan hirup aromanya chocomint

Di taman outdoor, berbagai jenis kupu-kupu beterbangan kesana kemari dan sepintas di dominasi oleh kupu-kupu warna hijau dan kuning. Dominan ditemukan ditanaman yang sedang berbunga. Kami juga sempat membuat foto makro kupu-kupu dengan smartphone maupun dengan kamera. Selain kupu-kupu juga ditemukan banyak Tawon, jadi hati-hati dan agar tidak mengganggu tawon yang berakhir dengan disengat. Rasanya nyeri dan pegel-pegel gimana gitu, itu juga kalau disengat satu, belum kalau tawon yang lain ikut menyengat juga haha.
lagi sibuk motoin kupu-kupu 
Berlanjut ke area rumah kaca, di dalam rumah kaca ada jalan setapak dibawah dan jembatan melayang. Didalam rumah kaca dominan ditumbuhi oleh tanaman Serai Wangi atau Akar Wangi yang menjadi komoditas utama dari sejarah pengolahan minyak atsiri dulu di pabrik ini. Di beberapa sudut rumah kaca ini menarik terutama di jembatan melayangnya yang bisa dijadikan spot untuk berfoto.
Di dalam Rumah Kaca, dominan ditanam Serai Wangi
Setelah dari Rumah kaca, lanjut ke bangunan utama Museum Rumah Atsiri lewat koridor jembatan. Di dalam bangunan utama tersebut terlihat beberapa ruang meeting room, ruang laboratorium untuk tempat edukasi atau paket kelas pengetahuan yang ditawarkan oleh pihak pengelola. Selain itu di bangunan utama ada tempat menjual cinderamata atau oleh-oleh. Baik makanan yang berbahan baku dari tanaman yang ditanam, minyak aroma terapi, kaos, gantungan kunci bahkan beberapa bibit tanaman. Saya tertarik dan membeli dengan tanaman Rosemary dan chocomint untuk dibawa pulang dan dipelihara di Banyuwangi.
Oleh-oleh bibit tanaman yang bisa dibawa Pulang
Dari capek keliling museum Rumah Atsiri, kita bisa mampir ke kafetaria yang berada bangunan utamanya. Menu makanan-minumannya kebanyakan berasal dari tanaman budidaya yang ada di museum. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp.10.000 sampai Rp. 50.000. Kafetaria juga bisa dijadikan spot foto yang menarik karena terdapat taman yang ditumbuhi tanaman dan bunga serta bangunan dengan konsep industrial.
habis keliling Museum Rumah Atsiri, mampir ke Kafetarianya
Mengunjungi kota Solo tidak ada salahnya melipir ke Kabupaten Karanganyar karena disana banyak objek wisata yang menarik terutama wisata alam dan pendidikan seperti halnya Museum Rumah Atsiri. Dengan mengunjungi Museum Rumat Atsiri ini, saya mendapatkan banyak ilmu baru soal tanaman-tanaman herba yang bermanfaat dan mengeluarkan aroma khasnya.

Kuliner Legendaris - Es Kapal Perempatan Baron, Solo     Edit

Es Kapal Perempatan Baron

Setiap mampir ke Solo, ada minuman yang harus saya cicipi. Bukan minuman mahal dan berkhasiat khusus kok, hanya saja minuman tersebut istimewa karena merupakan jajanan semasa kecil dan mungkin jajanan masa kecil kalian juga. Namanya Es Kapal.

Es Kapal merupakan salah satu jajanan unik tempo dulu yang berada di Kota Solo. Katanya jajanan ini mulai menampakan dirinya pada tahun 80-90an, dan akhirnya pada era sekarang ini hanya bertahan beberapa penjual saja yaitu Es Kapal Di Dalam Taman Sri Wedari dan yang kali ini saya coba berjualan di sekitar perempatan Baron.

Rute Menuju Warung Es Kapal Perempatan Baron.
Rute menuju Warung Es Kapal Perempatan Baron cukup mudah kok. Letak Warung Es Kapal Baron berada di pusat kota. Biasanya jika menggunakan kendaraan pribadi , Jalan Slamet Riyadi pertigaan Lapangan Sri Wedari ambil ke selatan ke jalan Bhayangkara, ikuti jalan tersebut hingga bertemu perempatan besar (perempatan Baron) ambil ke arah barat ke Jalan Dr. Rajiman. Sekitar 100 meter   sebelah kanan (jalur lambat) dari perempatan tersebut ada warung kecil bergerobak biru di sebelah kantor Koramil atau disebrang kantor Polsek Laweyan. Kalian bisa mengikuti Gmaps atau  agar lebih mudah bisa naik Becak, Ojek Pangkalan atau Ojek Online.

warung kecil dan gerobak Es Kapal Berbentuk Kapal milik Pak Widodo
Es Kapal Perempatan Baron merupakan salah satu kuliner Solo yang Legendaris. Pemiliknya bernama Pak Widodo, beliau sudah berjualan Es Kapal sejak tahun 1972 dengan cara berkeliling. Dia berkeliling dengan Gerobaknya yang bermoncong berbentuk kapal sehingga karena bentuk gerobak mirip dengan Kapal, Es tersebut disebut Es Kapal. Akhirnya pada tahun 1980, Pak Widodo berhenti berjualan keliling dan menetap berjualan di pohon Beringin yang ada di tepi perempatan Baron (pada tahun tersebut ada Hotel bernama Baron di sekitar perempatan tersebut). Pada Tahun 2016 hingga sekarang, Es Kapal Perempatan Baron milik pak Widodo ini pindah kembali, bergeser  ke arah Barat 100 meter dari bawah pohon beringin dan menempati  salah satu warung kecil.

Penyajian Es Kapal
Es Kapal bentuknya adalah sebuah Minuman dari Santan dengan campuran sedikit rasa coklat, minuman tersebut ditampung dalam panci berukuran besar yang didalamnya terdapat es besar dan es yang diserut secara berkala oleh pak Widodo. Cara penyajiannya juga klasik dan menarik, minuman dituangkan dalam gelas kaca besar khas tahun 90an, ditambah coklat kembali dan ditutup dengan sebuah roti tawar diatas gelasnya. Roti tersebut nantinya dimakan dengan cara menyelupkannya kedalam Es Kapal lalu memakannya, nikmat sekali rasanya. Sensasinya berbeda sekali dengan memakan roti tawar dengan memakai misis atau selai. Di Warung Es Kapal ini juga menjual makanan lain selain roti, kalian bisa menemukan jajanan pasar seperti arem-arem dan beberapa jenis gorengan yang enak disantap bersama Es Kapal.

Pak Widodo sedang menyerut es secara berkala
Warung ini buka sekitar jam 9 pagi hingga Es Kapal habis, biasanya jika Solo sedang panas-panasnya, sebelum jam 3 sore, Es Kapal sudah habis, jika agak mendung atau hujan, biasanya Sore hari Es Kapal masih ada dan tersedia. Satu Gelas Es Kapal Perempatan Baron ini bisa dibeli seharga Rp.5000 saja. Cukup murah dan bisa melepas dahaga dan melawan hawa panas kota Solo.

Kalau kalian ke Solo, jangan lupa mampir dan bernostalgia dengan Es Kapal, jajanan masa kecil dahulu.
Cara Menikmati Es Kapal Solo


Pabrik Gula Colomadu, Destinasi Wisata Sejarah Baru di Solo Raya     Edit

Muka depan Pabrik Gula Colomadu

Daerah Solo dan sekitarnya mempunyai peninggalan sejarah dan bangunan masa lampau yang cukup banyak. Salah satunya adalah Pabrik Gula Colomadu yang terkenal terutama dikalangan Asia sebagai Pabrik Gula terbesar Se-Asia. Pabrik Gula Colomadu belakangan ini jadi pembicaraan hangat karena telah menjadi tujuan destinasi warga Solo dan sekitarnya karena proses Revitalisasi Pabrik Gula Colomadu sudah hampir selesai.

De Tjolomadoe adalah nama baru bagi Pabrik Gula Colomadu pasca revitalisasi yang dilakukan oleh sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), di antaranya PT Pembangunan Perumahan (PP), PT Perkebunan Nusantara, PT Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan, Borobudur dan Ratu Boko serta PT Jasa Marga Properti.  Pasca Revitalisasi tersebut Pabrik Gula Colomadu akan menjadi destinasi wisata heritage dan Sejarah Baru di Solo Raya.

Sejarah Pabrik Gula Colomadu
Pabrik Gula Colomadu sebelum Revitalisasi
Pabrik Gula Colomadu ini dibangun oleh Mangkunegaran IV dengan mengeluarkan 400.000 Gulden. Awal pembangunan dibangun Pada hari Minggu, 8 Desember 1861. Pada tanggal tersebut dilakukan peletakan batu pertama oleh seorang ahli berkebangsaan Jerman bernama R. Kampf yang diperintahkan oleh Mangkunegaran IV untuk membangun pabrik gula tersebut. Pabrik Gula tersebut diberi nama Colomadu, nama jawa yang memiliki arti Gunung Madu. Nama itu mengandung makna harapan agar kehadiran pabrik gula menjadi simpanan kekayaan dalam bentuk gula pasir yang menyerupai gunung. Pada tahun 1862 Pabrik Gula Colomadu  mulai berproduksi. Pabrik Gula Colomadu telah berorientasi ke masa depan karena menggunakan instalasi standar pabrik gula di masa itu. Hasil panen tahun pertama perkebunan tebu seluas ±95 hektar mampu menghasilkan ±3.700 kuintal gula

Rute Menuju Pabrik Gula Colomadu
Kemarin saya berkesempatan mampir sebentar ke Solo untuk jalan-jalan ke Pabrik Gula Colomadu. Secara administrasi wilayah, Pabrik Gula Colomadu masuk dalam Kabupaten Karanganyar tepatnya di Jalan Adi Sucipto No.165, Malangjiwan, Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Namun Letak pabrik Gula ini tidak jauh dari Stasiun Purwosari atau Bandara Adi Soemarmo, Solo (sekitar  15-20 menit).  Kalian bisa taxi, ojek baik konveksional maupun online. Jika kalian kendaraan umum dari arah Klaten atau Boyolali bisa turun di pertigaan Tugu Kartosuro lalu cari ojek yang bisa mengantarkan kalian ke Pabrik Gula Colomadu. Untuk saat ini memasuki area Pabrik Gula Colomadu baru dipungut biaya parkir kendaraan saja, untuk masuk ke dalam Pabrik Gula ini belum dikenakan biaya karena masih ada beberapa area pabrik yang masih dalam proses revitalisasi. Namun setelah area Pabrik Gula Colomadu sudah selesai 100% akan dipungut biaya masuk yang jumlahnya masih belum diketahui.

taman depan Pabrik Gula Colomadu
Dilihat dari luar Bangunan De Tjolomadoe sangat menarik, halaman depan terdapat tulisan besar De Tjolomadoe sebagai indentitas dan landmark tempat tersebut. Masuk kedalam ada taman yang cukup luas dengan bangku dan lampu taman bergaya eropa. Sayangnya saya datang sore hari sehingga tidak melihat temaram lampu taman depan Pabrik Gula Colomadu. Di samping bangunan utama terdapat taman bunga kecil dan parkir kendaraan mobil dan motor yang cukup luas. Pengelola dan pengembang De Tjolomadoe ini sudah memprediksi bahwa destinasi wisata ini akan ramai dikunjungi.
Landmark tulisan di depan 
Stasiun Gilingan
Bagian dalam pabrik Gula setelah revitalisasi cukup megah. Bagian dalamnya dibagi dalam beberapa ruangan yang disebut Stasiun. Stasiun tersebut bernama Stasiun Gilingan, Karbonatasi, Ketelan, dan Penguapan. Penamaan stasiun-stasiun tersebut mengikuti mesin yang ada di lokasi stasiun tersebut. Mesin-mesin yang ada di Stasiun tersebut juga ikut direvitalisasi kembali lalu dicat kembali dengan warna silver. Namun ada beberapa bagian mesin yang tidak dicat dan dipertahankan warna kuning dengan bercak karatnya sebagai bukti bahwa pabrik gula ini telah ada sejak tahun 1861.

Stasiun Penguapan
pintu masuk stasiun Ketelan
Basali Cafe
Stasiun-stasiun tersebut juga tidak sepenuhnya semua berisikan mesin-mesin pembuat Gula. Pada stasiun Gilingan terdapat area informasi berupa foto-foto Pabrik Gula sebelum dan sesudah revitalisasi. Pada Stasiun Karbonatasi menjadi pusat oleh-oleh dan kerajinan, Stasiun Ketelan terdapat street food yang menjajakan makanan dan minuman, juga terdapat semacam aula untuk memamerkan karya. Stasiun Penguapan dengan mesin penguapan yang sangat tinggi dan besar, disisi lain dari mesinnya terdapai kedai kopi “Tjolo Koffie dan di ruang sebelah Stasiun Penguapan ini terdapat Besali Café yang mempunyai kapasitas dan ruangan cukup luas untuk menampung banyak pengunjung. Bentuk Cafenya yang berletter U membuat saya mebayangkan, apa tempat ini adalah tempat para pekerja untuk istirahat dan mengambil jatah makan mereka. Pada stasiun Penguapan juga terdapat Concert Hall yang megah. Sayangnya pada saat itu ruangan ini tidak dibuka sehingga hanya bisa melihat pintunya saja.

Taman Samping Gedung Pabrik Gula Colomadu
De Tjolomadoe atau Pabrik Gula Colomadu ini layak sekali kalian kunjungi baik untuk tujuan wisata pendidikan dan sejarah maupun wisata foto-foto karena arsitektur Pabrik Gula Colomadu sangat asik buat foto-foto. Saya merekomendasikan untuk datang sore hari karena cahaya matahari tidak terlalu terik sehingga bisa foto-foto di halaman depan dengan latar belakang bangunan Pabrik Gula Colomadu.

Untuk menuju menjadi wisata pendidikan dan sejarah, pihak pengelola pastinya harus menyediakan papan informasi, media Interaktif dan pemandu yang bisa menjelaskan setiap sudut dari Pabrik Gula ini sehingga pengunjung selain mendapatkan kesenangan juga mendapatkan ilmu pengetahuan baru seputar Pabrik Gula Colomadu.


thank sudah menemani ke De Tjolomadoe


Piknik Yuk Ke Hutan Mangrove Pandansari, Brebes, Jawa Tengah     Edit

Dermaga kedatangan di Mangrove Trail Brebes
Berawal dari rasa penasaran Grup Whatsapp keluarga besar tentang foto Mangrove Trail di Kabupaten Brebes yang letaknya tidak jauh dari rumah nenek di Losari, Kabupaten Cirebon. Pada saat mudik Lebaran ke rumah nenek, saya sekeluarga menyempatkan diri untuk melihat wisata Hutan Mangrove di Brebes.

Hutan Mangrove Pandansari namanya. Dinamakan demikian karena letaknya di Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Jika dilihat dari PetaHutan Mangrove ini bisa dibilang baru dibuka untuk wisata mulai tahun 2016 dan mulai naik daun pada tahun 2017.

denah rute menuju hutan bakau pandansari brebes
kondisi jalan desanya
kondisi jalan tambaknya
Rute untuk menuju wisata Hutan Mangrove Pandansari, Brebes ini mudah kok. Jika kalian dari kota Brebes arahkan kendaraan ke barat menuju keluar kota Brebes. Ikuti jalan pantura sampai melewati Rumah Sakit Bhakti Asih di Kanan Jalan akan ada pertigaan ke utara. Beloklah ke kanan (arah utara) memasuki jalan tersebut lalu ikuti saja jalan tersebut sampai bertemu pasar dan terlihat papan petunjuk jalan menuju hutan mangrove pandansari . Ikuti papan petunjuk tersebut  melewati area pertambakan udang, bandeng dan garam lalu akan sampai di parkiran wisata hutan mangrove pandansari. Jika kalian dari arah Losari, Cirebon, kalian tinggal belo kiri di pertigaan kiri jalan sebelum Rumah Sakit Bhakti Asih.

kapal yang kami naiki menuju mangrove trail brebes
Dari parkiran ke Mangrove Trail Brebes ini perlu naik perahu menyelusuri  sungai  menuju ujung dermaga mangrove trail. Untuk memasuki hutan mangrove brebes ini kita ditarik tiket masuk sebesar Rp.20.000 untuk dewasa, Rp. 10.000 untuk anak-anak, Rp.2.000 untuk motor, Rp.5.000 untuk mobil. Tiket tersebut sudah termasuk jasa PP naik perahu menuju Mangrove Trail. Perjalanan naik perahu menyelusuri sungai memakan waktu perjalanan sekitar 15 menit.  Di kanan kiri terlihat pohon bakau dari jenis Rhizopora yang mempunyai akar Jangkar. Sesekali terlihat sejenis burung pemakan ikan seperti kuntul, raja udang dan lain-lainnya sibuk melakukan aktifitas mencari makan.

foto pasukan rombongan :D
Setelah 15 menit berlayar menyelusuri perairan hutan mangrove, sampailah kami di dermaga mangrove trail pandansari. Keluarga dan sodara-sodara langsung mengambil pose berfoto di gapura selamat datang dan lalu diikuti rombongan yang lain dibelakang kami. Setelah berfoto. Kami melanjutkan perjalanan kembali menyelusuri jembatan mangrove brebes ini.

jembatan pink, ikon hutan mangrove brebes
Jalur Mangrove trailnya cukup panjang, jika dikira-kira ada lebih dari 1 km. Namun menyelusuri mangrove trail sepanjang itu tidaklah membosankan karena pengelola menyediakan beberapa spot menarik di hutan bakau brebes seperti menyelusuri lorong-lorong hutan bakau, dua buah gardu pandang untuk melihat panorama alam hutan mangrove dari ketinggian, beberapa spot foto menarik seperti Jembatan Berwarna Pink dan tugu patung ikan “mudskipper”, ikan yang banyak ditemui hidup di lumpur-lumpur hutan bakau. Selain itu, di spot tertentu terdapat pedagang makanan-minuman yang siap memadamkan rasa kelaparan dan kehausan setelah capek menyelusuri hutan mangrove brebes.
tugu patung ikan mudskiper, icon hutan bakau brebes

lorong hutan bakau brebes
Walau terbilang baru, pengembangan Hutan Mangrove ini telah memakan waktu selama 10 tahun dengan awal dipelopori oleh Mashadi. Menurut warga sekitar, 6 tahun yang lalu beliau sempat diejek tidak waras menanam Bakau di pesisir Brebes tersebut, namun perlahan upaya tersebut berhasil dan mulai datanglah LSM dan organisasi bahkan Pramuka membantu merestorasi ekosistem Hutan Mangrove di sekitar Dukuh Pandansari, setelah 6 tahun berjalan hasilnya saya rasa sangat memuaskan. Bahkan perjalanan ke Hutan Bakau Brebes melewati daerah tambak dimana setiap pematangnya ditumbuhi oleh pohon bakau. Tumbuhnya pohon bakau ini nantinya bisa menjadi tempat bertelurnya ikan-ikan.

duduk2 di pinggir dermaga
shelter dan kursi santai kosong di area terbuka
Menurut saya pribadi, perlunya penambahan tempat titik istirahat atau shelter karena saat berkunjung kesini dibeberapa spot terdapat pengunjung yang duduk di pinggir mangrove trail dan menyantap bekal makanan yang dibawa dari luar. Hal ini bisa menyebabkan kemacetan di mangrove trail atau mungkin kejadian yang tidak diinginkan seperti pengunjung yang duduk di pinggir tersebut tersenggol dan akhirnya tercebur. Mungkin adanya jaket pelampung yang disediakan diatas kapal penyebrangan sesuai dengan jumlah orang yang diangkut kapal tersebut.Walau air sungainya terbilang tenang, namun tidak ada salahnya untuk jaga-jaga dan keamanan, kenyamanan pengunjung.

gardu pandang hutan bakau brebes
Hutan Mangrove Bakau ini layak kalian datangi selain aksesnya mudah dijangkau baik dari kota Brebes maupun dari luar kota Brebes juga mendapatkan ilmu-ilmu bermanfaat seputar hutan mangrove dan bisa mengurangi atau menghilangkan kepenatan rutinitas sehari-hari. Mengunjungi Hutan Bakau Brebes ini enaknya di waktu pagi hari sebelum jam 9 pagi atau sore mulai jam 3 pagi. Dengan mengunjungi pada waktu itu cuaca tidak terlalu panas dan terik sekaligus saat kalian menyelusuri lorong hutan mangrove akan terdengar kicauan merdu burung-burung yang mendiami hutan ini. Jika jeli, kalian bisa melihat aktivitas burung-burung tersebut mencari makan di sekitar hutan bakau brebes ini.


Yuk Ke Hutan Mangrove Pandansari, Brebes :D