-->
Showing posts with label kuliner banyuwangi. Show all posts
Showing posts with label kuliner banyuwangi. Show all posts

kuliner banyuwangi

Waduk Lecari Dan Jajang Sebarong, Gambiran - Tempat Kuliner Banyuwangi Seru di Pinggir Waduk     Edit

Minggu kemarin, saya mencari bibit tanaman hias di daerah Jajag, Gambiran dan Yosomulyo sekalian paginya mampir sebentar ke wisata lokal Banyuwangi yang berusaha eksis kembali setelah sempat tak terurus. Namanya adalah Waduk Lecari, waduk kecil yang cukup lingkungannya cukup asri di tengah pedesaan.

Waduk Lecari terletak di Dusun Sumberejo, Desa Wringin Agung Kecamatan Gambiran, Banyuwangi. Dahulu Waduk ini diusulkan sebagai wisata agro perikanan dimana di tengah waduk terdapat keramba perternakan ikan nila. Namun berjalannya waktu, waduk tersebut tak terurus dan terlihat kumuh dan awal tahun 2020 atau sebelum pandemi Covid-19, waduk ini mulai berbenah untuk kembali eksis meramaikan destinasi wisata lokal di Banyuwangi.

Rute Menuju Waduk Lecari

Pertigaan SD N 1 Wringin Agung

Untuk ke Waduk Lecari ini dari Banyuwangi Kota atau Genteng cukup mudah. Jika kalian dari Kota Banyuwangi kalian bisa melewati rute Rogojampi-Srono-Benculuk- Lampu lalu lintas Jajag ambil lurus ke arah Gambiran sampai di pertigaan SD Negeri 1 Wringinagung ambil kiri masuk ke jalan bergapura Pondok Pesantren Mamba’ul Huda Krasak. Ikuti jalan tersebut hingga Perempatan SD Negeri 3 Wringinagung lalu ambil kanan dan ikuti saja jalan sampai ketemu Petunjuk jalan Rumah Makan Jajang Sebarong ikuti petunjuk tersebut kalian akan sampai di Waduk Lecari. Rumah Makan Jajang Sebarong berada di pinggir Waduk Lecari.

Waduk Lecari terlihat cukup asri, sekelilingnya banyak sekali pepohonan, di daerah yang dibuka untuk wisata dominan ditumbuhi oleh jenis-jenis bambu, seperti bambu ori yang sangat tinggi mungkin bisa mencapai 25 meter (perkiraan saya saja). Keberadaan pohon-pohon tersebut membuat hawa di sekitar waduk lecari ini cukup sejuk bahkan pada saat siang hari.

Salah satu Menu di Jajang Sebarong, Nasi Sambel Wader

Waduk Lecari mulai menggeliat lagi karena ada rumah makan keluarga atau resto keluarga Jajang Sebarong yang punya konsep menarik yaitu menyediakan tempat makan dipinggir waduk Lecari berbentuk saung-saung atau gazebo santai. Selain itu juga ada meja kursi yang berada di teduhan rumpun bambu. Menu di Jajang Sebarong cukup banyak berupa Nasi Sambal dengan pilihan lauk yang beragam dengan harga mulai 8.000 sampai 17.000. Ada juga pilihan camilan snack seperti Gorengan, Kentang Goreng, Piscok Keju dan lainnya dengan kisaran harga 5.000-8.000 saja. Minumannya pun bisa dibilang murah dari 3.000 hingga 10.000.

Di waduk lecari juga ada wahana bermain seperti perahu bebek yang bisa di sewa seharga 15.000 untuk sepuasnya jika sedang sepi dan jika sedang ramai akan ada batas waktu sehingga bisa bergantian dengan pengunjung lainnya. Selain itu, ada kapal perahu jukung yang bisa mengantar pengunjung untuk berkeliling waduk, melihat sisi lain waduk sebelah hulu yang katanya ada keramba peternakan ikan yang dahulunya memenuhi tengah waduk ini. Untuk naik perahu jukung ini kalian hanya membayar sebesar 6.000 saja.

Piknik Keluarga ke Waduk Lecari

Di sebelah rumah makan Jajang Sebarong terdapat hutan bambu yang rimbun, disekitarnya sedang ada pembangunan namun saya belum tahu akan dikelola seperti apa nantinya area hutan bambu tersebut. Cuma saya membayangkan membuat pasar jajanan tradisional mingguan dengan konsep mirip pasar papringan di temanggung atau Pasar Wit-Witan yang ada di Alas Malang, Singojuruh.

Waduk Lecari dengan Rumah Makan Jajang Sebarong ini menurut saya sangat direkomendasikan untuk kalian yang ingin mencari tempat makan atau resto yang cocok untuk kumpul bersama keluarga. Sambil menunggu makanan selesai dimasak dan disajikan kalian bisa ngobrol-ngobrol menikmati suasana waduk atau berkeliling danau dengan menyewa perahu bebek atau menggunakan jasa perahu jukung.

Video Suasana Waduk Lecari.

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/mdeXtDzHhZE" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>


Mencicipi Nasi Tempong Kecombrang Di Warung Umbul Bu Juleha, Banyuwangi     Edit

Nasi Tempong Sambal Kecombrang Desa Banjar, Banyuwangi

Turun dari Kawah Ijen dan Kawah Wurung sudah pasti lapar kan. Sampai di pasar Licin, saya membelok kan kendaraan ke arah Pakel. di tengah perjalanan masih masuk desa Banjar, ada warung sederhana di pinggir hutan ditepi persawahan juga. Semilir angin dari persawahan dan suasana tenangnya membuat saya ingin kesini lagi dan lagi. Ada suatu yang menarik dari menu-menu sederhana makanan khas desa yang dihidangkan Bu Juleha ini, yaitu Sambal Kecombrang.


Menuju ke Warung Bu Juleha dan Warung Umbul dari Kota Banyuwangi
Cara menuju Warung Umbul dari kota Banyuwangi gampang kok. Ambil arah yang menuju arah kawah ijen, melewati pertigaan patung barong, mel;ewati Desa Olehsari dan Glagah  hingga sampai di Pertigaan pasar licin ambil ke kiri menuju arah Pakel atau Segobang. Warung Umbul ada di sebelah kiri jalan setelah tanjakan setelah hotel Joglo Ijen.

Warung Bu Juleha
Warung Umbul
Saya tahu ada warung ini di pinggir hutan dan persawahan Desa Banjar ini saat ada festival Kopi UtekDesa Banjar beberapa tahun lalu. Waktu itu, Warung Bu Juleha ini menjadi tempat istirahat kami setelah traking keliling desa Banjar. Tempatnya sederhana, terdapat kolam ikan yang diatasnya diberi gubuk santai atau saung untuk menikmati suasana. Sekarang warungnay sudah agak besar, di sebelahnya juga dibuka warung Umbul yang dikelola anaknya dengan nuansa taman dan area persawahan.

Kopi Utek Khas Desa Banjar, Banyuwangi
Gubuk makan di Warung Bu Juleha di atas umbul/kolam ikan
Warung Umbul dikelola oleh anak Bu Juleha yang menawarkan makanan-minum ala cafe. Bangunannya sederhana berkonsep terbuka. Halamannya juga cukup luas, kalau bawa anak-anak bisa main-main halaman tengah warung umbul yang tumbuh rerumputan yang segar. Di sekitarnya terdapat gazebo atau gubuk santai yang bisa memandangi persawahan desa Banjar. Sambil memandangi sekeliling saya memesan Kopi Utek. Kopi khas Desa Banjar, berupa kopi tubruk, di piring cangkir tersebut diberi gula aren sebagai pemanis. Kopi sruput lalu gula aren digigit atau sebaliknya. Seakan membuat ritual minum kopi ada sensasi berbeda dari biasanya.

Jika Warung Umbul hanya menjajakan minuman makanan ringan ala kafe jika kalian ingin makanan berat kalian bisa memesan di warung Bu Juleha. Warung Bu Juleha ini menjajakan makanan khas desa, salah satunya yang sering saya pesan disini adalah Ayam Kesrut (Uyah Asem) dan Nasi Tempong. Kali ini saya memesan agak berbeda setelah membuka obrolan tentang Tanaman Kecobrang atau kalau di Banyuwangi dan Suku Osing, nama lain Kecombrang adalah Lucu. Bu Juleha bilang kalau dia menanam banyak kecombrang di kebunnya. Biasanya Kecombrang yang diatanam diambil bunga atau batang mudanya untuk dijadikan sambal. Tidak semua orang suka Sambel Kecombrang karena ada aroma-aroma asing yang tercium, namun beliau punya resep tersendiri untuk menghilangkan aroma tersebut.
Sambel Kecombrang yang sedang diracik
Setelah diceritakan soal kecombrang dan racikan sambelnya, saya penasaran.

“bu, bisa pesan nasi tempong telur tapi sambelnya sambel kecombrang?”

“Bisa mas, kebetulan ada kecombrang yang bisa dipanen, mau ikut mas?”

Saya hanya menggangguk dan mengikuti Bu Juleha dari belakang, memperhatikan penjelasan tentang bunga dan calon batang dari tanaman Kecombrang. Saat bunga dan batang muda kecombrang diuleg, ada aroma khas. Aromanya agak sulit dideskripsikan seperti ada aroma dingin yang terhirup. Makin dilihat makin ga sabar mencicipi Nasi Tempong Telur dengan Sambel Tempong Kecombrang.

Penampakan Nasi Tempong Telur Sambel Kecombrang
Tidak lama akhirnya jadi, saya langsung mengambil sepotong tahu dan saya colek ke dalam cobek sambel, rasa sambel kecombrang memang beda dan ada sensasi mint yang dingin yang terasa. Beda dengan cerita teman memakan sambel kecombrang punya aroma aneh, mungkin karena racikannya masih ada yang kurang sehingga tidak sama dengan sambel kecombrang buatan Bu Juleha. Setelah mencicipi sambelnya, langsung saja saya makan dengan lahap Nasi Tempong Telur Sambal Kecombrang buatan Bu Juleha ini. Nasi Tempong Sambel Kocombrang ini tidak ada setiap hari karena tergantung dengan ketersediaan stok kecombrang. Jadi jika kalian ingin mencobanya kalian bisa janjian terlebih dahulu.

Ibu Juleha
Warung Umbul dan Warung Bu Juleha buka mulai jam 9 pagi, letaknya strategis tidak jauh dari pasar licin dan jalur utama jalur pendakian ke kawah ijen. Sehabis dari kawah ijen kalian bisa mampir sarapan disini :).

Sarapan Pagi Di Pasar Wisata Glenmore Food Market, Banyuwangi     Edit



Perjalanan minggu pagi menuju Jember, saat melewati daerah Glenmore tepatnya di daerah perkebunan Kalikempit, saya melihat keramaian di bagian Rest Area, ternyata di dalam rest area perkebunan Kalikempit tersebut terdapat Pasar Kekinian Glenmore Food Market.

Gapura Glenmore Food Market yang terlihat dari pinggir jalan
Glenmore Food Market merupakan salah satu pasar jajanan, pasar wisata atau pasar kekinian yang ada di Banyuwangi, tepatnya di Perkebunan Kalikempit, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi. Karena letaknya di perkebunan, sudah pasti warung-warungnya berada dibawah pohon-pohon mahoni. Pasar  Glenmore Food Market ini buka setiap hari Minggu saja dan dimulai jam 6 pagi sehingga belanja disini hawanya sejuk sekali. Dibawah tegakan pohon-pohon mahoni dan suasana pegunungannya Glenmore.

Rute Ke Glenmore Food Market dari Kota Banyuwangi.
Untuk menuju ke Glenmore Food Market dari Kota Banyuwangi cukup mudah kok. Glenmore Food Market letaknya berada di poros jalan utama dari Banyuwangi menuju Jember sehingga mudah ditemukan. Dari kota Banyuwangi kalian bisa ambil jalan ke arah Jember melewati Rogojampi melewati kota Genteng, lalu setelah itu akan melewati perkebunan Kali Panjang dan setelahnya akan ada perkebunan Kalikempit yang ditandai dengan adanya warung-warung kedai kopi di pinggir jalan. Glenmore Food Market ada disebelah kanan jalan (jika dari arah kota Genteng atau Banyuwangi). Untuk memasuki Glenmore Food Market, kita hanya mengeluarkan uang parkir saja sebesar Rp. 2000/motor atau Rp. 3000/mobil. Murah kan.

Jajanan pasar yang dijual di Glenmore Food Market
Jalan jam 6 pagi dari kota Banyuwangi, sekitar jam 7 pagi baru sampai Pasar Glenmore Food Market. Suasana masih agak sepi, ada beberapa kedai penjual yang belum buka. Saya suka suasananya, sejuk, adem karena berada dibawah pohon-pohon mahoni dan daerah Glenmore sendiri berada di bawah kaki Gunung Raung. Makanan dan minuman yang dijajakan oleh penjual di Glenmore Food Market ini beragam, dari jajanan tradisional khas desa seperti klepon, kucur (cucur), Cenil dan lain-lain. Ada juga beberapa minuman menarik seperti Susu Jelly, Es Dawet Wortel, dan Dawet Sawi Hijau. Jika mau makan besar juga ada banyak pilihan seperti Nasi Pecel, Sate, Ayam Geprek dan yang menarik menurut saya adalah Lontong Campur khas Glenmore.

Lontong Campur Khas Glenmore
Saya pesan Lontong Campur seharga Rp. 10.000. Sekilas lihat seperti lontong opor hanya saja diberi mi bihun (mie putih) dan potongan daging dikuah santannya. Ternyata setelah melihat proses membuatnya ternyata berbeda dengan Lontong Opor. Lontong Campur khas glenmore mempunyai dua bumbu yang dipadukan yaitu bumbu kacang dan kaldu santan. Pertama potong lontong dan diberi mi bihun secukupnya lalu siapkan bumbu kacang, dalam mempersiapkan bumbu kacang kita bisa meminta tingkat kepedasannya. Setelah itu bumbu kacang dituangkan ke dalam piring yang telah ada lontong, lalu disiramkan kuah kaldu santen yang ada potongan dagingnya. Setelah dicoba saya merasa terheran-heran karena rasanya enak hahaa. Kuah kaldu santen dengan bumbu kacang bisa menyatu dan membuat cita rasa enak yang bikin ingin mencoba lagi.

Situasi pasar Glenmore Food Market, ada bangku-bangku untuk makan
Ibu Penjual Sate di Pasar Glenmore Food Market
Semakin siang, keadaan pasar semakin ramai, saya berkeliling pasar Glenmore Food Market. Penjual-penjual yang tadinya tidak buka kini sudah buka dan menjajakan makanan andalannya. Saya pun menikmati suasananya, duduk dibawah rimbunan pohon mahoni, menyantap satu persatu makanan dan jajanan yang telah saya beli. Sambil mencoba berkomunikasi dengan masyarakat setemat yang juga turut datang mencari sarapan pagi di Glenmore Food Market.

Suasana Pasar Tengah Perkebunan Kalikempit, Glenmore Food Market
Mereka senang adanya pasar makanan dan jajanan tradisional di tengah perkebunan atau hutan di daerah Glenmore ini. Mereka jadi punya pilihan piknik yang lain walau hanya sekedar mencar sarapan minggu pagi di pasar Glenmore Food Market ini. Jika dilihat dari sisi penjualnya, dengan adanya pasar ini bisa membantu mengankat perekonomian masyarakat setempat khususnya masyarakat yang tinggal di perkebunan Kalikempit ini kerena penjualnya adalah masyarakat setempat juga istri dari pekerja yang bekerja di perkebunan Kalikempit.

Semoga pasar-pasar kekinian di daerah lain bisa berkembang dan terkonsep dengan matang agar pengunjung terus ingin hadir di pasar tersebut untuk berbelanja makanan dan menghilangkat penat saat akhir pekan.
Ketemu Komunitas Gowes, kesini naik sepeda dari daerah Songgon sampai Glenmore
Di dekat Pasar Glenmore Food Market juga ada beberapa objek wisata alam dan kuliner yang menarik seperti Pemandian Alam Jatirono, Wisata Alam Banyuanyar dan Dusun Kakao yang bisa kalian langsung kunjungi setelah dari pasar Glenmore Food Market ini.

Serunya Wisata Gastronomi Nasi Lemang di Desa Banjar, Banyuwangi     Edit

Nasi Lemang khas Desa Banjar
Mencicipi masakan lokal atau khas daerah adalah kegiatan yang tidak bisa kutinggalkan saat traveling. Tiap daerah punya makanan khas sendiri, walau penampakan bahkan namanya sama, cita rasa, bumbu racikan bahkan ceritanya pasti ada yang berbeda, salah satunya adalah Nasi Lemang. Nasi Lemang ada di beberapa daerah di Indonesia dan yang terkenal berasal dari Sumatera, namun di Banyuwangi pun Nasi Lemang juga ada. Menjadi makanan khas Desa Banjar dengan sebutan Sego Lemeng.

Saya pertama kali mengenal Sego Lemeng ini, saat Festival Kopi Utek di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Disana diperkenalkan pertama kali Sego Lemeng sebagai kuliner khas Banjar bersama Kopi Utek. Namun berjalannya waktu hingga tahun 2019, Kuliner Sego Lemang tidak muncul permukaan, bahkan tidak menjumpai warung-warung sepanjang ke arah licin dan Kawah Ijen yang menjual Sego Lemang. Karena hal tersebut, saya berkolaborasi dengan warga setempat Desa Banjar untuk mengadakan Wisata Gastronomi Sego Lemeng. Wisata Gastronomi ini menurut saya adalah mengajak wisatawan ikut salam proses pembuatan Sego Lemeng, sehingga wisatawan mempunyai pengalaman baru dan tak terlupakan.

Sejarah Sego Lemeng Desa Banjar
Memasak nasi dengan Menggunakan Bambu
Sego Lemeng itu merupakan cara memasak nasi menggunakan Bambu yang dibakar. Sego Lemeng diyakini warga setempat adalah cara memasak orang-orang yang bermata pencaharian di hutan sejak dahulu. Mereka hanya bermodal beras dengan lauk dan sayur dicari nanti di dalam hutan. Dulu bambu yang dicari adalah bambu yang menyimpan air dalam batangnya. Air tersebut nantinya bisa digunakan untuk memasak beras menjadi nasi. Sambil menunggu nasi matang, biasanya bambu yang berisi beras ditinggal untuk melanjutkan pekerjaan di dalam hutan sekaligus mencari lauk pauk untuk dimakan bersama sego lemeng. Masyarakat juga meyakini pada era Penjajahan, para pejuang yang bersembunyi di dalam hutan juga melakukan cara memasak seperti ini.

Sego Lemeng Sekarang.
Sego Lemeng Desa Banjar Kini
Sego Lemeng saat ini sudah mengalami beberapa inovasi dan kreasi. Di Desa Banjar, di dalam Sego Lemeng diberi lauk pauk berupa ikan teri atau suwiran daging ayam. Ini menimbukan sensasi enak di dalam mulut saat menggigit nasi lemang tersebut. Satu hal yang istimewa buat saya dan merupakan sambel khas desa Banjar adalah Sambel Kecombrang. Istimewa karena sambel kecombrang mempunyai aroma dan rasa yang khas, sedikit asam kecut namun ada sensasi dingin seperti mint. Bahkan saat batang muda atau bunga kecobrang diuleg, ada aroma khas kecombrang yang tercium cukup enak dihirup.

Kalian udah tau tanaman Kecombrang seperti apa? Kalau di Desa Banjar, Kecombrang punya nama lokal yaitu Lucu. Lucunya saya juga baru tahu bahwa Kecombrang tanamannya mirip dengan Laos hanya saja punya daun agak kemerahan.

Belajar Memasak Sego Lemeng Bersama
Sego Lemeng yang sudah dimasukan bambu di Bakar dan ditunggu matang
Saya berkolaborasi dengan warga setempat, mengadakan Wisata Gastronomi Sego Lemeng di area persawahan yang mempunyai view indah berupa persawahan, dan jika jauh memandang bisa melihat samar birunya laut dan Gunung Ranti dan Kawah Ijen. Acara dilakukan sore hari dengan ahrapan Magis dari area Banjar terlihat, seperti kabut yang muncul dan hilang menutupi area pegunungan, juga udara sejuk yang berhembus di area persawahan di desa Banjar.


Sego Lemeng/Nasi Lemang Khas Desa Banjar
Setelah belajar memasak dan menyantap Nasi Lemang, kami memperkenalkan Kopi Utek khas Banjar. Kopi Utek sendiri merupakan Kopi Tubruk yang disediakan kepingan gula aren. Cara meminumnya kopi diminum lalu gula arennya digigit perlahan atau bisa sebaliknya gula arennya digigit, lalu kopinya baru diminum. Kita yang minum yang menentukan manisnya hanya di awal atau maunya manis diakhir, Eaaaaa.


Kopi Utek Khas Desa Banjar
Suasana Kebun tempat Wisata Gastronomi Sego Lemang
Siluet Perempuan Bersama Senja
Tertarik Berwisata Gastronomi Sego Lemeng, sekaligus menikmati magisnya suasana sore area persawahan di Desa Banjar, Banyuwangi bisa lihat tawaran dari Lokalx.id disini >> https://lokalx.id/experience/gastronomi-sego-lemeng-khas-desa-banjar


Video Keseruan Trip Gastronomi Nasi Lemang bisa ditonton disini:


Fish Market Kampung Mandar - Sentra Ikan Segar dan Kuliner Seafood di Banyuwangi     Edit

Kampung Mandar Sentra Ikan Segar dan Kuliner Seafood Banyuwangi
Banyuwangi punya garis pantai yang panjang dari perbatasan di ujung utara hingga ujung selatan. Ada banyak perkampungan nelayan di pinggir pantai karena mayoritas penduduknya punya mata pencaharian nelayan, Kampung Mandar salah satunya.

Beberapa kali saya menyelusuri daerah Kampung Mandar sisi timur dekat pantai boom, kalau masyarakat setempat menyebut daerah itu adalah Grubugan. Di sana ada beberapa rumah bertuliskan menerima dan menjual ikan segar, di depannya juga ada beberapa drybox dari sterofoam yang mungkin berisi ikan-ikan segar yang siap dijual.  Di Kampung Mandar ini pernah diadakan event Fish Market agar publik mengenal kampung mandar bukan hanya sebagai sentra kuliner tahu walik, juga ada potensi sebagai sentra penyedia ikan segar dan kuliner ikan.


Rute Menuju Fish Market Kampung Mandar
Kampung Mandar masih berada di dalam kawasan kota Banyuwangi sehingga akses kesana cukup mudah. Dari pusat kota kalian tingga ikuti petunjuk arah ke arah pantai boom, nanti sebelum tempat pembayaran karcis masuk, ada perempatan plengsengan, ambil ke kiri dan ikutu jalan tersebut kalian akan sampai di Fish Market Kampung Mandar.
suasana sore di Grubugan, Kampung Mandar
Sore itu saya melihat hiruk pikuk kesibukan beberapa pemuda disana, sibuk membuka dan mempersiapkan warung-warung sederhana. Di warung-warung pinggir jalan plensengan bapak paruh baya sedang membakar serabut kelapa dan arang dalam tempat memanggang miliknya. Warung di pinggir jalan plengsengan tersebut menawarkan masakan ikan bakar dengan ikan segar yang dipilih sendiri oleh pembelinya.

Ikan Bakar di Kampung Mandar Banyuwangi
Harga Ikan Bakar yang ditawarkan cukup murah, Rp.9.000/ons. Pembeli bisa memilih ikannya sendiri disana. Ikan jenis apa yang tersedia, bagaimana ukurannya,mau besar atau kecil, sehingga pembeli bisa menentukan sendiri uang yang harus dikeluarkan untuk menyantap ikan bakar tersebut. Saya cukup tergoda sama ikan berwarna merah yang sempat saya kira adalah ikan kakap merah. Ikannya tersebut lalu ditimbang dahulu untuk menentukan harga. Dengan tambahan nasi dan lalapan seharga Rp. 5.000 kita bisa menyantap ikan bakar dengan suasana hirup pikuk kampung nelayan dan semilir anginnya Selat Bali.
Tempat duduk di pinggir Plengsengan
Ikan Bakar yang sudah dibumbu Cabai lengkap dengan nasi lalapan dan sambel tempong
Pembumbuan ikan bakar di fish market Kampung Mandar ini ternyata sama dengan ikan Bakar Blimbingsari yang pernah saya coba. Ikan dibumbui oleh lumuran bumbu cabai yang sudah diracik. Bumbu cabai tersebut tidak terlalu pedas dan sempat saya cicipi ada rasa kecut yang segar. Ikan Bakar pesanan sudah jadi, Ikan Bakar, Lalapan, Nasi dan sambal tempong khas banyuwangi menjadi menu makan malam yang pas. Saya memilih duduk di pinggir plengsengan sekaligus merasakan suara deburan ombak dan semilir angin dari laut ahaha.

Semacam Foodcourt/Pujasera di Area Fish Market
Oh iya di dekat Tempat Pelelangan Ikan Kampung Mandar, ada tempat semacam food court atau Pujasera yang unik. Menyediakan minuman kopi-kopi yang asalnya dari Banyuwangi juga beberapa makanan berat seafood seperti sup ikan, juga ada beberapa camilan seperti tahu petis dan tahu walik yang bisa dipesan. Tempat ini punya meja unik yang terbuat dari kapal jukung yang muat banyak orang. Menarik sepertinya jika makan besar di meja berbentuk kapal jukung ini, ramai-ramai bareng keluarga atau teman-teman.

Adanya Fish Market di Grubugan, Kampung Mandar ini menambah alternatif tempat kuliner seafood atau makanan laut di Banyuwangi selain Warung Biru, Ikan Bakar Pesona, dan Warung Seafood di Jalan Kepiting yang sudah lebih dahulu terkenal. Tertarik buat kuliner Seafood di Kampung Mandar ini?

Video Tentang Fish Market dan Ikan Bakar Kampung Mandar Bisa ditonton disini: 



Pasar Wit-Witan - Pasar Di Pinggir Hutan Kecilnya Alas Malang, Banyuwangi     Edit

Pasar Wit-Witan Desa Alas Malang Kecamatan Singojuruh

Hari minggu pagi di Banyuwangi, tiba-tiba saya ingin sarapan yang agak beda dari biasanya. Biasanya sih nyari sarapan di Pasar Minggu Pagi Desa Kemiren atau beli Nasi Uduk Jakarta di dekat Pelabuhan Ketapang. Kali ini saya pergi ke daerah Singojuruh tepatnya di Desa Alas Malang yang terkenal dengan Adat Kebo-keboannya. Di Desa tersebut ada sebuah pasar yang unik. Pasar ditengah kebun kecil. Dibawah pohonnya banyak orang berjualan makanan siap santap. Pasar tersebut bernama Pasar Wit-Witan.

Situasi Pasar Wit-Witan
Pasar Wit-Witan ini adalah pasar yang baru saja dibuka setelah munculnya pasar-pasar kekinian di Banyuwangi seperti Pasar Ketupat Boyolangu, Pasar Jajanan Pasar Khas Osing Kemiren dan lain-lainnya. Sama seperti pasar kekinian lainnya, pasar ini hanya buka di hari tertentu saja, setiap hari Minggu pagi mulai jam 6.30 sampai 9.30. Sesuai namanya para penjual dan penjaja makanan di Pasar Wit-Witan berjualan dibawah pohon-pohon dalam kebun kecil.

Rute Menuju Pasar Wit-Witan dari Kota Banyuwangi


Pasar Wit-Witan berada di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. Letaknya sekita 16 km dari pusat kota Banyuwangi atau kalau naik motor kesini sekitar 20-30 menit. Rute menuju Pasar Wit-Witan ini gampang kok. Dari kota Banyuwangi ambil arah ke Rogojampi pertigaan tugu Adipura ambil ke kanan lalu ikuti jalan tersebut sampai ketemu perempatan patung Kebo-keboan. Ambil ke arah kanan, ikuti jalan tersebut, Pasar Wit-Witan berada di sebelah kiri jalan tidak jauh dari perempatan patung kebo-keboan alas malang. Tidak ada transportasi umum menuju kesini ya.

Bu Tin, Penjual dan Pembuat Makanan Geseng
Mas Mamet, Rawon Racikannya enak loh
Berangkat dari Banyuwangi jam 6.00 pagi, sampai sana suasana pasar sudah ramai. Saya mulai memutari pasar terlebih dahulu melihat-lihat membeli makanan apa untuk sarapan. Kebunnya terlihat sekilas seperti hutan, apalagi sisi selatannya tumbuh pohon agak lebat dan terdapat sungai kecil. Penjual menggunakan pakaian tradisional dengan pakaian berwarna hitam dan bawahan batik. Rasanya sekilas membawa saya pada gambaran pasar-pasar jaman dulu saat era kerajaan. Walau tempatnya di pinggir hutan dan kebun kecil, penjual di Pasar Wit-Witan ini menempati area yang agak terbuka sehingga pembeli leluasa berjalan kesana kemari. Cara jualannya unik, meja untuk menjajakan makanan terbuat dari bambu. Kursi-kursi untuk menyantap makanan yang dibeli pun demikian, tersebar di beberapa titik di pasar wit-witan ini, beberapa kursi berada berdekatan atau di depan pedagang makanannya.

Jajanan pasar yang dijual, Kue Kucur (cucur)
Kursi Bambu untuk menyantap makanan dan minuman yang sudah dibeli
Makanan yang dijajakan juga menarik, karena banyak menjual jajanan pasar tradsional seperti lupis, getuk, kucur, ketan goreng dan gorengan lainnya. Bisa ditemukan juga makanan modern seperti martabak telur dan martabak terang bulan. Untuk makanan beratnya juga beragam dari nasi pecel, nasi kuning, nasi rawon dan yang menarik disini ada penjual Geseng Mentok dan Bangsong yang mana kuliner ini merupakan kuliner khas Singojuruh yang dulunya hanya dibuat untuk Hari Raya saja. 

Pembeli sedang membeli es tradisional
Untuk Minuman ada beberapa yang menarik yaitu es campur yang dijual di area tengah pasar. Ada toping bola berwarna ungu yang setelah saya tanya terbuat dari telo ungu. Disini juga mudah ditemukan minuman temulawak dan jamu yang diracik oleh warga setempat. Tidak hanya menjual makanan dan minuman, UKM kerajinan tangan yang ada di Kecamatan SIngojuruh turut hadir meramaikan, rata-rata adalah kerajinan dari kayu/sisa kayu yang dibuat menjadi perabotan dan yang menarik perhatian adalah jam tangan.

Hutan kecil dekat dengan Pasar Wit-Witan
Letak Pasarnya menurut saya cukup strategis, setelah sarapan di Pasar Wit-Witan, jika kalian wisatawan kalian bisa melanjutkan perjalanan ke Djawatan Benculuk, Pulau Merah dan Alas Purwo. Jika kea rah barat kalian bisa berkeliling menjelajahi wisata alamnya Songgon. Pasar Wit-Witan ini hanya buka di Hari Minggu Pagi mulai pukul 06.30 sampai 09.30. Jadi jangan sampai datang kesiangan ya, nanti makanan/minuman yang sudah kalian incar keburu habis :D.

Nonton Videonya disini ya




Sehari di Desa Adat Suku Osing Kemiren Banyuwangi – Melihat Prosesi Adat Tumpeng Sewu 2019     Edit


Tiap manusia punya cara-cara tersendiri untuk bersyukur. Masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren Banyuwangi punya hajat Syukuran Desa yang menarik tiap tanggal 1 Bulan Haji dalam Kalender Jawa atau tanggal 1 Dzulhijjah dalam Kalender Islam. Nama syukuran desanya adalah Tumpeng Sewu.

Kenapa Tumpeng Sewu?
Dalam syukuran tersebut, setiap masyarakat Kemiren membuat tumpengan. Jika melihat data, sudah ada 3.000 kepala keluarga di Desa Kemiren, sudah bisa dipastikan akan ada lebih dari seribu tumpeng yang ada, sehingga prosesi ungkapan rasa syukur Desa Kemiren ini disebut Tumpeng Sewu. Ada hal unik lagi selain jumlah tumpengnya. Lauk yang disajikan dalam syukuran ini yaitu Pecel Pitik, makanan otentik dari suku osing yang berbahan utama ayam kampung dan parutan kelapa. Selain itu, mereka akan makan bersama di depan rumahnya, di pinggir jalan secara lesehan dan menyalakan obor yang menambah syahdu suasana syukuran di desa Kemiren.  

Seharian Di Desa Adat Suku Osing Kemiren
Setelah tahu, Di Desa Kemiren akan ada Syukuran Desa Tumpeng Sewu, saya meluangkan waktu dan mengajak beberapa teman yang suka sama acara desa. Dini, teman dari Semarang yang kebetulan ada di Jember bisa ikut untuk melihat-lihat prosesi adat Tumpeng Sewu. Untuk melihat prosesi adat Tumpeng Sewu, kita butuh meluangkan waktu seharian di Desa Kemiren.

Mepe Kasur atau Jemur Kasur
Pagi hari, masyarakat desa Kemiren sibuk mengeluarkan kasur untuk dijemur. Yah mumpung cerah juga sih. Uniknya kasur yang mereka jemur itu satu ragam, kasur kapuk berwarna merah hitam. Kasur tersebut ternyata wajib dimiliki oleh setiap keluarga karena memiliki arti khusus merah melambangkan keberanian dalam berkeluarga dan hitam berarti hidup kelanggengan dalam rumah tangga. Bantal berwarna merah dan dijahit dengan benang berwarna putih juga punya arti sendiri. Merah, darah merah dari ibu. Putih, darah putih dari bapak. Menjemur kasur yang dilakukan masyarakat osing di desa Kemiren melambangkan bersih keluarga. Sambil dijemur, kasur digebuk berharap aura tidak baik yang ada dalam keluarga hilang bersama kasur tersebut digebuk dan dijemur. Prosesi jemur kasur ini mereka sebut Mepe Kasur.

Bapak Abdul Karim dan Dini
Bersamaan dengan Mepe Kasur (Jemur Kasur), atap dapur dari beberapa rumah terlihat mengeluarkan asap karena sedang memanggang ayam untuk dijadikan Pecel Pitik, yang nantinya dihidangkan di syukuran Tumpeng Sewu. Kami mampir ke dapur milik pak Abdul Karim. Saat kami kunjungi beliau sedang membakar ayam kampung cukup banyak bersama istrinya. Pak Karim ini membuka jasa pembakaran ayam untuk diolah nantinya menjadi pecel pitik. Cara pembakarannya sederhana, hanya menggunakan tungku kecil dan berbahan bakar dari kayu bakar saja. Walau sederhana, proses pemanggangannya harus teliti agar didapat ayam yang terpanggang sempurna. Bahkan ada waktu ayam tersebut dimasukan ke dalam tungku yang bara apinya masih menyala agar sisi yang belum terpanggang ikut matang. Pak Karim ini membuka jasa pemanggangan ayam untuk prosesi tumpeng sewu, dan pada jam 9 pagi sudah dapat permintaan untuk memanggang 125 ekor ayam. Jumlah permintaan tersebut bertambah terus sampai sore hari. Memanggang 1 ekor ayam dihargai sebesar Rp.10.000 itu sudah termasuk memotong ayam hingga pemanggangan.

Memarut Kelapa untuk Bumbu
Untuk menjadikan pecel pitik, ayam yang sudah dipanggang nantinya akan disuwir-suwir dan dicampur parutan kelapa yang sudah dibumbui. Namun proses ini biasanya berlangsung sore hari menjelang acara prosesi syukuran Tumpang Sewu dimulai. Sambil menunggu proses itu kami mengisi waktu luang makan Nasi Tempong Wader Warung Putuk dan ke Air Terjun Jagir untuk mensucikan diri karena kami belum sempat mandi :D. Air Terjun Jagir letaknya cukup dekat dari desa Kemiren, sekitar 15 menit ke arah barat.

Sore Hari Di Kemiren
Ayam yang sudah dipanggang diaduk bersama parutan kelapa yang sudah dibumbui
Sekitar jam 4 sore, kami kembali ke Desa Kemiren untuk mengikuti syukuran bersama dengan warga desa. Jalan-jalan di desa sudah ramai, rasannya seperti nuansa lebaran dimana sanak saudara kembali kumpul datang ke desa untuk mengikuti syukuran desa. Kasur khas merah-hitam yang dijemur sudah berganti tikar. Terlihat beberapa pemilik rumah juga sibuk mengeluarkan Tumpengan beserta lauk pauk yang salah satunya adalah pecel pitik. Ada juga yang sengaja meracik pecel pitiknya di pinggir jalan, sehingga jika ada wisatawan seperti saya yang datang bisa melihat cara pembuatan pecel pitik. Menarik memang, ayam yang sudah dipanggang dipotong-potong menggunakan tangan lalu ditaruh dalam wadah yang didalamnya parutan kelapa yang sudah dibumbui khusus. Wadah tersebut diaduk dan diberi air sedikit agar parutan kelapa bisa menempel pada ayam panggang.

Berkumpul bersama sanak saudara
Saat menjelang magrib, masyarakat desa kemiren sudah berkumpul depan rumah dan pinggir ruas jalan utama, hidangan Tumpeng Sewu sudah lengkap. Saya menelusuri ruas jalan utama desa Kemiren dan menemukan keramahan masyarakatnya. Bahkan beberapa kali memepersilahkan mampir ke tempatnya untuk makan pecel pitik bersama.

Pawai Barong Kemiren
Menunggu berdoa
Setelah solat magrib, Barong Banyuwangi melakukan pawai yang diikuti oleh pemuda yang membawa bara api untuk menyalakan oncor (obor) yang ada di depan setiap rumah. Suasana desa mendadak menyala hangat, beberapa anak kecil langsung antusias mendekati oncor yang sudah menyala. Doa lalu berkumandang dari toa masjid untuk memimpin doa-doa ungkapan rasa sukur selama setahun yang diberikan Tuhan kepada masyarakat kemiren. Dan selesainya doa, dilanjutkan dengan makan bersama di pinggir jalan atau di depan rumah. Saya suka sekali suasananya, ramai namun hangat. Walau tidak kenal, masyarakat Desa Kemiren menyambut kami dengan ramah, bahkan sabar menjawab pertanyaan kami lontarkan. Semoga tahun depan, bisa berjumpa lagi dan menikmati Pecel Pitik, Kuliner khas kemiren dalam acara adat Tumpeng Sewu ini.
Setelah berdoa, Selamat Makan :)
Kalau kalian tertarik gak untuk ikut gabung mengikuti prosesi Adat Tumpeng Sewu di Desa Kemiren?