Minggu kemarin, saya mencari bibit tanaman hias di daerah Jajag, Gambiran dan Yosomulyo sekalian paginya mampir sebentar ke wisata lokal Banyuwangi yang berusaha eksis kembali setelah sempat tak terurus. Namanya adalah Waduk Lecari, waduk kecil yang cukup lingkungannya cukup asri di tengah pedesaan.
Waduk Lecari terletak di Dusun Sumberejo, Desa Wringin Agung Kecamatan Gambiran, Banyuwangi. Dahulu Waduk ini diusulkan sebagai wisata agro perikanan dimana di tengah waduk terdapat keramba perternakan ikan nila. Namun berjalannya waktu, waduk tersebut tak terurus dan terlihat kumuh dan awal tahun 2020 atau sebelum pandemi Covid-19, waduk ini mulai berbenah untuk kembali eksis meramaikan destinasi wisata lokal di Banyuwangi.
Rute Menuju Waduk Lecari
Pertigaan SD N 1 Wringin Agung
Untuk ke Waduk Lecari ini dari Banyuwangi Kota atau Genteng cukup mudah. Jika kalian dari Kota Banyuwangi kalian bisa melewati rute Rogojampi-Srono-Benculuk- Lampu lalu lintas Jajag ambil lurus ke arah Gambiran sampai di pertigaan SD Negeri 1 Wringinagung ambil kiri masuk ke jalan bergapura Pondok Pesantren Mamba’ul Huda Krasak. Ikuti jalan tersebut hingga Perempatan SD Negeri 3 Wringinagung lalu ambil kanan dan ikuti saja jalan sampai ketemu Petunjuk jalan Rumah Makan Jajang Sebarong ikuti petunjuk tersebut kalian akan sampai di Waduk Lecari. Rumah Makan Jajang Sebarong berada di pinggir Waduk Lecari.
Waduk Lecari terlihat cukup asri, sekelilingnya banyak sekali pepohonan, di daerah yang dibuka untuk wisata dominan ditumbuhi oleh jenis-jenis bambu, seperti bambu ori yang sangat tinggi mungkin bisa mencapai 25 meter (perkiraan saya saja). Keberadaan pohon-pohon tersebut membuat hawa di sekitar waduk lecari ini cukup sejuk bahkan pada saat siang hari.
Salah satu Menu di Jajang Sebarong, Nasi Sambel Wader
Waduk Lecari mulai menggeliat lagi karena ada rumah makan keluarga atau resto keluarga Jajang Sebarong yang punya konsep menarik yaitu menyediakan tempat makan dipinggir waduk Lecari berbentuk saung-saung atau gazebo santai. Selain itu juga ada meja kursi yang berada di teduhan rumpun bambu. Menu di Jajang Sebarong cukup banyak berupa Nasi Sambal dengan pilihan lauk yang beragam dengan harga mulai 8.000 sampai 17.000. Ada juga pilihan camilan snack seperti Gorengan, Kentang Goreng, Piscok Keju dan lainnya dengan kisaran harga 5.000-8.000 saja. Minumannya pun bisa dibilang murah dari 3.000 hingga 10.000.
Di waduk lecari juga ada wahana bermain seperti perahu bebek yang bisa di sewa seharga 15.000 untuk sepuasnya jika sedang sepi dan jika sedang ramai akan ada batas waktu sehingga bisa bergantian dengan pengunjung lainnya. Selain itu, ada kapal perahu jukung yang bisa mengantar pengunjung untuk berkeliling waduk, melihat sisi lain waduk sebelah hulu yang katanya ada keramba peternakan ikan yang dahulunya memenuhi tengah waduk ini. Untuk naik perahu jukung ini kalian hanya membayar sebesar 6.000 saja.
Piknik Keluarga ke Waduk Lecari
Di sebelah rumah makan Jajang Sebarong terdapat hutan bambu yang rimbun, disekitarnya sedang ada pembangunan namun saya belum tahu akan dikelola seperti apa nantinya area hutan bambu tersebut. Cuma saya membayangkan membuat pasar jajanan tradisional mingguan dengan konsep mirip pasar papringan di temanggung atau Pasar Wit-Witan yang ada di Alas Malang, Singojuruh.
Waduk Lecari dengan Rumah Makan Jajang Sebarong ini menurut saya sangat direkomendasikan untuk kalian yang ingin mencari tempat makan atau resto yang cocok untuk kumpul bersama keluarga. Sambil menunggu makanan selesai dimasak dan disajikan kalian bisa ngobrol-ngobrol menikmati suasana waduk atau berkeliling danau dengan menyewa perahu bebek atau menggunakan jasa perahu jukung.
Nasi Tempong Sambal Kecombrang Desa Banjar, Banyuwangi
Turun dari Kawah Ijen dan Kawah Wurung sudah pasti lapar kan. Sampai di pasar Licin, saya membelok kan kendaraan ke arah Pakel. di tengah perjalanan masih masuk desa Banjar, ada warung sederhana di pinggir hutan ditepi persawahan juga. Semilir angin dari persawahan dan suasana tenangnya membuat saya ingin kesini lagi dan lagi. Ada suatu yang menarik dari menu-menu sederhana makanan khas desa yang dihidangkan Bu Juleha ini, yaitu Sambal Kecombrang.
Menuju ke Warung Bu Juleha dan Warung Umbul dari Kota Banyuwangi
Cara menuju Warung Umbul dari kota Banyuwangi gampang kok. Ambil arah yang menuju arah kawah ijen, melewati pertigaan patung barong, mel;ewati Desa Olehsari dan Glagahhingga sampai di Pertigaan pasar licin ambil ke kiri menuju arah Pakel atau Segobang. Warung Umbul ada di sebelah kiri jalan setelah tanjakan setelah hotel Joglo Ijen.
Warung Bu Juleha
Warung Umbul
Saya tahu ada warung ini di pinggir hutan dan persawahan Desa Banjar ini saat ada festival Kopi UtekDesa Banjar beberapa tahun lalu. Waktu itu, Warung Bu Juleha ini menjadi tempat istirahat kami setelah traking keliling desa Banjar. Tempatnya sederhana, terdapat kolam ikan yang diatasnya diberi gubuk santai atau saung untuk menikmati suasana. Sekarang warungnay sudah agak besar, di sebelahnya juga dibuka warung Umbul yang dikelola anaknya dengan nuansa taman dan area persawahan.
Kopi Utek Khas Desa Banjar, Banyuwangi
Gubuk makan di Warung Bu Juleha di atas umbul/kolam ikan
Warung Umbul dikelola oleh anak Bu Juleha yang menawarkan makanan-minum ala cafe. Bangunannya sederhana berkonsep terbuka. Halamannya juga cukup luas, kalau bawa anak-anak bisa main-main halaman tengah warung umbul yang tumbuh rerumputan yang segar. Di sekitarnya terdapat gazebo atau gubuk santai yang bisa memandangi persawahan desa Banjar. Sambil memandangi sekeliling saya memesan Kopi Utek. Kopi khas Desa Banjar, berupa kopi tubruk, di piring cangkir tersebut diberi gula aren sebagai pemanis. Kopi sruput lalu gula aren digigit atau sebaliknya. Seakan membuat ritual minum kopi ada sensasi berbeda dari biasanya.
Jika Warung Umbul hanya menjajakan minuman makanan ringan ala kafe jika kalian ingin makanan berat kalian bisa memesan di warung Bu Juleha. Warung Bu Juleha ini menjajakan makanan khas desa, salah satunya yang sering saya pesan disini adalah Ayam Kesrut (Uyah Asem) dan Nasi Tempong. Kali ini saya memesan agak berbeda setelah membuka obrolan tentang Tanaman Kecobrang atau kalau di Banyuwangi dan Suku Osing, nama lain Kecombrang adalah Lucu. Bu Juleha bilang kalau dia menanam banyak kecombrang di kebunnya. Biasanya Kecombrang yang diatanam diambil bunga atau batang mudanya untuk dijadikan sambal. Tidak semua orang suka Sambel Kecombrang karena ada aroma-aroma asing yang tercium, namun beliau punya resep tersendiri untuk menghilangkan aroma tersebut.
Sambel Kecombrang yang sedang diracik
Setelah diceritakan soal kecombrang dan racikan sambelnya, saya penasaran.
“bu, bisa pesan nasi tempong telur tapi sambelnya sambel kecombrang?”
“Bisa mas, kebetulan ada kecombrang yang bisa dipanen, mau ikut mas?”
Saya hanya menggangguk dan mengikuti Bu Juleha dari belakang, memperhatikan penjelasan tentang bunga dan calon batang dari tanaman Kecombrang. Saat bunga dan batang muda kecombrang diuleg, ada aroma khas. Aromanya agak sulit dideskripsikan seperti ada aroma dingin yang terhirup. Makin dilihat makin ga sabar mencicipi Nasi Tempong Telur dengan Sambel Tempong Kecombrang.
Penampakan Nasi Tempong Telur Sambel Kecombrang
Tidak lama akhirnya jadi, saya langsung mengambil sepotong tahu dan saya colek ke dalam cobek sambel, rasa sambel kecombrang memang beda dan ada sensasi mint yang dingin yang terasa. Beda dengan cerita teman memakan sambel kecombrang punya aroma aneh, mungkin karena racikannya masih ada yang kurang sehingga tidak sama dengan sambel kecombrang buatan Bu Juleha. Setelah mencicipi sambelnya, langsung saja saya makan dengan lahap Nasi Tempong Telur Sambal Kecombrang buatan Bu Juleha ini. Nasi Tempong Sambel Kocombrang ini tidak ada setiap hari karena tergantung dengan ketersediaan stok kecombrang. Jadi jika kalian ingin mencobanya kalian bisa janjian terlebih dahulu.
Ibu Juleha
Warung Umbul dan Warung Bu Juleha buka mulai jam 9 pagi, letaknya strategis tidak jauh dari pasar licin dan jalur utama jalur pendakian ke kawah ijen. Sehabis dari kawah ijen kalian bisa mampir sarapan disini :).
Percakapan singkat dalam chat, ketika saya berada di kota Bogor dan ingin mengganti lensa kacamata yang sudah rusak. Bogor Trade Mall atau lebih dikenal singkatannya yaitu BTM. Biasanya orang ke BTM untuk mencari HP dan Pakaian juga kacamata. Ada yang menarik perhatian saya di BTM yaitu Food Courtnya yang berada di lantai paling atas. Food Courtnya mempunyai pemandangan yang indah, yaitu pemandangan kota Bogor dan view Gunung Salak dari kejauhan sehingga Food Courtnya diberi nama Teras Salak.
Rute menuju Teras Salak BTM.
Teras Salak berada dekat pintu utama Kebun Raya Bogor dan Museum Zoologi. Cukup mudah menuju Teras Salak yang ada di BTM dari Kota Bogor. Kalian bisa naik Angkutan Umum nomor 03. Lebih mudah lagi jika kalian naik OjeknOnline atau pangkalan biar tidak usah mikir rutenya lewat mana aja untuk ke BTM ahaha.
Kondisi Foodcourt
menu yang ditawarkan oleh salah satu warung
Karena tujuan utama adalah mencari toko optik kacamata, jadi mencari optik kacamata terlebih dahulu. Lalu sambil menunggu lensa kacamata jadi, melipirlah ke lantai 3 mall BTM. Disana ada Teras Salak.Teras Salak ternyata adalah sebuah teras kecil untuk menyantap makanan yang kita beli foodcourt tersebut. Makanan yang dijajakan Foodcourt pun beragam dari kedai makanan Franchise seperti McD dan Richessee Factory sisanya yang saya liat adalah makanan-makanan usaha milik masyarakat Bogor seperti pada umumnya Nasi Goreng, Ayam Geprek, Pempek, Toge Goreng dan lain-lainnya. Rasanya dengan membeli makanan dan minuman disini serasa membantu melariskan dagangan tetangga kita yang sesame warga Bogor hehe.
View di Teras Food Courtnya Mall BTM dengan view Gunung Salak.
Setelah memesan makanan dan minuman, kita bisa memilih tempat duduk di dalam atau di teras. Saya milih duduk di Teras karena mempunyai pemandangan indah yaitu kota Bogor dari ketinggian berlatarkan pemandangan Gunung Salak. Karena memasuki jam makan malam dan waktu senja, meja di teras cukup ramai pengunjung yang ingin menikmati view pemandangan kota Bogor dan Gunung Salak apalagi cuaca sehabis hujan cukup cerah, kemungkinan bisa menikmati warna jingga merona dari senja di Kota Bogor.
Pemandangan Kota Bogor dari ketinggian dan Gunung Salak dari Kejauhan
Walau udara dingin bertiup menerpa Teras Salak, obrolan-obrolan hangat dan seru antar pengunjung di Teras Salak, udara dingin sedikit terabaikan. Saya melihat banyak orang dengan pakaian rapi memilih Teras Salak sebagai tempat menyantap makan malam. Mungkin sebelum mereka kembali pulang dan menerjang kemacetan Bogor pada jam pulang kerja, mereka butuh refreshing sejenak dengan berkuliner dan makan malam di Teras Salak.
Ada sedikir warna Rona Senja
Saya membayangkan kedepannya mungkin dari pihak pengelola Foodcourt atau mall BTM bisa mengubah interior Foodcourt berupa meja makan yang lebih minimalis akan sangat menarik dilihat, tata letak dan layout dari stand-stand penjual makanan dan minuman di desain menarik mencontoh food court modern yang sudah ada di Kota Bogor pasti akan lebih menarik pengunjung lebih dari saat ini.
Perjalanan minggu pagi menuju Jember, saat melewati daerah Glenmore tepatnya di daerah perkebunan Kalikempit, saya melihat keramaian di bagian Rest Area, ternyata di dalam rest area perkebunan Kalikempit tersebut terdapat Pasar Kekinian Glenmore Food Market.
Gapura Glenmore Food Market yang terlihat dari pinggir jalan
Glenmore Food Market merupakan salah satu pasar jajanan, pasar wisata atau pasar kekinian yang ada di Banyuwangi, tepatnya di Perkebunan Kalikempit, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi. Karena letaknya di perkebunan, sudah pasti warung-warungnya berada dibawah pohon-pohon mahoni. PasarGlenmore Food Market ini buka setiap hari Minggu saja dan dimulai jam 6 pagi sehingga belanja disini hawanya sejuk sekali. Dibawah tegakan pohon-pohon mahoni dan suasana pegunungannya Glenmore.
Rute Ke Glenmore Food Market dari Kota Banyuwangi.
Untuk menuju ke Glenmore Food Market dari Kota Banyuwangi cukup mudah kok. Glenmore Food Market letaknya berada di poros jalan utama dari Banyuwangi menuju Jember sehingga mudah ditemukan. Dari kota Banyuwangi kalian bisa ambil jalan ke arah Jember melewati Rogojampi melewati kota Genteng, lalu setelah itu akan melewati perkebunan Kali Panjang dan setelahnya akan ada perkebunan Kalikempit yang ditandai dengan adanya warung-warung kedai kopi di pinggir jalan. Glenmore Food Market ada disebelah kanan jalan (jika dari arah kota Genteng atau Banyuwangi). Untuk memasuki Glenmore Food Market, kita hanya mengeluarkan uang parkir saja sebesar Rp. 2000/motor atau Rp. 3000/mobil. Murah kan.
Jajanan pasar yang dijual di Glenmore Food Market
Jalan jam 6 pagi dari kota Banyuwangi, sekitar jam 7 pagi baru sampai Pasar Glenmore Food Market. Suasana masih agak sepi, ada beberapa kedai penjual yang belum buka. Saya suka suasananya, sejuk, adem karena berada dibawah pohon-pohon mahoni dan daerah Glenmore sendiri berada di bawah kaki Gunung Raung. Makanan dan minuman yang dijajakan oleh penjual di Glenmore Food Market ini beragam, dari jajanan tradisional khas desa seperti klepon, kucur (cucur), Cenil dan lain-lain. Ada juga beberapa minuman menarik seperti Susu Jelly, Es Dawet Wortel, dan Dawet Sawi Hijau. Jika mau makan besar juga ada banyak pilihan seperti Nasi Pecel, Sate, Ayam Geprek dan yang menarik menurut saya adalah Lontong Campur khas Glenmore.
Lontong Campur Khas Glenmore
Saya pesan Lontong Campur seharga Rp. 10.000. Sekilas lihat seperti lontong opor hanya saja diberi mi bihun (mie putih) dan potongan daging dikuah santannya. Ternyata setelah melihat proses membuatnya ternyata berbeda dengan Lontong Opor. Lontong Campur khas glenmore mempunyai dua bumbu yang dipadukan yaitu bumbu kacang dan kaldu santan. Pertama potong lontong dan diberi mi bihun secukupnya lalu siapkan bumbu kacang, dalam mempersiapkan bumbu kacang kita bisa meminta tingkat kepedasannya. Setelah itu bumbu kacang dituangkan ke dalam piring yang telah ada lontong, lalu disiramkan kuah kaldu santen yang ada potongan dagingnya. Setelah dicoba saya merasa terheran-heran karena rasanya enak hahaa. Kuah kaldu santen dengan bumbu kacang bisa menyatu dan membuat cita rasa enak yang bikin ingin mencoba lagi.
Situasi pasar Glenmore Food Market, ada bangku-bangku untuk makan
Ibu Penjual Sate di Pasar Glenmore Food Market
Semakin siang, keadaan pasar semakin ramai, saya berkeliling pasar Glenmore Food Market. Penjual-penjual yang tadinya tidak buka kini sudah buka dan menjajakan makanan andalannya. Saya pun menikmati suasananya, duduk dibawah rimbunan pohon mahoni, menyantap satu persatu makanan dan jajanan yang telah saya beli. Sambil mencoba berkomunikasi dengan masyarakat setemat yang juga turut datang mencari sarapan pagi di Glenmore Food Market.
Suasana Pasar Tengah Perkebunan Kalikempit, Glenmore Food Market
Mereka senang adanya pasar makanan dan jajanan tradisional di tengah perkebunan atau hutan di daerah Glenmore ini. Mereka jadi punya pilihan piknik yang lain walau hanya sekedar mencar sarapan minggu pagi di pasar Glenmore Food Market ini. Jika dilihat dari sisi penjualnya, dengan adanya pasar ini bisa membantu mengankat perekonomian masyarakat setempat khususnya masyarakat yang tinggal di perkebunan Kalikempit ini kerena penjualnya adalah masyarakat setempat juga istri dari pekerja yang bekerja di perkebunan Kalikempit.
Semoga pasar-pasar kekinian di daerah lain bisa berkembang dan terkonsep dengan matang agar pengunjung terus ingin hadir di pasar tersebut untuk berbelanja makanan dan menghilangkat penat saat akhir pekan.
Ketemu Komunitas Gowes, kesini naik sepeda dari daerah Songgon sampai Glenmore
Di dekat Pasar Glenmore Food Market juga ada beberapa objek wisata alam dan kuliner yang menarik seperti Pemandian Alam Jatirono, Wisata Alam Banyuanyar dan Dusun Kakao yang bisa kalian langsung kunjungi setelah dari pasar Glenmore Food Market ini.
Beberapa bulan terakhir, area persawahan di daerah Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta naik daun karena media sosial. Sejak dulu saya menyukai area persawahan daerah Nanggulan ini, karena suasananya cukup asri dan punya pemandangan gunung menoreh dan gunung Merapi dan Merbabu jika cuaca mendukung. Di sekitar dipinggir area persawahan mulai tumbuh kedai makan sederhana , salah satunya seperti Warung Geblek Pari yang pernah saya ulas sebelumnya. Kali ini saya menyempatkan waktu untuk mampir sebentar ke Kopi Ampirono yang letaknya berada di jalan menanjak setelah melewati Pasar Wage Kenteng.
Rute ke Kopi Ampirono
Secara administrasi sih Kopi Ampirono berada di Dusun Tileng, Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo. Namun karena letaknya masih berada di dekat area persawahan Nanggulan Kulonprogo, sering kali diduga masih ikut dalam kecamatan Nanggulan. Untuk menuju ke Kopi Ampirono cukup mudah kok, kalian bisa berangkat dari Jogja lurus saja mengikuti jalan Godean hingga melewati jembatan Sungai Progo dan bertemu perempatan Nanggulan, ambil lurus ke arah barat melewati Pasar Wage Kenteng dan jalan menanjak dengan pemandangan kanan kiri berupa area persawahan. Kopi Ampirono ada di sebelah kiri jalan saat jalan menanjak.
menu harga makanan-minuman di Kopi Ampirono
Desain Kopi Ampirono menarik, gabungan konsep Jawa dan sedikit ada tema Industrial terutama pada bagian dapurnya menggunakan galvalum dan bagian tempat duduk dan hidangan berada pada bangunan berbentuk Joglo. Ada yang menarik perhatian saya pada saat masuk ke Kopi Ampirono, pada bagian pinggir pagar dan bangunan cukup banyak tanaman telang yang sudah berbunga. Setelah melihat menunya ternyata ada menu Teh Telang yang ditulis dalam menu adalah Teh Kalibiru karena Wisata Kalibiru merupakan wisata yang membuat wisatawan memandang daerah Kulonprogo. Walau angin seringkali berhembus, udara siang itu cukup panas, memesan Es Teh Telang sepertinya menjadi pilihan tepat, bersama dengan makanan ringan berupa mendoan, Pisang Goreng dan geblek yang merupakan makanan khas Kulonprogo.
Menu Kopi Ampirono yang kami Pesan
Teh Kalibiru atau Teh Telang. Segerkan hehe
Seperti biasa, anno pasti nyobain kopi, jadi nanti bisa cicip rasa kopi racikan Kopi Ampirono. Saya memesan Teh Kalibiru/Teh Telang. Setelah hidangan keluar, Teh Kalibirunya berwarna ungu, kukira bakal berwarna biru. Ternyata warna teh Kalibiru, saat bunga telang diseduh berwarna biru namun setelah diberi sari perasan lemon, warna teh berubah berwarna ungu sesuai warna bunga telang. Sambil menyeruput segernya Teh Telang, saya tertarik dengan makanan Geblek yang merupakan makanan khas Kulonprogo. Rasanya sekilas seperti Gorengan Cireng karena bahan dasar yang digunakan sama. Jika dahulu memakan Geblek yang dibeli di Pasar Kenteng adalah dicocol dengan saus sambal, jika di Kopi Ampirono, Geblek tersebut dicocol dengan saus kecap racikan.
Geblek, Makanan Khas Kulonprogo
Hidangan sederhana warung Ampirono
Makan makanan ringan seperti mendoan, pisang dan geblek memang tidak mengenyangkan, namun tak perlu khawatir. Disini ada menu makan prasmanan berupa makanan khas desa berupa Sego Megono dan makanan khas desa komplit dengan lauk-pauk berupa telur dan lain-lainnya. Waktu itu karena berencana makan ditempat lain jadi kami hanya makan makanan ringan saja di Kopi Ampirono sekaligus melepas dahaga kepanasan. Ada yang disayangkan saat datang kesini adalah sawahnya yang habis dipanen sehingga tidak bisa menyaksikan pemandangan hijau persawahan di sekitar Kopi Ampirono.
Kampung Mandar Sentra Ikan Segar dan Kuliner Seafood Banyuwangi
Banyuwangi punya garis pantai yang panjang dari perbatasan di ujung utara hingga ujung selatan. Ada banyak perkampungan nelayan di pinggir pantai karena mayoritas penduduknya punya mata pencaharian nelayan, Kampung Mandar salah satunya.
Beberapa kali saya menyelusuri daerah Kampung Mandar sisi timur dekat pantai boom, kalau masyarakat setempat menyebut daerah itu adalah Grubugan. Di sana ada beberapa rumah bertuliskan menerima dan menjual ikan segar, di depannya juga ada beberapa drybox dari sterofoam yang mungkin berisi ikan-ikan segar yang siap dijual. Di Kampung Mandar ini pernah diadakan event Fish Market agar publik mengenal kampung mandar bukan hanya sebagai sentra kuliner tahu walik, juga ada potensi sebagai sentra penyedia ikan segar dan kuliner ikan.
Rute Menuju Fish Market Kampung Mandar
Kampung Mandar masih berada di dalam kawasan kota Banyuwangi sehingga akses kesana cukup mudah. Dari pusat kota kalian tingga ikuti petunjuk arah ke arah pantai boom, nanti sebelum tempat pembayaran karcis masuk, ada perempatan plengsengan, ambil ke kiri dan ikutu jalan tersebut kalian akan sampai di Fish Market Kampung Mandar.
suasana sore di Grubugan, Kampung Mandar
Sore itu saya melihat hiruk pikuk kesibukan beberapa pemuda disana, sibuk membuka dan mempersiapkan warung-warung sederhana. Di warung-warung pinggir jalan plensengan bapak paruh baya sedang membakar serabut kelapa dan arang dalam tempat memanggang miliknya. Warung di pinggir jalan plengsengan tersebut menawarkan masakan ikan bakar dengan ikan segar yang dipilih sendiri oleh pembelinya.
Ikan Bakar di Kampung Mandar Banyuwangi
Harga Ikan Bakar yang ditawarkan cukup murah, Rp.9.000/ons. Pembeli bisa memilih ikannya sendiri disana. Ikan jenis apa yang tersedia, bagaimana ukurannya,mau besar atau kecil, sehingga pembeli bisa menentukan sendiri uang yang harus dikeluarkan untuk menyantap ikan bakar tersebut. Saya cukup tergoda sama ikan berwarna merah yang sempat saya kira adalah ikan kakap merah. Ikannya tersebut lalu ditimbang dahulu untuk menentukan harga. Dengan tambahan nasi dan lalapan seharga Rp. 5.000 kita bisa menyantap ikan bakar dengan suasana hirup pikuk kampung nelayan dan semilir anginnya Selat Bali.
Tempat duduk di pinggir Plengsengan
Ikan Bakar yang sudah dibumbu Cabai lengkap dengan nasi lalapan dan sambel tempong
Pembumbuan ikan bakar di fish market Kampung Mandar ini ternyata sama dengan ikan Bakar Blimbingsari yang pernah saya coba. Ikan dibumbui oleh lumuran bumbu cabai yang sudah diracik. Bumbu cabai tersebut tidak terlalu pedas dan sempat saya cicipi ada rasa kecut yang segar. Ikan Bakar pesanan sudah jadi, Ikan Bakar, Lalapan, Nasi dan sambal tempong khas banyuwangi menjadi menu makan malam yang pas. Saya memilih duduk di pinggir plengsengan sekaligus merasakan suara deburan ombak dan semilir angin dari laut ahaha.
Semacam Foodcourt/Pujasera di Area Fish Market
Oh iya di dekat Tempat Pelelangan Ikan Kampung Mandar, ada tempat semacam food court atau Pujasera yang unik. Menyediakan minuman kopi-kopi yang asalnya dari Banyuwangi juga beberapa makanan berat seafood seperti sup ikan, juga ada beberapa camilan seperti tahu petis dan tahu walik yang bisa dipesan. Tempat ini punya meja unik yang terbuat dari kapal jukung yang muat banyak orang. Menarik sepertinya jika makan besar di meja berbentuk kapal jukung ini, ramai-ramai bareng keluarga atau teman-teman.
Adanya Fish Market di Grubugan, Kampung Mandar ini menambah alternatif tempat kuliner seafood atau makanan laut di Banyuwangi selain Warung Biru, Ikan Bakar Pesona, dan Warung Seafood di Jalan Kepiting yang sudah lebih dahulu terkenal. Tertarik buat kuliner Seafood di Kampung Mandar ini?
Video Tentang Fish Market dan Ikan Bakar Kampung Mandar Bisa ditonton disini:
Pasar Wit-Witan Desa Alas Malang Kecamatan Singojuruh
Hari minggu pagi di Banyuwangi, tiba-tiba saya ingin sarapan yang agak beda dari biasanya. Biasanya sih nyari sarapan di Pasar Minggu Pagi Desa Kemiren atau beli Nasi Uduk Jakarta di dekat Pelabuhan Ketapang. Kali ini saya pergi ke daerah Singojuruh tepatnya di Desa Alas Malang yang terkenal dengan Adat Kebo-keboannya. Di Desa tersebut ada sebuah pasar yang unik. Pasar ditengah kebun kecil. Dibawah pohonnya banyak orang berjualan makanan siap santap. Pasar tersebut bernama Pasar Wit-Witan.
Situasi Pasar Wit-Witan
Pasar Wit-Witan ini adalah pasar yang baru saja dibuka setelah munculnya pasar-pasar kekinian di Banyuwangi seperti Pasar Ketupat Boyolangu, Pasar Jajanan Pasar Khas Osing Kemiren dan lain-lainnya. Sama seperti pasar kekinian lainnya, pasar ini hanya buka di hari tertentu saja, setiap hari Minggu pagi mulai jam 6.30 sampai 9.30. Sesuai namanya para penjual dan penjaja makanan di Pasar Wit-Witan berjualan dibawah pohon-pohon dalam kebun kecil.
Rute Menuju Pasar Wit-Witan dari Kota Banyuwangi
Pasar Wit-Witan berada di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. Letaknya sekita 16 km dari pusat kota Banyuwangi atau kalau naik motor kesini sekitar 20-30 menit. Rute menuju Pasar Wit-Witan ini gampang kok. Dari kota Banyuwangi ambil arah ke Rogojampi pertigaan tugu Adipura ambil ke kanan lalu ikuti jalan tersebut sampai ketemu perempatan patung Kebo-keboan. Ambil ke arah kanan, ikuti jalan tersebut, Pasar Wit-Witan berada di sebelah kiri jalan tidak jauh dari perempatan patung kebo-keboan alas malang. Tidak ada transportasi umum menuju kesini ya.
Bu Tin, Penjual dan Pembuat Makanan Geseng
Mas Mamet, Rawon Racikannya enak loh
Berangkat dari Banyuwangi jam 6.00 pagi, sampai sana suasana pasar sudah ramai. Saya mulai memutari pasar terlebih dahulu melihat-lihat membeli makanan apa untuk sarapan. Kebunnya terlihat sekilas seperti hutan, apalagi sisi selatannya tumbuh pohon agak lebat dan terdapat sungai kecil. Penjual menggunakan pakaian tradisional dengan pakaian berwarna hitam dan bawahan batik. Rasanya sekilas membawa saya pada gambaran pasar-pasar jaman dulu saat era kerajaan. Walau tempatnya di pinggir hutan dan kebun kecil, penjual di Pasar Wit-Witan ini menempati area yang agak terbuka sehingga pembeli leluasa berjalan kesana kemari. Cara jualannya unik, meja untuk menjajakan makanan terbuat dari bambu. Kursi-kursi untuk menyantap makanan yang dibeli pun demikian, tersebar di beberapa titik di pasar wit-witan ini, beberapa kursi berada berdekatan atau di depan pedagang makanannya.
Jajanan pasar yang dijual, Kue Kucur (cucur)
Kursi Bambu untuk menyantap makanan dan minuman yang sudah dibeli
Makanan yang dijajakan juga menarik, karena banyak menjual jajanan pasar tradsional seperti lupis, getuk, kucur, ketan goreng dan gorengan lainnya. Bisa ditemukan juga makanan modern seperti martabak telur dan martabak terang bulan. Untuk makanan beratnya juga beragam dari nasi pecel, nasi kuning, nasi rawon dan yang menarik disini ada penjual Geseng Mentok dan Bangsong yang mana kuliner ini merupakan kuliner khas Singojuruh yang dulunya hanya dibuat untuk Hari Raya saja.
Pembeli sedang membeli es tradisional
Untuk Minuman ada beberapa yang menarik yaitu es campur yang dijual di area tengah pasar. Ada toping bola berwarna ungu yang setelah saya tanya terbuat dari telo ungu. Disini juga mudah ditemukan minuman temulawak dan jamu yang diracik oleh warga setempat. Tidak hanya menjual makanan dan minuman, UKM kerajinan tangan yang ada di Kecamatan SIngojuruh turut hadir meramaikan, rata-rata adalah kerajinan dari kayu/sisa kayu yang dibuat menjadi perabotan dan yang menarik perhatian adalah jam tangan.
Hutan kecil dekat dengan Pasar Wit-Witan
Letak Pasarnya menurut saya cukup strategis, setelah sarapan di Pasar Wit-Witan, jika kalian wisatawan kalian bisa melanjutkan perjalanan ke Djawatan Benculuk, Pulau Merah dan Alas Purwo. Jika kea rah barat kalian bisa berkeliling menjelajahi wisata alamnya Songgon. Pasar Wit-Witan ini hanya buka di Hari Minggu Pagi mulai pukul 06.30 sampai 09.30. Jadi jangan sampai datang kesiangan ya, nanti makanan/minuman yang sudah kalian incar keburu habis :D.
Jogja kini sudah banyak kafe-kafe yang identik dengan kopinya dan kafe kopi di jogja seakan berlomba merebut hati pelanggan dengan suasana kafe dan desain serta interior kafe yang asik untuk foto-foto. Namun di daerah Kalasan dekat Candi Prambanan, ada sebuah kedai yang menghadirkan Teh sebagai menu utama mereka. Teh-teh yang ditawarkan tidak sembarangan teh. Mereka menawarkan berbagai jenis teh premium lokal dari berbagai daerah di Indonesia. Kedai tersebut bernama Kedai Teh Kalasan.
Sesuai namanya, Kedai Teh Kalasan terletak di Kalasan tepatnya di Dusun Ringin Sari, Kelurahan Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jika dilihat dari gmaps, letaknya memang tidak jauh dari Candi Prambanan sehingga cocok sekali buat melepas dahaga setelah kepanasan di Prambanan selain membeli Es Dawet Pandawa yang Legendaris. Apalagi di Kedai Kalasan menawarkan suasana teduh karena banyak hijau tanaman markisa dan angin sepoi-sepoi dari arah persawahan.
Rute Menuju Kedai Teh Kalasan
Cara menuju ke Kedai Teh Kalasan cukup mudah. Dari pusat kota Jogja, kita ambil arah menuju Candi Prambanan melewati Bandara Adisucipto Jogja lalu setelah bertemu jalan rindang yang ada pohon mahoni di tengah dan pinggir. Pada jalan tersebut akan ada Perempatan Bangjo/ Lampu Lalu Lintas. Ambil Kiri lalu ikuti jalan tersebut hingga mentok di pertigaan jalan besar, ambil kiri. Dari sana tinggal ikuti jalan hingga pertigaan pertama akan ada petunjuk jalan menuju Kedai Teh Kalasan. Kalian bisa mengikuti petunjuk di Gmaps karena penandaan lokasinya juga valid.
Penampakan area hijau di Kedai Teh Kalasan
Interior Kedai Teh Kalasan
Kedai Teh Kalasan bangunannya berbentuk Joglo dengan sekeliling Joglo ditanami tanaman merambat jenis Markisa berbuah besar. Adanya markisa ini membuat kesan adem dan membuat nyaman sekitar.Di dalam Joglonya juga nyaman, dengan meja dan kursi yang dipilih cocok dengan Joglonya. Ada meja kursi tinggi ada meja kursi rendah yang ada di rumah adat jawa jaman dulu. Saya suka dari kedai ini, disediakan buku-buku baik tentang Teh maupun buku pengetahuan, majalah bahkan buku anak-anak.
menu kedai teh kalasan
Kedai Teh Kalasan ternyata menawarkan varian teh yang unik dan bahkan nama tehnya terlihat asing semua. Beda dengan teh yang ditawarkan di Doro Dongker yang sempat saya kunjungi saat ke Karanganyar. Varian teh yang disuguhkan bermacam-macam dan Kedai Teh Kalasan membagi ke empat bagian Teh yaitu Indonesian Tea, Chinese Tea, Blended Tea dan Fancy Tea. Indonesia Tea menarik perhatian saya, terutama Redolent Tea yang berupa Tea Hijau dari Sukabumi, Sumatera Tea dengan Jenis White Tea dan Black Tea dari Jawa Barat. Ada Teh Cina yang menarik perhatian yaituteh yang sudah difermentasi selama 9 tahun, Raw Pu’erh DaXueShan. Namun sayangnya saat berkunjung ke Kedai Teh Kalasan, teh tersebut sedang habis stoknya. Walau terlihat mewah, namun harga tehnya cukup mengejutkan karena menurut saya cukup murah. Harga teh di kedai Teh Kalasan mulai 12.000 sampai 20.000 dan 1 menu disajikan dalam sebuah poci ukuran kecil yang bisa dinikmati oleh 2 orang.
Tempe Mendoan jadi makanan cocok untuk teman minum teh
Setelah memilih beberapa Teh, juga memesan beberapa snack yang cocok untuk teman minum teh. Saya rasa Mendoan dan Pisang Goreng Panas cocok sekali sebagai teman ngeteh. Buat kalian yang ingin minum selain teh juga jangan khawatir, ada beberapa varian kopi, Ice Cream, Milkshake, Mocktail dan Smooties. Kedai Teh Kalasan Juga menyediakan makanan berat seperti nasi ayam, nasi goreng, capcay dan tofu seafood.
Kami memilih duduk di kursi dan bangku lawas yang kami rasa bakal nyaman lama-lama duduk disana. Mengambil beberapa buku yang sudah disediakan dan tentu saja saya mengambil buku tema teh sembari nunggu teh yang dihidangkan jadi. Di dekat tumpukan buku dekat meja bar terdapat kumpulan toples berisi sampel teh-teh yang ditawarkan oleh kedai Teh Kalasan. Kami ditawari untuk menghirup aroma teh yang ada disana.
halaman belakang kedai teh kalasan berupa lahan untuk tempat pertemuan dan acara wedding di Jogja
Sudah setengah jam di Kedai Teh Kalasan dan saya penasaran dengan area belakang kedai Teh ini. Disana terdapat halaman luas dengan bangunan yang berada di setiap sisi halaman tersebut. Ternyata tempat tersebut bisa disewakan untuk acara-acara dan bangunan yang ada juga bisa digunakan untuk paket meeting. Saya membayangkan jika mengadakan acara minum teh bareng dengan teh berkualitas racikan kedai teh kalasan di halaman yang luas ini sehabis magrib. Pasti syahdu. Riuh suara katak dan Jangkrik yang bersahut-sahutan dari arah sawah. Apalagi sekitar Kedai Teh Kalasan adalah lingkungan pedesaan yang tidak terlalu ramai bikin akcara lebih khidmat.
Botol Sample Aroma Teh yang ada di Kedai Teh Kalasan
Teh Dingin Fruhlingzauber
Cuaca Jogja hari itu makin panas, teh yang kami pesan pun sudah hampir habis. Saya tergoda untuk memesan teh lagi namun jenis teh dingin. Biar ga lama memilih teh, saya tanya sajalah ke peraciknya, teh yang cocok untuk diminum dingin. “coba teh Fruhlingzauber aja mas” kata peraciknya sambil menyodorkan toples kecil untuk dihirup aromanya. Katanya teh dengan rasa campuran buah, melon dan peachnya agak kuat cocok diminum dingin.
Hidangan Teh dingin kembali datang, membuat kami makin lama duduk menikmati suasana Kedai Teh Kalasan. Jika kalian pergi ke Jogja dan berada di sekitar candi prambanan, ratu boko san sekitarnya, coba deh mampir ke Kedai Teh Kalasan ini dan nikmati citarasa Teh yang berbeda dari bisanya.