-->
Showing posts with label wisata jember. Show all posts
Showing posts with label wisata jember. Show all posts

wisata jember

Masjid Roudhotul Muchlisin, Jember - Masjid Berkaligrafi Ayat Suci Al-Qur'an dan Asmaul Husna     Edit

Masjid Roudhotul Muchlisin
Beberapa kali mondar-mandir lewat Kota Jember, selalu melihat mesjid berwarna-warni yang menyita perhatian sesaat. Akhirnya kemarin saya sempatkan mampir ke Masjid tersebut sekaligus menunggu waktu Sholat Dzuhur yang sebentar lagi tiba. Setelah masuk gerbangnya baru diketahui Masjid penuh warna yang ada di Jember itu bernama Masjid Roudhotul Muchlisin.

Masjid Roudhotul Muchlisin terletak di pinggir jalan utama Jember ke arah Surabaya tepatnya di Jl Gajah Mada, Kaliwates, Jember. Saya pikir mesjid ini adalah salah satu Masjid baru di Jember, ternyata merupakan masjid yang sudah dibangun pada tahun 1978 dan tampilannya kini adalah Masjid Roudhotul Muchlisin setelah direhab atau renovasi.

Untuk menuju ke Masjid Roudhotul Muchlisin

Karena letak Masjid di jalan Gadjah Mada, jalan utama menuju Surabaya. Masjid Roudhotul Muchlisin ini juga terletak dekat dengan Lippo Plaza, kalian bisa naik Angkutan Umum Link Kuning berkode A,B,O,N,D,dan Q yang melewati Lippo Plaza. Jika ingin cepat sampai, kalian bisa menggunakan Jasa Ojek Konveksional atau Ojek Online.

adem karena dapat cipratan air mancur yang terkena angin
Setelah masuk Gerbang, Mesjid Roudhotul Muchlisin dengan beberapa pohon kurma yang ditanam dekat dengan air mancur. Mendekat ke air mancur dan pohon-pohon kurma tersebut serasa menemukan oase di tengah gurun pasir apalagi pas banget cuaca di Jember siang itu lagi panas-panasnya.

Arsitektur dalam Masjid
bagus banget kan
Saya pun masuk ke dalam masjidnya, dan banyak arsitektur di dalamnya yang membuat takjub. Banyak ornamen-ornamen yang membuat Masjid ini sekilas bernuansa timur tengah, belum lagi adanya Asmaul Husna yang memenuhi Dinding Masjid ini. Di Dinding Depan lantai bawah terdapat tulisan Ayat Suci Al-Qur’an Surat Ar-Rahman dan Al-Waqiah sedangkan di lantai atas terdapat tulisan surat-surat pendek Juz Amma (Juz 30).

Surat Al-Waqiah di dinding masjid
Tertulisnya Surat Ar-Rahman dan Al-Waqiah pada dinding lantai bawah masjid seakan sebuah pengingat bagi para pengunjung disana. Surat Ar-Rahman secara garis besar berisi tentang berbagai Nikmat yang diberikan Allah SWT kepada Manusia dan Jin. Pada Surat Ar-Rahman juga dijelaskan sindiran kepada manusia dan jin yang tidak bersyukur akan nikmat yang telah diberikan namun Allah tetap nikmat tersebut kepada manusia dan Jin. Surat Al-Waqiah ini mengingatkan kita pada kematian dan hari kiamat.

Fasilitas Masjid Roudhotul Muchlisin
Di tiang-tiang dalam masjid ini terdapat rak yang berisi Al-Qur'an dan Kitab-kitab lainnya yang bisa dibaca dengan syarat setelah membaca dikembalikan lagi ditempat semulanya. Disebelah luar terdapat rak penyimpanan sepatu-sendal gratis dan mandiri untuk mengantisipasi hilangnya sendal saat sedang beribadah.

kamar mandi Masjid yang bersih
Kamar Mandi dan Tempat Wudhu ada di sebelah selatan dan terpisah dengan bangunan masjid. Kamar Mandinya ternyata banyak dan bersih. Ini bisa memenuhi kebutuhan pengguna Masjid karena Masjid ini menjadi tempat peristirahatan bagi pengguna jalan lintas Kabupaten Jawa Timur ini. Musafir dan para pelancong bisa mandi dengan nyaman di Masjid Roudhotul Muchlisin.

Area Foodcourt atau Pujasera
Parkiran Masjid Roudhotul Muchlisin mempunyai area parkir yang luas, Masjid ini siap jika dipergunakan menjadi rest area saat arus mudik dan balik serta menjadi persinggahan rombongan wisata yang sedang berkeliling ke Wisata Jember. Jika para pelancong dan musafir lapar, di area parkir terdapat area foodcourt atau pujasera yang menjajakan makanan siap santap. Lengkap rasanya fasilitas Masjid Roudhotul Muchlisin Jember ini untuk para Pelancong dan Musafir yang singgah disini.

Jika mampir ke Jember, coba deh mampir ke Masjid ini. Masjid ini terbuka juga untuk semua agama, dan untuk kenyamanan agar memakai pakaian yang pantas untuk berkunjung ke tempat ibadah.

Menikmati Senja, Bermalam di Foresta Resort Hingga Melihat Aktivitas Pagi Nelayan Pantai Papuma Jember     Edit

Pemandangan Pantai Papuma Jember

Tahun 2010 lalu, saya bersama teman-teman pernah ke Papuma. Datang siang hari dan sempat main-main di Pantai Papuma hanya 2 jam saja. Rasanya kurang sekali, apalagi Papuma itu terkenal sebagai Pantai yang punya keindahan sore dan pagi dengan hiruk pikuk aktivitas nelayan. Nah kemarin tahun 2019, saya bersama komunitas blogger Jember berkesempatan untuk ke Pantai Papuma lagi dan berkesempatan menginap di penginapan satu-satunya yang ada di pinggir Pantai Papuma yaitu Hotel Foresta Papuma.

Kalian tau Pantai Papuma, Papuma itu sebenarnya adalah singkatan dari Pasir Putih Malikan. Sesuai namanya pantai Papuma memiliki pasir putih dan malikan karena ada batu yang terseret ombak bolak balik di pesisir pantai. Kadang batu yang berbolak balik tersebut saling bertumbukan sehingga menimbulkan bunyi yang dapat didengar. Malikan itu sendiri bisa ditemui di pantai Papuma bagian barat.
Rute Menuju ke Pantai Papuma
Cara menuju Pantai Papuma dari kota Jember cukup mudah loh. Dari pusat kota bisa mengarahkan kendaraan ke arah Barat melewati Lippo Plaza Mall sampai bertemu perempatan lampu lalu lintas Pasar Mangli. Ambil ke arah selatan melintasi Jalan Semeru melewati Kecamatan Ambulu dan nanti akan ada petunjuk jalan menuju Pantai Papuma.

Senja Pantai Papuma
mendung kelabu
Kami sampai sore hari, namun cuaca tidak menunjukan tanda-tanda senjanya nanti akan bagus. Mendung kelam, bahkan gunung yang berada di sisi baratnya Papuma berkabut seakan memancarkan aura syahdu dan mistis secara bersamaan. Walau cuaca kurang baik, kami tetap berniat untuk naik ke Bukit Siti Hinggil yang letaknya berada di sebelah barat pantai Papuma. Dari bukit ini kita bisa melihat view menakjubkan pantai Papuma dengan pulau karang yang berserakan di tengah laut. Dari atas bukit saya melihat ombak muter-muter disekitaran Pulau Karang, mungkin karena itulah ada larangan untuk main disekitar pulau karang karena berbahaya jika terseret pusaran ombak disana.

Bermalam di Hotel Foresta Pantai Papuma
Setelah puas menikmati senja dan sore di Bukit Siti Hinggil Papuma, kami turun dan langsung menuju Hotel Foresta, hotel milik Perum Perhutani yang letaknya di area wisata Pantai Papuma. Hotel Foresta Papuma ini sebenernya sudah lama ada bahkan saat waktu saya pertama kali kesini tahun 2010, memang kondisinya agak kurang terawat. Nah waktu saya kesini bulan Juni lalu sudah agak berubah, bangunan-bangunan sudah mulai di renovasi menjadi lebih fresh kembali.

suasana Penginapan Foresta di Papuma malam hari
suasana siang hari penginapan foresta di papuma
Fasilitas standar di semua bangunan di hotel Foresta Papuma ini ada AC dan Televisi seharga Rp. 300.000 permalam saat weekday dan naik menjadi Rp. 400.000 saat Weekend. Ada pula kamar yang diatas kamar standar dengan harga permalam saat weekday seharga Rp. 400.000 dengan fasilitasnya berupa AC, Televisi dan Kulkas serta luasan kamar yang agak luas. Kita juga bisa nambah ekstra bed jika diperlukan.
list harga penginapan Foresta di Papuma

Untuk makanan selama di Papuma tidak usah khawatir ada beberapa warung yang hingga malam hari apalagi saat weekend. Salah satunya adalah Cafe Ever Green yang berada dekat dengan hotel Foresta. Karena dekat laun, makanan yang dijajakan adalah makanan seafood namun juga disediakan makanan jenis lalapan seperti ayam, lele bahkan sampai Nasi Pecel dan Nasi Rawon.

Menikmati Paginya Papuma
Sudah memulai aktivitas sebelum terbit
Lanjut tidur agar bisa bangun agak pagi menyaksikan aktifitas nelayan menurunkan ikan hasil tangkapan yang sudah dimulai dari tengah malam hingga pagi hari. Sedikit demi sedikit merah di langit mulai merekah, para nelayan masih sibuk menurunkan hasil tangkapan ikan yang cukup melimpah hari ini. Karena bumi masih terlihat gelap, penerangannya hanya menggunakan lampu tempel. Dari kapal diangkut menggunakan ember,dari ember dimuat ke dalam mobil para pengepul ikan yang siap mendistribusikan ikan ke pasar di daerah jember dan sekitarnya.

Hasil tangkapan Nelayan Tradisional di Papuma
Matahari terbit di Papuma, Jember
Entah berapa banyak ikan yang dipanen hari ini, puluhan ember putih terisi penuh oleh ikan langsung kosong kembali, namun muatan ikan didalam perahu masih banyak. Langit mulai cerah. Mulai terlihat jelas bahwa banyak sekali Perahu Nelayan Jember yang penuh warna parkir di tepian Pantai Papuma. Saya naik ke atas bukit sebelah timur untuk melihat pemandangan view papuma dari ketinggian. Dari sini juga terlihat kapal-kapal nelayan berbaris rapi.

pemandangan pantai Papuma dari ketinggian
Setelah matahari agak tinggi saya kembali ke hotel Foresta Jember untuk sarapan pagi dan siap-siap melihat acara budaya tahunan di Pantai Watu Ulo. Dengan menginap di Hotel Foresta Papuma ini kita jadi tidak perlu terburu-buru pulang kembali ke kota Jember setelah senja atau berangkat sebelum subuh agar bisa menikmati sunrise di Pantai Papuma.


Ke Jember? Harus Makan Pecel Gudeg Lumintu     Edit

Pecel Gudeg Lumintu

Makanan di Jawa Timur itu bisa dibilang unik, bisa ditemukan makanan yang merupakan kombinasi dua jenis makanan atau lebih. Waktu jalan-jalan di Jember, saya menemukan salah satunya yaitu Pecel Gudeg. Perpaduan Nasi Pecel dengan Gudeg yang merupakan masakan khas Jogja yang bisa kita temukan di Warung Pecel Gudeg Lumintu. Pecel Gudeg Lumintu ini masuk dalam salah satu kuliner jember yang wajib kita cicipi saat berada di Jember.

pemilik lumintu saat ini
Pecel Gudeg Lumintu, kuliner legendarisnya Jember ini sudah berjualan cukup lama. Bahkan saat saya belum lahir, mungkin kalian juga. Sebelumnya Pecel Gudeg ini berjualan di Bondowoso pada tahun 1968, namun pada tahun 1975 pindah berjualan di Jember dan berjualan hingga saat ini. Warung Pecel Gudeg Lumintu ini buka mulai jam 06.00 pagi dan tutup jam 2 siang, namun biasanya sebelum jam 2 siang, Pecel Gudeg sudah habis terbeli.


Rute Menuju Pecel Gudeg Lumintu
Warung Pecel Gudeg ini letaknya cukup strategis, jalan masuknya berada disebrang Lippo Mall atau lebih tepatnya di  Jl. Kerta Negara No.33, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Bisa kalian tempuh dengan menggunakan Ojek Online maupun angkutan umum ke arah Lippo Mall yang berhuruf A,B,O,N,D,Q.

Situasi Warung Pecel Gudeg Lumintu
Pertama kali datang, cukup kaget karena di depan warung cukup ramai, orang-orang ngantri untuk membeli pecel gudeg lumintu dan memakan lebih leluasa di rumah. Saya jadi mengerti beberapa orang menyarankan datang ke Pecel Lumintu tidak jam makan siang, selain antrian yang cukup banyak, bisa-bisa kehabisan.

Komposisi Wajibnya Lumintu
sedang membungkus pecel gudeg lumintu
Porsi 1 piring Pecel Lumintu ini cukup banyak, 1 piring bisa penuh dengan nasi, pecel dan gudeg. Belum lagi ditambah lauk yang kita inginkan. Dalam 1 piring Pecel Gudeg Lumintu terdiri dari pecel (kacang panjang dan kecambah) yang bumbu kacangnya agak pedas, ayam, pindang telor, sayur tewel (nangka muda), sambal goreng krecek dengan kacang tolo, sambal dan rempeyek kacang. Bisa kalian bayangkan seberapa penuh piring jika diisi banyak seperti itu haha. Jika kalian tidak kuat makan porsi banyak, lebih baik untuk minta nasi sedikit atau separuh saja.

penampakan seporsi nasi pecel gudeg lumintu
Gudeg citranya kuat sekali dengan makanan khas Jogja yang rasanya manis, namun Gudeg di Lumintu rasanya tidak manis mungkin menyesuaikan lidah orang-orang Jawa Timur yang tidak begitu suka masakan manis. Saya pun cukup suka gudeg racikan lumintu ini. Daya tarik dari Gudeg Lumintu ini ternyata memasaknya dengan menggunakan tungku kayu bakar yang dimasak sehari sebelum disajikan. Mungkin karena cara masak gudeg yang demikian, bumbunya lebih meresap merata dan disukai banyak orang.

Kalau kalian jalan-jalan ke Jember sempatkan makan Pecel Gudeg Lumintu.

Bani Lumintu foto bareng


Pantai Watu Ulo, Cerita Mitos Heroik dan Budaya Tradisional Pegon     Edit

Pegon Jember di Watu Ulo

Setelah menikmati Pagi di Pantai Papuma, saya bersama Blogger Jember bersiap-siap berangkat Ke Pantai Watu Ulo yang letaknya di sebelah Pantai Papuma. Ada apa di Pantai Watu Ulo?
“Nanti di Pantai Watu Ulo itu ada Mitos Ular Raksasa.
Ada Tradisi Budaya Pegon yang ada 1 tahun sekali. Acaranya hari ini, di kemas dalam Festival Waton (WatuUlo Pegon)”

Pantai Watu Ulo, Pantai Berpasir Hitam dengan garis pantai yang cukup panjang, Ombaknya cukup besar sehingga disini, pengunjung dilarang untuk berenang untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Namun pengunjung bisa menikmati sisa deburan ombak yang sampai di pasir pantai, menikmati kuliner ikan bakarnya. menikmati panorama pantainya juga sisa kisah mitos yang ada di pantainya.

Kisah Mitos Pantai Watu Ulo
Pantai Watu Ulo, Jember ini punya kisah mitos heroik Raden Mursodo yang membelah menjadi tiga bagian Ular Raksasa bernama Nogo Rojo. 3 bagian tersebut dipisahkan di berbagai penjuru pantai selatan Jawa. Ekor di daerah Pacitan, kepala di daerah Banyuwangi, ada yang bilang di Grajagan, ada yang bilang juga di Pulau Mustaka (yang terlihat jelas dari Pantai Mustika Pancer) dan Badan Ularnya berada di Watu Ulo ditandai dengan adanya karang berbentuk seperti badan ular memanjang ke arah laut. Bisa dibayangkan sebesar apa Ularnya?

Tradisi Budaya Pegon di Hari Lebaran Ketupat
Selain kisah mitos tersebut, ada budaya tradisi unik di Pantai Watu Ulo ini. Setelah hari ke 7 (H+7) Hari Raya Idul Fitri, warga sekitar Pantai Watu Ulo ini mempunyai Tradisi bersama-sama pergi ke Pantai bersama keluarga dan kerabatnya membawa makanan yang nantinya di santap bersama di pinggir pantai. Budaya Tradisi ini sudah ada sejak dulu dan mereka pergi bersama-sama dari rumah menggunakan kendaraan yang ada sejak dulu, Pegon. Pegon merupakan Gerobak yang digerakan oleh dua ekor sapi atau kerbau dengan pengendaranya dinamakan “Bajingan”. Saya tidak begitu kaget karena sudah mengenal istilah Bajingan adalah supir dar gerobak sapi di Jogja.

H+7 dikalangan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut juga Lebaran Ketupat dimana dalam tradisi ini keluarga dan kerabat saling berkumpul kembali seperti halnya pada Hari Raya Idul Fitri. Jember sendiri sejak penjajahan Belanda menjadi tempat pilihan berpindah orang-orang sekitar Jawa Timur sehingga tidak aneh jika Jember banyak budaya yang sama dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jember disebut daerah Pandalungan.

makan di bawah pohon pandan di pinggir pantai
Opor Ayam salah satu makanan yang dibawa di festival Waton 
Sampai di Pantai Watu Ulo, masyarakat Jember sudah tumpah ruah disana. Sebagian sudah menggelar tikar di bawah pohon-pohon cemara laut dan pandan laut yang berada di pinggir pantai. Menyantap makanan yang sudah mereka bawa. Saat foto beberapa keluarga yang sedang menyantap makanan, saya ditawari untuk mencicip makanan yang mereka bawa. Saya melihat ada opor ayam dan lontongnya juga Nasi lengkap dengan lauk tempe tahu ayam dan sambalnya. Sambal di Jember ini ternyata enak-enak cita rasanya khas berbeda dengan sambal yang ada di Banyuwangi maupun daerah Jawa Tengah.

Reog Ponorogo
Sambil menyantap makanan, di panggung festival Waton 2019 sudah diadakan beberapa pertunjukan yaitu pertunjukan Reog Ponorogo, juga dilakukan perlombaan memasak Ikan Bakar. Dilakukan sambil menunggu rombongan Pegon yang berangkat dari desa terdekat Pantai Watu Ulo sampai di gapura Wisata Pantai Watu Ulo.

Warga sekitar Pantai Watu Ulo yang menaiki Pegon
Makanan yang disantap nanti di pantai tak lupa di bawa di dalam geropak sapi
Pegon tersebut ternyata dilombakan, para Bajingan atau pemilik Pegon yang berpartisipasi mengiasi Pegon sebagus dan seindah mungkin agar bisa memenangkan perlombaan tersebut. Dari hiasan yang menghiasi Pegon-pegon yang datang ke Pantai watu Ulo terlihat jelas bahwa Jember adalan daerah Pendalungan yang punya berbagai Budaya. Terlepas dari perlombaan, tetap saja tidak melupakan tradisi dari Pegon tersebut. Di dalam Pegon membawa sanak keluarga dan kerabat juga makanan-makanan yang nanti akan disantap di pinggir pantai.  Sambil ngobrol menikmati goyang-goyang ala gerobak sapi hingga sampai di pesisir pantai.

Gunungan Ketupat yang dibawa pawai
ibu-ibu yang dapat ketupat dari gunungan ketupat
Di barisan belakang pawai ada Gunungan Ketupat yang dibawa keatas panggung festival Waton 2019. Gunungan tersebut didoakan bersama dan setelah doa langsung diperebutkan warga. Ketupat yang didoakan tersebut mempunyai berkah tersendiri bagi yang mendapatkannya. Ada yang berbaik hati melemparkan ketupat ke segala arah agar yang di barisan belakang pun bisa kebagian. Dan saat itu baru tau rasanya sakit kelemparan Ketupat haha. Setelah keriwehan perebutan ketupat dan ketpat terbang kesegala arah ditutup oleh acara makan bersama.

Pegon, Gerobak sapi khas Jember
Festival Waton 2019 ini diadakan untuk melestarikan tradisi Pegon yang mulai berkurang karena perubahan zaman. Perubahan dari pergi lebaran ketupat menggunakan Pegon berganti dengan kendaraan mobil. Semoga setiap tahun pelestarian Budaya Tradisi Pegon ini selalu ada.


Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember - Tempat Belajar dan Menikmati Citarasa Enak Sebuah Coklat     Edit

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember

Masih ingat cerita buku sejarah di pelajaran bahwa dahulu Belanda memanfaatkan berkah tanah subur Nusantara salah satunya dengan membuka perkebunan salah satunya di wilayah Jember yang hingga saat ini perkebunan warisan Belanda tersebut masih beroperasi salah satunya adalah Besoekisch Proefstation atau yang kini kita kenal dengan nama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao yang berada di wilayah Perkebunan Renteng , PT. Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII).  Kali ini saya dengan Rekan Blogger Jember Seuger dan Dinas Pariwisata Kabupaten Jember berkesempatan berkunjung dan berwisata ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.

Besoekisch Proefstation adalah nama pertama kali berdirinya Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) pada tanggal 1 Januari 1911. Berarti Penelitian tentang Kopi dan Kakao sudah lama ada di Indonesia, sehingga Kakao dan Kopi dari Indonesia pasti sudah tidak diragukan lagi oleh dunia.


Rute Menuju Pusat Penelitian Kopi dan Kakao dari Kota Jember
Puslit Kakao ini terletak di di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember atau sekitar 20km dari Kota Jember. Banyak yang mengira Puslit Koka ini masuk wilayah Jenggawah karena untuk menuju kesana harus melewati Kecamatan Jenggawah terlebih dahulu. Dari kota Jember menuju ke Perempatan Pasar Mangli ambil ke arah selatan menuju arah Pantai Papuma dan Watu Ulo. Sampai di Kecamatan Jenggawah, Pertigaan setelah Polsek ambil ke kanan atau arah barat, dari situ mulai ada petunjuk jalan menuju Kebun Renteng yang didalamnya ada Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.

Tugu Iconik dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember
Ternyata untuk masuk ke Kawasan Kebun Renteng Puslit Koka, tiket masuknya cukup murah loh. Harga Rp3.000/orang dengan parkir kendaraan motor Rp2.000 dan mobil Rp5.000. Namanya perkebunan, jalan masuknya sudah terlihat pohon-pohon seragam yang didominasi pohon karet dan mahoni, mendekati Puslit Koka mulai terlihat pohon Kakao dan Kopi yang berada di bawah tegakan Mahoni.

Sampai di Komplek Puslit Koka, banyak sekali bangunannya, dari gedung perkantorannya, pabrik pengolahannya, Resto dan pusat oleh-olehnya dan yang paling jelas terlihat adalah Tugu Air Mancur Puslit Koka yang sekilas mirip icon Universal Studio di Singapura :D. Tugu Air Mancur Puslit Koka juga ada tulisan menariknya yaitu Coffe and Cocoa Science Techno Park. Di dekat Tugu tersebut terdapat rimbunan pohon-pohon mahoni dengan bangku meja yang bisa dipakai untukpengunjung bersantai. Pengunjung bisa membuka bekal yang dibawa atau membelinya di warung penjaja makanan minuman yang berjualan di area tersebut.

Keliling Perkebunan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember dengan Kereta
Kami diajak Naik kereta kayu untuk menyelusuri perkebunan, untuk naik keretakayu tersebut pengunjung ditarik biaya Rp10.000 saja. Kami juga diajak keliling melihat proses pengelolaan Kakao menjadi coklat yang siap dimakan atau seduh. Ini pasti menarik karena bagaimana bisa biji masak Kakao yang rasanya masam bisa menjadi produk seenak coklat. Katanya penentu dari cita rasa coklat selain jenis pohon Kakao, dan tempat tumbuhnya juga proses pengolahan tahap awal ketika biji kakao masak dipisahkan dari buahnya, biji di fermentasi. Proses Fermentasi inilah yang katanya juga menentukan akan rasa yang dihasilkan saat menjadi coklat nanti.
Buah Kakao dan Biji yang sudah masak
Fermentasi Biji Kakao
tahapan pengelolaan biji kakao menjadi cokelat
Kami dibawa pemandu melihat-lihat proses pembuatan coklat dan mesin-mesin pembuat coklat dari luar. Walau dari luar, kaca bangunan di desain untuk dapat melihat kedalam sehingga apa yang diterangkan oleh pemandu bisa langsung kami tangkap. Ditunjukan pada proses Pengempaan ada dua produk yang dihasilkan Lemak Kakao yang jika dicampur dengan susu dan gula dengan takaran tertentu akan menjadi produk aneka coklat sedangkan bungkil kakao diolah lagi dengan penghalusan akan menjadi coklat bubuk.
Produk yang dihasilkan dari Pabrik Pembuatan Coklat di Puslit Koka Jember

Resto Kafe dan Pusat Oleh-oleh Coklat Puslik Koka Jember
Setelah keliling pabrik pembuatan coklat, kami diajak masuk ke kafe dan toko oleh-oleh Puslit Koka yang menyediakan berbagai produk coklat buatan Puslit Koka yang bermerek Vicco. Berbagai bentuk dan ukuran yang dijual dengan harga mulai 7.000 hingga lebih dari 25.000. Mereka juga menjual coklat dan kopi dingin siap minum seharga Rp3.000 saja. Coklat dinginnya saya nilai cukup enak, apalagi dengan harga semurah itu rasanya kurang wajar. Memang hanya saja kemasannya kurang menarik sih.
Setelah capek-capek keliling Puslit Koka Jember enaknya minum coklat dingin
Setelah merasakan Coklat dinginnya enak, akhirnya saya memutuskan untuk membeli beberapa jenis coklat untuk dicoba. Enak dan rasanya tidak kalah dengancoklat-coklat yang beredar di pasaran :D. Kalau kalian wisata ke Jember, mampir deh ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao dan beli Coklatnya. Pasti ketagian dan ingin membelinya lagi :D

3 Hari 2 Malam Menyelusuri Wisata Jember     Edit

Keliling Jember
"Di Jember ada apa?"

"Ke Jember enaknya wisata kemana aja?"

Banyak kawan-kawan yang sering bertanya kota yang masuk dalam kawasan ujung timurnya Pulau Jawa bersama Situbondo dan Banyuwangi.  Jember sejak dahulu hingga sekarang menjadi daerah pilihan para pendatang, hanya saja pada setiap era punya alasan berbeda. Dahulu mungkin berdatangan ke Jember karena tertarik dengan hamparan tanah luas untuk berkebun, kini Jember menjadi salah satu kota Pelajar yang mempunyai daya tarik wisata baik wisata alam, budaya, kuliner, dan pendidikan.

Ini kali kedua, saya pergi ke Jember untuk berlibur. Kali ini benar-benar terasa menyelusuri jember dari ujung selatan dan ke utara Jember, semacam puisi yang dibacakan Cinta dalam film AADC, “Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?”. Tempat yang saya kunjungi bersama kawan-kawan blogger Jember Seuger, blogger berbagai kota dan Dinas Pariwisata Kabupaten Jember ini memang melintang menyelusuri hutan, pantai, hutan lagi lalu kembali ke Kota.

Warung Kembang Jember
Sebelum memulai perjalanan 3 hari 2 malam, kami mampir makan siang di Warung Kembang. Warung yang terletak sangat strategis menurut saya, di pinggir jalan menuju ke arah Puslit Kopi dan Kakao juga daerah wisata di selatan Jember seperti Pantai Papuma, Watu Ulo dan Payangan. Warung Kembang mempunyai lokasi parkir yang cukup luas, ruang makan yang dapat menampung banyak tamu. Makanannya pun saya rasa enak, terutama sayur dan sambalnya. Kalau saya ke Jember lagi mungkin akan makan siang ke Warung Kembang lagi. Setelah makan kami memulai perjalanan keliling Jember dengan tujuan destinasi wisata yang menarik ini.

1. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Indonesia.
Terletak di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, tidak jauh sekitar 30 menit dari Kota Jember atau lebih tepatnya di dalam perkebunan Renteng  yang merupakan bagian dari PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII). Datang ke Puslit Kakao dan Kopi ini seru loh, karena kita bisa melakukan wisata pendidikan yaitu belajar tentang proses pembuatan coklat  yang biasa kota makan dari buah tanaman Kakao juga proses pembuatan kopi. Belum lagi ada wahana keliling perkebunan kopi, kakao dan karet menggunakan kereta kayu. Terdapat juga bangku-bangku di bawah tegakan pohon dan taman bermain yang bisa digunakan untuk menyantap makanan yang dibawa dari rumah atau di beli di dalam puslit Kakao dan Kopi.
Hal yang berkesan dari kunjungan ke Puslit Kopi dan Kakao ini adalah adanya pusat oleh-oleh yang produknya berupa kopi dan coklat yang diproduksi mandiri oleh Puslit. Harga oleh-oleh coklat dan kopinya pun terjangkau. Dijamin kalian ga bakal kecewa sama cita rasa coklat olahan Puslit ini. Sampai saat ini saya masih ketagihan dengan coklat dari sana.
Cerita Lengkap tentang Pusat Penelitian Kopi dan Kakao bisa dibaca di sini : Belajar tentang Coklat di Pusat Kopi dan Kakao, Jember

2. Pantai Papuma (Tanjung Papuma).
Pemandangan Pantai Papuma dari ketinggian Pagi Hari
Pantai Papuma, singkatan dari Pantai Pasir Putih Malikan yang berada di selatan Jember. Pantai ini sudah terkenal sekali sejak dulu karena mempunyai batuan karang yang eksotis yang berada di sisi pojok kanan pantai. Kita bisa melihat karang-karang tersebut dengan naik bukit bernama Siti Hinggil. Dari karang-karang yang ada, Karang Kajang paling terkenal karena bentuknya yang segitiga, meruncing ke atas dan paling tinggi. Formasi karang pantai Papuma sering diabadikan indah oleh kalangan fotografer dengan teknik lowspeed yang menyebabkan air yang menabrak formasi batuan karang terlihat lembut seperti kapas.
foto teknik slowspeed Karang Kajang, Papuma
Kami datang sore hari dan rencananya ingin menyaksikan senja dari spot bukit Siti Hinggil. Sayangnya sorenya mendung jadi tidak tampak suasanya kemerahan saat senja karena tertutup kabut dan awan mendung. Namun keeksotisan dan keindahan karang pantai Papuma tetap indah. Kami menginap di penginapan milik Perhutani yang letaknya berada di pinggir pantai Papuma karena akan menyaksikan aktivitas pagi nelayan dan keindahan matahari terbit pantai Tanjung Papuma. Untungnya pagi cerah dan juga ada para nelayan yang menurunkan hasil melautnya di pantai Papuma.

3. Waton (Watu Ulo Pegon)
Pegon, Gerobak Sapi dari Jember
Budaya lahir dari kebiasaan. Jember juga bagian dari wilayah Jawa dan masyarakatnya pun dari masyarakat Jawa dari berbagai daerah. Setiap setelah lebaran, masyarakat Jawa mengenal adanya Hari Lebaran Ketupat yang diadakan hari H+7 setelah Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat Jember terutama di sekitar daerah Watuulo hingga Ambulu mempunyai kebiasaan berkumpul dengan saudara-saudara di tempat wisata dan menyantap ketupat opor atau makanan lain yang mereka siapkan dari Rumah pada Hari Lebaran Ketupat. Dari dulu keberadaan transportasi masih belum modern, mereka menggunakan Gerobak yang di kendarai oleh sapi. Kendaraan tersebut disebut Pegon. Pada saat ini pun keberadaan Pegon masih terus eksis, apalagi Pemda Kabupaten Jember mendukung kelestarian Pegon ini dengan mengadakan  Festival Waton (Watu Ulo Pegon) yang diadakan setelah Hari Raya Idul Fitri. Adanya festival ini juga menjadi Daya Tarik tersendiri untuk para wisatawan dari berbagai Kota atau mungkin Mancanegara yang antusias ingin mengenal Pegon.

Tentang acara Tradisi Pegon ini selengkapnya bisa dibaca di tulisan ini : Pantai Watu Ulo Dan Budaya Tradisi Pegon

4. Wisata Agro Kebun Kopi Rayap
Lorong Jalan Hutan Perkebunan Kopi Rayap
Terletak disebelah utara Kota Jember, di sekitar gunung Argopuro tepatnya di Dusun Darungan, Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. Sama seperti Puslit Kakao dan Kopi. Wisata Agro Kebun Kopi Rayap ini merupakan bagian dari PTPN XII yang terkenal akan produksi kopi robustanya. Kopi Robusta olahan Afdeling Rayap ini sudah diekspor ke Cina dan Amerika. Mengunjungi Agro Wisata Kebun Kopi Rayap ini selain kita bisa menikmati suasana alam perkebunan PTPN XII juga bisa belajar tentang pengelolaan kopi robusta dari pengelolaan yang menarik adalah tes citarasa kopi yang menjadi pengetahuan baru saya kali ini.
Villa di Perkebunan Kopi Rayap
Terdapat Villa dengan arsitektur kolonial belanda masa itu. Rumah tersebut dulunya adalah rumah dinas dari kepala afdeling rayap namun sekarang beralih fungsi menjadi penginapan yang bisa di sewa dengan harga yang terjangkau. Karena 1 kamar bisa di isi maksimal 8 orang saya rasa Villa Koffie Rayap ini cocok sekali untuk acara reunian atau malam keakraban yang diadakan oleh organisasi atau kegiatan mahasiswa.

5. Puncak Rembangan
Pemandangan Pagi di Puncak Rembangan
Wisata yang sudah lama terkenal, Puncak Rembangan tidak banyak berubah. Walaupun begitu Puncak Rembangan masih dianggap anak mudah tempat wisata jember yang hits, terlihat banyak wisatawan lokal untuk sekedar berenang di kolam renangnya, menikmati suasana pegunungan atau sekedar nongkrong di Kafe Rembangan yang harga makanannya terjangkau dan enak menurut saya. Kami datang sore hari dan langit sudah mulai gelap, sehingga pemandangan tidak terlalu terlihat jelas. Untungnya kami menginap di Rembangan sehingga esok paginya bisa menikmati suasana pagi hari di Puncak Rembangan. Dari Puncak Rembangan kita bisa gemerlap lampu kota Jember dan Gunung Raung dari kejauhan. Jika berjalan jalan batu di belakang Hotel Rembangannya bisa melihat pemandangan Gunung Argopuro dengan perkebunan kopi disekitarnya.

6. Museum Tembakau dan Perpustakaannya
Museum Tembakau Kota Jember
Di kota Jember terdapat Museum Menarik yang ada di dalam komplek perkantoran UPT. Pengujian Sertifikasi Mutu Barang Disperindag Provinsi Jatim. Sesuai dengan namanya, Museum Tembakau Jember berisikan tentang segala hal tentang Tembakau, mulai dari asal muasal tembakau hingga persebaran tembakau di Indonesia. Menariknya ternyata saya baru mengetahui ada manfaat lain dari tembakau selain untuk rokok yaitu sebagai parfum, minyak atsiri, sabun, dan bahan pestisida. Di lantai kedua museum terdapat perpustakaan yang menyediakan buku-buku pengetahuan umum juga buku-buku tentang tembakau. Baik perpus dan museumnya interiornya bagus sekali sehingga tidak membosankan untuk foto-foto disana.

7. Bin Cigar Factory
Pabrik Cerutu di Jember, Boss Image Nusantara (BIN) Cigar Factory
Terkenal dengan Kabupaten penghasil Tembakau yang memiliki cita rasa enak, Jember juga mempunyai Cerutu yang tidak kalah terkenalnya. Cerutu tersebut dibuat di BIN Cigar Factory yang letaknya tidak jauh dari pusat Kota Jember tepatnya di Jl. Brawijaya No.3, Krajan, Jubung, Sukorambi, Kabupaten Jember. Cerutu Produksi BIN Cigar ini sudah melalang buana memasuki pasar Cina, Jepang, Turki, Polandia, Malaysia, Amerika dan Siprus namun tidak terlalu terkenal di negeri sendiri. Padahal menurut para penikmat tembakau, Cigar produksi BIN ini mempunyai rasa yang khas. Harga Cerutu Produksi pun beragam, dari harga pukuhan ribu hingga jutaan tergantung kualitas dan citarasa cerutu tersebut. Mengunjungi Bin Cigar Factory, juga bisa melihat pembelajaran mengenai cara pengelolaan Tembakau mulai dari memilih daun yang baik, menggulung daun, hingga ke proses pengepakan. Jika kalian ahli hisap, kalian juga bisa membeli oleh-oleh cerutu untuk dicoba.

8. Pecel Gudeg Lumintu.
Penampakan Pecel Gudeg Lumintu
Perjalanan 3 hari 2 malam Keliling Jember ditutup dengan makan siang Pecel Gudeg Lumintu, salah satu kuliner legendaris Jember yang sudah ada sejak tahun 1975. Namun sebelumnya Pecel Gudeg Lumintu ini sudah berjualan di Bondowoso sejak tahun 1968. Pecel Gudeg Lumintu buka mulai jam 6 pagi biasanya setelah jam makan siang sekitar jam 12 lebih sudah ramai dan berdatangan bahkan bisa saja sudah habis terjual. Spesialnya Pecel Gudeg Lumintu ini menurut saya adalah gudegnya yang gurih dan tidak semanis Gudeg asal kota Jogja. Saya sempat bertanya kepada salah satu pelanggan yang sudah agak sepuh, dia bilang sejak dulu beli pecel lumintu, cita rasa belum pernah berubah. Kalian yang sedang berkunjung ke Jember wajib nyobain Pecel Gudeg Lumintu ini yang letaknya masih di sekitaran Kota Jember.
Selengkapnya tentang Pecel Gudeg Lumintu bisa baca tulisan ini : Kuliner Jember Pecel Gudeg Lumintu


Foto Keluarga Bani Lumintu :D
Ada pertemuan, ada perpisahan. Selesainya makan siang di Pecel Gudeg Lumintu, mau tidak mau teman-teman harus kembali ke kehidupan nyata setelah bersama 3 hari berkeliling Jember. Secara garis besar memang Jember sangat menarik baik wisata alamnya, wisata kulinernya, wisata budayanya, wisata pendidikan terutama wisata pendidikan coklat, kopi dan tembakau yang sudah siap menyambut para wisatawan. Saya harap Pariwisata Jember berkembang dengan senatural mungkin sesuai Tagline Kabupaten Jember, Naturally Jember

Video 3 hari 2 malam di Jember bisa dilihat disini