-->
Showing posts with label budaya banyuwangi. Show all posts
Showing posts with label budaya banyuwangi. Show all posts

budaya banyuwangi

Selain Di Festival Gandrung Sewu, Di Tempat Ini Kalian Bisa Menyaksikan Tari Gandrung     Edit

Gandrung Sewu, Banyuwangi
Tari Gandrung, merupakan tarian khas Kabupaten Banyuwangi yang paling dikenal. Beberapa tahun belakangan ini beberapa kali muncul di event Nasional dan Internasional. Tariannya memang memikat, apalagi kostum dominan berwarna merah dan gerakan-gerakan tari yang menarik, mengajak mata kita untuk terus disaksikan hingga akhir pementasannya. Untuk menyaksikan Tari Gandrung ini kalian bisa datang ke Event Pertunjukan Kolosal Tari Gandrung Sewu yang setiap tahunnya diadakan di Pantai Boom Banyuwangi. Pertunjukan Tari Gandrung Sewu ini menarik karena penarinya berjumlah lebih dari Seribu. Tahun 2018, jumlah penari Gandrungnya berjumlah  1.173 penari, untuk Gandrung Sewu 2019 masih belum ada keterangan akan ada seberapa banyak penari Gandrung yang dilibatkan.

Selain menyaksikan pertunjukan Tari Gandrung di Festival Gandrung Sewu, ada beberapa tempat yang menggelar pertunjukan Tari Gandrung di Banyuwangi secara Rutin. Tenang aja bukan di lokasi kisah Desa KKN Penari haha. Mari disimak lokasi-lokasi Pementasan Tari Gandrung Banyuwangi di bawah ini:

1. Taman Gandrung Terakota.
Sendratari Meras Gandrung di Taman Gandrung Terakota
Taman Gandrung Terakota merupakan taman buatan yang berada di Hotel Java Jiwa Resort Ijen yang terletak di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi atau dekat dengan Jalur Utama ke Pos Pendakian Ijen. Disini ada pementasan Tari Gandrung. Tahun 2019 ini, Tari Gandrung dikemas dalam Sendratari Meras Gandrung dimana Meras Gandrung ini adalah salah satu prosesi penting para penari gandrung sebelum menjadi penari Gandrung Sebenarnya.

Jadwal Sendratari Meras Gandrung 2019 di Taman Gandrung Terakota
Untuk menyaksikan Sendratari Meras Gandrung di Taman Gandrung Terakota bisa datang ke Taman tersebut pada tanggal yang telah ditentukan dan membayar harga tiket seharga Rp. 100.000. Selain bisa menyaksikan Sendratari Meras Gandrung, kita juga bisa merasakan suasana sejuk dan syahdu dari Taman Gandrung Terakota yang letaknya di kaki Gunung Merapi Ungup-Ungup (Kawah Ijen). untuk jadwal pertunjukan tari gandrung bisa dilihat gambar diatas ya.

2. Rumah Makan Kemarang
Pementasan Gandrung di Warung Kemarang
Warung Kemarang terletak di Jalur alternatif ke Pos Pendakian Kawah Ijen, sebelah baratnya Desa Kemiren. Warung Kemarang ini adalah Warung dengan bangunan khas suku Osing dan view pemandangan sawah yang menjajakan berbagai jenis makanan khas Banyuwangi dan Suku Osing. Menu makanan khas yang disajikan cukup lengkap dari Jajanan Pasar, hingga makanan Berat seperti NAsi Tempong, Rujak Soto, Pecel Pitik, Uyah Asem dan lain-lainnya. Di warung Kemarang ini terdapat jadwal pementasan seni secara rutin yaitu Tari Paju Gandrung, Barong Emas, Gamelang Angklung dan Angklung Paglak. Untuk pementasan Barong Emas Barong Emas dan Angklung Gamelan bisa dilihat pada hari Minggu jam 10.00-15.00 untuk angklung gamelan, dan 15.00-15.30 untuk pentas Barong Emas. Untuk Paju Gandrung bisa disaksikan pada hari Sabtu Malam mulai jam 19.00-22.00. Biasanya pada pementasan Paju Gandrung ini seringkali ramai sehingga jika membawa banyak rombongan bisa reservasi terlebih dahulu agar mendapatkan tempat duduk.

3. Ruang Terbuka Hijau (RTH) Singojuruh
Gandrung di RTH Singojuruh
Setiap Sabtu Sore sekelompok pemuda Kecamatan Singojuruh melakukan pementasan seni bertajuk Tabuhan Soren, dimana bertujuan untuk menghidupkan ruang publik di RTH Singojuruh dengan Pementasan Seni Budaya. Pementasan Seni Budaya berupa menabuh seperangkat Gamelan dan Angklung sekaligus penari. Beberapa kali datang kesini, selalu ada pementasan Gandrung dari pemuda-pemudi desa juga maestro Gandrung, Mbah Poniti yang juga sering kali bernyanyi melengkapi gending musik yang dimainkan. Pementasan seni Tabuhan Soren di RTH Singojuruh setiap hari Sabtu mulai jam 4 sore hingga menjelang adzan Magrib. Sering kali jika suasana laingit baik, terlihat Gunung-gunung yang berada di sebelah barat dan utaranya Kabupaten Banyuwangi.

4. Kampung Osing di Desa Kemiren
pertunjukan Gandrung di Pesantogan Kemangi Kemiren
Di Desa kemiren ada beberapa sanggar tari dan rumah makan yang menyediakan paket-paket wisata termasuk Pertunjukan Tari Gandrung, biasanya pertunjukan Tari Gandrung ini digabung dengan paket makan-makanan khas Suku Osing dan Desa Kemiren. Paket Wisata ini bisa kalian temukan di Warung Sanggar Tari Sapu Jagat, Rumah Budaya Osing dan Pesantogan Kemangi. Selain itu jika mengunjungi Banyuwangi setelah lebaran puasa dan lebaran haji sering kali menemukan pertunjukan Gandrung yang diadakan oleh orang-orang yang punya hajat dan menikah.

Beberapa tempat ini adalah alternatif yang bisa kalian gunakan jika ingin melihat Tari Gandrung di Banyuwangi, apalagi bagi yang tidak sempat menyaksikan Pementasan Tari Gandrung Sewu yang diadakan di Pantai Boom. 

Jadi Kapan Ke Banyuwangi?



Sehari di Desa Adat Suku Osing Kemiren Banyuwangi – Melihat Prosesi Adat Tumpeng Sewu 2019     Edit


Tiap manusia punya cara-cara tersendiri untuk bersyukur. Masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren Banyuwangi punya hajat Syukuran Desa yang menarik tiap tanggal 1 Bulan Haji dalam Kalender Jawa atau tanggal 1 Dzulhijjah dalam Kalender Islam. Nama syukuran desanya adalah Tumpeng Sewu.

Kenapa Tumpeng Sewu?
Dalam syukuran tersebut, setiap masyarakat Kemiren membuat tumpengan. Jika melihat data, sudah ada 3.000 kepala keluarga di Desa Kemiren, sudah bisa dipastikan akan ada lebih dari seribu tumpeng yang ada, sehingga prosesi ungkapan rasa syukur Desa Kemiren ini disebut Tumpeng Sewu. Ada hal unik lagi selain jumlah tumpengnya. Lauk yang disajikan dalam syukuran ini yaitu Pecel Pitik, makanan otentik dari suku osing yang berbahan utama ayam kampung dan parutan kelapa. Selain itu, mereka akan makan bersama di depan rumahnya, di pinggir jalan secara lesehan dan menyalakan obor yang menambah syahdu suasana syukuran di desa Kemiren.  

Seharian Di Desa Adat Suku Osing Kemiren
Setelah tahu, Di Desa Kemiren akan ada Syukuran Desa Tumpeng Sewu, saya meluangkan waktu dan mengajak beberapa teman yang suka sama acara desa. Dini, teman dari Semarang yang kebetulan ada di Jember bisa ikut untuk melihat-lihat prosesi adat Tumpeng Sewu. Untuk melihat prosesi adat Tumpeng Sewu, kita butuh meluangkan waktu seharian di Desa Kemiren.

Mepe Kasur atau Jemur Kasur
Pagi hari, masyarakat desa Kemiren sibuk mengeluarkan kasur untuk dijemur. Yah mumpung cerah juga sih. Uniknya kasur yang mereka jemur itu satu ragam, kasur kapuk berwarna merah hitam. Kasur tersebut ternyata wajib dimiliki oleh setiap keluarga karena memiliki arti khusus merah melambangkan keberanian dalam berkeluarga dan hitam berarti hidup kelanggengan dalam rumah tangga. Bantal berwarna merah dan dijahit dengan benang berwarna putih juga punya arti sendiri. Merah, darah merah dari ibu. Putih, darah putih dari bapak. Menjemur kasur yang dilakukan masyarakat osing di desa Kemiren melambangkan bersih keluarga. Sambil dijemur, kasur digebuk berharap aura tidak baik yang ada dalam keluarga hilang bersama kasur tersebut digebuk dan dijemur. Prosesi jemur kasur ini mereka sebut Mepe Kasur.

Bapak Abdul Karim dan Dini
Bersamaan dengan Mepe Kasur (Jemur Kasur), atap dapur dari beberapa rumah terlihat mengeluarkan asap karena sedang memanggang ayam untuk dijadikan Pecel Pitik, yang nantinya dihidangkan di syukuran Tumpeng Sewu. Kami mampir ke dapur milik pak Abdul Karim. Saat kami kunjungi beliau sedang membakar ayam kampung cukup banyak bersama istrinya. Pak Karim ini membuka jasa pembakaran ayam untuk diolah nantinya menjadi pecel pitik. Cara pembakarannya sederhana, hanya menggunakan tungku kecil dan berbahan bakar dari kayu bakar saja. Walau sederhana, proses pemanggangannya harus teliti agar didapat ayam yang terpanggang sempurna. Bahkan ada waktu ayam tersebut dimasukan ke dalam tungku yang bara apinya masih menyala agar sisi yang belum terpanggang ikut matang. Pak Karim ini membuka jasa pemanggangan ayam untuk prosesi tumpeng sewu, dan pada jam 9 pagi sudah dapat permintaan untuk memanggang 125 ekor ayam. Jumlah permintaan tersebut bertambah terus sampai sore hari. Memanggang 1 ekor ayam dihargai sebesar Rp.10.000 itu sudah termasuk memotong ayam hingga pemanggangan.

Memarut Kelapa untuk Bumbu
Untuk menjadikan pecel pitik, ayam yang sudah dipanggang nantinya akan disuwir-suwir dan dicampur parutan kelapa yang sudah dibumbui. Namun proses ini biasanya berlangsung sore hari menjelang acara prosesi syukuran Tumpang Sewu dimulai. Sambil menunggu proses itu kami mengisi waktu luang makan Nasi Tempong Wader Warung Putuk dan ke Air Terjun Jagir untuk mensucikan diri karena kami belum sempat mandi :D. Air Terjun Jagir letaknya cukup dekat dari desa Kemiren, sekitar 15 menit ke arah barat.

Sore Hari Di Kemiren
Ayam yang sudah dipanggang diaduk bersama parutan kelapa yang sudah dibumbui
Sekitar jam 4 sore, kami kembali ke Desa Kemiren untuk mengikuti syukuran bersama dengan warga desa. Jalan-jalan di desa sudah ramai, rasannya seperti nuansa lebaran dimana sanak saudara kembali kumpul datang ke desa untuk mengikuti syukuran desa. Kasur khas merah-hitam yang dijemur sudah berganti tikar. Terlihat beberapa pemilik rumah juga sibuk mengeluarkan Tumpengan beserta lauk pauk yang salah satunya adalah pecel pitik. Ada juga yang sengaja meracik pecel pitiknya di pinggir jalan, sehingga jika ada wisatawan seperti saya yang datang bisa melihat cara pembuatan pecel pitik. Menarik memang, ayam yang sudah dipanggang dipotong-potong menggunakan tangan lalu ditaruh dalam wadah yang didalamnya parutan kelapa yang sudah dibumbui khusus. Wadah tersebut diaduk dan diberi air sedikit agar parutan kelapa bisa menempel pada ayam panggang.

Berkumpul bersama sanak saudara
Saat menjelang magrib, masyarakat desa kemiren sudah berkumpul depan rumah dan pinggir ruas jalan utama, hidangan Tumpeng Sewu sudah lengkap. Saya menelusuri ruas jalan utama desa Kemiren dan menemukan keramahan masyarakatnya. Bahkan beberapa kali memepersilahkan mampir ke tempatnya untuk makan pecel pitik bersama.

Pawai Barong Kemiren
Menunggu berdoa
Setelah solat magrib, Barong Banyuwangi melakukan pawai yang diikuti oleh pemuda yang membawa bara api untuk menyalakan oncor (obor) yang ada di depan setiap rumah. Suasana desa mendadak menyala hangat, beberapa anak kecil langsung antusias mendekati oncor yang sudah menyala. Doa lalu berkumandang dari toa masjid untuk memimpin doa-doa ungkapan rasa sukur selama setahun yang diberikan Tuhan kepada masyarakat kemiren. Dan selesainya doa, dilanjutkan dengan makan bersama di pinggir jalan atau di depan rumah. Saya suka sekali suasananya, ramai namun hangat. Walau tidak kenal, masyarakat Desa Kemiren menyambut kami dengan ramah, bahkan sabar menjawab pertanyaan kami lontarkan. Semoga tahun depan, bisa berjumpa lagi dan menikmati Pecel Pitik, Kuliner khas kemiren dalam acara adat Tumpeng Sewu ini.
Setelah berdoa, Selamat Makan :)
Kalau kalian tertarik gak untuk ikut gabung mengikuti prosesi Adat Tumpeng Sewu di Desa Kemiren?


Taman Gandrung Terakota dan Sendratari Meras Gandrung, Wisudanya Penari Gandrung     Edit

Patung Gandrung di Taman Gandrung Terakota

Di kaki Gunung Merapi  Ungup-ungup atau yang lebih dikenal dengan Kawah Ijen, terdapat sebuah taman yang asri, beriklim sejuk dan letaknya dikelilingi hutan atau kebun milik masyarakat dan dipinggir sawah sehingga suara hiruk pikuk jalan raya tidak terdengar. Taman Gandrung Terakota namanya.

Taman Gandrung Terakota merupakan sebuah taman buatan yang masih satu bagian dengan Hotel Resort Java Jiwa. Sesuai namanya, bangunan taman ini hampir keseluruhan dinding bangunan-bangunan yang ada di taman ini disusun dengan bata merah terakota dan terdapat pula banyak patung gandrung yang terbuat dari tembikar. Pantungnya terletak menyebar hingga ke sudut-sudut taman, ada yang di pintu masuk, tengah taman, pinggir pesawahan bahkan ada pula yang ditengah sawah. Patung Gandrung di taman berpose layaknya sedang menari dan melihat patung gandrung di taman terakota mengingatkan saya pada event tahunan seru banyuwangi yaitu Gandrung Sewu.
Patung Gandrung Terakota di Tengah Sawah
Patung Gandrung di Pinggir Sawah
Terciptanya kesenian tari Gandrung dulunya adalah ungkapan rasa syukur petani terhadap hasil sawah dan kebunnya yang melimpah. Seusai panen biasanya masyarakat petani terbiasa bersuka cita dengan cara menari, bernyanyi  dan lainnya. Untuk meruwat dan merawat awal kisah tersebut dibangunlah Situs atau Taman Gandrung Terakota dengan patung-patung terakota berwujud penari gandrung yang tersebar di sekitar persawahan.

Rute Menuju Taman Gandrung Terakota
Untuk menuju Taman Gandrung Terakota cukup mudah kok, karena searah dengan arah ke kawah ijen maka dari kota banyuwangi kalian hanya tinggal mengikuti petunjuk arah ke arah kawah ijen. Dari kota Banyuwangi  arahkan kendaraan ke daerah Sasak Perot melewati Rel Keretadan patung barong – desa Glagah – Pasar Licin – Daerah Tamansari – setelah memasuki daerah taman sari aka nada petunjuk jalan menuju Taman Gandrung Terakota – ikuti petunjuk dan jalan paving tersebut hingga melewati perkebunan milik warga dan sampai ke parkiran Taman Gandrung. Dengan membayar HTM sebesar Rp. 10.000 kalian sudah bisa masuk ke taman Gandrung Terakota.

Hal Menarik di Taman Gandrung Terakota.
Di dalam Taman Gandrung Terakota ini terdapat beberapa bangunan dan sumuanya berbentuk joglo dan dua diantaranya berupa kafe kecil dan sebuah resto kecil yang menyajikan makanan berat. Sampai disana cuaca mendung dan angin cukup dingin, memesan segelas kopi capucinno hangat dan camilan pisang rasanya pas sekali. Makan memandangi sawah berterasering membayangkan, atau bercerita sesuatu.
Salah satu Joglo di Taman Gandrung Terakota
Terdapat pula Amfitheater, sebuat panggung pertunjukan yang digunakan untuk pementasan-pementasan event tertentu. Hingga saat ini, event yang sudah diadakan di tempat tersebut secara rutin adalah Jazz Gunung Ijen, konser jazz di daerah ketinggian sama seperti jazz gunung bromo dan jazz dieng. Mulai akhir tahun 2018 hingg tahun ini akan diadakan rutin sebulan sekali sebuah sendratari Gandrung yang berjudul Meras Gandrung.

Meras Gandrung adalah salah satu prosesi terpenting yang harus dilewati para penari gandrung untuk menjadi penari gandrung yang sebenarnya. Penari Gandrung akan melakukan Meras Gandrung saat dia dianggap mampu dan sudah memumpuni dalam berolah vokal dan menari gandrung. Dalam prosesi Meras Gandrung terdapat ritual Pupuh Pita Suara. Dengan adanya ritual Pupuh Pita Suara, penari gandrung akan memiliki suara yang lebih plong dan bisa menyanyikan nada-nada tinggi. namun efek samping dari pupuh pita suara adalah rasa yang sangat menyakitkan. Menurut keyakinan, rasa sakit tersebut adalah karena keluarnya unsur-unsur negatif dan masuknya roh mba Semi (penari Gandrung pertama) ke dalam jiwa penari gandrung.

Babak pertama, calon penari Gandrung masih anak-anak
Dalam Sendratari ini hanya memotret situasi kehidupan penari gandrung, bukan mempraktekan prosesi Meras Gandrung dan pupuh pita suaranya. Ada 4 babak tari dalam sendratari Meras Gandrung ini, babak ke-1 menceritakan tentang suasana sebuah desa yang asri dimana para anak-anak bermain dengan riang. Lalu datang penari gandrung dan mengajarkan tari gandrung kepada anak-anak. Babak Ke-2 merupakan babak inti dimana menerangkan tentang prosesi inti Meras Gandrung yaitu Pupuh Pita Suara. Babak ke-3 mementaskan tentang Tari Jejer Gandrung dan Podo Nonton. Tari Jejer Gandrung bermakna tarian permohonan ijin kepada tuan rumah dan para tamu karena akan mementaskan pertunjukan. Sedangkan Podo Nonton yang syairnya bermakna sangat dalam yaitu tentang kesengsaraan rakyat Banyuwangi dalam kerja paksa (kerja rodi) pada masa penjajahan belanda. Setelah lantunan lirik Podo Nonton, dilanjutkan dengan lantunan tembang Kembang Tenur yang menceritakan kecantikan sebuah gadis desa.
Prosesi Pupuh Pita Suara
Layaknya mahasiswa diwisuda dengan Toga, Penari Gandrung diberi Omprong
Babak ke-3 Tari Jejer Gandrung
Babak ke-4 adalah babak terakhir dan menurut saya cukup seru. babak ini bernama babak Paju Gandrung yang merupakan tarian kehormatan untuk tuan rumah dan para tamu. Penari gandrung menghantarkan selendang/sampur kepada Tuan rumah dan para tamu untuk diajak menari bersama. Menari bersama ini sebagai bentuk jalinan tali persaudaraan dan kebersamaan. Memang terasa sekali rasa kebersamaannya, para tamu dan tuan rumah (pemilik Java Jiwa Ijen bersama istrinya) terlihat senang menari di depan panggung terbuka amfiteater.
Babak ke-4 Penari Gandrung Menghantarkan Selendang mengajak penonton menari bersama
Penonton Menari Bersama Penari Gandrung
Setelah selesai menari, panitia mempersilahkan para tamu dan penonton untuk maju kedepan jika ingin berfoto dengan gandrung. Saat pertunjukan tari sendratari, kulihat langit seakan menahan-nahan airnya tidak turun ke bumi, begitu acara sesi foto bersamanya selesai, hujan mengguyur seluruh taman gandrung terakota. Yah jadi punya alasan untuk tinggal dan memesan lagi segelas teh panas atau kopi. Asik sih, karena menjelang sore suasana sekitar taman gandrung dipenuhi suara kodok, jangkring dan jenis-jenis serangga lainnya.
Suasana Taman Gandrung Terakota Setelah Senja
Tertarik datang ke Taman Gandrung Terakota, saranku sih datang menjelang sore hingga sore hari kerasa suasana syahdu pedesaannya :)

Jika kalian ingin menikmati Sendratari Meras Gandrung yang diadakan sebulan sekali di tahun 2019, Kalian bisa lihat jadwal dan bisa booking tiketnya di nara hubung yang tercantum. HTMnya sekali nonton 100.000 ya. Namun jika hanya masuk Taman Gandrung Terakotanya Cuma Rp. 10.000.
Jadwal Sendratari Meras Gandrung 2019

Kesenian Pencak Sumping, Dusun Mondoluko Dan Kisah Dunia Persilatan Di Kabupaten Banyuwangi     Edit

Mencak Sumping
Rasanya seperti berada dalam suasana film kolosal dunia persilatan Indonesia seperti film wiro sableng, Jaka Tarub, Si Buta Dari Goa Hantu, dimana para pesilat dan pendekar hadir dalam satu tempat, duduk di meja panjang yang menghidangkan hidangan jajanan desa. Beberapa pendekar meletakan senjatanya diatas meja-meja tersebut.

Senjata di atas meja :D
Suasana tersebut terasa dalam Acara Mencak Sumping  yang merupakan acara puncak dari Syukuran Dusun Mondoluko, Desa Taman Suruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.  Mencak Sumping merupakan salah satu Kesenian Pencak Silat (Mencak) asli Indonesia yang sudah melekat erat dalam kehidupan Suku Osing terutama di dusun Mondoluko. Saya rasa nama dusun Mondoluko  kesannya cukup Kolosal, ternyata mempunyai arti unik. Berasal dari dua suku kata yaitu Edo dan Luko. Edo yang artinya Ratu dan Luko artinya Tatu atau Luka, jika digabungkan Ratu yang terluka. Saya kurang paham siapa yang dimaksud dengan ratu, namun munculnya mencak silat di daerah dusun Mondoluko ini mungkin maksudnya untuk membela diri agar tidak terluka.

Saya bertemu Pak Asran, ketua dari Padepokan Sibagor, Padepokan persilatan yang ada di Dusun Mondoleko yang sudah berumur 70 tahun, dia menuturkan bahwa Mencak Sumping ini sudah ada sejak Buyutnya. Pada jaman buyutnya terdahulu adalah masa kita masih terjajah oleh VOC Belanda dan Jepang. Mencak Sumping ini tercipta untuk membela diri mereka dari kekejaman penjajahan VOC  saat itu sehingga tidak aneh jika saat ini hampir seluruh warga dari Dusun Mondoluko ini merupakan Pendekar atau Pesilat.

Mencak Sumping, bergulat gulung-gulung, yang kalah disuapui sumping
Ada cerita unik juga dari penamaan Mencak Sumping. Mencak yang berarti Pencak Silat dan Sumping adalah Makanan/Jajanan tradisional (Nogosari). Mencak Sumping terdapat pertunjukan silat yang mengadu ketangkasan dua orang pesilat, dimana ada gerakan saling bergulung-gulung dan yang kalah nantinya disuapin Makanan Sumping. Sumping tidak dibawa oleh kedua pesilat yang sedang beradu tangkas namun sudah dibawakan oleh teman-teman seperguruannya. Karena hal tersebut disebutlah kesenian pencak silat tersebut bernama Mencak Sumping.
kondisi dapur
pencampuran pisang dengan adonan

Memasak Sumping

Sumping yang siap di makan
Saya sempat diajak untuk melihat proses pembuatan Sumping (Nogosari) yang cukup unik dengan cara tradisional yaitu dengan menggunakan bara dari serabut kelapa. Mungkin karena proses pembuatannya ini saya merasa rasanya agak berbeda dari Sumping yang pernah saya makan dari daerah lain, atau mungkin juga karena penggunaan bahan keadaan pisangnya sudah matang tua.

Anak-anak dusun Mondoluko ujuk kebolehan
Acara Mencak Sumping berlangsung meriah, dihadiri oleh sekitar 50 padepokan persilatan seluruh kabupaten Banyuwangi dari daerah Licin, Banyuwangi bahkan sampai Srono. Setiap tamu yang hadir dipersilahkan ujuk kebolehan gerakan-gerakan silat andalannya. Berapa pun umurnya, apapun statusnya, semua boleh menunjukan kebolehannya, bahkan pak kelapa dusun Mondoluko pun ikut tampil. Penampilan jurus-jurus silat nantinya akan di kombinasikan dengan alunan musik tradisional dengan gending-gending lokal banyuwangi.

Saya membayangkan kedepannya desa ini menjadi desa wisata yang mempunyai potensi keunggulan desa sejarah dan desa pesilat dimana tamu yang datang kesini diantar diberi baju khusus khas suku Osing dan diantar menggunakan dokar melewati persawahan, jalan makadam menuju tempat latihan dari mencak sumping. Tamu tersebut diajarkan pembuatan Sumping dan memakan sumping yang mereka buat. Dan yang tak kalah penting diajarkan gerakan-gerakan dasar dari mencak sumping.

muda mudi dusun Mondoluko
kenduri-an, berdoa di makam buyut surat
Saya pun takjub dengan Dusun Mondoluko ini dalam menjaga adat, budaya dan kesenian yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Mencak Sumping yang sudah melewati beberapa generasi mulai dari penjajahan VOC Belanda hingga sekarang ini. Semenjak dahulu, dari anak-anak mulai beranjak sekitar umur kelas 3 SD, orang tuanya mulai mengajarkan Mencak Sumping dengan harapan Mencak Sumping ini tetap lestari sampai nanti.


Tertarik datang ke Dusun Mondoluko ini?

Keseruan Tradisi Adat Kebo-Keboan Alas Malang, Banyuwangi     Edit


Indonesia beragam budaya, beragam adat istiadat, juga beragam cara mengungkapkan cinta dan rasa syukur atas karunia yg diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Di Banyuwangi sendiri tradisi ungkapan rasa syukur cukup beragam dan ada hampir di  setiap desa. Biasanya tradisi ini diadakan memasuki atau sudah dalam bulan Suro (Bulan pertama dalam kalender Jawa). Saya pun tertarik mengikuti beberapa tradisi adat yang bisa saya bilang unik, salah satunya adalah Tradisi Adat Kebo-Keboan Alas Malang.

Sesuai dengan nama desanya, Tradisi Kebo-Keboan Alas Malang diadakan di desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Letaknya cukup dekat dengan Stasiun  Rogojampi (15 menit) dan Bandara Blimbingsari (sekitar 30 menit). Tradisi ini diadakan mulai 10.00, saya berangkat dari kota Banyuwangi – melewati jalan utama Banyuwangi-Jember – Kota Rogojampi – Pertigaan Lampu Lalu Lintas Tugu Adipura ambil kanan – Ikuti jalan sampai menemukan perempatan Patung Kebo-keboan dan ambil kanan dari sini tinggal mengikuti hiruk pikuk masyarakat yang menuju desa Alas Malang.

Datang pagi saya pikir masih sepi, ternyata masyarakat sudah memenuhi segala penjuru desa. Dilapangan samping panggung wayang sedang berkumpul beberapa kelompok sanggar kesenian yang ada di Alas Malang untuk ikut melakukan Ider Bumi keliling desa Alas Malang. Beberapa dari mereka menunjukan kebolehan sanggar mereka di lapangan tersebut, bisa dibilang pemanasan sebelum tradisi adat kebo-keboan belum dimulai. Tidak jauh dari lapangan tersebut warga yang ditugaskan menjadi Kebo-Keboan sedang melakukan make-up dengan menghitamkan tubuhnya layaknya Kerbau. Menghitamkannya menggunakan bahan seperti serbuk arang dicampur minyak. Warga yang menjadi kebo-keboan cukup beragam, dari kalangan pemuda sampai yang sudah sepuh pun ikut serta. Ada Kebo ada juga pengembalanya dengan baju adat berwarna hitam membawa pecut, tas ayaman daun kelapa layaknya petani yang hendak pergi ke sawah. Tasnya juga bukan hiasan, ada beberapa bungkus rokok, air mineral dan beberapa camilan ibarat benar-benar mau ke sawah. Sedangkan Kebo-keboannya kulit dilumuri cairan hitam, tanduk kerbau dan rumbaian tali rafiah hitam sebagai rambutnya serta kelenteng/lonceng kerbau yang di kalungkan pada leher.

Pengembala Kebo-keboan
tumpengan
Tradisi adat diawali dengan pembacaan doa dan tumpengan, namun sayangnya tumpengan hanya dilakukan untuk pada undangan saja, mungkin karena masyarakat yang hadir terlalu banyak, acara tumpengan masal di depan rumah masing-masing seperti acara-acara lainnya tidak terlalu efektif. Tumpengannya berupa makanan khas Banyuwangi seperti Jenang Suro dan Pecel Pitik. Beberapa kali nyobain pecel pitik, pecel pitik yang dibuatkan di Desa Adat Alas Malang saya nilai cukup enak loh :D. Tradisi Kebo-keboan pun dimulai, jalanan desa cukup ramai air dari irigasi sawah dialirkan ke selokan dan jalanan desa dibanjirkan terutama di area depan panggung. Barisan pawai dimulai dari kereta kencana yang ditarik oleh salah satu peserta kebo-keboan paling besar dan merupakan icon dari kebo-keboan Alas Malang. Kereta kencana tersebut dinaiki oleh gadis cantik berperan sebagai Dewi Sri, yang merupakan Dewi Pertanian, Dewi Padi, Dewi Kesuburan. Setelah Dewi Sri diikuti oleh Kebo-keboan beserta para pengembalanya. Penonton dihimbau dan menjaga jarak  tidak menggoda para kerbau agar  kerbau-kerbau tersebut “terkendali”. Barisan pawai terakhir adalah para sanggar kesenian yang ada di Alas Malang dengan dominan kesenian Barong ada juga kesenian Reog Ponorogo.

Kesenian Barong Banyuwangi
Dewi Sri dan Kereta Kencananya

adik-adik yg mukanya udah cemong >_<
Mendadak Kebo-keboan tak terkendali dengan mendekati penonton dan menghitampan sebagian atau seluruh wajah penonton dengan tangannya, bahkan serunya kebo-keboan mengejar-ngejar penonton secara random membubarkan barisan penonton karena semuanya lari kocar-kacir :D. Begitu pula saya, menjadi korban mereka, dengan muka hitam sebelah tertangkap oleh seekor kebo-keboan. Seiring berjalannya waktu ternyata cukup banyak warga yang mukanya hitam, kebanyakan adalah anak-anak, dan para pemuda-pemudi. Melihat hal-hal tersebut tertawa dan hiruk pikuk keseruan dari penonton terdengar ramai sekali, bahkan saya yang berada di luar perkampungan (daerah persawahan) saya bisa mendengarnya. Setelah melintasi seluruh penjuru desa Alas Malang, rangkaian terakhir yaitu Kebo-keboan berkubang dan membajak sawah di sawah yang sudah disediakan.

bersama salah satu kebo-keboan :D
Dari kacamata saya, Tradisi Kebo-keboan Alas Malang tidak hanya sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat dan karunia Tuhan YME.  Saya melihat adanya kegembiraan dari warga-warga yang ikut serta meramaikan tradisi ini. Dengan bergembira dan tertawa bisa menghindari dan mengurangi stress akibat hidup yang tak selamanya selalu mulus :D


Tahun depan Kalian tertarik melihat Tradisi Adat ini?

Terpesona Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi     Edit


Tari Gandrung sudah menjadi sebuah ikon dari Kabupaten Banyuwangi, beberapa patung penari gandrung dibuat di beberapa tempat seperti di perbatasan Situbondo-Banyuwangi yang ada di Waduk Sidodadi, Pantai Watudodol dan Perbatasan Banyuwangi-Jember di Gunung Gumitir. Beberapa event dan program diadakan untuk makin menunjukan eksistensinya Tari Gandrung salah satunya adalah Festival Gandrung Sewu.

Setelah tahun lalu tidak sempat melihat perhelatan akbar Festival Gandrung Sewu karena tugas Negara,tahun ini akhirnya sempat melihatnya bersama teman-teman dari Jateng dan Bonsowoso. Festival ini diadakan cukup unik pada siang hari di pantai Boom, salah satu pantai terkenal di Banyuwangi. Untuk menuju pantai Boom dari kota Banyuwangi cukup mudah arahkan kendaraan ke Alun-alun Blambangan – Lurus ke arah pertigaan Pom Bensin PLN ambil Kanan, ikuti saja jalan tersebut dan akan sampai di Pantai Boom.

berpose di baliho festival gandrung sewu
Festival ini mulai diadakan tahun 2012 dan setiap tahunnya mempunyai konsep tema yang berbeda, tema tahun ini yaitu Seblang Lukinto yang merupakan lanjutan dari tahun 2015 yaitu Podo Nonton (tahun lalu nyesel g nonton). Podo Nonton menceritakan tentang  perjuangan rakyat Banyuwangi yang dipimpin oleh Rempeg Jogopati dalam melawan penjajahan VOC. Saat itu, tarian diakhiri dengan kisah perlawanan para pejuang hingga titik akhir. Sedangkan tema Seblang Lukinto menceritakan kebangkitan sisa dari prajurit Rempeg Jogopati untuk kembali melawan penjajahan VOC.  Beberapa cara dilakukan salah satunya prajurit Rempeg Jogopati membentuk kelompok seni dan mereka menyanyikan Seblang Lukinto sebagai sandi/kode

Curi-curi foto sebelum pertunjukan
melakukan persiapan
Acara ini dimulai jam 15.00 namun beberapa penonton sudah memenuhi pantai Boom mulai pukul 09.00. Saya bersama rombongan sampai di Pantai Boom sekitar jam 10.00 kondisi memang cukup ramai, parkiran dialihkan diluar area parkir pantai boom karena sudah padat. Terlihat beberapa penari Gandrung sudah selesai di make-up sedang bersenda gurau, berfoto-foto bersama rekan penari Gandrung lainnya. Adapula pengunjung yang minta foto bersama termasuk saya hehe. Menurut Baliho pengumuman acara akan dimulai jam 13.00 namun baru mulai dibuka jam 14.30-an. Penonton dari beberapa kalangan sudah mulai memadati area sekitar panggung pertunjukan.
 
segmen rebutan layangan
Akhirnya Festival Tari Gandrung pun dimulai, dibuka dengan aksi anak-anak bermain layang, mengejar layang-layang yang putus dan diakhiri ada yang menangis karena layangan yang dia dapat sobek/rusak. Lalu setelah segmen tersebut selesai, perlahan-lahan sepanjang garis pantai tempat pertunjukan, Sekian ribu penari Gandrung mulai terlihat seolah-olah muncul mendadak dari laut. Efek kejut ini memanfaatkan kondisi pantai yang relatif lebih rendah dari panggung pertunjukan.

formasi ombak yang ombaknya dibentuk oleh kipas
Pada pertunjukan ini terdapat aksi yang menceritakan kebangkitan sisa prajurit Rempeg Jogopati, namun tidak terlalu mencolok karna tertutupi penampilan dan aksi penari Gandrung yang jumlahnya sulit dihitung manual. Aksi Tarian Gandrung sepertinya membentuk beberapa formasi Bunga, Ombak, Api dan Benteng. Formasi-formasi mereka cukup menarik sehingga perhatian saya dan mungkin banyak dari para penonton yang hadir.

Melantunkan Gending "Seblang Lukinto"
Formasi Benteng
Pada Formasi Benteng Penari Gandrung menutupi tubuhnya dengan selendang merah namun sebelum itu secara bersama-sama Penari Gandrung melantunkan  Gending “Seblang Lukinto” dengan suara yang cukup membuat orang semangat untuk mendengarkannya. Liriknya begini : 
"Wis wayahe bang bang wetan" (Sudah waktunya mentari pagi terbit), "Kakang kakang ngelilira" (saudara saudara bangunlah), "Wis wayahe sawung kukuruyuk" (Sudah waktunya ayam jago berkokok), "Lawang gedhi wonten kang njagi" (Pintu gerbang ada penjaganya), "Medala ring lawang butulan" (Lewatlah pintu rahasia), "Wis biasane ngemong adhine" (Sudah terbiasa mengasuh adiknya), "Sak tinjak balio mulih" (Satu tendangan kembali pulang).
Belakangan ini saya baru tau arti dari lirik tersebut, liriknya seperti mengandung kalimat-kalimat rahasia hanya dipahami oleh sisa-sisa prajurit Blambangan yang masih berjuang melawan Penjajahan. Dari Tema Seblang Lukinto beberapa hal yang bisa saya tangkap adalah bagaimana cara berjuang. Berjuang hingga titik penghabisan hingga tidak ada penyesalan, berjuang tidak harus dengan cara konveksional dalam hal ini melawan langsung musuh dari depan tapi dengan cara-cara unik, kreatif dan tidak dapat disangka-sangka. Cara berjuang ini mungkin bisa kalian adopsi untuk memperjuangkan calon pendamping hidup kalian >_<.


Formasi terakhir sebagai penutup adalah formasi bunga, sayangnya penonton sudah tak terbendung lagi dan maju mendekati penari gandrung untuk berfoto selfie K (hadehh). Yah akhirnya festival ini berakhir cukup meriah dan mengesankan. Tempat pertunjukan dan para Penari Gandrung mulai diserbu para penonton untuk berfoto bersama. Ada pula yang penari yang berfoto sesame penari Gandrung karena berasal dari sekolah atau kecamatan yang sama atau saling mengenal. Lembayung senja mulai terlihat diufuk barat, kami perlahan meninggalkan pantai Boom menuju rumah untuk beristirahat.