-->
Showing posts with label wisata solo. Show all posts
Showing posts with label wisata solo. Show all posts

wisata solo

Suasana Eropa Di Gedung Djoeang 45 Solo     Edit


Suasana di Gedung Juang 45 Solo
Kota Solo banyak bangunan yang punya banyak cerita sejarah seperti Kraton Surakarta, Masjid Agung Surakarta, Pasar Gede dan juga banyak bangunan lama bergaya arsitektur khas Eropayang bisa kita temukan di sekitar Kraton Surakarta hingga ke alun-alun selatan. Salah satunya adalah Gedung  Djoeang 45 yang mulai dibuka untuk umum sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Solo.
Gedung Djoeang 45 (Gedung Juang 45) Solo ini dibuka untuk umum pada bulan September 2019 dan kunjungan pun membludak apalagi di hari-hari libur, mungkin pada awalnya pengelola Gedung Juang 45 ini tidak memungut biaya tiket masuk alias gratis. Belum lagi nuansa arsitektur Eropa dari Bangunan Gedung Juang 45 ini bagus untuk foto-foto dan menikmatinya.

Rute Menuju Ke Gedung Djoeang 45 Dari kota Solo
Letak Gedung Juang 45 ini strategis sekali dengan pusat Kota Solo dan wisata Kota Solo lainnya seperti Benteng Vastenburg, Kraton Surakarta, Pusat Grosir Batik Solo, Pasar Gede atau alamat Gedung Djoeang 45 ini berada di Jalan Mayor Sunaryo, Kelurahan Kedung Lembu, Kecamata Pasar Kliwon, Kota Surakarta. Jika kalian menaiki angkutan umum kalian bisa naik Bis BST Solo (Batik Solo Trans) Koridor 8 dan turun di Halte Jalan Mayor Sunaryo atau Gedung Juang 45. Kalau kalian tidak mau menunggu bis BST kalian bisa naik Ojek Online, Taksi, Ojek Pangkalan atau Becak.

untuk masuk ke Gedung Juang 45 Solo, Beli Gelato dulu di Kafenya
Harga Tiket Masuk
Berbeda dengan tahun 2019, pada tahun 2020 ini untuk wisatawan yang ingin masuk ke area tengah Gedung Juang 45 Solo ini diwajibkan untuk membeli Produk Eskrim Gelato dari Gelatoku yang berada pintu masuk ruang utama. Harga paling murah dari Gelatonya yaitu seharga Rp. 15.000 untuk cup gelato kecil dengan dua rasa. Rasa Gelato yang ditawarkan beragam mulai dari bahan buah-buahan seperti Buah Naga, Mint, Jeruk dan bahan-bahan lainnya seperti choco mint, caramel dan lain-lainnya. Masih di dalam ruang depan terdapat foto-foto Gedung Juang 45 tempo dulu serta foto suasana Solo Tempo Dulu.

Ruang depan berisi foto-foto tentang sejarah yang terjadi di Kota Solo
Keluar dari ruang utama kita bisa  zona tengah, ada halaman yang dikelilingi oleh bangunan yang ada di Gedung Djoeang 45 ini. Di halaman tersebut disediakan bangku-bangku taman yang bisa digunakan untuk duduk-duduk santai menikmati Gelato atau camilan yang kita pesan di ruang depan. Disini juga merupakan titik kumpul wisatawan, wisatawan bisa mengambil gambar dengan latar bangunan dengan arsitektur eropa, apalagi jika datang malang hari, lampu temaramnya menyala seakan-akan kembali ke era masa lampau. Ada beberapa zona larangan wisatawan yaitu zona di lantai dua yang mungkin belum sempat direnovasi dan lantai beranda lantai duanya masih menggunakan kayu yang dikhawatirkan akan rusak jika diinjak. Selain itu zona ruang belakang juga tidak diperkenankan masuk kecuali kalian menginap di Gedung Djoeang karena ruang belakang merupakan bagian dari hotel yang dikelola oleh pihak Gedung Djoeang 45 Solo. Sayangnya beberapa fasilitas tambahan yang difungsikan untuk spot foto kurang sesuai dengan kondisi arsitektur sehingga saya malah mengurangi daya tarik dari arsitektur bangunan gaya eropa di Gedung Juang 45 Solo ini. Malah saya berpikir jika ada penyewaan baju klasik ala zaman dahulu malah menarik.
Lampu lampion warna-warni ini menurut saya tidak cocok untuk bangunan gaya eropa
Sejarah Gedung Djoeang 45 Solo dari masa ke masa
Jika dilihat dari Sejarahnya Gedung Djoeang 45 ini sudah mengalami beberapa perubahan. Gedung Ini dibangun tahun 1876 oleh Pemeritah Hindia Belanda sebagai pelengkap dan pendukung dari Benteng Vastenburg yang ada di utara dari Gedung Djoeang ini. Awalnya sebagian gedung ini menjadi kantin lalu menjadi asrama tentara dan fasilitas kesehatan. Setelah kemerdekaan, gedung ini sempat terbengkaai dan akhirnya direnovasi dan pernah menjadi Panti Asuhan, markas kesatuan TNI dan akhirnya menjadi kantor oleh pengurus Dewan Harian Cabang 45 (DHC 45) sehingga Gedung Djoeang ini juga terkenal dengan nama Gedung DHC 45. AKhir Tahun 2019, Gedung ini difungsikan sebagai tempat rekreasi sejarah di Kota Solo.

Suasana  malam di Gedung Djoeang 45 Solo
Menurut saya, dengan diberlakukannya kewajiban membeli Gelato untuk masuk ke area tengah Gedung Djoeang 45 Solo ini bisa mengurangi keramaian pengunjung yang datang sehingga wisatawan yang datang lebih leluasa menikmati suasana Gedung Juang 45 Solo tersebut. Kalau Pandemi Corona ini berakhir dan punya waktu jalan-jalan ke Solo, sempatkan mampir ke Gedung Djoeang 45 Solo ya.


Menghabiskan Malam Di Wedangan Pendopo, Solo     Edit

Wedangan Pendopo Solo

Kuliner malam di Kota Solo itu cukup banyak, terutama makanan-makanan berat seperti tongseng, timlo, nasi liwet dan lainnya. Kita juga bisa memilih untuk nongkrong di Hik (nama lain dari Angkringan di Solo) baik angkringan Solo yang ada di pinggir jalan maupun kafe yang berkonsep angkringan. Seiring berjalannya waktu Angkringan Solo berubah dari yang berjualan diatas gerobak menjadi di sebuah bangunan. Di Solo ada beberapa angkringan kekinian yang seru salah satu yang saya datangi adalah Wedangan Pendopo.

Lokasi Wedangan Pendopo, Solo


Wedangan Pendopo terletak di dekat Mall Solo Paragon tepatnya di Jalan Sri Gading I No.7, Mangkubumen, Banjarsari, Kota Surakarta (Solo). Kalau dilihat-lihat memang lokasi Wedangan Pendopo ini berada tengah pemukiman di pusat kota Solo dan tidak jauh dengan Stasiun Solo Balapan. Wedangan Pendopo ini buka sore hari dari pukul 18.00 hingga 00.00 waktu setempat.

Bangunan utama di Wedangan Pendopo
Di dalam bangunan utama
Wedangan Pendopo terdiri dari dua bangunan, bangunan utama berupa bangunan lama yang didalamnya diisi oleh koleksi-koleksi benda-benda lawas, seperti toples jadul, seterika arang, wayang, topeng, pernak-pernik dari kayu lainnya bahkan ada pula foto kunjungan orang-orang ternama juga artis yang dipajang disini. Bangunan kedua berada di samping bangunan lama yang berbentuk pendopo. Di dalam pendopo ini banyak tersedia makanan ala angkringan atau hik seperti nasi kucing, berbagai macam gorengan, temped an tahu bacem, sate telur puyuh, sate usus dan berbagai sate lainnya. Di bangunan pendopo ini menyediakan tempat duduk lesehan berbeda dengan bangunan lawas yang ada di sebelahnya.
Milih-milih disini ya
Habis milih makanan, jangan lupa bayar dulu.
Setelah memilih-milih makanan dan minuman yang akan dimakan, kita lanjut membayar dan menuju tempat duduk yang dipilih dan masih kosong. Makanan kami tinggalkan di meja kasir karena akan dibakar terlebih dahulu. Karena pada saat itu di bangunan pendopo ramai, kami memilih duduk di bangunan lawas tersebut sambil memandangi benda-benda antik koleksi Wedangan Pendopo. Temanku bercerita, dulu dia pernah mengalami masa sekolah, dimana baju sekolahnya disetrika pakai Setrika Arang. Tunggu panasnya lama, harus bakar arang dulu menjadi bara. Namun aroma agak terbakar yang menempel di baju sekolahnya itu khas bgt. Dia bilang itu adalah aroma ibu. Karena selalu ibu yang menyetrikakan baju sekolahnya sebelum temanku berangkat ke sekolah.  Kalian pernah punya kenangan dengan benda-benda lawas?
Koleksi Toples, botol minuman lawas dan setrika arang
Makanan dan minuman yang kami pesan akhirnya datang. tanpa pikir panjang kami melanjutkan obrolan soal Botol-botol bekas saparella yang sempat saya coba di Jogja beberapa tahun silam di Warung Sidosemi, Kotagede dan beberapa hiasan dinding sambil makan. Sayang jika tidak segera dimakan, mumpung masih hangat. 

Jika sedang berada di Kota Solo, rasanya perlu berkunjung ke angkringan masa kini seperti halnya Wedangan Pendopo. Ajak teman dan ngobrolah ngalor-ngidul hingga malam makin malam.

Rumah Atsiri, Karanganyar - Tempat Edukasi Tentang Tanaman, Manfaat dan Aromanya     Edit

Museum Rumah Atsiri di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar

Dahulu di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah terdapat sebuah pabrik pengolahan minyak atsiri yang lama terbengkalai. Kini pabrik tersebut dipugar sesuai aslinya dan diubah fungsinya dari pabrik penghasil minyak atsiri menjadi tempat edukasi.



Dahulu pabrik pengolahan  minyak atsiri ini dibangun oleh Pemerintah yang bekerja sama dengan Bulgaria. Pembangunan pabrik ini dimulai pada tahun 1963, selesai pada tahun 1967 dan langsung dilakukan uji coba produksi langsung yang dipantai oleh tenaga ahli dari Bulgaria. Bahan minyak atsiri dari tanaman Serai Wangi (Citronella). Dipilih tanaman Serai Wangi karena berpotensi tumbuh disekitar lokasi pabrik apalagi di sekitar Gunung Lawu. Selanjutnya ditanam tanaman lain yang bisa diolah menjadi minyak atsiri.

Rute Menuju Rumah Atsiri Dari Solo



pertigaan sebelum terminal tawangmangu, belok kanan. Ada plang petunjuk jalannya
Untuk menuju Rumah Atsiri dari kota Solo cukup mudah, hanya menempuh perjalanan 1 jam perjalanan saja. Dari Kota Solo ambil arah ke Tawangmangu, Karanganyar meewati pusat Kota Karanganyar, alun-alun karanganyar lalu diperjalanan ikuti petunjuk arah ke Grojogan Sewu atau Telaga Sarangan karena Rumah Atsiri letaknya gampang terlihat di jalan utama menuju objek wisata tersebut tepatnya di sebelum Terminal Tawangmangu. Bisa juga mengacu pada googlemap karena titik koordinasi lokasinya sudah valid.

Guide gratis Rumah Atsiri (baju merah dengan rompi safari)
Untuk masuk ke museum Rumah Atsiri perorang ditarik biaya Rp. 50.000 dengan Rp. 15.000 untuk biaya masuk Museum dan Tamannya dan Rp.35.000 nanti bisa digunakan untuk belanja oleh-oleh atau makan di cafeteria yang ada di komplek museum Rumah Atsiri. Sebelum masuk ke Taman Rumah Atsiri lebih baik ikut pemandu “Gratis” yang disediakan Rumah Atsiri agar masuk ke taman Rumah Atsiri bisa mendapatkan ilmu bermanfaat tentang tanaman penghasil minyak atsiri bukan hanya sekedar foto-foto bagus saja. Jadwal Guide  mulai jam  11.00 sampai dengan jam 16.00 hanya di hari sabtu dan minggu atau bisa dilihat di loket pembelian tiket masuk atau bisa bertanya petugas.

Taman Outdoor dan Rumah Kaca
ayun lagi ngedus aroma rosemary
Awal memasuki Taman Museum Rumah Atsiri ada dua area, area outdoor dan area rumah kaca. Pertama kita diajak keliling area outdor dan dikenalkan berbagai tanaman yang sering dengar namanya namun baru pertama kali liat tanamannya haha. Jika kita perhatikan lebih dekat beberapa tanaman punya aroma menarik ketika kita sentuh atau hirup dekat-dekat. Beberapa tanaman aromanya menyenangkan seperti tanaman Rosemary. Jika disentuh, aromanya keluar dan menempel ditangan yang lebih enak ketika pasca hujan, aromanya meyerbak terbawa angin bersama aroma petrichor. Tanaman kedua adalah tanaman Chocomint. Tanaman ini merupakan tanaman mint yang aromanya becampur dengan warna coklat. Pelan-pelan saya hirup, aromanya seperti aroma permen karet rasa coklat atau mencium bau harum milkshake coklat.
ini lagi keasikan hirup aromanya chocomint

Di taman outdoor, berbagai jenis kupu-kupu beterbangan kesana kemari dan sepintas di dominasi oleh kupu-kupu warna hijau dan kuning. Dominan ditemukan ditanaman yang sedang berbunga. Kami juga sempat membuat foto makro kupu-kupu dengan smartphone maupun dengan kamera. Selain kupu-kupu juga ditemukan banyak Tawon, jadi hati-hati dan agar tidak mengganggu tawon yang berakhir dengan disengat. Rasanya nyeri dan pegel-pegel gimana gitu, itu juga kalau disengat satu, belum kalau tawon yang lain ikut menyengat juga haha.
lagi sibuk motoin kupu-kupu 
Berlanjut ke area rumah kaca, di dalam rumah kaca ada jalan setapak dibawah dan jembatan melayang. Didalam rumah kaca dominan ditumbuhi oleh tanaman Serai Wangi atau Akar Wangi yang menjadi komoditas utama dari sejarah pengolahan minyak atsiri dulu di pabrik ini. Di beberapa sudut rumah kaca ini menarik terutama di jembatan melayangnya yang bisa dijadikan spot untuk berfoto.
Di dalam Rumah Kaca, dominan ditanam Serai Wangi
Setelah dari Rumah kaca, lanjut ke bangunan utama Museum Rumah Atsiri lewat koridor jembatan. Di dalam bangunan utama tersebut terlihat beberapa ruang meeting room, ruang laboratorium untuk tempat edukasi atau paket kelas pengetahuan yang ditawarkan oleh pihak pengelola. Selain itu di bangunan utama ada tempat menjual cinderamata atau oleh-oleh. Baik makanan yang berbahan baku dari tanaman yang ditanam, minyak aroma terapi, kaos, gantungan kunci bahkan beberapa bibit tanaman. Saya tertarik dan membeli dengan tanaman Rosemary dan chocomint untuk dibawa pulang dan dipelihara di Banyuwangi.
Oleh-oleh bibit tanaman yang bisa dibawa Pulang
Dari capek keliling museum Rumah Atsiri, kita bisa mampir ke kafetaria yang berada bangunan utamanya. Menu makanan-minumannya kebanyakan berasal dari tanaman budidaya yang ada di museum. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp.10.000 sampai Rp. 50.000. Kafetaria juga bisa dijadikan spot foto yang menarik karena terdapat taman yang ditumbuhi tanaman dan bunga serta bangunan dengan konsep industrial.
habis keliling Museum Rumah Atsiri, mampir ke Kafetarianya
Mengunjungi kota Solo tidak ada salahnya melipir ke Kabupaten Karanganyar karena disana banyak objek wisata yang menarik terutama wisata alam dan pendidikan seperti halnya Museum Rumah Atsiri. Dengan mengunjungi Museum Rumat Atsiri ini, saya mendapatkan banyak ilmu baru soal tanaman-tanaman herba yang bermanfaat dan mengeluarkan aroma khasnya.

Kuliner Legendaris - Es Kapal Perempatan Baron, Solo     Edit

Es Kapal Perempatan Baron

Setiap mampir ke Solo, ada minuman yang harus saya cicipi. Bukan minuman mahal dan berkhasiat khusus kok, hanya saja minuman tersebut istimewa karena merupakan jajanan semasa kecil dan mungkin jajanan masa kecil kalian juga. Namanya Es Kapal.

Es Kapal merupakan salah satu jajanan unik tempo dulu yang berada di Kota Solo. Katanya jajanan ini mulai menampakan dirinya pada tahun 80-90an, dan akhirnya pada era sekarang ini hanya bertahan beberapa penjual saja yaitu Es Kapal Di Dalam Taman Sri Wedari dan yang kali ini saya coba berjualan di sekitar perempatan Baron.

Rute Menuju Warung Es Kapal Perempatan Baron.
Rute menuju Warung Es Kapal Perempatan Baron cukup mudah kok. Letak Warung Es Kapal Baron berada di pusat kota. Biasanya jika menggunakan kendaraan pribadi , Jalan Slamet Riyadi pertigaan Lapangan Sri Wedari ambil ke selatan ke jalan Bhayangkara, ikuti jalan tersebut hingga bertemu perempatan besar (perempatan Baron) ambil ke arah barat ke Jalan Dr. Rajiman. Sekitar 100 meter   sebelah kanan (jalur lambat) dari perempatan tersebut ada warung kecil bergerobak biru di sebelah kantor Koramil atau disebrang kantor Polsek Laweyan. Kalian bisa mengikuti Gmaps atau  agar lebih mudah bisa naik Becak, Ojek Pangkalan atau Ojek Online.

warung kecil dan gerobak Es Kapal Berbentuk Kapal milik Pak Widodo
Es Kapal Perempatan Baron merupakan salah satu kuliner Solo yang Legendaris. Pemiliknya bernama Pak Widodo, beliau sudah berjualan Es Kapal sejak tahun 1972 dengan cara berkeliling. Dia berkeliling dengan Gerobaknya yang bermoncong berbentuk kapal sehingga karena bentuk gerobak mirip dengan Kapal, Es tersebut disebut Es Kapal. Akhirnya pada tahun 1980, Pak Widodo berhenti berjualan keliling dan menetap berjualan di pohon Beringin yang ada di tepi perempatan Baron (pada tahun tersebut ada Hotel bernama Baron di sekitar perempatan tersebut). Pada Tahun 2016 hingga sekarang, Es Kapal Perempatan Baron milik pak Widodo ini pindah kembali, bergeser  ke arah Barat 100 meter dari bawah pohon beringin dan menempati  salah satu warung kecil.

Penyajian Es Kapal
Es Kapal bentuknya adalah sebuah Minuman dari Santan dengan campuran sedikit rasa coklat, minuman tersebut ditampung dalam panci berukuran besar yang didalamnya terdapat es besar dan es yang diserut secara berkala oleh pak Widodo. Cara penyajiannya juga klasik dan menarik, minuman dituangkan dalam gelas kaca besar khas tahun 90an, ditambah coklat kembali dan ditutup dengan sebuah roti tawar diatas gelasnya. Roti tersebut nantinya dimakan dengan cara menyelupkannya kedalam Es Kapal lalu memakannya, nikmat sekali rasanya. Sensasinya berbeda sekali dengan memakan roti tawar dengan memakai misis atau selai. Di Warung Es Kapal ini juga menjual makanan lain selain roti, kalian bisa menemukan jajanan pasar seperti arem-arem dan beberapa jenis gorengan yang enak disantap bersama Es Kapal.

Pak Widodo sedang menyerut es secara berkala
Warung ini buka sekitar jam 9 pagi hingga Es Kapal habis, biasanya jika Solo sedang panas-panasnya, sebelum jam 3 sore, Es Kapal sudah habis, jika agak mendung atau hujan, biasanya Sore hari Es Kapal masih ada dan tersedia. Satu Gelas Es Kapal Perempatan Baron ini bisa dibeli seharga Rp.5000 saja. Cukup murah dan bisa melepas dahaga dan melawan hawa panas kota Solo.

Kalau kalian ke Solo, jangan lupa mampir dan bernostalgia dengan Es Kapal, jajanan masa kecil dahulu.
Cara Menikmati Es Kapal Solo


Rumah Turi - Penginapan Eco Friendly Di Tengah Kota Solo     Edit



Ke Solo dadakan, dan sendiri.
Di perjalanan menuju kota Solo, saya masih belum mendapatkan tempat menginap. Karena tiba di Solo malam hari, saya mencari penginapan yang dekat dengan stasiun Solo Balapan. Lihatlah gambar sebuah penginapan yang hijau, penuh dengan tanaman di setiap sudutlah. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, saya langsung memutuskan untuk menginap disana, di Rumah Turi.

Pukul  10 malam, akhirnya tiba di Solo Balapan dan langsung pergi menuju Rumah Turi yang letaknya ternyata tidak jauh dari Stasiun Solo Balapan dan sangat dekat dengan Mall Solo Paragon. Atau lebih tepatnya beralamat di Jalan Srigading II 12 Turisari, Mangkubumen, Kota Surakarta.

Ruang Makan dan Perpus Mini
Kesan Pertama
Saya terkesima saat memasuki Rumah Turi ini, Bangunan bergaya klasik dengan banyak ornamen-ornamen kayu dan dinding bangunan dibuat unfinished wall dengan pewarnaan yang pas. Dengan cahaya lampu yang temaram membuat kesan Rumah Turi terasa wow. Ada dua bangunan yang masing-masing berlantai dua, bangunan bagian depan merupakan sebuah tempat makan yang disusun menarik dan terdapat perpustakaan mini yang memuat segala hal tentang tanaman dan arsitekturnya dan di lantai atasnya berupa tempat seperti joglo untuk tempat bersantai . Bangunan kedua yang berada dibelakang merupakan kamar-kamar untuk tamu menginap. Dari Bangunan Pertama menuju Lobby, melewati halaman tengah yang terlihat samar penuh sekali dengan tanaman. Karena sudah terlalu malam, saya tidak mengeksplorasi lebih jauh, lalu segera masuk ke kamar, mandi dan tidur.

Kamar Hotel Turi
Kamar
Saya menyewa kamar standar dengan luas kamar sekitar 4x5 atau 5x5. Kamarnya nyaman sekali, ventilasinya kawat anti nyamuk, sehingga nyamuk-nyamuk tidak bisa masuk selama pintu kamar ditutup rapat. Kamar mandi pun cukup luas. Interior kamar maupun kamar mandi terlihat bergaya klasik, ornament dari kayu dan warna yang dipilih terasa pas sekali untuk dipandang.

Hujan Buatan di Rumah Turi, Solo
Hotel Ramah Lingkungan
Setelah tidur cukup nyenyak, saya melakukan explorasi kecil-kecilan dengan keliling hotel pada pagi harinya. Sejuk sekali, suara gemerincik air memenuhi sampai ke pojok-pojok ruangan Rumah Turi. Salah satu pegawai Rumah Turi yang bertugas merawat tanaman menyapa saya.
“mas mau lihat hujan buatan khas Rumah Turi?”
“hujan buatan? pikirku bingung.”
Beliau pun segera menekan sebuah saklar yang membuat sebuah pompa air menyala. Perlahan-lahan dari atas genteng rumah Turi keluarlah air, yah jatuhnya rata, persis seperti air hujan. Air pun keluar dari bawah jembatan yang menghubungkan antar bangunan di lantai dua. Beliau menjelaskan bahwa air hujan buatan ini merupakan sistem penyiraman tanaman yang ada di Rumah Turi. Airnya menggunakan sumur resapan dari air yang digunakan tamu untuk mandi. Air tersebut melewati 3 (tiga) penyaringan sumur resapan untuk memisahkan busa sabun dan kotoran hingga akhirnya air siap untuk digunakan untuk penyiraman tanaman Rumah Turi yang jumlahnya cukup banyak.

Joglo Bersantai di Lantai Atas
Lorong hijau penghubung Antar Bangunan

Di kamar  yang saya pakai, terdapat ventilasi kaca yang bisa dibuka jika ingin merasakan angin sepoi-sepoi dari luar. Bangunan Rumah Turi bagian depan, yang merupakan tempat makan,  jendelanya sangat fleksibel. Bisa dibuka semua secara vertical ke atas sehingga tempat makan dari Rumah Turi ini tidak membutuhkan AC sebagai pendingin ruangan. Di lantai atas bangunan depan terdapat joglo tanpa dinding yang membuat udara sejuk dari pohon dan tanaman di Rumah Turi bisa dirasakan saat bersantai di Joglo tersebut. Sambil bersantai, kita bisa mencoba belajar dan memaikan seperangkat gamelan yang ada disana.

Sarapan di Rumah Turi
Makanan
Makanan yang disajikan oleh Rumah Turi bukanlah prasmanan seperti halnya penginapan lainnya, setiap hari berbeda. Saat saya menginap, menunya sederhana yaitu nasi, ayam goreng, tempe dan sayur lodeh. Saya memilih sarapan di luar ruangan agar lebih merasakan hawa sejuk pagi hari di kota Solo. Mengambil satu buku menarik dari rak perpustakaan mininya untuk dibaca sembari makan. Sayur lodeh yang disajikan hangat ini ternyata enak dan sedap.  Biasanya saya tidak berekspetasi tinggi dengan makanan di penginapan tapi sayur lodeh buatan Rumah Turi ini bener-bener enak.
Rumah Turi serasa rumah sendiri
Beberapa kekurangannya mungkin menurut saya kurang adalah Wifi yang kadang suka tersendat-sendat namun secara keseluruhan saya cukup puas menginap di Rumah Turi ini. Belajar tentang tanaman dan desain rumah ramah lingkungan dan pembuatan sistem sumur resapan. Lingkungan yang tenang juga asri membuat istirahat setelah perjalanan 12 jam serasa nyaman. Rasanya ingin sekali mempunyai rumah berkonsep seperti Rumah Turi suatu saat nanti.. Aamiin

Rumah Turi
The first and only Eco-friendly Boutique Hotel in Solo
Jl. Srigading II no. 12 Turisari,
Solo 57139,
Jawa Tengah, Indonesia.

Phone : 62 271 736606
Fax : 62 271 712928

Cafe Tiga Tjeret, Solo - Angkringan Berkonsep ala Kafe     Edit

saat memilih makanan di Cafe Tiga Tjeret Solo

Masih di Seputaran Solo dan Sekitarnya. Kuliner Solo itu beragam salah satu yang identik dari Kota Solo adalah Hik namun lebih terkenal Angkringan. Mudah sekali menemukan Hik/Angkringan di Kota Solo, hampir setiap sudutnya ada. Gerobak khasnya mudah sekali terlihat dengan lampu remang-remang berwana oren kekuningannya. Kapasitas tempat duduk di samping gerobaknya sangat sedikit makanya hik/angkringan biasanya juga menyediakan tikar lesehan untung para pembeli yang lebih senang duduk lesehan bersama teman-temannya. Seiring berjalannya waktu Angkringan mulai berkembang terutama dalam hal menyamankan para penikmatnya dan di Kota Solo ada beberapa Hik atau Angkringan yang memiliki suasana nyaman dan cozy apalagi untuk makan bersama keluarga, salah satunya adalah Cafe Tiga Tjeret.

Cafe Tiga Tjeret ini merupakan kafe yang mengambil konsep dari angkringan. Dalam hal penamaannya pun demikian, Tiga Tjeret diambil dari identitas angkringan yang biasanya selalu ada 3 Ceret diatas anglonya. Tempatnya Nyaman membuat saya akhirnya mengajak keluarga yang sedang singgah di kota Solo untuk makan malam disana.
Cafe Tiga Tjeret Tampak Depan dari Jalan
Rute Menuju Cafe Tiga Tjeret
Cafe ini letaknya berada di pusat kota Solo atau lebih tepatnya di Jalan Ronggowarsito No.97, Keprabon, Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Cafe Tiga Ceret ini letaknya strategis Jalan ini berada di jalan searah menuju jalan Slamet Riyadi melewati Pura Mangkunegara. Jika kalian bawa kendaraan pribadi ikuti Jalan searah ke Slamat Riyadi, Ketemu Patung Slamet Riyadi keambil Kiri, lalu Lampu Lalu Lintas Bank Indonesia ambil Kiri memasuki Jalan Ronggiwarsito. Ikuti jalan tersebut sampai menemukan kanan jalan halaman belakang Pura Mangkunegara, Cafe Tiga Tjeret ada di kiri jalan.
tempat makan di bawah
tempat makan di lantai 2
Pertama kali datang kita memilih tempat terlebih dahulu, karena memilih makanannya akan lama karena sangat banyak jenis makanannya. Desain Interior Cafe Tiga Tjeret ini berkonsep Urban dan menarik apalagi untuk Kawula Muda.  Setelah memilih tempat duduk kami kembali ke depan karena di Kafe ini layaknya angkringan kita harus memilih makanan kita sendiri yang ingin kira makan (Self Service).  Pertama kali saya melihat dulu makanan yang dijajakan dari ujung dan bertanya kepada pelayan yang sudah siap menerangkan jenis-jenis makanan ala tempura dan sate yang jumlahnya beragam. Setelah memilih nasi dan lauknya, lalu kita terus bergeser ke meja kasir untuk dihitung dan menyebut nomor Meja yang telah kita pilih, di meja kasir ini kita juga memilih minuman yang jenisnya cukup beragam. Dari mulai jenis wedang-wedangan, teh, kopi, es jeruk bahkan sampai ke milkshake. Setelah pesanan dicatat kasir, pelayan yang lain menawarkan jasa untuk membakar lauk dan nasi yang kita pesan seperti halnya di angkringan biasanya.

Lauk-lauknya
Ragam pilihan Nasi Kucingnya
Saya memilih mengambil nasi satu saja dan mengambil berbagai jenis lauk lebih banyak, begitupula dengan adik saya yang lebih antusias dengan banyaknya jenis lauk yang menarik untuk dicicip. Kami memilih lauk yang berbeda karena nantinya bisa saling cicip hehe. Sambil menyicip hidangan, ternyata saat Jum’at Malam terdapat live musik dan yang bernyanyi merupakan Band yang antusias dengan the Beatles bahkan dandanannya pun ala-ala the Beatles. Sepertinya bapak dan ibu sangat familiar dengan musik lawas The Beatles ini.
live musik The Beatles dinyanyikan mereka
Makanan sudah habis, minuman pun mulai habis. Saya kembali memesan minuman sedangkan adik-adik pergi untuk foto-foto dengan background interior di lantai dua yang lebih menarik. Tak terasa sudah dua jam disana dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Untuk Makan yang kami berlima pesan di Cafe Tiga Tjeret ini menghabiskan Rp. 250.000-an jadi perorang itungannya Rp. 50.000. Menurut saya harga tersebut masih terjangkau dan standar kafe apalagi makanan yang kami ambil terbilang cukup banyak :D.

Cafe ini buka jam 11 siang – 1 malam. Mampir ke kota Solo cobalah Cafe Tiga Tjeret ini, Jangan sendirian ajak keluarga, teman dekat atau kenalanmu biar makanmu jadi lebih seru.
foto sebelum makan

Pabrik Gula Colomadu, Destinasi Wisata Sejarah Baru di Solo Raya     Edit

Muka depan Pabrik Gula Colomadu

Daerah Solo dan sekitarnya mempunyai peninggalan sejarah dan bangunan masa lampau yang cukup banyak. Salah satunya adalah Pabrik Gula Colomadu yang terkenal terutama dikalangan Asia sebagai Pabrik Gula terbesar Se-Asia. Pabrik Gula Colomadu belakangan ini jadi pembicaraan hangat karena telah menjadi tujuan destinasi warga Solo dan sekitarnya karena proses Revitalisasi Pabrik Gula Colomadu sudah hampir selesai.

De Tjolomadoe adalah nama baru bagi Pabrik Gula Colomadu pasca revitalisasi yang dilakukan oleh sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), di antaranya PT Pembangunan Perumahan (PP), PT Perkebunan Nusantara, PT Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan, Borobudur dan Ratu Boko serta PT Jasa Marga Properti.  Pasca Revitalisasi tersebut Pabrik Gula Colomadu akan menjadi destinasi wisata heritage dan Sejarah Baru di Solo Raya.

Sejarah Pabrik Gula Colomadu
Pabrik Gula Colomadu sebelum Revitalisasi
Pabrik Gula Colomadu ini dibangun oleh Mangkunegaran IV dengan mengeluarkan 400.000 Gulden. Awal pembangunan dibangun Pada hari Minggu, 8 Desember 1861. Pada tanggal tersebut dilakukan peletakan batu pertama oleh seorang ahli berkebangsaan Jerman bernama R. Kampf yang diperintahkan oleh Mangkunegaran IV untuk membangun pabrik gula tersebut. Pabrik Gula tersebut diberi nama Colomadu, nama jawa yang memiliki arti Gunung Madu. Nama itu mengandung makna harapan agar kehadiran pabrik gula menjadi simpanan kekayaan dalam bentuk gula pasir yang menyerupai gunung. Pada tahun 1862 Pabrik Gula Colomadu  mulai berproduksi. Pabrik Gula Colomadu telah berorientasi ke masa depan karena menggunakan instalasi standar pabrik gula di masa itu. Hasil panen tahun pertama perkebunan tebu seluas ±95 hektar mampu menghasilkan ±3.700 kuintal gula

Rute Menuju Pabrik Gula Colomadu
Kemarin saya berkesempatan mampir sebentar ke Solo untuk jalan-jalan ke Pabrik Gula Colomadu. Secara administrasi wilayah, Pabrik Gula Colomadu masuk dalam Kabupaten Karanganyar tepatnya di Jalan Adi Sucipto No.165, Malangjiwan, Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Namun Letak pabrik Gula ini tidak jauh dari Stasiun Purwosari atau Bandara Adi Soemarmo, Solo (sekitar  15-20 menit).  Kalian bisa taxi, ojek baik konveksional maupun online. Jika kalian kendaraan umum dari arah Klaten atau Boyolali bisa turun di pertigaan Tugu Kartosuro lalu cari ojek yang bisa mengantarkan kalian ke Pabrik Gula Colomadu. Untuk saat ini memasuki area Pabrik Gula Colomadu baru dipungut biaya parkir kendaraan saja, untuk masuk ke dalam Pabrik Gula ini belum dikenakan biaya karena masih ada beberapa area pabrik yang masih dalam proses revitalisasi. Namun setelah area Pabrik Gula Colomadu sudah selesai 100% akan dipungut biaya masuk yang jumlahnya masih belum diketahui.

taman depan Pabrik Gula Colomadu
Dilihat dari luar Bangunan De Tjolomadoe sangat menarik, halaman depan terdapat tulisan besar De Tjolomadoe sebagai indentitas dan landmark tempat tersebut. Masuk kedalam ada taman yang cukup luas dengan bangku dan lampu taman bergaya eropa. Sayangnya saya datang sore hari sehingga tidak melihat temaram lampu taman depan Pabrik Gula Colomadu. Di samping bangunan utama terdapat taman bunga kecil dan parkir kendaraan mobil dan motor yang cukup luas. Pengelola dan pengembang De Tjolomadoe ini sudah memprediksi bahwa destinasi wisata ini akan ramai dikunjungi.
Landmark tulisan di depan 
Stasiun Gilingan
Bagian dalam pabrik Gula setelah revitalisasi cukup megah. Bagian dalamnya dibagi dalam beberapa ruangan yang disebut Stasiun. Stasiun tersebut bernama Stasiun Gilingan, Karbonatasi, Ketelan, dan Penguapan. Penamaan stasiun-stasiun tersebut mengikuti mesin yang ada di lokasi stasiun tersebut. Mesin-mesin yang ada di Stasiun tersebut juga ikut direvitalisasi kembali lalu dicat kembali dengan warna silver. Namun ada beberapa bagian mesin yang tidak dicat dan dipertahankan warna kuning dengan bercak karatnya sebagai bukti bahwa pabrik gula ini telah ada sejak tahun 1861.

Stasiun Penguapan
pintu masuk stasiun Ketelan
Basali Cafe
Stasiun-stasiun tersebut juga tidak sepenuhnya semua berisikan mesin-mesin pembuat Gula. Pada stasiun Gilingan terdapat area informasi berupa foto-foto Pabrik Gula sebelum dan sesudah revitalisasi. Pada Stasiun Karbonatasi menjadi pusat oleh-oleh dan kerajinan, Stasiun Ketelan terdapat street food yang menjajakan makanan dan minuman, juga terdapat semacam aula untuk memamerkan karya. Stasiun Penguapan dengan mesin penguapan yang sangat tinggi dan besar, disisi lain dari mesinnya terdapai kedai kopi “Tjolo Koffie dan di ruang sebelah Stasiun Penguapan ini terdapat Besali Café yang mempunyai kapasitas dan ruangan cukup luas untuk menampung banyak pengunjung. Bentuk Cafenya yang berletter U membuat saya mebayangkan, apa tempat ini adalah tempat para pekerja untuk istirahat dan mengambil jatah makan mereka. Pada stasiun Penguapan juga terdapat Concert Hall yang megah. Sayangnya pada saat itu ruangan ini tidak dibuka sehingga hanya bisa melihat pintunya saja.

Taman Samping Gedung Pabrik Gula Colomadu
De Tjolomadoe atau Pabrik Gula Colomadu ini layak sekali kalian kunjungi baik untuk tujuan wisata pendidikan dan sejarah maupun wisata foto-foto karena arsitektur Pabrik Gula Colomadu sangat asik buat foto-foto. Saya merekomendasikan untuk datang sore hari karena cahaya matahari tidak terlalu terik sehingga bisa foto-foto di halaman depan dengan latar belakang bangunan Pabrik Gula Colomadu.

Untuk menuju menjadi wisata pendidikan dan sejarah, pihak pengelola pastinya harus menyediakan papan informasi, media Interaktif dan pemandu yang bisa menjelaskan setiap sudut dari Pabrik Gula ini sehingga pengunjung selain mendapatkan kesenangan juga mendapatkan ilmu pengetahuan baru seputar Pabrik Gula Colomadu.


thank sudah menemani ke De Tjolomadoe