-->
Showing posts with label kuliner jawa timur. Show all posts
Showing posts with label kuliner jawa timur. Show all posts

kuliner jawa timur

Ke Jember? Harus Makan Pecel Gudeg Lumintu     Edit

Pecel Gudeg Lumintu

Makanan di Jawa Timur itu bisa dibilang unik, bisa ditemukan makanan yang merupakan kombinasi dua jenis makanan atau lebih. Waktu jalan-jalan di Jember, saya menemukan salah satunya yaitu Pecel Gudeg. Perpaduan Nasi Pecel dengan Gudeg yang merupakan masakan khas Jogja yang bisa kita temukan di Warung Pecel Gudeg Lumintu. Pecel Gudeg Lumintu ini masuk dalam salah satu kuliner jember yang wajib kita cicipi saat berada di Jember.

pemilik lumintu saat ini
Pecel Gudeg Lumintu, kuliner legendarisnya Jember ini sudah berjualan cukup lama. Bahkan saat saya belum lahir, mungkin kalian juga. Sebelumnya Pecel Gudeg ini berjualan di Bondowoso pada tahun 1968, namun pada tahun 1975 pindah berjualan di Jember dan berjualan hingga saat ini. Warung Pecel Gudeg Lumintu ini buka mulai jam 06.00 pagi dan tutup jam 2 siang, namun biasanya sebelum jam 2 siang, Pecel Gudeg sudah habis terbeli.


Rute Menuju Pecel Gudeg Lumintu
Warung Pecel Gudeg ini letaknya cukup strategis, jalan masuknya berada disebrang Lippo Mall atau lebih tepatnya di  Jl. Kerta Negara No.33, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Bisa kalian tempuh dengan menggunakan Ojek Online maupun angkutan umum ke arah Lippo Mall yang berhuruf A,B,O,N,D,Q.

Situasi Warung Pecel Gudeg Lumintu
Pertama kali datang, cukup kaget karena di depan warung cukup ramai, orang-orang ngantri untuk membeli pecel gudeg lumintu dan memakan lebih leluasa di rumah. Saya jadi mengerti beberapa orang menyarankan datang ke Pecel Lumintu tidak jam makan siang, selain antrian yang cukup banyak, bisa-bisa kehabisan.

Komposisi Wajibnya Lumintu
sedang membungkus pecel gudeg lumintu
Porsi 1 piring Pecel Lumintu ini cukup banyak, 1 piring bisa penuh dengan nasi, pecel dan gudeg. Belum lagi ditambah lauk yang kita inginkan. Dalam 1 piring Pecel Gudeg Lumintu terdiri dari pecel (kacang panjang dan kecambah) yang bumbu kacangnya agak pedas, ayam, pindang telor, sayur tewel (nangka muda), sambal goreng krecek dengan kacang tolo, sambal dan rempeyek kacang. Bisa kalian bayangkan seberapa penuh piring jika diisi banyak seperti itu haha. Jika kalian tidak kuat makan porsi banyak, lebih baik untuk minta nasi sedikit atau separuh saja.

penampakan seporsi nasi pecel gudeg lumintu
Gudeg citranya kuat sekali dengan makanan khas Jogja yang rasanya manis, namun Gudeg di Lumintu rasanya tidak manis mungkin menyesuaikan lidah orang-orang Jawa Timur yang tidak begitu suka masakan manis. Saya pun cukup suka gudeg racikan lumintu ini. Daya tarik dari Gudeg Lumintu ini ternyata memasaknya dengan menggunakan tungku kayu bakar yang dimasak sehari sebelum disajikan. Mungkin karena cara masak gudeg yang demikian, bumbunya lebih meresap merata dan disukai banyak orang.

Kalau kalian jalan-jalan ke Jember sempatkan makan Pecel Gudeg Lumintu.

Bani Lumintu foto bareng


Mencicipi Citarasa Rawon Mak Tini - Warung Rawon Di Banyuwangi Yang Berjualan Sejak Tahun 1940an     Edit

Rawon Mak Tini
Sehabis menikmati matahari terbit di pesisir pantai Banyuwangi, kami berencana mencari sarapan untuk meredakan rasa lapar yang sudah ditahan-tahan sejak tadi. Saya ingat ada Warung Rawon yang buka mulai setelah subuh. Warung Rawon di Banyuwangi ini sudah berjualan sejak lama dan masih bertahan sehingga banyak yang bilang masuk kuliner legendarisnya banyuwangi. Warung Rawon Mak Tini namanya.

Rawon Mak Tini yang dikenal juga dengan Rawon Jadul karena sudah ada sejak tahun 1940an. Tidak hanya itu, bangunannya pun masih sama, dengan interior hingga citarasanya walau sudah berganti 3 generasi. Tidak aneh jika saat sarapan pagi disini bertemu orang-orang tua yang sudah berlanganan rawon ini sejak dulu.

Warung Rawon Mak Tini tampak depan
Rute Menuju Warung Rawon Mak Tini
Rawon Mak Tini terletak di Jalan Sudirman Nomor 167 utama atau berada di jalan utama dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi ke arah Kota Banyuwangi, sebelum taman sri tanjung atau lebih tepatnya di sebelah florida. Warung Rawon Mak Tini ini memang tidak ada namanya, tapi mudah ditemukan, cirinya rumah yang ada tulisan Buka. Rute menuju kesini gampang kok, jika kalian dari simpang lima banyuwangi, ambil jalan ke arah pelabuhan ketapang melewati taman Blambangan lalu di perempatan Lateng ambil ke arah selatan (arah ke taman sri tanjung), warung rawon Mak Tini ada di sebelah kanan jalan, bersebrangan dengan BPR Wilis.

Meja-meja beretalase yang bertahan sejak dulu
Awalnya masuk saya takjub sekali dengan interior. Ada seperangkat kursi dan meja makan dengan etalase kaca geser yang tidak bisa dipisahkan. Di dalam etalase terdapat ikan tambahan (di Jawa Timur lauk pauk disebut ikan) seperti telur asin, tempe, tahu, daging, paru. Di atas etalasenya terdapat toples kaca jadul yang berisi kerupuk. Di dalam ruang makan juga terdapat lemari TV yang tidak bisa dibuka karena kuncinya rusak. Andai bisa, mungkin kita bisa melihat tv lawas yang masih terjebak dalam lemari tersebut.

Sejarah dan Silsilah Rawon Mak Tini
Ibu Diana ( cucu Mak Tini) pemilik warung rawon saat ini
Mak Tini adalah nenek dari Ibu Diana (Ana) yang sekarang menjadi pemilik warung rawon jadul. Mak Tini sendiri  orang yang berasal dari Bangil, lalu berdomisili di Banyuwangi dan usaha berjualan Rawon. Setelah Mak Tini, Warung Rawon ini dilanjutkan oleh pak Yasin lalu sekarang dilanjutkan oleh Bu Ana. Walau sudah melewati 3 generasi dari tahun 1940an. Warung Rawon Mak Tini tidak kehilangan pelanggannya. Pelanggan-pelanggan lamanya sering kali datang membawa anak atau cucunya makan disana. Bernostalgia juga secara tidak langsung mewariskan, di Banyuwangi ada Rawon Jadul Mak Tini yang citarasanya tidak kalah dengan rawon lainnya.
bernostalgia dan mewariskan bahwa ada citarasa rawon mak tini kepada cucunya
Rawon Mak Tini dengan Meja Jadulnya
Komposisi Rawon Mak Tini juga menarik menurut saya, karena menemukan ada mie kuningnya. Biasanya jika makan Rawon di Malang atau Surabaya tidak menemukan adanya tambahan mie kuning dalam rawon. Jika beruntung, di Warung Rawon Mak Tini ini juga membuat sate Kelapa untuk lauk tambahan. Jika datang pagi, juga disediakan Susu Murni.

Asik Menyantap Rawon
Karena suka interior dan suasananya, sering kali mengajak teman-teman yang datang ke Banyuwangi untuk sarapan Rawon Mak Tini ini. Saya juga senang melihat mereka seperti terkagum-kagum dengan meja lawas yang masih ada. Warung Rawon Mak TIni buka sehabis Subuh dan tutup sore hari jam 3-4 sore. Namun kadang jam 10 siang, rawon sudah habis terjual. Jika kalian mau mencoba makan di Warung Rawon Jadul ini, datang saat jam Sarapan saja.

Tertarik mencoba Rawon Jadul Mak Tini ini?

Kelezatan Nasi Tempong Iwak Wader Warung Puthuk Mbok Misnah, Desa Kenjo, Banyuwangi     Edit


Sego Tempong Iwak Wader
Nasi Tempong, salah satu makanan khas Kabupaten Banyuwangi yang terkenal akan pedasnya. Nasi dengan lauk pauk dan lalapan rebus disajikan bersama sambal bercitarasa khas dan pedas. Saking pedasnya rasanya Bibir seperti di tempong-tempong atau dalam bahasa Indonesia Tempong itu adalah Tampar. Citarasa khas dari  Sambel Tempong ini selain pedasnya adalah kecutnya. Kecutnya karena menggunakan jenis Tomat unik yang katanya hanya ada di Banyuwangi, namanya Ranti.

Warung Nasi Tempong cukup banyak dan hampir ditemukan di setiap sudut kota Banyuwangi, Warung Puthuk Mbok Misnah salah satunya yang menjadi favorit saya. Warung Puthuk Mbok Misnah ini letaknya tidak di pusat kota melainkan berada di Desa Kenjo, Kecamatan Glagah, Banyuwangi  atau sekitar 10-15 menit dari Pusat Kota Banyuwangi. Warungnya sangat sederhana, berada di pinggir jalan di lahan perkarangan sehingga berlantaikan tanah. Namun jangan tertipu penampilan warungnya, Nasi Tempong yang dijajakan di Warung Puthuk Mbok Misnah ini sangat enak.
Penampakan Warung Puthuk Mbok Misnah dari Jalan
Rute Menuju Warung Puthuk Mbok Misnah.
Untuk menuju ke Warung Puthuk Mbok Misnah dari Pusat Kota Banyuwangi cukup mudah, kalian tinggal mengarahkan kendaraan sejalur dengan Ke arah Kawah Ijen (Jalan Raya Lijen). Dari Simpang Lima Kota Banyuwangi ambil jalan menuju Barat - melewati rel kereta api – pada pertigaan patung barong ambil kiri – pertigaan pertama setelah patung barong ambil kanan – lurus terus kea rah barat melewati desa Olehsari melewati kantor Kecamatan Glagah – Pasar Glagah – Kiri Jalan ada Kantor Koperasi Modern ada jalan kecil di sebrangnya, ambil jalan memasuki Gang tersebut kea rah Desa Kenjo, nanti Warung Puthuk ada di kiri jalan.

tempat makannya
Pertama kali saya datang kesini bersama teman-teman foto hendak Explore Hutan Pinus daerah Licin dan sebelum kesana kami mampir ke Warung Puthuk Mbok Misnah untuk makan siang. Warung Puthuk Mbok Misnah ini hanya menyediakan Nasi Tempong dengan lauk Ikan Wader. Ikan Wader itu adalah ikan kecil yang hidup di sungai-sungai. Tidak aneh memang di sekitar desa ini masih mudah mencari Ikan Wader karena kondisi sungai dan saluran irigasi sawah masih terjaga kebersihannya dan ikan-ikan di tempat tersebut bisa tumbuh berkembang biak.

Menggoreng Wader
Pilihannya Ikan Wader ada dua yaitu Ikan Wader Goreng biasa atau Ikan Wader Goreng Tepung. Ikan Wader Goreng Biasa.  Walaupun Tempong terbilang pedas, namun disini kita bisa request tingkat kepedasan Sambel Tempongnya dan saya memilih Sedang saja karena ingin bisa menikmati kriuknya ikan Wader yang di Goreng Garing. Tidak menunggu lama, hidangan Nasi Tempong Ikan Wader yang kami pesan sudah jadi dan siap santap. Penyajiannya juga sederhana, Satu Piring berisi Nasi, Satu Piring Berisi Lauk Ikan Wader, Lalapan dan Sambel Tempongnya, dan satu mangkuk Air Kobokan. Sekilas terlihat porsinya cukup besar, begitu pula nasi dalam satu piring yang saya pikir tidak bakal habis (ending-endingnya ya habis juga). Iwak Wadernya enak, disajikan masih hangat dicolek bersama sambel tempong yang pedas dan kecut. Makan dengan hidangan seperti ini memang enaknya dengan tangan dan tidak menggunakan sendok.
Lezat banget Nasi Tempong Ini
Ditengah-tengah beberapa dari kami terengap-engap kepedasan, Pak Jamidi, suaminya Mbok Misnah memainkan intro sebuah lagu yang tidak dikenal dan asing.
“Warung Puthuk Di Pinggir Jalan, Dodolanne Wader Gorengan….”. 
Sontak kami terkenjut, ternyata yang dinyanyikan lagu ciptaan sendiri  tentang Warung Puthuk Mbok Misnah.  Sambil makan saya dengarkan lagunya dengan seksama. Lagunya asik banget, sekilas lirik lagunya menggambarkan Warung Puthuk dan Nasi Tempong (Sego Tempong) Ikan Wader. Namun beberapa kalimat di lirik lagu tersebut, Pak Jamidi menyelipkan Rayuan Gombalnya kepada sang Penjualnya  yang saat itu pas sekali sedang berbaju kuning sesuai lirik lagunya.

Setelah Nasi Tempong sudah habis disantap, saya meminta Pak Jamidi bernyanyi  lagu Warung Puthuk kembali dan meminta ijin untuk merekamnya. Suaranya khas banget, Bait ke bait di lirik lagu ibarat pantun yang mengalir pas sekali. Jika kalian penasaran dengan lagunya bisa lihat Video yang saya upload di Channel Youtube dibawah ini.

Walau Warung Puthuk Mbok Misnah merupakan warung yang sangat sederhana. Hidangan Nasi Tempong Ikan Wader sangat enak dan harus kalian coba. Buka Mulai Jam Makan Siang hingga malam, namun biasanya tidak tentu jika jam 9 malam masih ada yang nongkrong Ngopi warung tersebut masih buka. Namun Hidangan Nasi Tempong Ikan Wader saat malam hari tidak dijamin masih ada.

Mengenang Masa Lalu Di Pasar Jajanan Khas Osing - Desa Kemiren, Banyuwangi     Edit


Jajanan pasar selalu menarik perhatian saya setiap kali singgah di suatu tempat. Kali ini saya berkunjung ke Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi yang merupakan tempat tinggal dari Suku Osing, suku asli Banyuwangi . Di Desa Kemiren terdapat pasar yang didalamnya hanya menjual makanan-makanan siap santap saja. Uniknya makanan yang dijajakan adalah makanan dan jajanan pasar khas Suku Osing, beberapa diantaranya merupakan makanan yang susah dicari di pasar-pasar tradisional Banyuwangi.

Pasar tersebut disebutnya Pasar Jajanan Khas Osing. Pasar tersebut baru launching atau dibuka tanggal 26 Januari 2018 kemarin. Pasar ini buka tiap hari Minggu dari mulai pagi hari hingga jam 10.00 atau makanan yang dijajakan sudah habis terjual. Pasar ini letaknya berada di sebuah gang di Desa Kemiren yang lebarnya hanya sekitar 2-2,5 meter. Gang kecil tersebut berada di samping kantor Kelurahan Desa Kemiren dan tembus ke jalan utama desa dekat Kolam Renang dan Penginapan Desa Wisata Osing.

Rute Menuju Pasar Jajanan Khas Osing, Desa Kemiren
gapura desa kemiren
Rute menuju Pasar Jajanan Khas Osing Desa Kemiren dari kota Banyuwangi cukup mudah, kalian tinggal arahkan kendaraan menuju ke Lampu Lalu Lintas Perliman Banyuwangi, lalu ambil ke arah barat atau ke Jalan Jaksa Agung Suprapto – ikuti jalan tersebut melewati lampu lalu lintas – rel kereta api – hingga bertemu pertigaan patung Barong – ambil lurus, ikuti jalan sampai memasuki Desa Kemiren lalu di kanan jalan akan ada kantor Kelurahan Desa Kemiren. Sesampainya disana, parkirlah kendaraan dengan rapi. Jika bingung, jangan malu bertanya pada warga setempat ya.

uang kunonya
Unik, memasuki pasar ini ternyata kita diharapkan untuk menukar uang yang kita pakai dengan Koin Kuno. Uang kuno yang satu koinnya senilai Rp 2.500 ini nantinya dijadikan sebagai alat tukar dan pembayaran untuk membeli Jajanan di pasar ini. Setahu saya, cara ini awalnya diterapkan pada Pasar Papringan, Temanggung, Jawa Tengah yang merupakan pelopor dari berdirinya pasar-pasar kekinian di berbagai daerah. Konsep menggunakan koin khusus ataupun koin kuno sebagai alat tukar memberi daya tarik sendiri. Selain seperti merasakan kembali ke masa-masa lampau, koin ini bisa mempermudah proses pembelian, penjual tidak lagi susah mencari kembalian.
gang kecil yang merupakan pasar jajanan khas osing
Memasuki gang pasar jajanan khas osing, nuansa desa cukup kerasa sekali. Banyak orang yang bercakap2 dengan bahasa jawa, juga beberapa bahasa yang tidak bisa dimengerti, katanya itu adalah bahasa Osing. Makin ke tengah terdengar suara musik bambu yang dimainkan oleh sekelompok pemuda Pokdarwis Desa Kemiren, mereka memainkan gending-gending banyuwangi. suara musiknya seakan membawa larut dalam suasana desa Kemiren lebih dalam. Di gang tersebut terdapat rumah modern, juga beberapa rumah khas suku osing yang masih bertahan. Penjual makanannya pun berdandan dengan pakaian adat osing, kebaya hitam, berjarik batik. Setiap saya arahkan kamera ke mereka, spontan mereka tersenyum malu, kadang pura-pura tidak sadar namun akhirnya tertawa karena digoda oleh pembeli lainnya. “mbok senyum loh, masuk Koran nanti, bisa masuk Tipi”. Beberapa mbah yang saya foto pun juga bertanya “masuk ke tv apa mas (dalam bahasa jawa)”. 

Gulali Jawa terbuat dari Gula Kelapa

Kucur dan Apem Contong

Uceng-uceng

Lupis dan Lanun menjadi satu kesatuan
Makanan disini unik-unik, bahkan beberapa tidak ditemukan di pasar tradisional di daerah Banyuwangi. Beberapa makanan khas osing yang sudah familiar adalah Pecel Pitik, Kucur (Cucur kalau di daerah Jawa Tengah, Jawa barat, Jakarta), dan Lupis. Sisanya masih terlihat asing di mata saya. Cenil yang saya kenal ternyata berbeda, di desa kemiren makanan cenil bentuknya ditusuk seperti sate, dengan warna-warni yang sama dengan daerah lain namun karena modelnya seperti satejadi menarik perhatian terutama anak-anak. Adalagi makanan berbentuk seperti kerang bernama Apem Contong. Biasanya apem berbentuk bulat, namun disini berbentuk kerucut dan terlihat seperti keong atau bekicot. Penyajian lupis pun berbeda, disini lupis disajikan dengan lanun ditaburi parutan kelapa dan gula aren. Di ujung barat terdapat penjual makanan Sawit. Makanan sawit ini berupa makanan manis yang berbahan dasar singkong yang dicacah atau dipotong pemanisnya berasal dari gula aren. Selain makanannya beragam, disini juga ada berbagai minuman seperti  Dawet, Air Tebu, Air Nira Aren, dan Kopi Kemiren.
Sate Cenil
Nira Aren
Sawit
Sayangnya, selama 3 hari Pembukaan Pasar Jajanan Khas Osing ini banyak dari pengunjung masih belum menggunakan alat tukar koin kuno. Mungkin perlu adanya papan informasi atau spanduk yang menjelaskan tata cara transaksi di pasar jajanan khas osing ini. Mungkin juga perlu adanya reward atau hadiah bagi penjual yang menggunakan koin kuno sebagai alat transaksi.

Trio Sepuh Desa
Bagi saya, mengunjungi pasar jajanan khas osing di desa Kemiren ini selain  pengetahuan akan jenis makanan khas osing bertambah, juga membuat saya teringat masa lalu, ketika ikut Ibu ke sebuah pasar, membantu membawa belanjaannya, sebelum pulang ke rumah kami mampir di sebuah  tempat yang menjajakan jajanan pasar. saya ingat, jajanan yang biasa saya ambil adalah kue kedua kalinya, imajinasi saya membayangkan kembali ke masa lampau, dimana penjual dan pengunjung pasarnya nanti menggunakan pakaian-pakaian Jawa di era jaman kerajaan nusantara, transaksi dengan koin-koin kuno dan percakapan2 dengan bahasa lampau, “Kisanak, ada urusan apa kau kemari”  :D

Tertarik mengunjungi Pasar Jajanan Khas Osing ini, datang ya di Hari Minggu Pagi. Habis jajan dan berbelanja bisa lanjut berenang di Air terjun Jagir :D